Senja Dan Kehilangan

Senja Dan Kehilangan
Tak terduga


__ADS_3

Nuansa kamar lelaki yang seperti pada umumnya. Tidak beraturan, tidak rapi. Handuk ada diatas tempat tidur. Kaos kaki diatas meja. Sepatu di rak buku. Ish, kebiasaan buruk laki-laki. Bahkan sampai sekarangpun tidak ada teori yang membahas kejorokan laki-laki di muka bumi ini. Yaudahlah ya, namanya juga cowo. Maklumi aja ya ga si?


Gema melepas tas punggungnya. Mencari handphone yang ada di dalamnya. Tak disangka, ia melupakan satu hal.”Astagaaa ... gue lupa ngembaliin tas Alana.”


Dengan tanpa rasa takut ia menggeledah isi tas itu. Ditemukannya sebuah tape recorder. Jaman gini masih pake tape recorder? Ini dia hidup di gua apa gimana sih? Batinnya. Sambil membolak - balikkan tape recorder itu. Lalu ditekannya tombol play.


Sskskkksksk ..


“Hai, namaku Alana. Alana Anandita Persada. Orang-orang biasanya memanggilku Al, panggil saja begitu.”


Rekaman itu habis, hening .. lalu di tekannya tombol next.


“Ah.. malam yang indah. Coba aja kamu bisa ngeliat bulan itu. Coba deh liat, sabitnya cantik banget loh. Nanti, kita liat bareng-bareng, ya?” Suara yang terdengar sangat bahagia. Bersamaan dengan suara angin. Sedikit tidak jelas. Namun Gema yakin, itu Alana.


Gadis aneh, pikirnya. “Kenapa dia ngga rekam pake handphone aja? Kan lebih jelas. Fiturnya juga lebih banyakkan?” Gema bertanya-tanya dalam hati. Dan membolak-balikkan tape recorder itu. Tampak jadul, bahkan terkesan tidak memiliki daya jual.


Tidak ambil pusing, ia membongkar lagi isi tas Alana. Yang ia temukan hanyalah buku-buku biasa. Namun ada hal yang menarik perhatiannya. Satu buku bersampul silver kemerlip dengan banyaknya sticky note disana. Cantik. Berbeda dengan buku yang lain. Diary book? Pikir Gema.


Ia membuka buku itu, dihalaman pertama ada tulisan tangan rapi.


“Jangan buka buku ini jika kamu bukan pemiliknya, ya?”


Gema tertawa kecil. Tanpa menghiraukan tulisan itu, ia melanjutkan membuka halaman selanjutnya.


“Tuhkan, keras kepala. Sudah dibilang jangan dibuka.”


Disamping pojok kanan bawah ada tulisan kecil, “Jika kamu menemukan buku ini, mohon dikembalikan, ya? Contact me 088232844050. Thankyou. Jangan dibuka lagi, ya?”


Gema tersenyum lebar. Kok ada ya cewe aneh kaya begini? Ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Lalu ia mengambil handphone didalam tasnya, dan mengetik pesan singkat.

__ADS_1


**


“Al, besok berangkat bareng, yuk? Gue jemput sama Cika.” Ucap Mila.


“Hah? Apaan Mil? Kok lu nyebut-nyebut nama gue?”


Tutttt tut tutt .. Reconnecting.


“Yah, sinyalnya Cika jelek tuh.”


Semenjak hari di ruang kesehatan itu, mereka menjadi akrab dan sering berkomunikasi. Entah lewat chat, grup whatsapp, video call, voice note.


“Eh, Al. Gue kemarin sama Cika ketemu kak Gema. Dia kemarin keliatan kaya sedih gitu, sendirian pula.” Mila menceritakan segala hal yang dia lihat kemarin sore. Alana Nampak tidak peduli, bahkan ia tidak ingin mendengar nama lelaki itu.


Tiba-tiba ada notifikasi whatsapp masuk di handphone Alana.


“Tas lo ada di gue, besok bisa ketemu gue di kantin sebelah fakultas seni rupa jam delapan pagi. –Gema-“


Alana mencari nomor Mila, lalu menelfonnya. Terhubung.


“Hallo, iya Al, kenapa?”


“Sorry Mil, besok gue gabisa bareng kalian deh. Gue ada urusan penting. Lain kali, ya?”


“Ohhh okay. Gapapa al, goodluck ya.” Ditutupnya telepon itu. Ia berjanji ini adalah kali terakhirnya berurusan dengan lelaki itu. Lelaki itu sudah cukup membuatnya menderita. Membuat segala hal baik menjadi buruk.


**


Pagi-pagi sekali Alana sudah bersiap untuk ke kampus. Mamah Alana bingung terheran-heran karena tak biasanya Alana sudah siap pukul segini. Melihat putrinya, mamah hanya menanyai sewajarnya. Lalu mempersiapkan sarapan untuk Alana. Tapi sayangnya, Alana menolak.

__ADS_1


“Alana sarapan di kampus aja ya, Mah. Ada hal yang harus Alana selesaiin cepet-cepet.” Mamah Alana mengangguk tanda mengerti. Lalu menawari putrinya bekal makanan untuk dibawa ke kampus. Tapi tidak diiyakan oleh Alana. Wanita yang hampir berumur lima puluh tahunan itu mengerti, kini putrinya sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, bukan lagi Alana kecil yang selalu merengek meminta susu.


**


Alana menuju kantin, memesan seporsi soto ayam dan es jeruk. Ia membuka lembar demi lembar materi yang ada di print out yang dia pegang. Ia sibuk berkutat dengan kertas-kertas itu. Menghafal gerakan demi gerakan yang ada digambar tersebut. Ia adalah mahasiswi seni tari. Karena itulah, ia menjadi gadis yang aktif, ya lebih tepatnya bisa dibilang banyak tingkah. Suasana kota pagi itu sejuk sekali, ia memilih bangku yang berhadapan dengan taman kampus fakultas seni. Hawanya dingin, sehabis hujan semalam.


Makanan dan minuman yang ia pesan sudah sampai didepan matanya. Ia menyeruput es jeruk miliknya, dan mulai melahap soto ayam yang sudah ia pesan.


“Ohhh .. ternyata mahasiswi seni tari?” Tiba-tiba Alana dikagetkan dengan suara berat dari belakangnya. Ia mendongak, melihat siapa yang mengajak ia bicara.


“Kak Baskara?” Ia melongo, lagi-lagi lelaki itu datang tanpa diminta. Semalem mimpi apa sih, gueee .. Ia girang kesenangan, tapi dihadapan lelaki idamannya itu ia tetap bertingkah biasa saja dan tampak jual mahal.


“Boleh gue duduk disini?” Baskara melemparkan pertanyaan pada Alana, sambil menunjuk bangku di sebelahnya. Alana mengangguk, tanda setuju.


Beberapa menit ia duduk bersama Baskara, banyak sekali hal yang ia bicarakan. Terutama tentang Gema. Alana menceritakan bagaimana bisa takdir mempertemukan ia dengan lelaki yang biasa ia sebut cowo sinting itu.


Baskara terkekeh, melihat ekspresi Alana yang begitu menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menyukai Gema. “Gema sebenernya baik kok, Al. Coba deh kamu kenal dia.” Setelah kalimat itu keluar dari mulut Baskara, tiba-tiba dari kejauhan terlihat Gema datang.


Baskara melambaikan tangan, memanggil Gema diantara puluhan orang disana. Sedangkan Alana tidak peduli. Memandangi lelaki itu dari jauh. Sungguh, rasa benci sudah mendominasi di pikiran Alana. Segala hal baik tentang Gema yang barusan diceritakan oleh Baskara tib-tiba hilang begitu saja.


“Loh, Bas. Lo ngapain disini?” Tanya Gema kebingungan. Mengernyitkan dahi, melihat Alana disana. Lalu melempar tas milik Alana, lalu pergi begitu saja.


Baskara mengejar sahabatnya itu, memanggil-manggilnya.


“Gem, lo mau kemana? Tunggu dong.” Teriak Baskara, berjalan sedikit berlari mengejar Gema.


“Mau ke kelas, ada kelas nih gue.” Gema menoleh kearah Baskara yang terlihat kelelahan karena mengejarnya.


Sedangkan Alana sibuk mengecek tas yang ia pegang. Memastikan apa saja yang seharusnya ada disana. Ia merogoh ke saku yang kecil, mencari tape recorder kesayangannya. Ia lega, masih ada. Dan masih berfungsi. Ia tidak tau lagi jika tape recorder itu hilang.

__ADS_1


Dia puter rekaman-rekaman ini ga ya? Malu banget ga sih kalo diputerrr. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri. Bagaimana bisa ia seceroboh ini. Banyak hal yang ada di tape recorder itu. Ia hanya bisa berharap Gema tidak membuka tasnya, dan mengobrak-abrik semua yang ada didalamnya.


***


__ADS_2