
"Di mana kau tinggal?" Benjamin Lewis berteriak di atas kendaraannya melawan suara angin dan deru mesin sepeda motornya yang meraung-raung.
"Aku tidak punya tempat tinggal, Sir!" Gadis di belakangnya balas berteriak.
"Baiklah, kita akan membicarakan ini di tempat tenang." Benjamin Lewis memelankan laju motornya kemudian menepi di sebuah taman dan menuntun gadis itu ke bangku taman. "Kau tidak sedang mempermainkanku, kan?" Benjamin Lewis mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
Gadis di depannya menundukkan kepala. "Saya tidak berani, Sir!"
Mata pria itu memelototinya dengan tatapan menyelidik. "Dari mana asalmu?"
"Saya dari Feat Street, Sir!" Gadis itu menjawab gugup.
Benjamin Lewis menatap gadis itu dengan kedua alis saling bertautan. "Bagaimana kau bisa sampai di sini?"
Feat Street merupakan sebuah kota besar modern yang letaknya paling jauh dari kota Artland. Untuk bisa sampai di kota Feat Street, mereka harus menempuh perjalanan dua hari menyeberangi laut. Tidak ada akses darat atau udara yang menghubungkan Feat Street ke kota Artland.
"Saya..." Gadis itu tergagap. "Mengikuti study tour dan terpisah dari rombongan. Dan...."
"Oh," erang Benjamin Lewis. "Kau tak bisa mengarang cerita untuk mengelabuiku, ini kota Artland. Apa kau lupa?" Ia melotot tak sabar. "Di sini, kami semua berbakat pengarang!"
Gadis itu mengernyit. "So... Sorry," desisnya menyesal.
Meski kota Feat Street cukup terkenal sebagai kota paling canggih dan berprestasi, tingkat kecerdasan individu penduduk kota Feat Street tertinggal jauh di bawah Artland. Tingkat kecerdasan individu penduduk kota Artland berada di peringkat satu dalam bidang sains dan terkenal sebagai kota berpenduduk paling genius.
"Kau tak bisa membodohi siapa pun di kota Artland!" Benjamin menggeram.
Gadis di depannya sudah kehilangan kata-kata untuk beralasan. Aku sudah tak bisa berkelit sekarang, pikirnya. Lalu memasang tampang memelas.
"Hah!" Benjamin tergelak menyaksikan tingkah laku gadis di depannya. "Baiklah," katanya bosan. Dalam hati ia masih kesal mengetahui gadis itu masih berusaha mengelabuinya dengan tampang memelas. Betul-betul trik murahan, pikirnya muak. "Siapa namamu? Kau bahkan belum memperkenalkan diri sejak tadi. Dan...." Benjamin menggantung kata-katanya seraya meneliti gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kakinya. "Apa benar kau mencuri dari salah satu Paravisi?"
Gadis itu mengangkat wajahnya lalu mengerjap-ngerjapkan matanya dengan sikap gugup. "Saya..." Gadis itu akhirnya menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya dan menyerahkannya pada Benjamin Lewis. Tapi tak mengatakan apa-apa lagi.
Benjamin Lewis mengerutkan dahi. Telepon seluler di tangannya masih aktif dan tetap menyala. Gadis itu jelas tidak membutuhkan telepon seluler itu untuk keuntungan pribadinya. Karena jika benar begitu seharusnya gadis itu sudah mematikan dan menghapus seluruh data. Kemudian menjualnya. Mengingat gadis itu berasal dari kota paling modern, mustahil baginya tidak mengerti soal perangkat. Dan jika dilihat dari caranya berpakaian, meski terlihat kumal, pakaian yang dikenakan gadis itu memiliki harga selangit di pasaran. Gadis itu jelas tidak berasal dari keluarga yang tidak mampu untuk membeli sebuah telepon seluler yang jauh lebih mahal dari telepon seluler curiannya.
"Jessifer," desisnya.
__ADS_1
Benjamin Lewis melengak.
"Namaku Jessifer Illucy!" Gadis itu memberitahu Benjamin.
Benjamin Lewis menelan ludah, kemudian berdeham. "Well, aku Benjamin," balasnya seraya mengulurkan tangan ke arah gadis itu. "Benjamin Lewis," katanya. Setelah itu ia menghela napas berat dan menghembuskannya sekaligus. Lalu tertunduk lemas dan tak berkata apa-apa lagi.
Gadis itu menatapnya dengan mata berkilat. Lalu gadis itu menyalami tangan Benjamin seraya tersenyum tipis.
Benjamin kembali mengamati gadis itu dan kembali menelan ludah.
Wajah gadis itu seketika berubah setelah ia memperkenalkan dirinya. Tidak ada lagi raut ketakutan, tidak ada lagi sikap gugup yang dibuat-buat. Tidak ada lagi kepura-puraan dalam dirinya. Ia betul-betul menunjukkan wajah aslinya.
"Ada urusan apa kau dengan Evan Jeremiah?" Benjamin Lewis akhirnya memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh.
Gadis di depannya menyeringai. Lalu menghela napas berat. Ia melirik wajah Benjamin sekilas. Tapi tak mengatakan apa-apa.
"Kau bukan dari Feat Street kan?" Benjamin menyimpulkan. "Kau dari kota Ghostroses. Apa aku benar?"
Ghostroses adalah kota misterius yang terkenal paling mematikan di seluruh dunia. Setengah dari penduduknya berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Dan Jessifer Illucy adalah salah satunya.
Giliran Benjamin Lewis sekarang yang menghela napas berat dan menghembuskannya penuh beban. Pria bertubuh kekar itu menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku lalu tertegun dan berpikir keras.
Jessifer Illucy merupakan mesin pembunuh paling mematikan di dunia. Gadis itu sejenis produk bioteknologi pertama yang berhasil diciptakan para ahli senjata biologi melalui praktek percobaan transgenic.
Transgenic adalah proses pemindahan gen dari suatu organisme ke organisme lain sehingga organisme tersebut memiliki sifat dan ciri-ciri baru yang dapat diteruskan secara turun temurun. Transgenic biasanya dilakukan hanya pada tumbuhan, pada awalnya. Tapi kemudian mulai berkembang pada hewan dan akhirnya dilakukan pada manusia dengan cara memasukkan DNA rekombinan yang telah dikendalikan dalam genom. Dan praktek percobaan terselubung ini dinamai TMP (Time Machine Progress). Sebagian besar percobaan mereka gagal dan menyebabkan banyak organisme mengalami cacat mutasi. Lalu pada awal tahun 2007 mereka akhirnya berhasil mencetak Manusia Transgenic pertama dengan kekuatan super dan bakat istimewa, yang tak terkalahkan, yang disebut: New Born.
Dan Jessifer Illucy adalah New Born!
Untuk apa dia dikirim ke kota ini? Benjamin Lewis bertanya-tanya.
..._...
Evan Jeremiah menghempaskan tubuhnya , tepat di sisi Athena di atas sofa usang di depan perapian.
Pada saat itu Athena sedang sibuk menghubungi semua nomor dalam daftar kontaknya. Perempuan itu meliriknya sepintas, lalu kembali sibuk memelototi layar ponselnya. "Apa kau sudah menemukan Elijah?" Athena bertanya sebelum ia berkata, "halo!" Menyapa seseorang di line teleponnya.
__ADS_1
Evan melirik ke arah Athena dengan tampang kesal. Selesaikan saja dulu pekerjaanmu, batinnya masam. Lalu mengalihkan perhatiannya ke langit-langit dengan mimik muka semrawut.
"Kau tak berhasil menemukan gadismu. Ya, kan?" Senja Terakhir tiba-tiba muncul di pintu akses.
Evan Jeremiah membeliak sebal ke arah Senja. "Kau masih tak bisa mengendalikan kekuatanmu. Ya, kan?" Evan membalasnya setengah merutuk.
"Haha..." Senja menanggapinya dengan tertawa. "Cari gadis lain, dia gadisku!"
Mendengar Senja berkata demikian, Athena sontak memelototinya.
"Berlatihlah lebih keras lagi, Senja!" Evan mengomel. "Kau tak hanya kesulitan mengendalikan kekuatanmu, tapi juga perasaanmu!"
Senja terkekeh seraya bersedekap dan menyandarkan punggungnya pada rak buku di sisi perapian. Sebelah kakinya terlipat dengan telapak kaki bertumpu pada dinding.
"Oh, ya ampun!" Evan mengerang menanggapi kemunculan Senja di depannya. Detik sebelumnya, Senja masih berdiri di belakangnya. "Aku benci Paranormal!" Ia mengumpat sebal.
"Evan!" Athena menyela sesaat sebelum mengakhiri panggilan di telepon selulernya.
"Yeah, Sweetheart!" Evan menanggapinya dengan nada datar. Wajahnya bahkan tidak berpaling saat ia mengatakannya. Ia mengatakan itu hanya untuk mengejek Senja.
Dengan tampang kesal Athena menimpuk pria itu dengan bantal sofa. "Kau betul-betul sedang dalam masalah besar!" Athena menggeram padanya.
"Well, Yeah!" Evan Jeremiah akhirnya menoleh ke arah Athena. "Elijah adalah satu-satunya duniaku. Dan itu artinya dia masalah terbesarku!"
"Ini bukan soal Elijah," sergah Athena semakin kesal.
"Oh, ayolah! Kau tahu kan aku tidak pernah punya masalah yang lebih besar dari perasaanku pada Elijah!"
"Evaaaann...." Athena menggeram.
"Kendalikan dirimu, Capt!" Evan memotong pembicaraan. Kemudian mulai mengoceh seperti perempuan. "Bukan kau yang seharusnya kehilangan kendali. Tapi aku. Aku yang kehilangan Elijah. Dan bukan kau!"
Athena melengak memandangi Evan. Sulit dipercaya pria itu masih bisa bersikap konyol. "Evan....?!" Athena mulai melengking. "Kau tahu tidak siapa gadis yang memelukmu di Coffee Shop?"
"Oh, aku tak ingin tahu!" Evan mengerang.
__ADS_1