Senja Dan Kehilangan

Senja Dan Kehilangan
He's perfect


__ADS_3

Nada dering telfon berbunyi.


“Kringgg .. kring ..”


Dilihatnya kontak nomor tidak dikenal. Siapa nih? pikirnya. Lalu ia mengangkatnya.


“Hai, Al. Sorry ganggu malam-malam gini. Ini gue Baskara," suara khas itu membuat Alana mati kutu.


“Damn!!! Kak Baskara?” ia terkejut. Didalam hati ia bertanya-tanya. "Gimana bisa? Dia nelfon gue? Lah, dapet darimana kontak gue?" banyak sekali kalimat tanya dikepala Alana.


“Al?” Baskara memanggilnya berulang kali memecahkan lamunan Alana.


“oh, iya kak. Ada apa?” jawab Alana dengan nada sedikit gugup.


“Besok bisa ketemu? Dicafe Batavia ya. Ada yang pengen gue omongin.”


“Oh, baik kak,” Alana menanggapi Baskara dengan bibir yang senyum-senyum sendiri.


“See you ya.” lelaki itu menutup telfon.


**


Ditekannya tombol record pada tape recorder itu,


Huh ..


Rasa apa ini. Sudah lama kiranya rasa ini tidak singgah. Namun denganmu, ada rasa yang membuatku berdebar. Aku tidak tau, harus bagaimana mengatakannya padamu. Sederhananya begini, denganmu, aku bahagia. Izinkan aku untuk menjaga hatimu, ya? Beri aku sedikit ruang dihatimu. Sungguh, aku ingin bersungguh-sungguh denganmu.


Alana, pada Baskara.


**


Tidak seperti biasanya Alana mempersiapkan segala hal dengan baik. Ia memadukan celana jeans yang biasa ia pakai dengan blouse simple. Namun terlihat tidak istimewa. Ia membongkar isi lemari, menemukan overall dress miliknya. Alana adalah seorang gadis yang terhitung sedikit tomboy. Ia bahkan tidak memiliki banyak rok dan setelan wanita pada umumnya. Ia menempelkan dress itu tepat ditubuhnya. Didepan cermin, ia sedikit tidak percaya diri.


“Cantik" puji mamah Alana, yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. “Mau kemana sih, sayang? Tumben-tumbenan sampe geledah lemari kaya gini?" Alana tersipu. Menunjukkan raut muka bahagia.


“Mau ketemu temen, Mah" jawabnya singkat.

__ADS_1


“Temen apa temen?” goda Mamah Alana. “Kamu cantik, Al. Coba deh liat dicermin.”


“Iya dong. Anak siapa duluuuu” Alana menyengir, memeluk mamahnya. Hari itu adalah hari yang sangat indah baginya. Sungguh.


**


Sebuah taksi berhenti didepan restoran bertulis “BATAVIA”. Gadis itu turun dengan heels yang tingginya hanya beberapa sentimeter. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang rupiah untuk membayar argo taksi yang telah ditumpanginya. Tiba-tiba ada pesan masuk.


“Aku udah sampai ya, Al.”


Alana senyum - senyum sendiri. Membayangkan ada sosok lelaki tampan yang menunggunya disana. Ia mulai melangkahkan kaki, menuju pintu masuk. Disambutnya dengan waitress. Ia celingukan mencari sosok Baskara. Tak ia temukan, ia bertanya pada pramusaji disana. Diperlihatkannya foto profil whatsapp Baskara.


“Oh, mas Baskara? Di meja nomer 5 mba. Mari saya antarkan" celetuk waitress itu.


Ia kebingungan, kok bisa perempuan itu bisa mengetahui nama Baskara. Jangan-jangan ….


Ah, tidak mungkin. Baskara bukan tipe lelaki buaya. Batinnya.


**


“Al? lo cantik banget hari ini” puji Baskara akan penampilan Alana.


“Terimakasih, kak" Alana tidak menduga Baskara mengatakan hal itu. Hatinya berbunga-bunga. Mabuk kepayang. Ahhh, dia semakin menjadi.


Baskara mempersilahkan Alana untuk duduk. Masih ia pandangi terus-terusan wajah Alana. Lalu melemparkan senyuman pada gadis itu.


“Oh iya kak, tadi aku kan tanya sama mbak - mbak disana tuh” Alana menunjukkan jari telunjuk pada seorang waitress yang sedang mengantar makanan pada meja yang jauh didepannya.


“ .. kok dia tau nama kak Baskara ya?” muka Alana terheran-heran. Banyak sekali opini-opini dikepalanya. Tapi ia lebih memilih untuk menanyakan langsung pada Baskara.


“Ya pasti tau, inikan cafe ku. Semua pegawai disini ya dibawah naunganku" jawab Baskara dengan nada sedikit berbisik. Berharap tidak ada tamu yang mendengar pembicaraan mereka.


Udah ganteng, pinter, pebisnis pula. Ahhh, gue makin mleyotttt. Tidak ada satupun hal yang membuat Alana ilfeel dengan lelaki itu. Dimatanya, he’s perfect.


Tanpa basa-basi Baskara mengutarakan apa maksud dan tujuan dia mengajak Alana untuk bertemu.


“Al, lo kan anak seni tari kan? Nah, rencananya semester ini gue ada tugas buat bikin galeri gitu. Yaa, semacam pameran seni rupa gitu. Gue butuh bantuan lo buat bikin satu lukisan.”

__ADS_1


“Alana bisa bantu apa kak?” Alana bingung dengan apa yang dimaksud Baskara. Ia bertanya-tanya. Apa hubungan antara jurusan dia dengan tugas Baskara.


“Gini loh, Al. Gue mau lo nari, nah nanti dilukis. Gituuu. Bisa ga?” ujar Baskara.


“Emangnya bisa ngelukis pas aku lagi nari?”


“Nah itu tantangannya. Semoga aja bisa. Lo mau kan bantuin gue?”


Tidak ada hari yang jauh lebih indah daripada hari itu. Hari dimana Alana bisa merasakan bertemu dan makan berdua dengan lelaki idamannya. Mungkin baginya, itu adalah first date. Ia mengiyakan permintaan Baskara. Tidak mungkin ia menolak apa yang Baskara minta.


Tiba-tiba Gema datang. Menyalami Baskara. Lalu memandangi Alana. Tampak raut muka Gema terlihat terheran - heran.


“Kenapa dia disini?” Gema menunjuk Alana, bertanya pada Baskara.


“Alana yang bakalan bantu kita, bro" jawab Baskara dengan santai.


“Hah? Gue harus nglukis dia gitu maksudnya?” Gema menggeser badan Baskara. Memintanya untuk membagi tempat duduk. Ia langsung menyeruput minuman yang ada di depannya. Kebiasaan.


Alana terdiam. Ia pikir, ia hanya akan membantu Baskara. Ternyata, ada Gema juga. Ia sudah malas menanggapi sikap Gema yang selalu saja membuatnya marah. Ia hanya duduk terdiam disana. Toh juga tidak mungkin ia akan adu mulut dengan cowo sinting itu didepan lelaki idamannya. Bisa ilfeel nanti kak Baskara. Pikirnya singkat.


Tugasnya sekarang hanyalah menuruti apa kata Baskara. Menjaga image supaya tetap terlihat anggun didepan lelaki pujaannya.


“Tumbenan lu dandan, abis kondangan lo?” Gema nyeletuk sambil melihat peruabahan pakaian Alana.


“Emangnya napa si lu, sewot amat" Alana sudah tidak sabar dengan perlakuan Gema padanya. Ia berpikir apakah perubahannya sangat terlihat jelas? Kenapa sampai Gema mengatakan itu. Ah, dia kira ia hanya datang untuk Baskara, ternyata ada juga si cowo sinting itu.


**


Malam tampak sangat sepi. Tidak ada yang menemani. Di balkon kamarnya, Gema duduk menghadap langit. Ia melihat indahnya bintang dan gemerlap bulan. Ia merasa hanya dirinya yang sendiri di dunia ini. Tak ada satupun orang yang bisa mengerti akan rasa sakitnya.


“Kenapa dia baru muncul sekarang?” Ia memukul-mukul paha sebelah kirinya. Tangannya mengepal. Banyak sekali hal yang seharusnya tidak akan terjadi jika wanita itu tidak pergi. Bahkan Ia tidak datang ke pemakaman lelaki yang kusebut papah. Dia tidak pernah pulang, bahkan ketika papah membutuhkannya. Apa yang sebenarnya sedang ia kejar? Kebahagiaan? Bagaimana dengan aku yang dia tinggalkan? Apa ia pernah sedikit saja memikirkanku? Wanita egois. Memikirkan dirinya sendiri. Aku benci wanita itu.


Tidak akan pernah ada kata maaf untukmu, Mamah.


Gema, untuk Mamah.


***

__ADS_1


__ADS_2