
Sisa waktu yang tertera pada rambu-rambu masih tiga detik lagi sebelum lampu hijau berubah merah. Satu detik saja, Elijah masih bisa memanfaatkannya untuk melarikan diri dari lampu merah. Tapi saat itu posisi kendaraannya terhimpit di belakang sebuah mobil box dan gagal menerobos ke barisan paling depan. Mau tidak mau Elijah terjebak dalam penantian panjang yang membosankan. Gue benci lampu merah, batinnya kesal. Mobil box di depan Elijah berhenti dalam posisi yang tidak simetris. Membuat sepeda motornya tak bisa menyelinap di sisinya. "Bisa nyetir gak sih lu?" Elijah mengumpat seraya menendang bagian samping mobil box itu. "Brengsek!"
Tak lama kemudian, sebuah sepeda motor sport menyelinap di sisi sepeda motornya, sedikit di belakangnya.
Emosi Elijah naik lima tingkat ketika sepeda motor itu menyenggol sepeda motornya. Ia mengetatkan rahangnya bersiap untuk mengumpat. Lalu membuka mulutnya dan menoleh, tapi tak satu pun kata-kata berhasil keluar dari mulutnya yang terperangah. Ia mengenali pemilik sepeda motor itu sebagai guru balapnya. Evan Jeremiah. Pacar gue, batinnya getir. Ia memalingkan wajahnya secepat mungkin sebelum Si Pemilik sepeda motor itu menyadarinya. Seketika jantungnya berdegup dan air matanya mulai merebak. Perasaan rindu sekaligus kecewa menggumpal meninju ulu hatinya. Elijah menghela napas berat kemudian menghembuskannya perlahan. Tapi tak berhasil menyingkirkan perasaan sesak dari dalam dadanya.
Evan Jeremiah mengawasi sepeda motor yang dikendarai Elijah melalui sudut matanya. Diam-diam ia mengagumi bentuk modifikasi sepeda motor itu. Tapi ia tak memperhatikan siapa pengendaranya. Begitu lampu rambu-rambu di perempatan jalan menyala hijau, Evan mengikuti sepeda motor itu dan membalapnya.
Dia menyadarinya, pikir Elijah. Kemudian menaikkan kecepatannya. Tapi ia tak yakin seberapa cepat. Sepeda motor milik Arfah itu tidak memiliki spidometer.
Tapi tentu saja sepeda motor sport itu bukan tandingan sepeda motor bebek meskipun sudah dimodifikasi. Dalam hitungan detik, sepeda motor Evan sudah berhasil menyusulnya lagi.
Evan membunyikan klakson untuk memberikan sinyal tantangan.
Tapi Elijah tidak menyadarinya. Jika ia tak segera menyadari bahwa si pengendara sepeda motor sport itu adalah Evan, Elijah pasti bisa menangkap sinyal tantangan meskipun pengendara itu tidak bermaksud menantangnya. Ia tidak ada bedanya dengan Evan Jeremiah. Saat perasaannya mengalami gangguan, otomatis otaknya juga ikut terganggu. Yang dipikirkannya saat itu hanya lari.
Sementara isi otak Evan hanya balapan.
Isi otak keduanya jelas berbeda arah. Tapi mereka masih berada di satu jalur yang sama untuk saling mengejar.
Elijah belum yakin seberapa cepatnya sepeda motor yang dikendarainya. Tapi ia telah membuktikannya berkali-kali. Kecepatan sepeda motor milik Arfah tak bisa dianggap remeh.
Boleh juga, pikir Evan kagum.
Tak terasa, ajang kejar-kejaran itu mulai mendekati gerbang perbatasan kota. Dan Elijah masih tak berhasil menemukan jalan lain untuk melarikan diri. Ia pun menyerah. Sekitar seratus meter dari gerbang perbatasan, Elijah memutar sepeda motornya dengan teknik sliding.
__ADS_1
Evan memekik terkejut dan membanting setangnya ke sisi jalan dan memutar arah juga dengan teknik sliding. Lalu menyisi dan menghentikan sepeda motornya.
Elijah juga menyisi ke bahu jalan dan memarkir sepeda motornya, berseberangan dengan Evan. Setelah itu Elijah melangkah turun seraya menurunkan helmet dari kepalanya.
Evan menelan ludah, menatap gadis itu tanpa berkedip.
Gadis itu menghentikan langkahnya di sisi jalan dan mematung memandangi kekasihnya dari seberang jalan. Sesaat ia ragu apakah ia harus menyeberang jalan dan mengejar pria itu atau kabur saja sekarang. Ia tahu Evan takkan menolaknya untuk kembali hanya karena ia pernah memukulnya. Tapi sekarang ia adalah seorang buronan. Ia mungkin butuh berpikir dua kali untuk menerimanya kembali.
Tapi tanpa berpikir dua kali, Evan merenggut helmet dari kepalanya dan menurunkannya. Lalu melompat dari sepeda motornya dan mencampakkan kedua benda itu begitu saja. Kemudian menghambur ke arah Elijah dan memeluknya. "Bidadari cacatku," desisnya sambil cengengesan. Tapi terlihat jelas matanya tengah berkaca-kaca.
Elijah membalas tatapannya juga dengan mata berkaca-kaca. Jika ia bukan Evan, Elijah pasti sudah menghajarnya sebelum pria itu memeluknya. Pria lain yang memperlakukannya sebagai perempuan, apalagi sampai menyebutnya bidadari, betul-betul cari mati. Tapi karena Evan yang melakukannya, semuanya terasa berbeda. Tubuhnya gemetar tak terkendali ketika kata-kata itu sampai di telinganya kemudian meresap ke dalam dadanya. Ia membenamkan wajahnya di dada pria itu dan menumpahkan tangisannya. Sampai ia betul-betul puas. Mendadak bayangan gadis berpakaian kumal saat di Coffee Shop melintas dalam kepalanya. Ia mengetatkan kedua matanya dan membenamkan wajahnya semakin dalam ke dada Evan, berusaha menyingkirkan bayangan itu. Tapi bayangan itu seolah berkembang melahirkan ilusinya sendiri.
Evan Jeremiah melengak. Tiba-tiba saja bayangan gadis di Coffee Shop itu juga melintas dalam kepalanya. Jantungnya berdegup kemudian terasa perih. Apa aku trauma? Ia bertanya dalam hati. Jika ia boleh memilih, Evan lebih baik mati di tangan Jessifer Illucy daripada ia harus kehilangan Elijah lagi. Tapi ia juga tak berharap bertemu lagi dengan perempuan itu seumur hidupnya setelah ini. Bahkan untuk sekedar membayangkannya. Tapi kenapa bayangan di Coffee Shop itu mendadak muncul pada saat ia mendekap Elijah. Ia membenamkan wajahnya di bahu Elijah dalam-dalam. Berharap bayangan perempuan itu segera sirna dari kepalanya. Tapi bayangan saat Jessifer Illucy terpana menatapnya, berkeredap dalam penglihatnnya. Ini bukan bayangan, Evan menyadari.
Ia sedang mengalami visi!
Secara alami, sebenarnya Elijah memiliki salah satu dari bakat visi Athena. Tapi Elijah tak pernah menyadari kemampuannya. Seharusnya gadis itu mengerti kenapa ia diangkat menjadi Paravisi.
Gelar Paravisi adalah sebutan khusus untuk mereka yang memiliki kemampuan supernatural seperti Paranormal. Paravisi sama artinya dengan Paranormal. Bedanya, jika Paranormal adalah rakyat sipil, Paravisi adalah Aparat.
Gadis itu juga bisa melihat apa yang dilihat orang lain dan bisa membagikan visinya pada orang lain melalui sentuhan. Apa yang dilihatnya di Coffee Shop sebetulnya tentang apa yang dilihat Evan. Dan ia membaginya kembali pada Evan. Tapi baik Elijah mau pun Evan tak pernah menyadarinya. Elijah bahkan tak mengerti bagaimana cara kerja visi. Jadi ketika bayangan gadis di Coffee Shop itu berkeredap di kepalanya ia hanya mengetatkan matanya. Berusaha menekan bayangan itu dari penglihatannya. Sesaat Elijah melihat wajah Monica Debora. Lalu kembali menjadi wajah Jessifer Illucy. Begitu terus kedua wajah itu bergantian berkeredap dalam kepalanya.
Evan juga melihatnya. Pria itu mengangkat wajahnya dari bahu Elijah lalu tercengang dengan alis bertautan. Dia bukan J.C, batinnya.
J.C adalah nama kode untuk Jessifer Illucy. Dalam organisasinya, Jessifer Illucy memiliki banyak nama samaran dan sejumlah nama kode. Ia bisa jadi siapa saja dalam penyamarannya.
__ADS_1
Tapi Evan tahu Jessifer Illucy tak pernah berganti wajahnya meski ia menyamar ribuan kali dalam sehari. Dan ia tak butuh waktu lama untuk bisa menghabisi satu kota. Jessifer Illucy juga bukan penggoda. Dia bukan type wanita yang suka cari perhatian. Jessifer Illucy itu seorang agen mata-mata dan pembunuh profesional. Apa yang dilakukan gadis itu kemarin sama sekali bukan gaya Jessifer Illucy.
Elijah juga mengangkat wajahnya. "Kemaren gue kangen sama lu," desis Elijah dengan wajah memelas.
Evan menatapnya dengan mata berbinar-binar bahagia. Ia menaikkan alisnya pura-pura tak percaya. "Masa'--?"
"Sekarang udah enggak!" Elijah mendengus seraya menurunkan kedua tangannya dari pinggang Evan.
Evan memutar bola matanya seraya melepaskan dekapannya tapi tak melepaskan kedua tangannya dari bahu Elijah. Ia menatap gadis itu dan tersenyum lebar seperti biasa. Lalu berbisik kepada Elijah dengan sikap membujuk. "Cacat," katanya mesra. "Kemaren lu kangen sama gue karena lu kagak ketemu gue!" Ia menjelaskan dengan menirukan logat khas Elijah. "Paham?"
Elijah mengangguk-angguk kemudian melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu dan menarik wajahnya mendekat. "Gue nangis," bisiknya dengan tampang menyesal, seolah menangis itu semacam penyakit memalukan yang perlu dirahasiakan.
Evan menghembuskan napas berat, pura-pura kecewa. "Kok bisa?" Ia bertanya dengan tampang mencela.
"Dada gue kayak ditusuk liat lu melototin cewek laen!" Elijah mengaku. "Perut gue kayak ditonjok begini, bugh!" Ia mengepalkan tinjunya dan berpura-pura memukulkannya ke perut Evan.
"Ugh!" Evan menekuk perutnya pura-pura kesakitan. "Itu sakit sekali," komentarnya seraya mengerutkan dahi.
"Hm'mh!" Elijah menaikkan rahang dan mengatupkan mulutnya seraya menautkan kedua alisnya memasang tampang dramatis.
"Kalo begitu mulai sekarang gue gak bakalan melototin cewek lain lagi," Evan memutuskan.
"Hm'mh!" Elijah mengangguk setuju.
"Kecuali kalo lu gak liat!" Evan menambahkan.
__ADS_1
"Hm'mh..." Elijah menggeram.