Serial ArtLand: MINORITY TALENT

Serial ArtLand: MINORITY TALENT
S.B.S


__ADS_3

Senja dan Athena bertukar pandang. Lalu keduanya mengamati Evan yang masih sibuk memandangi langit-langit. Sesaat kemudian, Senja kembali melirik Athena yang tampak kewalahan menghadapi Evan. Tapi ketika perempuan itu balas meliriknya, Senja mengalihkan perhatiannya pada lantai di bawah kakinya. Membuat Athena tertunduk salah tingkah.


Menyadari keheningan yang mendadak itu, Evan kemudian mengawasi keduanya diam-diam. Tapi ia tak bisa menyembunyikan senyumnya.


Membuat kedua rekannya otomatis memelototinya.


Evan menanggapi keduanya dengan menyeringai. "Baiklah!" Evan mulai menyerah. "Biar kuperjelas." Evan berdeham dan memperbaiki posisi duduknya. "Jessifer Illucy dulunya adalah kekasihku." Evan mengaku.


"Dulunya?" Senja dan Athena terlengak bersamaan.


"Yeah. Dulunya dia juga perempuan normal." Evan membelalakkan kedua matanya.


Membuat kedua rekannya semakin melengak tak mengerti.


"Dia sudah bermutasi menjadi makhluk tanpa jiwa. Apa kalian tidak tahu?" Evan menambahkan.


"Ya, aku tahu soal itu." Athena menyela. "Aku hanya tak mengerti kenapa kau mengatakannya seolah gadis itu sudah meninggal?"


"Memang apa bedanya?" Evan berkilah.


Athena memutar-mutar bola matanya dengan tampang kesal.


"Maksudmu apa bedanya dengan Elijah? Begitu?" Senja mencemooh.


Evan mendelik ke arah Senja.


Dibalas dengan tawa Senja yang menjengkelkan.


"Jangan khawatir," Evan merendahkan nada bicaranya. "Dia takkan membunuh Paravisi!"


Senja dan Athena kembali bertukar pandang. Tak mengerti jalan pikiran Evan.


Evan menghela napas berat dan memejamkan matanya lekat-lekat. Dari raut wajahnya, Athena bisa menebak hatinya mendadak perih mengingat Elijah.


Dan hal itu jelas membuat Athena mulai dilema. Ia kesulitan untuk memutuskan apakah mereka sebaiknya mencari Elijah atau Casey Minor. "Sepertinya aku terpaksa harus membuat dua misi sekaligus dalam satu waktu," gumamnya lesu.


"Atau mungkin tiga!" Evan menambahkan.


Athena mengerutkan dahi mendengar pernyataan Evan.

__ADS_1


"Jessifer Illucy dikirim untuk misi pembunuhan massal!" Evan mengedar pandang ke arah Senja dan Athena.


Kedua rekannya menelan ludah, kemudian tercengang bersamaan.


Mereka betul-betul sehati, pikir Evan seraya mengamati kedua rekannya.


Tak lama kemudian Athena sudah terlihat berpikir keras. Ia tahu tujuan utama proyek TMP adalah mencetak bakat istimewa. Dan mereka telah berhasil menciptakan mesin pembunuh paling mematikan di dunia berkat gen istimewa yang dimiliki Paravisi. Athena menyadari. "Mereka menginginkan Paravisi," ia bergumam.


"That's exactly!" Evan Jeremiah menambahkan dengan nada datar.


Lalu tanpa aba-aba, kedua rekannya bergerak dari tempatnya masing-masing dan bergegas meninggalkan Ruang Komite.


"Hey!" Evan memprotes. "Aku juga Paravisi. Apa kalian lupa?"


"Well, yeah!" Athena mengerang. "Dan kau juga Romeo. Apa kau lupa?"


"Haha..." Evan tergelak. Lalu beranjak dari tempatnya. "Ok," katanya. "Aku akan mencarinya lagi!" Ia memutuskan.


Ketika mereka sudah sampai di luar, Ardian Kusuma, Agung Tirta, dan kelima Paravisi lainnya baru sampai di parkiran Taman Bacaan Deasy Dengkur.


Evan hanya menyapa mereka sepintas kemudian bergegas meninggalkan semua rekannya.


"Bagus!" Valentine mendengus.


"Kita harus bergerak cepat!" Athena memberitahu.


"Well, yeah..." Ardian Kusuma menimpali. "Terakhir kali kau mengatakannya, aku kehilangan kekasihku!"


Semua rekan Paravisinya terkekeh menanggapinya.


Lalu semuanya menyalakan kendaraannya masing-masing dan berlalu dari tempat Deasy.


Deasy Dengkur mengangkat kepalanya dan mengedar pandang lalu menggerutu. Diliriknya jam dinding di atas pintu keluar di depannya kemudian memeriksa telepon selulernya.


Agung Tirta mengiriminya pesan melalui aplikasi Messaging Agent: "Jaga dirimu baik-baik. Itu adalah misimu!"


Deasy tersenyum tipis dan beranjak dari tempat duduknya dengan malas. Lalu meregangkan tubuhnya sebentar. Setelah itu, ia mulai memeriksa seluruh ruangan dan merapikannya. Bersiap menutup Taman Bacaannya. Tak sampai sepuluh menit rasa kantuknya muncul kembali. Membuatnya betul-betul kesal. Apa tak bisa menunggu sampai pekerjaanku selesai? Deasy memarahi dirinya. Tak lama kemudian tubuhnya sudah melemas dan terpuruk di depan pintu masuk.


Sesaat kemudian gadis itu mendengar langkah kaki mendekati pintu dan membukanya. Ingin rasanya ia mengatakan, "kami sudah tutup!" Tapi ia bahkan tak sanggup membuka kelopak matanya.

__ADS_1


"Are you ok?"


Deasy mendengar seorang pria kebingungan. Well, yeah. Ia berkata dalam hati. Aku baik-baik saja. Tapi kami sudah tutup!


Pria yang baru masuk itu merunduk di atas tubuh Deasy kemudian memeriksanya. "Ya, Tuhan..." Pria itu mengerang. "Sleeping Beauty Syndrome!"


Dari mana kau tahu aku menderita SBS? Deasy bertanya-tanya.


Tak lama pria itu menghela tubuh Deasy dari lantai dan membopongnya. Lalu merebahkannya di atas sofa di salah satu ruang baca. "Dengar," katanya setelah pria itu berdeham. "Aku akan membantumu menutup tokomu setelah ini. Aku janji!" Pria itu melanjutkan. "Tapi sebelum itu, aku ingin kau mengingat ini baik-baik. 1999. 1111. 1983. 9001."


Tunggu dulu! Deasy ingin menyela. Tapi mulutnya tidak dapat digerakkan. Siapa pria ini sebenarnya?


Setelah mengatakan itu, pria tadi beranjak dari tempat itu dan terdengar suara langkahnya menjauh. Kemudian mondar-mandir di depan meja kasir, mematikan lampu-lampu di dalam toko itu satu per satu. Tak lama kemudian terdengar pintu toko itu sudah dikunci.


Oh, shit! Jantung Deasy berdegup kencang. Pria itu mengunci pintunya dari dalam. Deasy berusaha memberontak dari rasa kantuknya, tapi dadanya terasa semakin sesak. Semakin keras ia memberontak semakin dalam rasa kantuknya membelenggu. Detik berikutnya seluruh ruangan menjadi hening. Kemana perginya pria yang mengunci tokonya tadi?


"Deasy..."


Deasy mendengar suara seseorang memanggilnya di antara suara hujan yang menderu. Tapi ia tak tahu suara siapa yang tengah memanggilnya. Suara itu seperti hanya semilir angin yang membentur jendela kaca di luar tokonya. Begitu jauh. Dan terdengar seperti datang dari berbagai arah.


"Deasy..." Suara itu kembali berdesis.


Who are you? Deasy bertanya-tanya dalam hatinya. Tapi matanya terasa semakin berat. Aku benci SBS, batinnya getir. Somebody help!


"Deasy, buka pintunya!"


Deasy memekik dan terperanjat.


"Deasy apa kau di dalam?" Suara gedoran di pintu depan itu terdengar semakin keras.


Deasy mengerjap-ngerjapkan matanya dan memandang berkeliling. Aku tidak bermimpi, pikirnya. Seseorang memang memindahkannya ke ruang baca dan mengunci pintu. Ia bergidik dan melompat dari atas sofa itu. Kemudian menghambur ke arah pintu dan membukanya dengan terburu-buru. Di mana kuncinya? Di mana kuncinya? Pertanyaan itu seolah hanya berputar-putar di dalam kepalanya dan tak mau keluar dari mulutnya. Dimana pria itu menaruh kuncinya.


"Deasy! Are you ok?!" Seseorang di luar tokonya terdengar panik.


Yeah, katanya dalam hati. Aku hanya panik sepertimu. Setelah ia berhasil menemukan kuncinya, ia segera menghambur ke dalam pelukan seseorang yang menunggunya di depan pintu.


"It's ok, Sweetheart!" Perempuan di depan toko itu mengusap-usap punggungnya.


Deasy menumpahkan tangisannya dalam dekapan perempuan itu tanpa memeriksa lagi siapa perempuan yang tengah mendekapnya. Yang ia tahu, perempuan itu mungkin Athena. Pakaian dan rambut perempuan itu terasa basah kuyup di tubuhnya. Tapi Deasy tak peduli. Ia betul-betul ketakutan setengah mati. Kedatangan perempuan itu saja sudah cukup membantunya terjaga. Dan itu sudah lebih dari cukup menurutnya. Tapi begitu Deasy selesai dengan tangisannya, ia mengangkat kepalanya dari dekapan perempuan itu dan menjerit.

__ADS_1


Tidak ada siapa-siapa di luar sana!


__ADS_2