
***
Salah satu tombol di tape recorder itu di tekan oleh gadis cantik berambut sebahu itu. Ia terlihat sedikit murung dan tampak kesal.
Rttttrrtrtrtt ..
Alana mulai menggerutu. Dipasangnya tape recorder itu persis di depan mulutnya. Ia menceritakan tentang permintaan Baskara. Ia dengan senang hati menerimanya. Tapi kenapa harus ada sangkut pautnya dengan Gema.
Alana berdecak kesal. “Bisa ga sih Tuhan, hilangkan dia dari bumi?”
Kringg .. kringgg
Handphone yang ada disampingnya berbunyi, muncul sesosok paras di layar handphone itu dengan nickname “Kak Baskara”. Alana sudah menduga lelaki itu meminta kepastian kesediaan dia untuk membantunya.
Angkat ga ya? Ia berpikir untuk mengabaikan panggilan itu. Tapi ia merasa sungkan.
“Iya kak? Ada yang bisa Alana bantu?" ia memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.
“Eh engga, Al. Gue Cuma mau bilang makasih ke lo. By the way, tadi lo keliatan beda banget. Cantik. Vibesnya positif banget.”
Alana tak bisa berkata apapun. Apa ia menelfon hanya untuk memujiku? Atau, itu hanyalah kalimat sogokan supaya aku mau bantuin dia? Pikirannya melayang kemana-mana.
Ia hanya membalas dengan tawa kecil. “Terimakasih, kak.”
“Oiya besok ngampus kan, Al? Kelar kelas bisa ketemu ga? Mau bahas konsepnya dulu" ucap Baskara menjelaskan.
“Bisa kak bisa. Aku tunggu di kantin ya. Atau ga ntar contact-contact an aja” jawab Alana.
**
“Eh sinting” sapa Alana dengan nada khas nya. “Daritadi, lo?” Sambil memegang handphone ditangan kanannya, ia sibuk memperhatikan layar handphonenya.
“Iya nih, daripada nganggur di kost an, ga ada kerjaan juga.” Saut lelaki berkaos hitam itu. Sambil menyeruput es kopi yang hampir habis.
Gema ingin tau apa yang sedang dilihat Alana di layar ponsel sampai – sampai ia terlihat tidak tertarik untuk mengajaknya bertengkar. Tak seperti biasanya. Pikirnya dalam hati.
__ADS_1
Tiba – tiba ada chat masuk di handphone Gema,
Gem, lo dimana? Udah ketemu sama Alana, kan? Ini gue ada urusan mendadak, lo bahas dulu konsepnya sama Alana, ya? Sorry banget gabisa gabung. Lanjut besok ya. See uuuu ..
Gema sedikit menggerutu, lalu menoleh pada gadis disebelahnya. Lalu dengan sengaja menyodorkan ponsel ke depan muka Alana.
“Liat nih, si bege satu ini malah gajadi kesini. Ada urusan penting katanya. Dia mau kita bahas konsepnya dulu.”
“Yaudah, gue mah ngikut gimana lo aja" Alana sedikit tidak responsif. Ia hanya menuruti apa kata Gema.
Gema memutar 360 derajat bola matanya sambil mendengus kesal. berdecak kecil.
"Okay, gimana nih jadinya. Nanti gue harus nari apa pas lo mau lukis gue?"
"Bentar deh, gue browsing dulu. Enaknya apa, ya?" ia lalu asik menscroll dari atas sampai bawah layar ponselnya. Mencari cari apa yang sebenarnya ia mau. Entah kapan selesainya, Alana hanya menggeleng tak mau tau. Alana lebih memilih memesan seporsi nasi goreng dengan jus jeruk kesukaannya.
**
Masih asik dengan layar ponselnya, Gema belum juga menemukan apa yang dia cari. lalu,
"Al, lo bisa nari ini ga? Ini keren bangett sih kalo misalkan bisa jadi lukisan. Mantep dah" Gema dengan antusias menunjukkan sebuah video pertunjukkan tari.
"Lah, tari merak? itu mah gampang banget, Gem. Gue sering bawain tarian itu kalo lagi ada acara."
"Oke, besok lo nari ini didepan gue, ntar gue lukis. masalah kostumnya ntar gampang dah" ujar Gema meluruskan.
Alana manggut - manggut tanda mengerti. Ia sedikit kecewa karena Baskara tidak jadi datang dan berada diantara mereka. Kalo saja bukan karena Baskara, pasti ia sudah menolak mentah - mentah ajakan Gema.
Ini semua demi kak Baskara. Batinnya sambil tersenyum mengingat betapa tampannya lelaki yang satu itu.
Setelah berjam jam mereka bersama, suara Gema memecah keheningan. Padahal kantin ramai dengan mahasiswa mahasiswi yang sibuk dengan kegiatan mereka masing - masing. Ada yang sedang pusing dengan laptopnya. Ada yang sedang santai menikmati makanan yang dipesan. Ada pula yang sedang bercengkrama bersama teman sejawatnya.
"Gue mau keluar nyari alat alat buat ngelukis. Mau ikut gak?" Gema berdiri dan merapikan tas punggung yang ia bawa. Entah kenapa kalimat itu keluar dari mulut Gema. Kalimat ajakan yang bahkan dia sendiri tidak tau kenapa keluar dari mulutnya
Alana sedikit aneh dengan sikap Gema. Tapi ia mengiyakan ajakan Gema. Bukan karena ia terpikat atau bagaimana, tapi ya karena sekadar ingin merefresh otak. Karena banyak sekali pikiran pikiran buruk yang terlintas akhir - akhir ini.
__ADS_1
"Ayo, gue juga pengen refresh otak nih. Tapi jangan kemaleman ya pulangnya" saut Alana mengiyakan.
**
Senja mulai datang. Namun jalanan kota masih sangat padat. Setelah beberapa menit perjalanan, mereka berdua sampai ditempat tujuan. Terlihat papan nama terpampang didepan sebuah toko. “KUNO”. Sama seperti kondisi bangunannya. Bangunan yang terkesan seperti berpuluh – puluh tahun sudah ditempati.
Gema turun dari motor, lalu mengajak Alana untuk masuk. Alana membututi dari belakang. Ia kebingungan kenapa Gema memilih toko kecil dan terkesan kumuh ini? Aneh.
Sama seperti namanya, tempat ini terlihat sangat kuno dan terbelakang. Di sudut pojok kanan ada kanvas besar dengan coretan banyak warna disana. lalu didinding yang lain banyak sekali lukisan lukisan kecil yang entah bagaimana sulit untuk dinikmati oleh mata.
Ketika Alana sedang asik menerka nerka mengenai konsep lukisan yang dilihatnya, tiba - tiba seorang lelaki separuh baya datang menghampiri Gema. mereka terlihat sangat akrab. Disela sela perbincangan mereka, Alana mendengar sedikit obrolan mereka,
"Wah, tumben sekali kamu bawa perempuan cantik, Gem. Siapa dia? Pacarmu?" Suara berat yang khas terdengar di telinga Alana. Ia hanya diam dan berusaha mengacuhkan pertanyaan itu.
"Bukan, Bah. Ini Alana, teman sekampus Gema." Gema menjawab dengan penuh santun dan senyum. Baru kali ini Alana melihat Gema ramah dan tidak menjengkelkan seperti biasanya. Tanpa pikir panjang, Alana langsung mendekati Abah dan langsung menyalaminya.
"Ya sudah, cari saja apa yang kalian butuhkan. Nanti kalo perlu apa - apa, panggil abah saja, ya?"
Gema lalu mencari apa saja yang ia butuhkan untuk project lukisan yang akan dia kerjakan. Ia memilih kuas dari yang kecil, sedang, sampai besar. Ia memilah milah kuas dan mencari - cari ukuran kanvas yang pas. Gema lalu meminta tolong Alana untuk mendeskripsikan kostum yang akan Alana kenakan supaya ia mempunyai gambaran di kepala.
Gema mengajak Alana ke bagian belakang toko. Membuka sebuah almari kaca yang besar dan dipenuhi baju-baju adat. Disana ada banyak sekali pakaian - pakaian jaman dahulu yang memang sengaja di simpan dan disewakan, karena sebagian orang masih membutuhkan. Seperti jarik, kemben, bahkan blangkon ada disana.
"Coba cari kostum yang cocok buat tarian yang tadi gue tunjukin ke lo, Al." Gema memerintahkan Alana.
Dengan sigap Alana mencari sepasang baju, perhiasan kepala yang berbentuk kepala merak, dan juga perhiasan tangan dan kaki. Wahh, disini lengkap juga yaa, batin Alana.
Seusai mereka selesai dengan apa yang mereka cari, Gema pamit dengan Abah. Abah menawari untuk meminjamkan mobil tua yang ada didepan toko karena kanvas yang Gema pilih lumayan besar, dan akan repot membawanya jika menggunakan motor. Tapi Gema menolak, ia bersikeras untuk membawanya tanpa menerima tawaran dari Abah. Ia meminta tolong Alana supaya menggendong kanvas itu dibelakang. Dengan sedikit terpaksa, Alana hanya mengangguk.
**
"Gue laper, Gem. Terakhir makan tadi siang di kantin. Makan dulu, yuk? Mana ini pundak gue berasa mau copot" Alana membuka obrolan. Ia sungguh sudah tidak bisa menahan sakit di bahunya.
"Ribet ntar kalo harus mampir dulu, ini daerah kost an gue. Mau mampir aja? Ntar gue masakin deh. Atau ga ntar go food aja." Gema memberi saran.
"Yaudah deh. Cepetan. Pegel banget nih bahu gue." Alana menggerutu kesal.
__ADS_1
***