
***
Gema menoleh kesana kemari. Dari tadi ia seperti orang linglung, mencari apa yang ia cari.
“Bas, lo ngeliat cewe yang kemarin gue hukum ga?” Kalimat itu keluar dari mulut lelaki berparas tampan itu. Sambil celingukan, ia mencari gadis itu. “Kok ga keliatan ya dari tadi?”
“Ohh.. Alana? Itu cewe lo, Gem?” Tanya Baskara penuh penasaran. Berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan dari mulut teman akrabnya itu.
“Dih .. gila lu. Ya enggaklah. Mana mau gue sama cewe gila kaya gitu.” Ia sedikit kesal dengan pertanyaan ga jelas dari Baskara. “Aelah .. atiati loh, benci bisa jadi cinta.”
“Oh.. itu dia.” Mata Gema tertuju pada raga yang terlihat sedikit murung. Didekatinya, diperhatikannya dari kaki sampai pangkal rambut. Sibuk mencari kesalahan, mungkin baginya kemarin saja belum cukup untuk membalas perlakuan perempuan itu. Ia tersenyum jahat.
“Nah, sepatu lo ada garis putih dikit tuh. Push up seratus kali.” Perintah Gema dengan nada sedikit meninggi.
“Brukkkk!!” Tiba–tiba Alana pingsan. Tanpa pikir panjang, Gema mengecek kondisi Alana dan menggendongnya dengan sigap. Lalu dibawanya ke ruang kesehatan. Meski tampak keras kepala dan bodoamat, Gema adalah lelaki yang mempunyai hati nurani. Tidak mungkin dia membiarkan seorang gadis pingsan begitu saja.
***
Sorotan lampu memasuki celah-celah mata Alana. Kepalanya terasa berat dan pusing. Pertama kali yang dilihatnya adalah lelaki itu, Gema. Lelaki yang menyebalkan. Lelaki yang telah merusak hari-harinya. “Jangan bangun dulu, istirahat aja. Gausah belagak sok kuat deh, lu.”
Untuk sekadar bangkit dari tempatnya berbaringpun ia tak mampu. Ia sedang tidak mau adu argumen. Ia memilih diam membisu.
“Al, kamu kenapa pingsan?” tiba – tiba dua gadis datang memasuki ruang kesehatan. Mila dan Cika. Teman seperjuangan Alana di SMA, yang ternyata dipertemukan lagi di kampus yang sama. Mereka bertemu sehari kemarin. Melihat Alana di depan lapangan, dihukum. Mungkin mereka kira Gema lah yang membuat Alana sampai pingsan seperti itu.
Gema pergi meninggalkan Alana, Mila, dan Cika. Tampak acuh, mereka berdua tidak peduli. Bagaikan orang yang sudah lama tidak berjumpa, mereka bermanja – manja, berpelukan. Terlihat aneh, tapi nyata adanya.
Suara riuh masih terdengar. Acara ospek masih berlanjut. Dari ratusan mahasiswa baru, kenapa harus Alana? Entahlah, mungkin takdir. Dilihatnya tas yang tergeletak di tanah, tak berpemilik. Lalu ia teringat, iya, itu milik Alana. Dipungutnya, ia berniat untuk mengembalikan seusai acara ospek. Ia simpan di dalam tas miliknya.
**
Langkah kaki terdengar jelas dari dua meter tempatnya berbaring. Tak dipedulikannya. Ia merasa lelah dan sangat pusing. Beberapa detik kemudian terdengar suara berat dari balik pintu. “Permisi, gue boleh masuk?”
“Iya, masuk aja.” Alana mempersilahkan seorang lelaki dibalik pintu. Ia pikir mungkin itu adalah mahasiswa baru juga yang membutuhkan bantuan perawat ataupun obat.
Degg, ASTAGAA … KAK BASKARA ..
Ia menjerit dalam hati. Lelaki berparas tampan itu datang untuk menjenguknya? Atau ada hal lain? Pikiran ia melayang tak karuan. Dan parahnya, sekarang dia berada dalam satu ruangan yang sama dengan lelaki tampan itu? Alana bersyukur karena Cika ikut dengan Mila untuk membeli makanan untuknya beberapa menit yang lalu. Ia berharap kedua temannya itu tersesat dan gak tau jalan supaya ia bisa menghabiskan waktu berdua dengan kak Baskara.
“Are you okay, Al? Kenapa bisa pingsan? Belum sarapan, ya?” Pertanyaan lelaki seperti pada umumnya, namun bagi Alana itu adalah sebuah kalimat yang luar biasa. Ia tidak berhenti memandangi lelaki itu. “Heyyy!!” Kak Baskara memandanginya dan melambaikan tangan didepan mukanya.
“Ohh, I’m okay, kak. Lagi ga fit aja. Cuma kurang istirahat aja kok.” Ia mencoba untuk terlihat biasa aja padahal dalam hatinya ia sangat gugup.
__ADS_1
Kenapa gue deg-degan ya? Kok gue gemeteran? Apa ini yang dinamakan jatuh cinta?
“Kok lu gemeteran? Laper ya?” Tanya Baskara sambil melirik tangan Alana.
“Mmhh .. Iya kali kak, tapi udah ada Cika sama Mila kok, mereka lagi keluar nyari makanan buat saya.”
“Yaudah kalo gitu, gue balik ke lapangan ya, lu istirahat aja disini. Kalo perlu izin pulang duluan aja. Cepet sembuh ya.” Baskara bangkit dari kursi yang ia duduki, lalu menepuk bahu Alana, dan meninggalkannya. Hanya sebuah tepukan, tapi Alana sudah berpikir kemana-mana. Sudah berpikir mau memakai adat apa nanti ketika menikah. Emang begitulah cewe. Baperan. Beuhhhh ..
**
Langit senja menemaninya sore itu. Baginya, hidup adalah tentang kesendirian. Bagaimana cara menikmati sepi, tanpa tapi. Di tempat favoritnya, di kedai Cak Sigit. Di tepi pantai yang jauh dari keramaian. Mungkin hanya beberapa pengunjung yang datang setiap minggunya. Bisa dihitung jari. Langit sore itu selalu menjadi penenangnya ketika ia lelah dengan kehidupan dunia. Ia selalu datang, sendiri.
“Ini mas kopinya.” Ujar cak sigit dengan menaruh secangkir kopi didepan Gema. Kedai itu tidak besar, bahkan jauh dari kata layak. Hanya ada dua bangku panjang dengan meja dari kayu yang mungkin hamper lapuk. Gema hanya melempar senyum keci kepada cak Sigit. Beberapa menit ia duduk disana. Lalu berjalan menuju pantai.
Diam ia menatap matahari yang hampir tenggelam. Ada rasa sesak di dada.
“Sudah puluhan purnama. Kamu kapan pulang?” Ia melihat ombak yang bergoyang. “Aku rindu” Tibatiba ia meneteskan airmata.
“Aku akan tetap disini, menunggumu pulang. Aku yakin, kamu tau jalannya.”
Sudah mulai lengah, Gema memilih untuk pulang. Menuju kedai cak Sigit untuk berpamitan. Ketika hendak mengambil motor miliknya, tidak sengaja ia bertemu dengan Cika dan Mila. Dari kejauhan, dua gadis itu sudah menduga bahwa itu adalah Gema.
“Eh, Mil. Itu kak Gema kan? Kating yang ngeospek kita.” Cika mencoba mengenali Gema. Memperhatikannya dari atas sampai bawah.
Dimata mereka berdua, Gema adalah lelaki jahat yang ga punya hati nurani.
Ketika berpapasan, mereka berdua memalingkan muka. Jelas sekali bahwa mereka tidak menyukai Gema. Gema hanya diam, memaklumi. Ia memilih untuk mengendarai motor miliknya untuk pulang ke kost yang sudah ia huni selama dua tahun terakhir.
**
Kamu adalah langitku.
Bersamamu adalah tenangku.
Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu,
Siapapun itu, aku tak mau.
Kamu bahkan pernah berjanji untuk tetap disini, kan?
Lalu kenapa kamu pergi begitu saja?
__ADS_1
Kenapa bukan aku yang menjadi pelabuhan terakhirmu?
Kenapa kamu tak beri aku sedikit tanda?
Kenapa kamu tak memberiku aba-aba?
Kenapa begitu menyakitkan?
Kenapa?
Hatiku selalu menolak untuk melupakanmu.
Aku hanya ingin kamu. Hanya kamu.
Pulanglah, apa kamu tidak rindu aku?
Aku masih sama. Tidak ada yang berubah dari seorang aku.
Aku masih rindu ketika kamu tidak mengabariku.
Aku marah ketika kamu pergi tidak meminta izinku terlebih dahulu.
Tapi kali ini kamu keterlaluan.
Kamu pergi tanpa karena.
Kamu pergi tanpa membawa aku didalamnya.
Aku kau tinggalkan.
Tak ingatkah bahwa aku adalah kamu?
Apa kamu lupa, aku mencintaimu?
Kamu pergi tidak hanya meninggakan luka.
Tapi juga membawa separuh aku.
Lekas pulang. Jalannya masih sama.
Aku masih rumahmu. Kutunggu.
__ADS_1
***