
Seorang pria berambut ikal coklat madu menatap Casey dari balik tudung jaket kulit berwarna hitam mengkilat. Sejumput rambut ikalnya melecut menutupi sebelah matanya yang berbulu lentik dan berbinar-binar.
Casey menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi mulutnya yang tengah tercengang. "Ezra!"
"Case...?!"
"Ez..." Ucapan Casey seketika tercekat di tenggorokan ketika dirasakannya tangan kuat seseorang mencengkeram bahu Casey dan mengguncangnya. Casey membuka matanya dan tergagap mendapati wajah panik di atas kepalanya. "Daaad..." Casey mendesis sedikit parau.
Lalu ia mendengar ayahnya menghela napas berat dan mengerang. Pria tua itu kemudian mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur Casey dan membelakanginya. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang berkerut-kerut frustasi.
Casey menarik tubuhnya ke posisi duduk dan menatap ayahnya tak mengerti. Perlahan gadis itu menyentuh bahu ayahnya dan memanggilnya dengan lembut. "Dad..."
Ayahnya tak bereaksi. Kedua telapak tangannya masih tertangkap menutupi wajahnya. Tak lama kemudian tubuhnya berguncang.
Apakah dia sedang menangis? Casey mengerutkan dahi. "Are you ok, Dad?" Ia bertanya ragu.
"Yeah, Sweetheart!" Ayahnya menghela napas kemudian mengusap wajahnya tanpa menoleh. "I'm just tired," desisnya. Lalu beranjak dari tempat tidur Casey. "Lanjutkan tidurmu, Sweetheart!"
Casey masih tercengang menatap kepergian ayahnya. Bahkan setelah ayahnya menutup rapat pintu kamarnya. Casey masih mematung dalam posisi duduk. Mencoba mengingat-ingat apakah tadi ia mengatakan sesuatu yang menyakiti ayahnya. Tapi tidak, Casey cukup yakin. Ia hanya bermimpi dan mungkin mengigau. Oh, shit! Casey menyadari lalu menepuk dahinya. Ia tahu tak ada hal lain yang dapat melukai ayahnya kecuali nama Ezra.
Pagi-pagi sekali ayah Casey sudah meninggalkan rumah. Lalu sore harinya ayah Casey juga tidak pulang tepat waktu. Acara sarapan dan makan malam hari itu semuanya Casey lewati tanpa ayahnya. Begitu ayahnya pulang, Casey sudah berada di kamarnya, bersiap untuk tidur. Lelah dan kesepian membelenggu dirinya sepanjang hari itu. Bahkan pria tak terlihat bernama Denta juga tak pernah muncul lagi setelah Casey menyinggung eksistensinya. Casey betul-betul merasa sendirian.
Kilat berkeredap di luar jendela, disusul suara angin dan gerimis tipis menyertainya.
Casey meringkuk di balik selimutnya, berusaha memejamkan matanya. Tapi isi kepalanya mendadak sibuk tanpa fokus yang jelas. Sebagian otaknya memikirkan bagaimana cara memperbaiki komunikasi dengan ayahnya, sebagian lagi memikirkan Denta, sebagian mengingat-ingat mimpinya tentang Ezra, sebagian lagi memikirkan ruangan rahasia di balik perpustakaan mini yang ditunjukkan Denta. Dadanya bergemuruh dipenuhi emosi yang tak menentu. Casey tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang marah atau bersedih. Apakah ia sedang khawatir atau gelisah.
__ADS_1
Fiuh!
Casey menendang selimutnya. Lalu beranjak dari tempat tidurnya. Ia harus turun menemui ayahnya.
"Dad...." Casey mengetuk pelan pintu kamar ayahnya.
Hening!
"Daddy?!" Casey mengetuk pintu kamar ayahnya lebih keras lagi.
Masih tidak ada jawaban!
Barangkali ayahnya sudah tidur, Casey menyimpulkan. Tapi ketika ia memutar gagang pintu itu, dengan mudah pintunya terbuka. Casey melongok ke dalam kamar ayahnya tapi tak ada siapa pun di dalam sana. "Dad?!" Casey memanggilnya lagi setengah berteriak. Lalu melangkah masuk ke dalam kamar ayahnya dan memeriksa ke dalam kamar mandinya. Ayahnya juga tidak berada di sana. Casey mulai panik, lalu keluar dari kamar ayahnya setengah berlari. "Daddy?!" Casey memanggil lagi. Tapi seluruh ruangan di dalam rumahnya betul-betul sepi. Casey mematung di ruang tamu dengan wajah pucat.
Casey bergegas untuk memeriksanya tapi tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Bagaimana kalau itu bukan ayahnya? Casey khawatir.
Tak lama Casey mendengar suara berdebuk dari arah perpustakaan, disusul suara berderit yang mencurigakan.
Casey melompat dari tempatnya dan berlari ke arah perpustakaan itu tanpa berpikir panjang. Sekilas gadis itu menangkap sosok seseorang berjaket kulit berwarna hitam, menghilang di balik dinding perpustakaan. Denta. Casey menyadari. Lalu berusaha menyusulnya. Tapi begitu ia sampai di perpustakaan, dinding tadi sudah tertutup. Casey menghela napas dan mengamati dinding itu dengan alis bertautan. Bagaimana cara membukanya? Ia bertanya. Kemudian mulai memeriksa rak kayu di sepanjang dinding itu dengan seksama. Ia ingat Denta pernah menunjukkan caranya, tapi ia lupa di bagian mana letak buku yang menjadi kunci untuk membuka pintu rahasia itu.
Tak lama Casey menemukan celah di antara buku-buku yang tertata miring sebagian. Casey mengintip ke dalam celah itu dan menemukan semacam kunci kombinasi yang biasa terpasang pada brankas. Casey merogoh celah itu dan mencoba menyentuh kuncinya. Kemudian mengerang. Aku tak tahu nomor kombinasinya, gumam Casey masam.
Casey menunduk mengamati buku tebal bersampul hitam yang tergeletak di lantai, tak jauh dari kakinya. Ia ingat ketika Denta memberikan buku itu, ia sempat membaca judulnya: DIARY PARAVISI 1999
Itu dia, pikir Casey. Barangkali nomor kombinasinya adalah 1999. Casey mengintip lagi ke dalam celah itu. Tapi kunci kombinasinya hanya terdiri dari tiga digit. Casey mencoba rangkaian kombinasi angka 199, lalu 999, tapi tak satupun berpengaruh. Dinding perpustakaan itu tetap bergeming di tempatnya. Tidak bergeser sedikit pun.
__ADS_1
Betul-betul buang waktu, gumam Casey masam.
Bicara soal waktu, mendadak melintas kalimat ini di kepala Casey: WAKTU SELALU PUNYA JAWABAN UNTUK SETIAP PERSOALAN
Di mana aku menemukan kalimat itu? Casey mencoba mengingat-ingat. Kenapa tiba-tiba aku mengingat kalimat itu? Casey bertanya-tanya. Apa hubungannya nomor kombinasi dengan waktu? Pikiran Casey mulai melayang-layang tak menentu. Isi kepalanya dipenuhi hal-hal yang tidak berhubungan satu sama lain. Tiba-tiba ia ingat kalimat itu sebagai judul buku favorit Ezra, lalu tiba-tiba saja ia juga ingat setiap pukul 9 malam, Ezra selalu menunggunya di pekarangan. Mungkinkah angka kombinasinya 900? Casey mencobanya.
Dan berhasil!
Dinding perpustakaan itu serentak bergeser.
Casey hampir tak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya. Apakah ruangan itu juga milik Ezra?
Seketika seluruh mimpinya melintas dalam kepalanya. Mungkinkah Ezra berada di dalam sana seperti mimpinya?
Hanya ada satu cara untuk membuktikannya, pikir Casey penuh harap. Tanpa pikir panjang, gadis itu pun bergegas memasuki ruangan di balik dinding itu setengah berlari.
Begitu ia sampai di dalam, gadis itu menemukan sebuah tangga beton yang mengarah ke satu ruangan temaram di bawah kakinya. Casey berdiri ragu di puncak tangga, kemudian melangkah perlahan menuruni tangga itu dengan jantung berdegup. Lalu menahan napas ketika ia sampai di dasar tangga dan menatap pemandangan di depannya setengah tak percaya. Semuanya terlihat sama persis seperti di dalam mimpinya.
Ada tiga orang berpakaian misterius seperti yang biasa dikenakan Denta, mereka berhimpun di tengah ruangan, di bawah temaram cahaya kuning bola-bola lampu seukuran bola golf yang bergelantung rendah dari langit-langit. Bola-bola lampu itu tidak sedikit jumlahnya, tapi tetap tak membuat ruangan itu terlihat terang-benderang.
Casey membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya ketika salah satu dari pria itu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Casey. Casey mengenali wajahnya. Mereka pernah bertemu di Taman Bacaan Deasy Dengkur. Tapi bukan itu saja yang membuat Casey terperangah. Salah satu dari ketiga orang berpakaian misterius itu juga perempuan. Sama persis seperti mimpinya. Bedanya perempuan yang kini berada di depannya adalah Ary Caroline. Agen Real Estate yang menemui ayahnya pada hari pertama mereka tiba di rumah baru mereka.
Melihat kedua rekannya terperangah, seorang pria yang membelakangi Casey kemudian mengikuti arah pandang kedua rekannya dan menoleh ke arah Casey.
Casey memekik tertahan ketika pria itu memperlihatkan wajahnya. "Daddy?!"
__ADS_1