SEMESTA TAK TERBATAS

SEMESTA TAK TERBATAS
7. MUNCULNYA TIGA LELUHUR


__ADS_3

“ Sudahi meditasimu nak. Ayo kita Kembali ke Padepokan. Sebelum malam tiba, kita mungkin masih bisa mendapatkan sebuah desa di lereng gunung untuk menginap “. Kata La Bukkang.


“ Baik Paman “, jawab La Tenri Bali sambil membuka mata.


Sementara itu, jauh di kedalaman hutan, di markas kelompok Ular Hitam.


Setelah berjam-jam berusaha mengingat sesuatu, akhirnya meledaklah sebuah tawa menggelegar dari mulut La Settung.


“ hahahahahahhaa….wajah itu, tidak salah lagi… hahahahhaha “, La Settung terus tertawa.


“ tabe’ puang, wajah siapa yang puang maksud ? “, tanya La Kebbong penasaran.


“ wajah anak itu, sangat mirip dengan wajah Pendekar Batara Karang. Anak itu pasti adalah keturunan dari Jahan*m itu. Hahhahahahaha…. Akhirnya dendamku akan terbalaskan. Kau pasti akan ku buat menyesal Panessai. Menyesal karna telah membuatku tersiksa bathin selama ini


hahahhaha ….. “ , La Settung terus tertawa tanpa henti.


Beberapa kenangan melintas Kembali di kepalanya. Kenangan yang membuat La Settung terus memelihara dendam kepada Pendekar Batara Karang. Hatinya sangat sakit mengingat bagaimana dia di kalahkan bertarung satu lawan satu dan di permalukan, karna memperebutkan hati Wanita yang sangat di cintainya. Wanita itu Bernama I Bunga Sitakke. Karna kalah bertarung dan menderita luka dalam yang parah, La Settung akhirnya memilih meninggalkan kampung halamannya.


“ tabe puang, anak yang mana yang puang maksudkan ? “


Pertanyaan La Kebbong membuyarkan lamunan La Settung. La Settung kemudian menceritakan hasil dari pengintaiannya di pinggir hutan. Setelah mendengar cerita dari pimpinannya, akhirnya La Kebbong mengerti apa yang membuat pimpinannya tersebut bertingkah aneh.


“ kumpulkan semua anak-anak. Atur strategi untuk menutup semua akses keluar dari lereng gunung sebelah timur ini. Aku sendiri yang akan membantai mereka “. Perintah La Settung dengan tegas.


Setelah memberi perintah, La Settung melesat dengan cepat menuju pinggiran hutan untuk mencegat La Tenri Bali dan pamannya.


Matahari hampir tenggelam di ufuk barat, Ketika La Bukkang sampai di bawah lereng gunung. Dia menghentikan larinya, Ketika firasatnya mengatakan ada bahaya mengancam. Dia kemudian


meningkatkan kewaspadaannya dan menyebarkan hawa tenaga dalamnya sejauh berapa puluh meter.


“ ada apa paman ? kenapa kita berhenti disini ? “, tanya La Tenri Bali sambil membuka matanya.


“ ada beberapa orang yang sepertinya tidak berniat baik nak. Turunlah dulu dan tetap berdiri di belakang paman “. Kata La Bukkang.


Swing……


Sebuah pisau kecil meluncur dengan cepat mengarah ke leher La Bukkang. Dengan Gerakan cepat, La Bukkang memukul pisau tersebut dengan tinjunya. Pisau tersebut terjatuh ke tanah dengan mata pisau yang telah bengkok.


“ hahahhha… nama Pendekar Tinju Batu ternyata bukan hanya gelar kosong “,


sebuah suara yang di sertai tenaga dalam tiba-tiba terdengar. Bersamaan dengan itu sesosok tubuh melompat turun dari sebuah pohon di samping kanan La Bukkang. La Bukkang meningkatkan kewaspadaannya setelah memandang wajah pembokongnya tersebut.


“ ternyata kau Setan Ular Hitam. Cepat menyingkir dari jalan ku “, kata La Bukkang dengan geram.


“ hmm.. aku tidak berniat menghalangimu. Silahkan jalan “ , jawab La Settung dengan tangan seolah-olah mempersilahkan.


“ tapi tinggalkan anak itu disini !!!!! “ , sambung La Settung sambil menunjuk La Tenri Bali yang berdiri di belakang pamannya.


“ begitu ? “ , tanya La Bukkang, sambil melirik sedikit ke arah La Tenri Bali yang ada di belakangnya.


“ baiklah. Aku bisa mempertimbangkan kata-katamu. Tapi setelah kau jadi mayat tentunya “, ujar La Bukkang dengan senyum mengejek.


“ Bangs*t “


dengan wajah memerah padam, La Settung melompat dengan cepat ke arah La Bukkang, sambil mengirimkan tendangan menyamping ke arah dada. La Bukkang memutar posisi kakinya sedikit, kemudian membungkukkan badan untuk menghindari tendangan yang mengarah dadanya. Tidak berhenti di situ, dengan bertumpu pada kedua tangannya yang ada di tanah, La Bukkang mengangkat kaki kananya dengan cepat, dan mengirimkan tendangan pacul ke arah punggung La Settung.

__ADS_1


Bukkkk……


Tubuh La Settung terpental 10 meter ke samping. Dengan melakukan Gerakan salto satu kali, La Settung berhasil mendaratkan kakinya terlebih dahulu di tanah. Darahnya mendidih, emosinya memuncak. Dia tidak pernah menyangka hanya dalam satu serangan dia di buat terlempar sedemikian rupa.


“ kali ini aku tak akan main-main lagi bangs*t “


La Settung membuka Gerakan pertama, dan langsung mengeluarkan jurus andalannya yang membuat dirinya di kenal sebagai Setan Ular Hitam. Tangannya berubah warna menjadi hitam pekat. Di sela jari-jarinya terlihat asap tipis. Jurus Ular Hitam Neraka, jurus yang sangat berbahaya, mengandalkan kecepatan dan tenaga dalam yang tinggi, pukulannya juga di sertai racun mematikan.


Melihat bahaya yang mengancam, La Bukkang segera mengeluarkan Jurus Tinju Batu nya. Sekujur tangannya sampai siku berubah warna putih seperti pualam, dan kerasnya mampu membunuh seekor gajah sekali pukul.


“ kamu menjauh sedikit nak “ , kata La Bukkang kepada La Tenri Bali.


“ Hati-hati paman “, jawab La Tenri Bali cemas, sambil mundur beberapa Langkah.


“ matilah kau… “, teriak La Settung sambil melompat mengirimkan pukulan ke arah La Bukkang.


Seberkas cahaya hitam dengan hawa panas meluncur ke arah La Bukkang. La Bukkang merendahkan kuda-kudanya sambil menarik tangan kanannya ke pinggang. Dengan cepat dia mendorong tangan kanan nya ke depan sambil berteriak


“ Pukulan Tinju Batu ..hiyaaaaattt “


Seberkas cahaya putih ke abu-abuan meluncur dengan cepat menyongsong cahaya hitam dari jurus Ular Hitam Neraka.


Buuuummmmmm……


Ledakan dahsyat terdengar Ketika dua pukulan bertenaga dalam tinggi tersebut bertemu. Getarannya mampu membuat beberapa pohon tumbang. Angin pukulan yang tercipta akibat tabrakan tenaga dalam tersebut menerbangkan apa saja di sekitarnya.


La Bukkang terdorong beberapa Langkah ke belakang. Dadanya terasa berdenyut sakit. Darah hitam mengalir dari sudut bibirnya menandakan dia mengalami luka dalam.


La Settung sendiri dalam kondisi yang sangat buruk. Ketika ledakan terjadi, dia terpental beberapa kebelakang dan baru berhenti Ketika menabrak sebuah pohon sampai tumbang. La Settung memuntahkan darah segar sebelum tubuhnya ambruk pingsan.


Nasib malang menimpa La Tenri Bali, Ketika ledakan itu terjadi, drinya yang tidak mempunyai tenaga dalam sama sekali, terlempar jauh akibat angin kedua pukulan tersebut. Tubuhnya menabrak sebuah batu besar. Tiga tulang rusuknya patah. Hawa racun dari Jurus Ular Hitam Neraka juga terhirup olehnya. Kesadarannya hilang bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk ke tanah.


“ kalian semua, bunuh orang itu “, teriak La Kebbong sambil menunjuk La Bukkang yang masih setengah berlutut.


Ke 20 orang anggota Ular Hitam berlari ke arah La Bukkang sambil menghunus senjata mereka. La Bukkang yang sedang terluka dalam menyadari bahwa dia tidak akan sanggup menghadapi ke 20 orang tersebut, segera melesat secepat kilat ke arah La Tenri Bali yang sedang tak sadarkan diri. Mengandalkan sisa tenaga dalamnya yang sangat sedikit, dia langsung berlari kencang menggunakan Ilmu Melipat Bumi sambil membopong tubuh La Tenri Bali.


“ sial…” umpat La Kebbong begitu menyadari La Bukkang menhilang sekejap mata.


“ tidak usah di kejar, keselamatan Ketua lebih penting “. Lanjut La Kebbong.


Dengan sisa tenaga dalam yang hampir habis, La Bukkang terus berlari tanpa henti. Dadanya yang terus berdenyut sakit tidak dia hiraukan. Menjelang tengah malam, Ketika tubuhnya benar-benar sudah tidak mempunya daya lagi, La Bukkang pun terjatuh dengan lemahnya tepat di depan sebuah penginapan.


Brukk…..


La Kinang yang saat itu sedang menghitung uang pendapatannya, terkejut mendengar suara terjatuh di luar penginapannya. Dia segera berlari keluar di susul beberapa pelayan.


“ paman guru… apa yang terjadi ??? “ teriak La Kinang dengan panik.


Dia segera mengangkat tubuh La Bukkang setelah sebelumnya menyuruh pelayan untuk mengangkat tubuh La Tenri Bali.


La Kinang meletakkan tubuh paman gurunya di atas pembaringan. Setelah memeriksa kondisi tubuh gurunya, La Kinang menotok beberapa titik tubuh paman gurunya itu, kemudian meletakkan telapak tangannya di atas dada La Bukkang.


Setelah mengalirkan tenaga dalam beberapa saat, dan merasa sudah cukup, La Kinang kemudian beralih memeriksa kondisi La Tenri Bali. La Kinang menotok beberapa titik tubuh La Tenri Bali, dan berniat mengalirkan tenaga dalamnya juga. La Kinang meletakkan telapak tangannya di dada La Tenri Bali dan mulai mengalirkan tenaga dalamnya. Betapa terkejutnya La Kinang Ketika tiba-tiba tangannya tersentak ke atas, seolah-olah ada kekuatan yang menolak aliran tenaga dalamnya.


“ Racun ? “ , kaget La Kinang.

__ADS_1


Istana kerajaan Torayya sore itu sedang ramai. Beberapa petinggi kerajaan sedang berkumpul di aula istana. Mereka membahas strategi berikutnya untuk menumpas pergerakan kelompok Ular Hitam di beberapa daerah kekuasaan kerajaan Torayya.


Diantara mereka yang hadir terdapat seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun, badan kekar berisi, dan wajah yang mempunyai kharisma tersendiri. Laki-laki itu adalah Pendekar Batara Karang, atau La Panessai.


Di atas singgasana, duduk seorang laki-laki sepuh dengan wajah yang sangat berwibawa. Dia adalah Puang Batte Kakanna Makale, raja kerajaan Torayya, yang konon merupakan keturunan dewata. Usia laki-laki sepuh tersebut tidak ada yang tau. Kesaktiannya tidak perlu di pertanyakan lagi.


“ Panessai, untuk kesekian kalinya, kerajaan berhutang jasa kepadamu puang andi. Berkat bantuanmu, kekacauan di perbatasan kerajaan bisa di hentikan “, senyum Puang Batte.


“ seandainya aku tidak berpantang membunuh mahluk hidup, kerajaan ini akan tentram selamanya bebas dari para pengacau. Kekuatan ku juga di kunci oleh leluhur langit beberapa puluh tahun yang lalu, dan hanya bisa berfungsi Kembali Ketika istana benar-benar terancam. Jadi sekali lagi aku merepotkan dirimu puang andi “, sambung Puang Batte.


“ tabe puang, ini memang sudah tugas hamba, dan sudah tercatat di kitab peninggalan leluhur keluarga, untuk menjadi benteng terdepan kerajaan “, jawab La Panessai dengan hormat.


“ kapan pun kerajaan membutuh kan tenaga hamba yang tidak seberapa ini, hamba selalu siap unt…. “ ucapan La Panessai terpotong.


Serrr….serrr…ser…….


Badik Pusaka yang tersisip di pinggang La Panessai bergerak sendiri dan mengeluarkan suara gemuruh kecil. Wajah La Panessai seketika menjadi pucat.


“ Tabe puang, bahaya sedang mengancam keturunan hamba. Hamba mohon pamit undur diri “, dengan hormat La Panessai pamit kepada Puang Batte.


“ pulang lah puang andi, semoga semuanya baik-baik saja “, titah Puang Batte.


Setelah membungkuk hormat, La Panessai kemudian menghunus Badik Pusakanya, dan menciumnya dengan takzim.


“ bawa aku sekarang “ , ucap La Panessai sambil memejamkan mata.


Dan dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari pandangan semua orang. Semua orang yang ada di aula tersebut berdecak kagum tak terkecuali dengan sang raja sendiri.


“ anak cucu puang ri Langi memang istimewa “, gumam Puang Batte.


Di puncak Gunung Gandang Dewata, tampak tiga siluet menggantung di langit.


Siluet pertama membentuk seorang tua, berbadan gemuk dengan perut buncit, badan doyong kedepan seolah menahan berat perutnya. Wajahnya selalu tersenyum, rambutnya terikat keatas. Siluet pertama ini memakai celana selutut berwarna hitam. Berdiri membungkuk dengan kedua tangan di belakang punggung.


Siluet kedua membentuk seorang tua, dengan rambut Panjang sebahu, dan kumis lebat. Di kepala nya bertengger ikat kepala dari kain berbentuk kerucut. Di pinggang bagian depan tersisip dua buah Badik berwarna Merah dan Hitam.


Siluet ketiga membentuk seorang pemuda, berambut Panjang tergerai sampai pinggang. Berwajah sangat tampan. Pakaiannya seperti jubah berwarna putih gading. Di pinggang nya tersisip sebuah seruling emas.


“ apakah sudah waktunya ? “, tanya siluet pertama.


“ tunggu saja. Kita bertiga belum tau kapan. Guru menyuruh kita menunggu, ya kita harus menunggu. Jangan bertanya terus “ , jawab siluet kedua dengan nada jengkel.


“ dasar orang tua. Sukanya marah-marah hehehehe “, kata siluet pertama.


“ kau mengejekku tua hah ? kau mau bertarung sekarang ? “ , jawab siluet kedua mengepalkan tangan.


“ bisakah kalian berdua diammm ? “ , kata siluet ketiga dengan sedikit keras.


Dengan wajah memerah, siluet kedua menurunkan tangannya Kembali, sambil melirik geram ke siluet pertama. Sementara siluet pertama tetap tersenyum mengejek.


Suasana menjadi hening Kembali. Siapakah mereka bertiga ?


Siluet Pertama yang kelak di kenal sebagai Penjaga Tanah Jawa.


Siluet Kedua yang kelak di kenal sebagai To Manurung di Sulawesi.

__ADS_1


Siluet Ketiga yang kelak di kenal sebagai Kaisar Langit di tanah Tiongkok.


Mereka bertiga adalah sang Leluhur.


__ADS_2