Senja Dan Kehilangan

Senja Dan Kehilangan
Segalanya, kacau


__ADS_3

Jalanan tampak padat, penuh polusi. Alana berjalan sedikit berlari menuju sebuah halte bus. Sesekali melirik jam yang tersemat pada salah satu pergelangan tangannya.


"Duh, telat nih gue.” Ia memasangkan headset di telinganya lalu tidak sengaja melihat seorang nenek-nenek yang sudah renta hendak menyebrang. Seketika ia tidak lagi peduli dengan jarum jam yang terus berputar , yang ada dipikirannya hanyalah menolong nenek itu.”


“Saya bantu ya, nek.” Ia meraih tangan kiri nenek itu untuk digandengnya, lalu membantunya menyebrang jalan.


“Cuiiitttttttt ..” Suara yang tidak asing di telinga Alana.


Suara rem bus yang ia tunggu sedari tadi. Bus yang ia tunggu sudah ada dibelakangnya. Ia buru-buru menoleh dan berteriak. Lalu pamit dengan nenek itu dan mengejar bus yang hampir saja berjalan meninggalkannya. Syukurlah, kernek bus itu masih mendengar teriakan Alana.


**


Gema Chandra. Lelaki berparas tampan, berumur 23 tahun. Seorang mahasiswa fakultas seni rupa yang super hiperaktif dan kreatif. Tampilannya tidak terlalu menarik, tapi entah kenapa banyak sekali mahasiswi-mahasiswi yang mencoba untuk mengambil hatinya. Yaa, mungkin karena sikap ramah dan friendly nya. Gema adalah cowo yang aktif dalam keorganisasian kampus. Ia menjabat sebagai anggota divisi acara. Kepopulerannya itulah yang menjadikan dia banyak relasi dan banyak digemari para kaum hawa.


“Hei bro. Udah sarapan belum? Abis ini kita full ngisi acara, kantin yuk?” Tepuk Nathan, teman seangkatan Gema. Teman yang ga sengaja kenal waktu pertama kali masuk kampus. Nathan besar, gagah dengan kumis tipisnya. Tubuhnya tinggi menjulang. Jika dibandingkan dengan Gema, beuhhh .. tidak ada apa-apanya. Mungkin hanya setelinga.


“Ayoklah, belum sarapan nih.”


Mereka bangkit dari segerombol manusia-manusia dengan penuh rencana di otak masing-masing. Meninggalkan semua kepenatan yang ada. Sambil membawa beberapa kertas print out yang isinya tidak jauh-jauh dari rangkaian acara. Mereka berdua menuju ke kantin.


“BRUKKKKK!!!!!”


“Ishhhhh”


Ada sepasang kaki menabrak Gema. “Eh, sorr ..”


Ucapannya terhenti ketika ia melihat Alana, ternyata takdir mempertemukan dia dengan perempuan di taman beberapa hari yang lalu. Alana mengambil tas yang tidak sengaja jatuh dan mengadahkan kepalanya. Melihat sosok lelaki yang sungguh ia tak mau melihatnya.

__ADS_1


“Astagaaaa, kenapa gue sial banget ketemu dia disini. Wait, jangan-jangan dia maba juga di kampus ini?” Pikirannya melayang jauh. Memikirkan opini-opini buruk tentang Gema.


“Heh, lo denger gue ga sih?” Gema menghentakkan kaki membuyarkan lamunan Alana. Ia sedang tidak mau berdebat karena ia sudah telat dan tidak mau harinya buruk hanya karena cowo sinting seperti Gema. Tanpa berucap apapun, Alana pergi. Meninggalkan segala kebisingan yang ada disana.


**


Pengeras suara sudah terdengar dari kejauhan. Semakin dekat, semakin jelas. Ia buru-buru menuju lapangan. “Parah, gimana nih. Telattt gue!” Seorang kakak tingkat datang dengan menghampirinya, lalu memberinya arahan untuk ke bagian kiri lapangan. Bagian mahasiswa baru yang melanggar aturan.


“Kenapa terlambat?” Suara lembut itu dengan sopan memasuki telinga Alana. Ia menoleh dan berbalik, seketika diam karena terpesona dengan paras tampan nan rupawan lelaki itu. Ia sengaja melirik id card yang terkalung di leher. BASKARA. Divisi Acara. Bacanya singkat.


“Hmmm, maaf kak. Tadi dijalan saya bantu nenek-nenek nyebrang jalan dulu.” Jawab Alana dengan polosnya sambil terbata-bata. Mendengar jawaban itu, Baskara tertawa kecil, mengernyitkan dahi. Gadis unik. Batinnya. Senyum itu masih menghiasi wajahnya.


“Kelompok ini siapa yang handle?” Tiba-tiba Gema datang dengan membawa laporan ditangannya. Mengecek apa yang sedang terjadi disana.


“Gue gem, ini kelompok maba yang menyalahi aturan.” Jawab Baskara singkat menanggapi pertanyaan Gema.


“Hei, kamu. Sini maju.” Perintah Gema dengan menunjukkan jari telunjuknya pada Alana. Tidak dapat berkutik lagi, mau tidak mau Alana harus tetap menuruti perintah lelaki itu. Kenapa di dunia ini harus ada dia? Kenapa dunia ini sempit banget bisa ketemu disini. Jadi kating pula. Ahhhh!!! Mau gamau, gue harus nurutin apa kata cowo ini.


Angin kencang mengibaskan rambut Alana. Terlihat dahi lebarnya dipenuhi butiran-butiran keringat. Dadanya berdebar kencang. Tetap didepan Gema, gadis dengan tinggi yang tidak lebih dari seratus enam puluh sentimeter itu mendongak. Melihat jelas muka lelaki itu, tampan, bersih.


Deggggg ..


“Kamu melanggar kesalahan apa?” Tanya Gema sambil melipat kedua lengannya didepan dada.


“Terlambat, kak.” Jawabnya singkat. Gema mencari kesempatan untuk membalas perlakuan Alana kemarin dan tadi pagi. Ia langsung memikirkan ide. “Scotch jump seratus kali.” Alana tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


“Tapikan ..” Belum selesai berbicara, Gema langsung memotong pembicaraannya.

__ADS_1


“Dimulai dari sekarang!! Sa .. tu! Du .. aaaa!!!”


Alana menggerutu dalam hati. Mana bisa hanya dia yang dihukum sedangkan banyak sekali mahasiswa baru yang melanggar aturan. Ini bukan hanya soal aturan, tapi juga rasa malu. Ia dihukum di depan mahasiswa baru yang banyaknya tidak bisa dihitung dengan itungan jari lagi. Cowo sinting itu ga seharusnya menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi seperti itu. Pertemuan Gema dan Alana, membuat mereka berdua semakin saling membenci.


**


Di ruang tengah, mamah Alana sedang sibuk dengan mesin jahitnya. Tangannya terampil dengan beberapa helai kain lebar.


“Mahhhh, Alana pulang.” Suara Alana dari sudut ruang tamu. Seperti biasa, ia meletakkan tas di sofa, lalu merebahkan badannya sebentar. Melihat kebiasaan putri perempuan satu – satunya itu, mamah Alana hanya menggelengkan kepala.


“Gimana ospek hari pertamanya, Al?” Tanya mamah Alana, keluar sambil membawakan segeas air mineral dingin. Berharap dengan segelas air itu bisa membuat putrinya sedikit lega.


Alana segera meneguk habis air yang ada digelas itu. Lalu teringat kejadian yang sungguh menyebalkan pagi tadi. Lalu menceritakan perihal Gema, si cowo sinting yang telah merusak hari-hari yang seharusnya menjadi hari yang menyenangkan untuknya. Cowo yang telah mempermalukannya. Mamah Alana hanya sedikit tersenyum.


“Lelaki itu tidak bisa ditebak, Al. Maka dari itu, itu tugas kita untuk bisa memahami dan mengasihi, dengan cara kita sendiri.”


“Apaan sih, mah. Kok jadi ga jelas gini? Laki-laki itu sama aja. Ga pernah ada yang serius.” Tatapan Alana berubah, ada sedikit kecewa di raut mukanya. Nafasnya menggebu.


“Gaboleh bilang gitu, sayang.” Mamah Alana mencoba untuk memberi pengertian.


“Nyatanya ayah ninggalin mamahkan? Ayah ninggalin Alana kan?” Ucapa Alana dengan mata yang berkaca-kaca.


**


Jika memang rencana semesta seperti ini. Lantas, bisakah semesta memberiku jawaban? Jawaban atas segala tanyaku selama ini. Segala hal yang menyakiti, kenapa harus tetap disini? Kemana perginya lelaki hebat yang sering muncul dalam kisah tuan putri? Setengah diriku menghilang, hanya bayangnya yang mengisi. Sekadar bayangan. Akankah ada hari dimana kau akan datang padaku, mencariku, memelukku? Bahkan sampai saat inipun, inginku hanya satu. Membuang segala memori tentangmu.


***

__ADS_1


__ADS_2