
pagi itu,sehari setelah pemakaman kakeknya, Andi Baco tampak duduk di beranda depan rumah panggung milik mendiang kakeknya. Secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap, dan sepiring pisang goreng menemaninya. tidak lama kemudian, ibunya datang menghampirinya.
" nak, apakah kamu masih ingin menginap di sini, atau mau menginap di rumah kita ? ", tanya ibunya, Petta Besse.
Kakeknya, Petta Kadi, selama ini tinggal dengan anak Bungsunya yang bernama Petta Caya, adik dari Petta Besse, atau bibi dari Andi Baco.
kakeknya hanya memiliki 6 orang anak, dan Petta Besse merupakan anak sulungnya. anak-anak petta kadi telah berkeluarga semua dan tinggal terpisah, kecuali si bungsu.
" saya masih ingin menginap barang sehari dua hari di sini mak", jawab andi baco.
" baiklah kalau begitu, mamak pulang dulu, besok baru mamak kesini lagi ".
" iyye' ", jawab andi baco. ( iyye' dalam bahasa bugis artinya iya dalam bentuk sangat sopan ).
Petta Besse kemudian mencium kening anaknya, dan berjalan menuruni tangga. walaupun usia Andi Baco sudah menginjak 25 tahun, terkadang dia masih di perlakukan seperti anak kecil oleh ibunya.
sepeninggal ibunya, Andi baco masuk kedalam rumah untuk menemui bibinya.
" tante muda, saya mau melihat isi lemari kakek, boleh ? ", tanya Andi Baco.
memang usia andi baco dengan bibinya tidak berbeda. sama-sama berusia 25 tahun.
" ini kuncinya, bukalah. kakekmu memang berpesan untuk memberi kunci ini kepadamu ", jawab bibinya sambil tersenyum.
" terima kasih tante muda yang cantik ", kelakar andi baco.
dia lantas mengambil kunci dari tangan bibinya, dan berjalan memasuki kamar kakeknya. tak lupa dia mengunci pintu dari dalam agar tidak ada yang mengganggunya ketika dia membuka lemari kakeknya.
kriiittt..... bunyi pintu lemari tua dengan engsel yang agak berkarat. di dalam lemari itu terdapat beberapa potong pakaian mendiang kakeknya, dan juga sebuah buku tebal yang agak berdebu. andi baco kemudian meraih buku tersebut, dan melihat tulisan tangan yang ada di sampulnya. " ANAK KETENG RI BITTARAE ", bunyi tulisan tersebut. yang artinya, BINTANG PALING TERANG DI LANGIT. andi baco kemudian duduk di kursi, dan meletakkan buku tersebut di atas meja. dia membuka buku tersebut. pada halaman pertama tertulis dengan huruf lontara kuno dalam bahasa bugis yang artinya begini :
__ADS_1
" ini adalah rahasia yang hanya bisa di baca oleh penerusku yang sah, yang telah mendapat kunci pembuka tirai dari yang tunggal. rahasia alam semesta tak bertepi, rahasia kehidupan dan kematian, rahasia penciptaan, rahasia kalam, rahasia didalam rahasia ".
di baris berikutnya : ucapkan kunci pembuka tirai untuk bisa membaca setiap halaman buku ini "
andi baco tertegun setelah membaca tulisan di halaman pertama. dia kemudian membuka halaman berikutnya, dan ternyata hanya kertas kosong. begitupun halaman yang lain. dia kembali membuka halaman pertama yang berisi tulisan.
" kunci ? apakah kuncinya kalimat yang itu ? ", bathin andi baco.
setelah merenung beberapa saat, Andi baco kemudian mengucapkan kalimat tersebut dalam hati.
" Siddi tettong tungke', dua temmassarang, tellu temmallesang "
semilir angin bertiup lembut disertai harum wangi cendana memenuhi kamar tersebut. andi baco mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar untuk memeriksa keadaan. setelah yakin tidak ada apa-apa, andi baco menghela nafas. dia kembali melihat buku tersebut, dan membuka halaman berikutnya, ajaib. tulisan dalam aksara lontara kuno berbahasa bugis telah ada di halaman kedua. bunyinya sebagai berikut :
- Rahasia Tubuh Manusia -
ketika ketujuh meridian utama ini terbuka maka potensi manusia akan bisa terbuka sepenuhnya.
Andi baco terkejut membaca kalimat yang tertulis di halaman kedua itu. kalimat tersebut mirip dengan prinsip Reiki yang pernah dia ikuti pelatihannya waktu jaman kuliah. dalam pelatihan reiki yang pernah dia ikuti, andi baco mengetahui bahwa tubuh manusia memiliki tujuh cakra utama. dan apabila ketujuh cakra utama terbuka sepenuhnya, maka manusia bisa mendapatkan akses menuju dimensi yang lain. selama ini andi baco tidak terlalu peduli dengan istilah dimensi yang lain, karna dia menganggap itu hanyalah mitos atau dongeng seperti di dalam buku novel yang sering dia baca. dia ikut pelatihan Reiki murni untuk meningkatkan kualitas kesehatan nya saja, lebihnya tidak.
ketika andi baco hendak membuka halaman berikutnya, pandangannya tiba-tiba menjadi gelap. dia mengerjapkan matanya beberapa kali, namun masih gelap juga. sekitar 5 detik kemudian, pandangannya kembali normal, dan alangkah kagetnya andi baco ketika tiba-tiba mendengar suara di belakangnya,
" salam nak, apakah kamu sudah siap ? "
andi baco berbalik, dan melihat pria paruh baya yang kemarin juga ada saat kakeknya menjelang wafat.
" anda siapa sebenarnya ? apakah anda manusia juga ? ", tanya andi baco dengan suara gemetar.
__ADS_1
" saya manusia juga seperti kamu nak. saya mempunyai banyak nama yang di berikan oleh manusia yang saya temui di berbagai zaman dan dimensi. kakekmu memberi saya nama Daeng Malebbi ". jawab pria paruh baya tersebut sambil tersenyum.
" berbagai zaman ? artinya anda sudah hidup sangat lama sekali ? " , tanya andi baco.
sambil tersenyum Daeng Malebbi menjawab, " iya, saya sudah tidak ingat berapa umur saya sekarang. saya berada di sini karna saya memilih kamu untuk menjadi penerus kakekmu, menerima warisan Rahasia di dalam Rahasia. apakah kamu sudah siap nak ? "
" tunggu, saya belum mengerti semua ini, bisakah anda menjelaskan dengan lebih detail ? ", andi baco semakin tegang. dia tidak tau kondisi seperti apa sebenarnnya yang terjadi sekarang.
" tentu, tentu saja nak. kamu memang harus tau dulu. tapi bukan disini tempatnya untuk memberi tau mu. mari ikut dengan ku, kita ke tempat ku agar bisa berbincang dengan lebih nyaman. pejamkan matamu sejenak "
kata Daeng Malebbi.
Andi baco tertegun. ada perasaan ragu terselip di hatinya, tapi dia tepis mengingat ini adalah pesan kakeknya sebelum wafat. dengan memantapkan hati, andi baco kemudian memejamkan matanya.
daeng malebbi tersenyum. kemudian dia memegang bahu andi baco sambil meniup ke depan. dan mereka pun lenyap dari kamar tersebut bagaikan udara yang menguap.
" sekarang kamu boleh membuka mata nak "
begitu mendengar suara tersebut, andi baco membuka matanya.
" eh kita ada di mana ini ? " , andi baco melihat sekelilingnya.
andi baco berdiri di atas lantai seperti keramik berwarna putih bersih. sekitarnya hanya ada awan awan tipis. sejauh mata memandang, hanya ada suasana putih tanpa tepi.
" duduklah dulu nak, baru kita mulai berbincang ", kata daeng malebbi sambil tersenyum.
daeng malebbi kemudian meniup kedepan. muncul dua buah kursi mewah dengan bantalan yang empuk.
lagi-lagi Andi Baco di baut terpana dan takjub.
__ADS_1