Serial ArtLand: MINORITY TALENT

Serial ArtLand: MINORITY TALENT
Phenomenon


__ADS_3

Pria tua itu membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba seseorang melemparkan bom asap ke tengah ruangan seraya mengusap wajah Casey dari belakang dan menekan kedua matanya dengan telapak tangan. Sedetik kemudian, tubuh Casey terkulai lemas dan terpuruk di lantai.


Casey berusaha mengangkat wajahnya dari lantai ketika seseorang melingkarkan tangan pada pinggangnya. Tapi pelipisnya kemudian berdenyut. Sejumput rambut cokelat madu memburai dari balik tudung jaket seseorang di belakang Casey kemudian melecut di wajah Casey. Casey bisa menghirup aroma lembut yang ditebarkan dari rambut itu. Aroma lembut yang terasa tak asing baginya. "Ezra..." Casey berdesis lirih. Airmatanya merebak. Lalu penglihatannya menjadi kabur.


Serentak suara langkah kaki berdebam mendekatinya.


Casey membuka matanya dengan susah payah. Berusaha memfokuskan penglihatannya. Tapi wajah-wajah yang merunduk di atas kepalanya terlihat samar. Casey masih bisa merasakan sepasang tangan menopang punggung dan kakinya ketika tubuhnya terangkat dari lantai, kemudian ia melihat dua wajah yang sudah dikenalnya, Ezra, Denta. Lalu semuanya berubah menjadi kegelapan total.


"Casey!"


Casey mendengar suara-suara yang memanggilnya. Tapi ia bahkan tak bisa melihat dirinya sendiri. Dan kesadarannya sudah semakin menipis. Semuanya terlihat gelap, lalu abu-abu, kemudian menjadi putih, tak lama Casey melihat ledakan cahaya berwarna-warni, lalu kembali putih. Kemudian putih pudar. Dan akhirnya ia bisa melihatnya. Melihat wajah yang tengah merunduk di atas kepalanya.


..._...


Elijah baru saja turun dari sepeda motornya dan berjalan menuju sebuah Coffee Shop ketika seseorang menabraknya dari belakang. Rahangnya mengetat, bersiap memaki, kemudian memutar tubuhnya dan membeku. Menahan diri untuk tidak menyemburkan kata-kata kasarnya begitu mengetahui siapa yang menabraknya.


Seorang gadis kumal tergagap menatapnya dengan wajah ketakutan. "Maaf," sesalnya hampir menangis.


Membuat Elijah terenyuh dan kehilangan amarahnya.


Tanpa menunggu jawaban, gadis kumal itu bergegas meninggalkan Elijah dengan wajah tertunduk.


Elijah masih mematung di tempatnya ketika gadis kumal itu akhirnya berlari dan seseorang kemudian berteriak padanya.


"Gadis itu mencuri dompet Anda, Sir!" Seorang anak laki-laki memberitahu Elijah.


Elijah menoleh ke arah anak laki-laki itu seraya meraba saku celananya dan menggeram. "Anjing!"


Anak laki-laki itu memekik ketakutan mendengar Elijah mengumpat. "Maaf," sesalnya begitu menyadari Elijah bukan laki-laki. Ia berpikir Elijah tak senang karena dirinya telah mengira gadis itu laki-laki.


Tapi Elijah tidak mempedulikan anak laki-laki tadi. Elijah melesat dari tempatnya dan menyeruak di antara orang-orang yang berseliweran di sepanjang trotoar.

__ADS_1


Membuat semua orang mengumpat memarahinya.


Anak laki-laki itu menghela napas lega seraya mengusap-usap dadanya.


Sementara Si Gadis kumal tadi sudah berlari cukup jauh di depan Elijah, tapi Elijah masih bisa melihatnya ketika gadis itu memasuki sebuah gang sempit menuju pemukiman kumuh di pinggiran kota Artland.


Tak butuh waktu lama, Elijah sudah sampai di tengah-tengah pemukiman itu dan mendapati gadis kumal itu tengah terjebak di antara sepuluh pria bertampang menyebalkan. "Kena, lu!" Salah satu pria itu menyeringai ke arah gadis kumal tadi.


Elijah menghentikan langkahnya di tepi lapangan berumput tak jauh dari tumpukan sampah yang menggunung.


Kesepuluh pria itu mengepung Si Gadis kumal dan memperolok gadis itu dengan kata-kata kotor. Salah satu dari mereka menangkap tangan gadis itu dan mulai mempermainkannya dengan sentuhan-sentuhan tak sopan yang melecehkan.


Seketika amarah Elijah mulai menggelegak di tenggorokannya. "Hey!" Ia meluapkan emosinya dengan menghardik pria tak sopan itu. "Lepasin tangan Lo kalo gak mau gua patahin!"


Kesepuluh pria itu serempak menoleh ke arah Elijah.


Si Gadis kumal memekik ketakutan mengetahui Elijah berhasil menyusulnya sampai sejauh ini.


Mendengar dirinya disebut cewek, jelas membuat Elijah semakin naik darah. Disambarnya pria yang mengatakannya dengan tendangan berputar ala Capoeira.


Pria itu terhuyung ke belakang, dan kesembilan temannya serentak menerjang ke arah Elijah.


Dalam sekali terjang, Elijah sudah berhasil menumbangkan dua orang pria sekaligus. Elijah mengerang kecewa mengetahui lawannya sedang dalam keadaan mabuk semua. "Monyet," geramnya seraya membetulkan letak penutup kepalanya dan berdiri tanpa kuda-kuda.


Kesepuluh pria itu terlihat masih penasaran untuk menyerang Elijah.


Tapi Elijah sudah kehilangan selera dan amarahnya.


Sementara itu, Si Gadis kumal sedang mencoba memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.


Tapi Elijah sudah lebih cepat menangkap tangannya. "Mau lari ke mana lu, hah?!"

__ADS_1


Gadis kumal itu menyentakkan tangannya dari genggaman Elijah tapi kemudian mengerang dan menyerah. Genggaman tangan Elijah sekuat belenggu besi.


"Balikin dompet gue!" Elijah menggeram seraya meremas tangan gadis kumal itu dan merenggut dompetnya. Tangan gadis itu melemas di tangannya. Maka Elijah pun melepaskannya.


Gadis itu meringis seraya mengusap-ngusap sebelah tangannya yang membiru. Menatap Elijah dengan takut-takut.


Elijah mengamati gadis kumal itu dengan tajam, mencoba mengingat wajahnya baik-baik. Lain kali jangan harap bisa menipuku lagi dengan tampang memelas, geramnya dalam hati. Kemudian berlalu dari hadapan gadis itu dan menjauh dari pemukiman kumuh tadi.


Gadis kumal itu menatap Elijah hingga menghilang di gang. Lalu mengintip kesepuluh pria yang terkapar di dekat tumpukan sampah. Perempuan itu betul-betul cacat mental, pikirnya.


Tak lama kemudian gadis itu mengendap-ngendap melewati kesepuluh pria tadi, lalu menghambur meninggalkan pemukiman kumuh itu. Sesampainya di luar gang, gadis itu berbelok menuju pusat pertokoan barang-barang antik dan menyelinap ke dalam salah satu ruko yang tak terpakai. Begitu sampai di dalam, gadis kumal itu merasakan sesuatu yang terus bergetar di dalam saku jaketnya. Gadis itu pun mengeluarkan benda itu dan memeriksanya. Lalu menghela napas. Ia lupa mengembalikan telepon seluler Elijah. Aku tak ingin berurusan lagi dengan perempuan jadi-jadian itu, batinnya masam. Tak lama wajahnya berubah pucat begitu ia menatap layar telepon seluler itu.


Panggilan masuk yang mendominasi layar telepon seluler itu berasal dari kontak bernama Evan Jeremiah, dan foto profilnya terpampang memenuhi layar.


Tangan gadis kumal itu mendadak gemetar tak terkendali, begitu juga kelopak matanya. Tak lama kemudian gadis itu terisak seraya membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.


..._...


"Where are you went?" Evan Jeremiah menghampiri Elijah dengan tampang panik. "Kenapa tak menjawab panggilanku?"


Elijah menatap wajah pria itu tanpa ekspresi. Mulutnya sedang sibuk menggigiti rumput yang terselip di sudut bibirnya.


Evan menghela napas dan menenangkan diri. Lalu memeluk gadis di depannya dengan perasaan lega. Setidaknya dia baik-baik saja, pikirnya.


Gadis itu diam saja. Masih sibuk menggigiti rumput di sudut bibirnya. Tapi tak lama tangannya akhirnya mulai sibuk meraba-raba saku jaketnya, lalu saku celananya dan menggeram, "monyet!"


Mendengar hal itu, Evan serentak melepaskan dekapannya dan menatap wajah Elijah dengan dahi berkerut.


Elijah mendekatkan wajahnya ke wajah Evan, kemudian menyeringai, "HP gue ilang," bisiknya mesra. Seolah kabar itu semacam kata I love you.


Evan mengerang. Lalu menyundul dahi gadis itu seraya balas berbisik tak kalah mesra, "cacat!"

__ADS_1


__ADS_2