
***
Seusai jam kuliah, Alana langsung menuju ke tempat kerjanya. Ia mengambil pekerjaan yang bisa diambil sepulang kuliah. Alana bekerja di salah satu coffeshop ternama. Letaknya juga tidak jauh dari kampus. Bahkan bisa ia jangkau dengan berjalan kaki. Sudah setahun terakhir ia bekerja freelance disana. Tak jarang mahasiswa-mahasiswa kampusnya mampir walau hanya sekadar untuk ngopi sebentar dan mencari Wi-Fi.
Kring kring .. kring kring
Bunci lonceng yang sengaja diletakkannya di atas pintu itu berbunyi, tanda bahwa ada seseorang yang baru saja masuk.
“Selamat siangggg ..” Sapa Alana pada seorang laki-laki muda yang terlihat serius menakar kopi. Alana melempar senyum. Dibalasnya senyuman juga dengan lelaki itu.
Aksa. Namanya Aksa. Sudah setahun ia mengenal seorang Aksa. Dari yang tidak tau apa-apa mengenai kopi, sampai bisa meracik kopi sendiri. Aksa adalah seorang pemuda yang sedang mencari jati dirinya. Bermodalkan niat dan tekad ia mencoba untuk membuka sebuah coffeshop kecil-kecilan. Tak diduga, coffeshopnya sekarang menjadi salah satu tempat favorite anak muda untuk sekadar nongkrong.
“Siang juga, Alana. Udah selesai ngampusnya?” Sapa balik Aksa pada gadis cantik itu. Untung saja pemilik coffeshop itu adalah Aksa. Jika tidak, mungkin Alana terpaksa harus resign karena jam kerjanya bertabrakan dengan jam kuliahnya.
“Udah, Sa. Sorry ya gue agak siangan kesininya.”
“It’s okay, Al. Santai aja kali.” Aksa tersenyum lebar, menunjukkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aksa selalu mengerti Alana. Karena baginya, Alana bukanlah seorang karyawan melainkan seorang sahabat dan pendengar yang baik. Bahkan ketika Aksa sedang ada masalah, Alana selalu membantunya. Yaa, meskipun hanya sebagai pendengar.
“BRUKKKK!!” suara barang terjatuh, arah suaranya dari luar coffeshop. Alana menoleh mencari darimana sumber suara itu. Dilihatnya seorang ibu - ibu seumuran dengan mamahnya terjatuh. Ada yang menabraknya, namun meninggalkannya begitu saja. Barang-barang yang ia bawa jatuh. Seketika Alana keluar untuk membantu.
“Tante gapapa?” Tanya Alana dengan nada peduli, lalu memberikan buah-buahan yang telah dipungutnya dari tanah karena telah jatuh berserakan.
“Gapapa kok, terimakasih ya.”Alana membalas senyuman wanita itu.
Ia mengajak ibu itu masuk untuk sekadar minum-minum, menenangkan hati. Ia menawarkan segelas kopi, namun ibu itu menolak secara halus, karena ada masalah pada kesehatan lambung, katanya. Kemudian Alana memberi ibu itu air mineral. Mereka berbincang kesana kemari tak tentu arah.
Tante Rosa, panggil saja begitu.
__ADS_1
“Iya tante.” Jawab Alana dengan lembut.
Ternyata perempuan itu dari kota sebelah. Semarang. Ia ke Jogjakarta untuk bertemu dengan anak laki-laki semata wayangnya. Tante Rosa pindah ke kota ini dikarenakan ada masalah keluarga yang harus segera diselesaikan. Alana menyimak cerita tante Rosa baik-baik. Baru beberapa menit mengenal tante Rosa, Alana sudah merasa klik dengannya. Tak sangka ia sudah duduk disana berjam-jam. Perempuan hampir setengah abad itu akhirnya berpamitan untuk pulang.
“Kapan-kapan tante main kesini lagi, deh. Boleh?”
“Dengan senang hati, tante.” Alana merasa damai dengan perempuan itu. Melihat tante Rosa, Alana jadi teringat mamahnya. Sehangat kasih ibu dan anak.
**
Gema sedang sibuk dengan kompor yang ada didapurnya. Ia terlihat sangat lihai dengan bawang dan cabai yang sedang ia kupas dan potong. Hari ini, ia berencana masak untuk makan siang menjelang sorenya, yang mungkin baginya itu juga makan malam. Yaa biasalah, anak kost. Sehari palingan makan sekali dua kali.
Gema asik menscroll resep makanan di smartphone miliknya. Mencoba masakan baru. “Nah.. gimana kalo sop buntut?” Ia memperhatikan gambar yang terlihat menarik sekali. Membuat ia lapar seketika.
“Toh bahannya juga ada dikulkas.” Ia tersenyum sambil mulai mempersiapkan bahan-bahan yang akan ia masak. Gema adalah lelaki yang sangat mandiri. Ia bisa bertahan hidup dengan apapun yang ada disekitarnya. Bahkan ia tidak pernah menggantungkan oranglain.
“Mamah?” Dengan nada menggantung, perempuan yang disebut mamah itu memeluknya. Namun Gema tidak membalas pelukan tersebut. Ia melepas sepasang tangan yang melingkar di lehernya.
“Ngapain kesini?” Nada ketus keluar dari mulut Gema. Terlihat bahwa ia tidak menginginkan wanita itu berada disana. Raut muka kecewa menghiasi muka mamah Gema.
“Mamah pindah kesini untuk cari kamu, Gem.”
Gema meringis, tiba-tiba dadanya sesak. Teringat akan masalalu yang ingin sekali ia lupakan.
“Aku gaada waktu. Lagi sibuk.” Gema menutup pintu kost itu. Entah apa yang ia pikirkan. Sejahat apa sampai-sampai ia tidak mempersilahkan mamahnya sendiri untuk masuk. Anak macam apa yang membenci wanita yang telah mengandungnya selama 9 bulan.
**
__ADS_1
Pada akhir sebuah penantian. Akhirnya kau datang. Menemuiku, tapi entah apa yang sedang kurasa. Hatiku menolak untuk menerimamu, lagi. Jika benar kau yang menjadi bagian penting dalam hidupku, lantas kenapa kau meninggakanku? Kau kira aku tak butuh pelukan seorang ibu? Kau kira aku tak butuh walau hanya sebatas nasehat darimu? Kau picik. Kau egois. Memilih untuk meninggalkanku dan mencari kebahagiaanmu sendiri. Sedang aku, seorang pengecut yang hidup dalam ketidakpastian. Hidup yang hanya untuk menunggu mati.
**
Cuaca sore itu benar-benar terihat megah. Langit cerah dengan warna kemerahannya. Burung tampak mesra berpasang-pasangan melintasi cakrawala diatas sana. Tapi tidak dengan gadis bernama Alana. Ia berdiri sendiri disana. Menunggu para sahabatnya. Rencananya, ia akan ke toko buku bersama dua sahabatnya. Cika dan Mila. Siapa lagi.
“Sshhh .. lama banget sih mereka.” Alana menggerutu karena tidak disangka ia sudah berdiri disana sejak setengah jam yang lalu. Kakinya sudah mulai kesemutan. Keburu sore, pikirnya. Namun dari kejauhan Nampak dua pasang mata dengan senyuman merekah dibibirnya.
“Sorry, Al. Tadi macet banget dijalan. Makanya agak sorean hehe.” Cika merenges sambil memegangi tangan Alana. Berharap Alana tidak marah dengannya.
“Ehhh, engga deng, Al. Si Cika tuh. Dia tadi gue samperin masih tidur masa.” Mila bicara terus terang pada Alana tentang sifat sahabatnya yang satu itu. Cika memasang muka sebal pada Mila. Ia tak menyangka Mila beraninya mengatakan hal itu.
“It’s okay. Gue maklumin. Kalian kan emang tukan ngaret. Udah yuk buruan jalan. Keburu malem.”
Mereka bertiga memang akrab dengan buku. Namun meskipun demikian, selera mereka berbeda-beda. Cika dengan komiknya, sedangkan Mila lebih suka membaca buku-buku tentang kesehatan. Berbeda dengan Alana, ia lebih senang membaca novel romance. Pantas saja, ia suka mengarang puisi-puisi dan sajak. Seperti biasa, ketika sudah memasuki toko buku, mereka semua berpencar. Kegirangan seperti anak kecil yang berada di lautan mainan.
Alana berada di rak yang paling ujung. Bagian novel-novel bergenre romance. Ia sibuk memilah-milah novel yang ingin ia beli.
“Pantesan bucin, bacaannya buku beginian.” Celetuk seseorang yang ada disamping Alana. Ia sontak menoleh ke arah suara itu. Ia terkejut, dilihatnya. Gema tersenyum menahan tawa.
“Lah, bodoamat. Lu ngapain dah disini? Ngikutin gue? Ohhh gue tau, lu ngefans ya sama gue?” Alana membalas ucapan Gema dengan nada mengejek.
“Dih, kagalah gila lu. Eh, btw sorry ya. Kemarin gue ga sengaja dengerin tape recorder lu. Alay, eh tapi kok jaman gini lu masih make tape recorder sih?”
Dugaan Alana benar, Gema mendengarkan tape recorder itu. Gema cengengesan. Alana tampak kesal akan ucapan Gema. Ia meninggalkan Gema, membawa sebuah buku yang akan ia beli.
Napa sih, kok gue ketemu terus sama tu cowo sinting. Gila deh, ah. Ia menggerutu sendirian. Melihat cowo itu sibuk mencari buku yang ia cari. Alana memilih untuk menuju ke rak yang lain. Menghindari lelaki itu.
__ADS_1
***