
Aqia menyandarkan kepalanya pada kursi di sebuah restoran. Tampak cemas dan gusar. Seporsi pasta carbonara dan lemon tea dimeja yang telah dia pesanpun tidak tersentuh sama sekali. Dering telfon tiba – tiba berbunyi.
“Iya, baik. Saya kesana sekarang.” Lalu dengan tergesa - gesa ia berdiri dan menuju pintu keluar. Pergi menuju seberang jalan depan restoran. Melambaikan tangan untuk menghentikan taksi yang tidak sengaja lewat di depannya.
Sore itu, seperti ada yang hilang dari seorang “Aqia”. Mukanya pucat. Seperti sedang hilang arah. Jantungnya berdegup kencang. Didalam taksi yang membawanya melewati jalanan kota yang tengah padat - padatnya, ia hanya menundukkan kepala dan tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Bahkan tidak ada sapaan untuk pak supir, tak seperti biasanya. “Lurus aja dulu, pak.” Perintahnya singkat.
Sesekali roda taksi itu membuat guncangan kecil yang membuatnya semakin berdebar. Ada rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Pelan, ia membuka galeri handphone yang sedang ia genggam. Menscroll ke atas bawah, lalu berhenti pada sebuah foto. Seorang lelaki dengan senyuman tipis, mengenakan kaos hitam dengan mata yang sedikit menyipit. Tak sadar, airmatanya menetes. Ia menangis sejadinya.
Melihat kondisi perempuan yang ada dijok belakangnya, pak supir bertanya akan kondisi Aqia. Memastikan bahwa semua baik – baik saja.
"Mbak kenapa? Lagi ada masalah, ya?” Tanya pak supir dengan sedikit melirik spion yang ada didepannya. Suara supir taksi itu memaksa Aqia untuk berhenti menangis. Ia baru sadar ternyata dari tadi lelaki di balik kemudi itu memandangi dia menangis dari balik kaca spion.
"Tidak apa – apa, pak. Semua baik – baik aja” Jawab Aqia dengan suara yang sedikit bergetar. Ketika kendaraan hampir sampai ke tujuan, gadis itu sibuk merapikan tas yang ia bawa. Dimasukkannya handphone ke dalamnya. Lalu menyiapkan beberapa lembar uang untuk membayar argo taksi. Sesampainya di tempat tujuan, Aqia turun dan masuk ke sebuah rumah berlantai 2.
***
Seorang lelaki tinggi berbadan kekar muncul dari balik pintu. Dengan raut muka heran, lelaki itu menghampiri Aqia. Memeluknya. Tanpa bertanya apapun lelaki itu mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Rumah yang besar, diisi dengan perabotan – perabotan mewah yang mungkin harganya berpuluh – puluh juta. Ada sebuah foto keluarga menempel pada dinding di sebelah barat ruang tamu. Patung singa dengan taring yang tajam di sudut ruangan. Sepi. Hanya ada si mbok yang selalu ada di dapur, lalu membawakan secangkir minuman dingin.
"Are you okay, qia?” Suara berat itu akhirnya keluar dari mulut lelaki itu.
“Aku gatau harus gimana lagi. Aku gabisa kalo harus terus – terusan begini.”
Marah. Nada marah campur kecewa. Airmatanya tidak bisa ditahan lagi. Aqia menangis sejadi jadinya. Si mbok yang melihat Aqia sesenggukan, langsung mengambilkan tissue untuk qia.
"Kita harus kesana sekarang.”
“Iya, tunggu ya. Aku ganti baju dulu, sebentar”
__ADS_1
Lelaki itu bangkit dari sofa yang ia duduki, menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Mengganti kaosnya dengan setelan kemeja yang rapi dengan celana jeans.
***
Sesampainya Aqia di tempat itu, mereka langsung memasuki tiap lorong. Menyusuri tiap ruangan. Seperti sudah hafal setiap sudut tempat itu. Lalu terhenti pada sebuah ruangan. Aqia menatap pekat mata lelaki disampingnya. Digenggamnya tangan lelaki itu. Dadanya berdegup kencang. Ada rasa yang entah tidak bisa dijelaskan menyelimuti dada Aqia. Kalau saja menjerit bisa membuatnya lega, mungkin ia akan melakukan itu. Tapi ia lebih memilih memendam, diam, dan tak bersuara.
"KLEKK” suara pintu yang berada tepat di depannya berbunyi dan terbuka. Ada seorang perawat yang keluar, lalu menghampirinya dengan sedikit senyum dibibirnya.
“Mbak Aqia, ada perkembangan dari mas Gema. Tadi jarinya sudah mulai bergerak. Kita tunggu kabar baiknya ya, mbak.” Ucap wanita yang sudah tidak lagi muda itu dengan seragam putih yang ia kenakan.
***
Perempuan dengan rambut panjang melebihi bahu itu sedang asyik memainkan handphone yang sedang ia genggam. Memasang headset di telinga kanan dan kirinya. Kakinya sesekali sedikit menghentak mengikuti alunan musik. Jalanan kota pada sore itu sedikit sepi. Tidak banyak orang yang berlalu lalang. Padahal biasanya ramai, tepat di jam jam orang pulang dari kantor atapun aktivitas lain. Oh iya, mungkin karena weekend ya. Pikir Alana. Tak mau memikirkan hal lain, ia asyik menyanyikan lagu dari Fiersa Besari, Nadir.
Tiba tiba suara klakson sebuah mobil mengagetkan Alana. Suara itu berkali – kali berbunyi menembus musik yang sedang ia dengarkan. Ia langsung buru – buru memindahkan sepeda yang sengaja ia parkirkan di pinggir taman itu.
Seorang laki – laki keluar dari mobil dan memaki Alana. Perempuan itu mulai terpancing emosi dan melepas headset yang masih terpasang di salah satu telinganya.
"Heh, emangnya kenapa kalo parkir disini? Salah? Bukannya ini jalan umum, ya? Lo kenapa juga, tuh masih banyak space buat lewat. Sinting lo ya?” Perempuan itu balik memaki.
Lelaki berparas tampan itu hanya meringis lalu menunjuk ke sebuah tanda.
“ Lo buta apa gabisa baca sih? Tau kan itu larangan apa?”
Seketika Alana diam, membisu. Menelan ludahnya sendiri.
“ Gu .. gue. Gue ngga tau kalo ada larangan parkir disini. Kalo tau ya ga mungkin disinilah, bege.” Jawabnya pelan dan terbata – bata. Tapi meski sadar bahwa ia salah, ia tidak mau terlihat kalah, ia tetap saja kekeh tidak mau disalahkan.
Dengan marah, lelaki itu pergi dengan emosi yang meledak.
__ADS_1
“Ih, amit – amit ketemu sama orang sinting kaya gitu.”
Gerutu Alana, lalu ia pergi menaiki sepedanya. Moodnya yang awalnya bagus tiba – tiba berubah menjadi buruk. Seakan itu adalah hari paling buruk dalam hidupnya.
***
Ada suara ketukan dibalik pintu kamar Alana, semakin lama semakin keras. Tak dihiraukan Alana. Ia begadang tadi malam, ia masih mengantuk.
“Alana .. bangun!!!!! Jam berapa ini?”
Mamah. Iya, benar apa yang dikatakan orang selama ini. Mamah adalah alarm terbaik untuk anaknya. Yah, meskipun galak dan sedikit tegas. Tapi mamah adalah satu – satunya orang yang percaya dengan Alana. Bahkan ketika ia dituduh mengambil sesuatu diam – diam atau lebih tepatnya mencuri, di Mall. Mamahlah orang satu – satunya yang percaya bahwa pasti ada kesalahpahaman. Dan benar, petugas mall aja yang kurang teliti sehingga peringatan mall berbunyi.
“Iya, mah. Lima belas menit lagi”
“Ga ada lima belas menit lima belas menit. Ini hari pertama kamu ngampus kan, Al? Hari ini kan kamu ospek. Jangan bilang kamu lupa ya, Al!!”
Mata Alana membelalak, melihat jam di samping tempat tidurnya.
“Astaga, gue lupa.” Ia memukul jidatnya sendiri.
“Iya, mah. Alana turun sepuluh menit lagi.”
Ia langsung buru – buru mandi. Yang entah mungkin hanya cuci muka dan gosok gigi. Mengambil sepasang kaos kaki dan mengenakannya. Awal perkuliahan yang sangat kacau. Tak bisa dibayangkan apabila ia terlambat pada hari pertama kuliahnya. Ishhh, ia menyesal karena semalaman begadang hanya untuk menonton film. Ia segera turun dengan membawa sepasang sepatu dan tas kecil miliknya. Dengan tergesa – gesa dan buru – buru.
“Mah, Alana langsung berangkat yah. Udah telat nih.” Ucap Alana sambil mencomot sehelai roti diatas meja makan yang tampak kosong. Iya, tidak ada seorangpun kecuali mamah Alana. Karena dirumah hanya ada tiga penghuni. Alana, Mamahnya, dan Bi retno. Ayah Alana sudah lama pergi meninggalkan rumah. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika Alana umur 8 tahun. Tanpa pamit, untuk seorang perempuan yang ia cintai. Dan itu, bukan mamah Alana.
“Ga sarapan dulu, sayang?” Rayu mamah pada Alana dengan sedikit menahan Alana.
“Engga, mah. Takut ga keburu ini. Berangkat dulu ya, mah. Daaaaa ..”
__ADS_1