Serial ArtLand: MINORITY TALENT

Serial ArtLand: MINORITY TALENT
Sebelum Ester Maria Membunuh Penulis


__ADS_3

"Kau berhasil, Sweetheart!" Athena memeluk Ika yang masih terisak dengan tubuh gemetar.


Ika masih saja membayangkan anak panahnya meleset kemudian mengenai Senja atau Athena. Ia tak berani melepaskan telapak tangannya dari wajahnya. Sampai semua orang berhimpun mengelilinginya. Ia tetap masih berjongkok membenamkan wajahnya dalam-dalam.


"It's ok, Sweetheart!" Semua orang berusaha meyakinkannya.


Tapi gadis itu tidak bereaksi. Gadis itu betul-betul terguncang. Kalimat ajaib Athena bahkan sudah tak mempan.


Akhirnya Luciana dan Ester Maria terpaksa menyeret tubuhnya dari gedung itu dan membawanya masuk ke dalam mobil Agung Tirta. Lalu mengamankannya ke gedung Minority Center. Sementara yang lain masih harus menyisir semua tempat untuk mengumpulkan yang lain.


Jun Andreas tampak terguncang mendapati tubuh Dewi Samudera sudah terkapar di tengah-tengah tumpukan mayat yang berserak dan bersimbah darah. Seketika airmatanya merebak menyaksikan kondisi gadis itu. Ia berusaha memeriksa tanda-tanda kehidupan pada gadis itu. Tapi kemudian tak yakin karena degup jantungnya terdengar seperti dentuman besar. Dengan tubuh gemetar ia mengangkat gadis itu dan membopongnya ke depan Gedung Kepolisian, tempat di mana rekan-rekannya mengumpulkan korban.


"Dewi!" Deasy Dengkur menjerit sebelum Jun Adreas tiba di depan gerbang. Gadis itu berlari menyongsongnya diikuti Agung Tirta di belakangnya.


Athena menyentakkan kepalanya dan menjerit tak seperti biasanya. Reaksi itu jelas membuat Senja sontak ikut tersentak. Pria itu akan selalu jadi orang pertama yang bakal terkena serangan jantung jika terjadi sesuatu pada Athena.


Ryan Gunawan, Adam Martinez dan Naomi mengalami cidera parah dan masuk ruang gawat darurat hari itu. Evan Jeremiah koma selama dua hari. Dan Elijah hampir gila.


Ester Maria dan Ary Caroline harus memakai tongkat selama berhari-hari.


Ika Apriani harus menjalani terapi selama beberapa waktu.


Tim Panahan baik-baik saja karena posisi mereka saat itu berada di atas gedung bertingkat.


Hanya Deasy Dengkur yang posisinya paling aman pada hari kerusuhan itu, karena selama kerusuhan berlangsung, Agung Tirta berhasil menipunya, kemudian mengurungnya di dalam mobil. Gadis itu tidak bisa diandalkan untuk aksi lapangan. Misi utamanya adalah mimpi indah, kata Agung Tirta.


Selebihnya, tidak ada korban jiwa kecuali sejumlah personel dari Divisi Khusus yang dikirim Jet-1, yang menjadi Garda Terdepan di samping Personel Kepolisian.


..._...


"Apa kau yakin tidak tertarik untuk bergabung dengan Minority Academy?" Athena bertanya pada Arfah.


Arfah menanggapinya dengan tersenyum tipis. "Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon maaf karena tidak berani menerima anugerah ini." Anak laki-laki itu menolak dengan cara halus. Athena menemukan bakat istimewa dalam diri Arfah. Tapi Arfah tetap memilih bersikap netral. "Anugerah besar menuntut tanggungjawab besar," tutur Arfah pada Athena. "Anugerah sama artinya dengan amanat. Dan saya bukan tipe orang yang bisa bertanggungjawab!"


Athena tersenyum tipis seperti biasa. Tapi sorot matanya berbinar bangga. "Aku menghormati keputusanmu, Sweetheart!"


..._...

__ADS_1


Hari Pelantikan Minority Academy akhirnya tiba.


Selain itu, pengangkatan Manajer Kota pengganti Benjamin Lewis juga akan diresmikan, hari ini juga.


Gedung Minority Center tak hanya menggelar pesta pelantikan, tapi juga pesta rakyat.


Ratusan unit Divisi berderet di pekarangan depan dan belakang juga kiri-kanan gedung Minority Center. Ruang utama di lantai dasar telah disulap menjadi ruang pesta dan perjamuan sekaligus auditorium.


Mathew Minor tampak tak sabar menunggu kedatangan Jet-1 yang tak pernah dikenalnya. Tak seorang pun pernah bertemu Jet-1 kecuali barisan Paravisi angkatan pertama. Tapi bukan itu yang membuatnya tak sabar. Tapi putrinya, Casey Minor.


Begitu Kapten Divisi mengumumkan Jet-1 sudah tiba, semua Aset dan Paravisi baru berderet tertib di depan pintu utama di lantai dasar, lengkap dengan seragam Minority Academy. Seragam Paravisi maupun Aset belum betul-betul diresmikan. Karena hari ini adalah hari penentuannya. Hari ini merupakan hari prestasi seperti wisuda dalam pendidikan formal. Tak satu pun diijinkan mengenakan seragam Paravisi kecuali Dewi Samudera.


Dewi Samudera telah resmi menerima anugerah khusus sebagai Paravisi Rekomendasi Jet-1 bersama Casey Minor. Paravisi Rekomendasi Jet-1 mendapatkan keistimewaan dalam tubuh Dewan Komisaris.


Mathew Minor tidak terlalu peduli. Hati dan pikirannya hanya terfokus pada putrinya semata wayang.


Jet-1 yang terhormat mulai memasuki pekarangan didampingi Dewi Samudera dan Casey Minor di kiri-kanannya.


Mathew Minor mendadak tercekat. Seketika wajahnya menegang dan tubuhnya membeku.


Mathew Minor tengah menatap tajam ke arah Jet-1. Pria bertubuh tinggi, berbahu lebar dengan rambut ikal kriting sepunggung berwarna cokelat, yang disebut Jet-1 ternyata adalah Ezra Minor--Keponakan angkatnya.


Pria itu balas meliriknya seraya tersenyum tipis.


Mathew Minor menelan ludah yang mendadak tercekat di tenggorokannya. Tapi kemudian memaksakan senyum melihat putrinya mengedipkan sebelah matanya saat barisan Jet-1 melintas di depannya.


Setelah lima belas menit Jet-1 berpidato, Dewi Samudera dan Casey Minor berdiri di podium untuk mengumumkan keputusan Jet-1.


Athena menatap bangga Dewi Samudera karena ia tahu tampil di depan publik merupakan kutukan terbesar bagi Dewi Samudera.


"Ester Maria!" Casey Minor mulai membacakan informasi prestasi Program Minority Talent. "20 tahun, terkenal sebagai Si Pembohong Yang Payah--"


Oh, tidak! Ester mengerang. Mereka menyebutkan kekurangannya juga. Wajah gadis itu seketika merona merah ketika semua orang mulai tergelak seraya menatapnya.


Tujuan utama Program Minority Talent adalah mengubah mereka yang disisihkan dari masyarakat menjadi pribadi yang berprestasi. Tentu saja informasi kekurangan Talent merupakan bagian penting untuk umumkan.


Semua Talent seketika menahan napas membayangkan gilirannya ditertawakan.

__ADS_1


"Bakat fisik, ahli Capoeira. Bakat spiritual, intuisi. Lulus peringkat satu dengan nilai solidaritas tertinggi. Dengan ini, Jet-1 menentukan Ester Maria sebagai: Paravisi!" Casey Minor mengacungkan selembar kertas disusul suara tepuk tangan seisi ruangan.


Ester Maria melangkah ke depan podium dengan sikap gugup. Detak jantungnya berdebar 100 kali lipat lebih cepat. Menerima sertifikat dan gelar Paravisi ternyata lebih mengerikan dibanding menghadapi serangan Ninja, batinnya getir. Aku betul-betul akan membunuh penulis setelah tamat cerita ini!


Jet-1 membantunya memakaikan seragam Paravisi kemudian menarik tudung jaketnya sebagai tanda ia telah resmi menjadi Paravisi.


"Ethan Hernandez!" Giliran Dewi Samudera sekarang yang membacakan pengumuman. "21 tahun. Terkenal sebagai Product of Broken Home. Bakat fisik, keahlian Capoeira. Bakat spiritual, tidak ada. Lulus peringkat satu dengan nilai pertahanan terkuat. Dengan ini, Jet-1 menentukan, Ethan Hernadez sebagai: Guardian Warrior!"


Guardian Warrior adalah pasukan divisi khusus seperti Topan Maulana dan para Ninja yang dikirim Divisi Pusat sebagai tentara pelindung.


"Ary Caroline!" Casey Minor melanjutkan. "20 tahun. Terkenal sebagai Pemalas Terhebat,"


Ika tergelak mendengar pengumuman itu. Ditanggapi dengan geraman Ary Caroline.


"Bakat fisik, ahli Capoeira dan pemrograman. Bakat spiritual, tidak ada. Lulus peringkat dua dengan nilai solidaritas tertinggi kedua setelah Ester Maria. Dengan ini Jet-1 menentukan Ary Caroline sebagai: Aset!"


Aset merupakan gelar untuk menyebutkan "Orang Besar" yang mendapatkan hak istimewa untuk menjangkau lebih banyak elemen penting di segala bidang seperti Public Figure atau Dewan Pemerintahan. Dengan kata lain Aset merupakan Orang-orang penting seperti pejabat. Secara teknis, kedudukan Aset lebih berwenang dibandingkan Paravisi. Hanya saja, Paravisi lebih disegani.


"Reyhan Ibrahim!" Dewi Samudera melanjutkan pengumuman. "20 tahun. Terkenal sebagai Bad Boy."


Seisi ruangan tergelak mendengar julukan itu. Bahkan Reyhan sendiri. Dari mana asalnya julukan itu? Ia bertanya-tanya dalam hati.


"Bakat fisik, otomotif dan racing. Bakat spiritual tidak ada. Lulus peringkat satu dengan nilai kepercayaan diri tertinggi. Dengan ini Jet-1 menentukan Reyhan Ibrahim sebagai: Guardian Warrior!"


"Naomi Bernhard. 20 tahun. Terkenal sebagai Si Kepala Batu. Bakat fisik otomotif dan racing. Bakat spiritual, tidak ada. Lulus peringkat dua dengan nilai keberanian tertinggi kedua setelah Eleazah Van Allent. Dengan ini, Jet-1 menentukan Naomi Bernhard sebagai: Aset!"


"Eleazah Van Allent. 22 tahun. Terkenal sebagai Perusuh Jalanan. Bakat fisik, ahli Capoeira dan raching. Bakat spiritual, ahli visi. Lulus peringkat satu dengan nilai keberanian tertinggi. Dengan ini Jet-1 menentukan Eleazah Van Allent sebagai: Paravisi!"


"Mathew Minor. 52 tahun. Terkenal sebagai Pak Tua. Bakat fisik, ahli strategi dan pemrograman. Bakat spiritual, intuisi. Lulus peringkat satu dengan nilai kebijaksanaan tertinggi. Dengan ini Jet-1 bekerja sama dengan dewan komisaris pemerintah kota Artland menentukan, Mathew Minor sebagai: Manajer Kota!"


Tepuk tangan paling meriah meledak hingga luar gedung. Di luar gedung, penduduk kota Artland sedang menunggu pengumuman ini.


Mathew Minor tercengang tak percaya.


Casey Minor bertepuk tangan seraya menggigit bibir bawahnya menahan tangisan haru. Beruntung Dewi Samudera yang mendapat jatah membaca pengumuman ayahnya. Kalau tidak, aku bakal gagap mendadak, katanya dalam hati.


Mathew Minor dibimbing ke depan podium dengan pengawalan khusus. Ezra Minor mendekap pamannya dengan mata berkaca-kaca. Barisan paravisi angkatan pertama turut terenyuh menyaksikan pemandangan itu. Seumur hidup mereka, ini adalah pertama kalinya mereka melihat sisi rapuh seorang Jet-1.

__ADS_1


__ADS_2