
Prolog :
sebuah Epos terbesar di dunia bernama LA Galigo menceritakan sejarah asal usul manusia di daratan sulawesi. epos tersebut juga di ceritakan dari mulut ke mulut oleh para tetua-tetua. di berbagai provinsi di sulawesi, cerita itu di ceritakan dengan berbagai versi tapi tetap dengan satu tokoh sentral bernama Sawerigading.
menurut Wikipedia, Sawerigading adalah nama seorang putera raja Luwu dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi nama Sawarigading berarti keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung. Nama ini dikenal melalui cerita yang termuat dalam Sureq Galigo (Periksa Edisi H. Kern 1939), dimulai ketika para dewa dilangit bermufakat untuk mengisi dunia ini dengan mengirim Batara Guru anak patotoe di langit dan Nyilitomo anak guru ri Selleng di peretiwi (dunia bawah) untuk menjadi penguasa di bumi. Dari perkawinan keduanya lahirlah putra mereka yang bernama Batara Lattu’, yang kelak menggantikan ayahnya penguasa di Luwu.
Dari perkawinan Batara Guru dengan beberapa pengiringnya dari langit serta pengiring We Nyilitomo dari peretiwi lahirlah beberapa putra mereka yang kelak menjadi penguasa di daerah-daerah Luwu sekaligus pembantu Batara Lattu’. Setelah Batara Lattu’ cukup dewasa, ia dikawinkan dengan We Datu Sengeng, anak La Urumpassi bersama We Padauleng ditompottikka. Sesudah itu Batara Guru bersama isteri kembali kelangit. Dari perkawinan keduanya lahirlah Sawerigading dan We Tenriabeng sebagai anak kembar emas yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan.
untuk lebih lengkapnya, pembaca bisa membuka wikipedia dengan judul Sawerigading.
banyak yang mengatakan bahwa Batara Guru disini adalah mahluk Mitologi atau mahluk yang mempunyai kekuatan supranatural. benarkah demikian ?
mari kita ungkap kebenarannya melalui novel ini.
***********************************
Siang itu, padepokan Anoa Hitam tampak tenang. beberapa murid sedang berlatih di lapangan latihan. ada yang berlatih tehnik pukulan tangan kosong, ada yang berlatih tehnik senjata. sesekali, murid senior yang mendapat tugas untuk melatih para murid, tampak membetulkan posisi dan gerakan murid yang keliru.
Di gerbang Padepokan, La Tenri Bali sudah berdiri menunggu pamannya untuk bersiap berangkat menuju Gunung Gandang Dewata.
" Kamu sudah siap ? ", tanya La Bukkang yang tiba-tiba telah berdiri di belakang La Tenri Bali.
" ah paman mengagetkan ku. ayo kita berangkat sekarang paman ". Kata La Tenri Bali.
" hahahhahaha.... baiklah. perjalanan kita membutuhkan waktu dua hari. Ayo, paman akan menggendong mu agar perjalanan kita lebih cepat ". kata La Bukkang.
La Tenri Bali kemudian melompat naik ke punggung pamannya. setelah La Tenri Bali ada di belakang punggungnya, La Bukkang kemudian mengempos tenaga dalamnya dan di alirkan ke kedua kakinya. setelah kakinya terasa ringan, La Bukkang kemudian merapal suatu amalan yang merupakan salah satu ilmunya yaitu MELIPAT BUMI. dengan ilmu tersebut, perjalanan yang jauh bisa di persingkat. Ilmu tersebut hanya bisa berfungsi apabila di lambari dengan tenaga dalam yang lumayan besar.
setelah menerapkan Ilmu Melipat Bumi, La Bukkang mulai berlari dengan kencang meninggalkan pintu gerbang padepokan. hanya dalam waktu beberapa detik saja, tubuhnya telah jauh meninggalkan padepokan Anoa Hitam. La Tenri Bali yang ada di punggung pamannya hanya bisa memejamkan mata. hembusan angin yang di akibatkan oleh kecepatan pamannya berlari menyebabkan matanya perih. La Bukkang terus berlari dengan kencang dan berhenti ketika sore menjelang malam.
saat ini mereka berada di sebuah gerbang desa. La Tenri Bali kemudian turun dari punggung pamannya. mereka berjalan kaki memasuki desa tersebut.
" kita akan menginap malam ini di penginapan desa ini ". kata La Bukkang.
" apa nama desa ini paman ? ", tanya La Tenri Bali.
" nama desa ini adalah Tirawuta. penginapan yang akan kita tempati bermalam di kelola oleh Murid ayahmu. ayo kita bergegas, hari sudah hampir gelap ". kata La Bukkang.
tidak lama berjalan, mereka telah tiba di depan sebuah penginapan yang lumayan besar. dengan mantap, mereka melangkahkan kaki memasuki penginapan tersebut. seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahun bergegas menyambut mereka. laki-laki tersebut adalah La Kinang, murid angkatan pertama padepokan Anoa Hitam, di bawah ke pengurusan La Panessai sebagai Guru besar.
sambil menjura hormat, La Kinang menyambut paman gurunya, " selamat datang kembali Paman guru. siapakah gerangan adik tampan yang menyertai Paman Guru ? "
La Bukkang menjawab, " dia La Tenri Bali, putra guru mu ".
__ADS_1
" hahahaha, kamu sudah besar sekarang puang andi. dulu kamu masih berusia satu tahun ketika saya lulus dari padepokan dan mulai berkelana " , kata La Kinang.
La Tenri Bali hanya tersenyum simpul mendengar murid ayahnya bercerita.
" mari paman guru, saya antarkan ke kamar paman guru di belakang ", kata La Kinang.
Penginapan milik La Kinang memiliki 20 kamar biasa dan satu kamar besar yang terletak paling ujung. kamar paling besar ini adalah kamar khusus untuk orang-orang penting termasuk orang-orang dari padepokannya.
setelah berada di dalam kamar, La Tenri Bali langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang ada di ranjang kayu penginapan tersebut. tubuhnya sangat lelah walaupun hanya berada di punggung pamannya sepanjang perjalanan. melihat ponakannya berbaring dan mulai tertidur, La Bukkang hanya menggelengkan kepala. dia lantas mulai duduk bersila dan memusatkan fikirannya ke satu titik fokus. dia mulai memulihkan tenaga dalamnya yang hampir terkuras habis setelah berlari sekian jauh.
satu jam kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu kamar. La Bukkang berdiri membuka pintu kamar. didepan pintu tampak seorang pelayan laki-laki berdiri dengan posisi menjura hormat.
" makan malam sudah siap Puang " kata pelayan tersebut.
" terima kasih. saya akan segera ke depan ", kata La Bukkang.
setelah pelayan tersebut pergi, La Bukkang membangunkan La Tenri Bali.
dengan mata setengah terpejam, La Tenri Bali pun bangun dan bergegas mengikuti pamannya menuju tempat makan penginapan tersebut.
setelah makan malam, La Tenri Bali kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya yang tertunda. sementara itu La Bukkang masih duduk di kursi sambil menikmati Sarabba, minuman khas yang berisi Jahe dan Gula merah.
Tak lama kemudian, La Kinang pun datang menemani paman gurunya. mereka saling bertukar cerita setelah sekian lama tak berjumpa.
" kami mau berkunjung ke petilasan leluhur di puncak Gunung Gandang Dewata. bagaimana situasi sekarang di sana ? terakhir saya dengar, daerah di sekitar kaki gunung Gandang Dewata merupakan markas kelompok Ular Hitam " , kata La Bukkang.
" benar paman guru. bahkan saya dengar mereka memperluas wilayah kekuasaan mendekati daerah Makale. pihak kerajaan hampir tiap hari melakukan patroli di wilayah perbatasan ibukota " . jawab La Kinang.
" hmmm.. Gurumu saat ini ada di Makale. membantu pihak kerajaan menumpas kelompok tersebut. sepertinya perjalananku kali ini tidak mudah " gumam La Bukkang.
setelah minumannya habis, La Bukkang pun kembali ke kamar. dia memilih untuk melanjutkan meditasinya.
Pagi-pagi sekali, La Bukkang dan La Tenri Bali melanjutkan perjalanan menuju Gunung Gandang Dewata. kali ini, La Bukkang meningkatkan kecepatan berlarinya dua kali lipat. dia menggunakan hampir 3/4 tenaga dalamnya untuk melambari Ilmu Melipat Bumi.
setengah hari berlari tanpa henti, di kejauhan sudah terlihat puncak Gunung Gandang Dewata yang berdiri kokoh menjulang langit. aura mistis langsung terasa ketika seseorang memandang puncak gunung tersebut. konon menurut cerita penduduk desa yang ada di sekitar kaki gunung Gandang Dewata, pada malam-malam tertentu, sering terdengar tetabuhan gendang dari atas puncak gunung tersebut. menurut cerita yang beredar, di puncak gunung tersebut berdiri kerajaan siluman yang di pimpin oleh raja yang sangat sakti. oleh karena itu, hampir tidak pernah ada yang berani mendaki gunung tersebut sampai ke puncaknya.
sementara itu, di kedalaman hutan sisi barat kaki gunung Gandang Dewata, di markas kelompok Ular Hitam. seorang pria paruh baya membanting gelas yang ada di tangannya.
" bangs*t kau Panessai. aku tidak menyangka kau yang ada di balik pembantaian murid-muridku di Makale ", dengan wajah memerah, pria baya tersebut terus berteriak. dia adalah La Settung, Ketua kelompok Ular Hitam. dia juga di juluki Setan Ular Hitam.
" Ampun puang, menurut mata-mata kita yang ada di Makale, memang Pendekar Batara Karang yang memimpin pasukan kerajaan menumpas pergerakan kita di sana ", kata La Kebbong, wakil ketua Kelompok Ular Hitam.
dengan perasaan geram La Settung berujar, " aku tidak akan membiarkan orang tua itu hidup tenang. akan ku bantai seluruh.....
__ADS_1
tiba-tiba La Settung tersentak. dia merasakan fluktuasi energi yang sangat besar menuju ke arahnya. sebagai seorang Pendekar Aliran Hitam, tingkat kepekaannya terhadap sesuatu tergoloong tinggi.
" ada apa puang ? ", tanya La Kebbong begitu melihat wajah pimpinannya menegang.
" sepertinya ada seorang sakti akan melintas di daerah sini. saya penasaran siapa sosok yang berani melintas, setelah sekian tahun tidak pernah ada yang berani melakukannya " , ucap La Settung.
" kamu tunggu disini, perintahkan anak-anak untuk waspada segala kemungkinan. aku sendiri yang akan memeriksa siapa sosok ini ", kata La Settung yang kemudian melesat dengan cepat menuju pinggiran hutan.
setibanya di pinggiran hutan, La Settung kemudian melompat ke dahan pohon besar berdaun rimbun untuk menunggu sosok yang dia rasakan akan melintas di wilayah kekuasaannya ini. tak lupa dia menekan tenaga dalamnya sampai ke dasar, agar tidak keberadaannya tidak di ketahui.
tidak lama kemudian, dari kejauhan tampak titik hitam melesat cepat menuju ke arahnya. titik itu perlahan nampak jelas memperlihatkan sosok paruh baya seumuran La Settung yang tidak lain adalah La Bukkang yang tengah berlari kencang sambil menggendong La Tenri Bali.
La Bukkang menghentikan larinya beberapa meter dari pohon tempat La Settung bertengger. Firasatnya mengatakan bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya. tetapi walaupun sudah mengedarkan hawa tenaga dalamnya sejauh beberapa meter, La Bukkang tidak menemukan apapun.
" ada apa paman ? apakah kita sudah sampai ? ", tanya La Tenri Bali sambil membuka matanya dan mengedarkan pandangannya.
" belum nak. tapi tidak jauh lagi. setelah ini kita akan mendaki sampai ke puncak ", jawab La Bukkang sambil tetap mengedarkan hawa Tenaga dalamnya untuk memeriksa sekitar.
" ah mungkin hanya perasaanku saja. tapi sebaiknya mulai sekarang aku waspada. bukankah ini hutan yang katanya wilayah kekuasaan Ular Hitam ". gumam La Bukkang dalam hati.
Setelah menarik napas panjang, La Bukkang kembali berlari kencang dan mulai mendaki gunung Gandang Dewata. rapatnya pepohonan tidak menjadi penghalang bagi La Bukkang untuk menurunkan kecepatan berlarinya.
sementara itu, di atas dahan pohon, La Settung sedang berfikir keras. dia seolah mengingat sesuatu. dia lantas melompat turun dan melesat masuk ke kedalaman hutan. setibanya di markas Ular Hitam, La Settung langsung duduk di kursi kebesarannya, sambil memijit keningnya berusaha mengingat sesuatu. La Kebbong hanya terdiam memperhatikan pimpinannya itu bertingkah aneh. soalnya baru beberapa saat lalu pimpinannya itu mengamuk, sekarang terdiam seperti orang yang habis melihat hantu.
Tidak sampai sepetanakan nasi berlari, La Bukkang akhirnya tiba di puncak Gunung Gandang Dewata. La Tenri Bali kemudian melompat turun dari punggung pamannya.
mereka kemudian melangkahkan kaki ke arah sebuah pohon yang paling besar di puncak gunung tersebut. Pohon tersebut adalah Pohon cendana raksasa. tingginya mencapai 100 meter dengan diameter sekitar 40 meter. dan itu adalah satu-satunya pohon Cendana yang tumbuh di gunung tersebut dan mungkin satu-satunya di wilayah kerajaan Torayya. Satu misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan. di bawah pohon tersebut terdapat lempengan batu berwarna putih bersih yang cukup luas. ke sana lah mereka berdua menuju.
menurut cerita turun temurun, lempengan batu tersebut adalah tempat Leluhur La Tenri Bali mendapatkan pencerahan sebelum menghilang tanpa bekas. Konon katanya, leluhur itu naik ke langit dan menjadi salah satu penguasa di langit. benar atau tidaknya, belum ada yang membuktikan.
" ayo kamu duduk di atas batu ini. paman akan berusaha meminta petunjuk leluhur " ucap La Bukkang.
mereka berdua kemudian duduk bersila dan memejamkan mata. meditasi sudah menjadi makanan sehari-sehari mereka di padepokan. selain untuk mengolah tenaga dalam, juga sebagai cara untuk mendapatkan petunjuk atau pencerahan.
" tabe' puang, saya ada disini membawa keturunan mu yang ketujuh. mohon di berikan petunjuk selanjutnya ", La Bukkang merapalkan kalimat tersebut di dalam hati. perlahan dunia seakan berhenti berputar. bunyi hewan hutan yang tadinya saling bersahutan juga ikut berhenti. bahkan angin juga seolah berhenti berhembus. semilir angin lembut kemudian menerpa wajah La Bukkang, dan harum wangi cendana mulai tercium olehnya. setelah itu tidak terjadi apa-apa.
setelah tiga jam meditasi tanpa mendapatkan petunjuk apapun, La Bukkang membuka matanya perlahan.
" sungguh aneh. biasanya dalam meditasi biasapun dan dimanapun, leluhur pasti datang dengan suara tanpa wujud. kenapa sekarang bahkan setelah berjam-jam tidak ada apapun. apakah ramalan dalam kitab itu telah salah ? sungguh malang nasib mu nak. mungkin sudah takdir bahwa Padepokan Anoa Hitam tidak akan memiliki penerus dari garis darah yang sama ", ucap La Bukkang dalam hati sambil menoleh ke arah ponakannya yang masih meditasi.
" sudahi meditasi mu nak. ayo kita kembali ke Padepokan. sebelum malam tiba, kita bisa mendapatkan desa di lereng gunung untuk menginap ", kata La Bukkang.
" baik paman ", jawab La Tenri Bali sambil membuka mata.
__ADS_1