SERIBU TEROWONGAN MENGUBAH SEGALANYA

SERIBU TEROWONGAN MENGUBAH SEGALANYA
_Chapter 14_


__ADS_3

Bagian 2


...(Kau?)...


Octa,Ina dan Meyla berjalan mengikuti langkah orang-orang yang kini memasuki ruangan lain, mereka melihat ruangan itu besar begitu sangat besarnya, luas namun itu terlihat seperti lorong.


“uh” Meyla menyentuh batang hidungnya.


“Ada apa?...apa kau sakit?”tanya Octa yang berdiri disampingnya. Meyla mengeleng, “Tidak..Aku tidak sakit, hanya merasa aneh saja” ucapnya.


Mereka terus berjalan, sampai mereka berhenti disebuah gerbang yang tertutup begitu rapat.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”tanya Ina yang melihat sekeliling.


“Tidak tahu” jawab Meyla.Mereka hanya berdiri, menunggu seseorang menginformasikan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Karena kembali pun itu tidak memungkinkan untuk mereka.


Melihat semua orang berkumpul sambil berbincang santai, Meyla, Ina dan Octa pun berjongkok sambil memainkan kartu nomornya.


“Untuk apa ini ya?”tanya Ina yang menunjukkan kartu angka 80, namun angkanya dibalik sehingga dikira 08.


“Sebaikknya nomor kalian jangan diperlihatkan”ucap seseorang yang melangkah kearah mereka. Meyla yang menunduk mengangkat kepalanya untuk melihat kearah sumber suara.


Octa dan Meyla membelakkan mata melihat orang tersebut. Sedangkan Ina berdiri dan memperhatikan seinci-incinya wajah pemuda tampan didepannya ini.


“Wow...sangat tampan” ucapnya.


Octa yang mendengarnya membutar mata melihatnya, “Ingat suami dirumah”ucap Octa dengan nada mengejek. Ina yang mendengarnya hanya mendengus dan menjauhi pria tampan itu.


“Kau!” Meyla berdiri dengan wajah yang sedikit syock, bagaimana tidak, ia selalu menghindari Pria yang menjadi Tunangannya ini.


“Selamat siang Nona Meyla” ucap Rezka sambil tersenyum kepada Meyla.


Rezka berdiri dekat dengan Meyla yang bersendung kedinding. Sedangkan Octa dan Ina melihat sekeliling mereka.


“Apa yang kita lakukan disini?”tanya Octa.


Rezka mendengarnya, ia pun menjawab“Menurutku..sepertinya ini sudah memasuki masa pengujian”


Meyla,Octa dan Ina pun memperhatikan Rezka menjawab pertanyaan Octa. Merasa terperhatikan Rezka tersenyum dengan sengaja meraih tangan Meyla.


Meyla merindik geli melihatnya, dengan cepat menarik tangannya. Rezka yang melihatnya hanya tersenyum dengan rasa kecewa yang dalam.


Melihat hal itu, Baik Ina dan Octa tidak bisa membantu hubungan yang didasari pertunangan tanpa sepengetahuan sepihak. Mereka tahu bahwa Meyla masih belum bisa menerima dirinya telah bertunangan dengan seseorang.


“Angka yang ada dikartu kalian, jangan sampai dilihat oleh orang-orang, kita tidak tahu apa yang terjadi jika orang mengetahui angka kartu kita”ucapnya menghilangkan suasana cangung ini.


“Jadi kita harus merahasiakannya?”tanya Meyla yang kini melihat kearah Rezka.


Merasa dipandang, Rezka tersenyum dan dengan lembut mengangguk. “Benar..jadi sini kartumu, biar aku menyimpannya”ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


Meyla hanya melirik dengan ragu-ragu, ia pun bertanya “Kalau begitu, kau harus memegang kartu Octa dan Ina?”


“Tidak..mereka bisa menyimpannya sendiri, aku hanya ingin menyimpan kartu mu” jawab Rezka. Octa dan Ina saling melirik dalam diam dan tersenyum kecil.


“Baik..baiklah....awas nanti kalau hilang”ucap Meyla dan memberikan kartu kepada Rezka.


Rezka menyambutnya, tapi tidak dengan mengambil kartunya, ia menarik tangan Meyla dan memasukkannya kedalam kantung hoodienya.


Meyla tersentak kaget, berusaha menarik tangannya, tapi Rezka dengan teguh menahan tangan Meyla didalam kantung hoodienya, engan melepaskan.


“Begini, maka kartu dan pemiliknya tidak akan hilang”ucapnya. Octa dan Ina sudah memerah dan tertawa menahan keromantisan didepan mata mereka. Meyla hanya mendengus sambil membuang wajahnya karena memerah.


-


Tak berapa lama, datang seorang pria dengan pakaian santai. Tapi dilihat didadanya terdapat jam yang dikalungkan dilehernya. Jam itu tidak bergerak.


“Baik..selamat datang para peserta Seribu Terowongan..tanpa basa basi, Aku akan menjelaskan secara langsung bahwa tantangan untuk mencapai akhir terdapat 3 bagian. Bagian 1 adalah kesabaran, bagian 2 adalah pertahanan, terakhir bagian 3 adalah keputusan” ucapnya.


Ia pun melanjutkan “dari masing-masing bagian terdapat tantangan untuk bisa terus melangkah maju, tidak ada yang tahu tantangan apa yang akan dihadapi, yang pasti kalian sudah tahu kuncinya”


Semua orang saling melirik dan mengangguk, Meyla yang berdiri disamping Rezka merasa risih karena orang-orang mulai berdekatan untuk mendengarkan ucapan Pria berpakaian santai itu. Dengan cepat Meyla mendekati Rezka dan meringkuk dibelakangnya.


Rezka terkejut dengan tindakkan itu, ia ingin membalikkan tubuhnya, tapi terhenti dengan suara Meyla.


“Sudah tidak perlu merasa aneh, Aku hanya meminjam punggungmu sebentar, Aku benci kerumunan”ucap Meyla dengan suara pelan. Ada rasa familiar dari ucapannya barusan, tapi dengan rasa benci yang kuat membuatnya melupakan rasa familiarnya itu.


Rezka yang mendengarnya tersenyum, lalu menarik Tangan Meyla dan kemudian memeluknya langsung didepannya.

__ADS_1


Meyla terkejut, bingung ingin melawan, tapi dirinya tidak bisa bergerak karena kerumunan makin banyak dan menghampit tubuh mereka.


“Jangan bergerak”ucap Rezka dengan hembusan tepat ditelinga Meyla. Meyla yang mendengarnya langsung membeku ditempat, bingung dengan suara lembut lewat ditelinganya.


Tidak ada gerakkan menolak, Rezka mengeratkan pelukkannya dan menahan orang-orang yang ingin mendekati mereka.


Orang berpakaian santai itu sudah berdiri didepan mereka, dengan suara yang agak keras, ia berbicara “Kali ini tantangan ujian masuk kalian, jika berhasil, kalian akan masuk kebagian 1 dan menemukan tantangan lainnya...sebelum saya memulainya, yang ingin menyerah silahkan cepat mundur sekarang..”ucapnya.


Diam beberapa detik melihat tidak ada yang mundur, ia melanjutkan “sepertinya kalian sudah bertekad, baiklah...tantangan kali ini berlari tanpa batas....dan jam didada ku ini akan menjadi bukti kita berlari”ucapnya yang kemudian melangkah berlari terlebih dahulu. Dengan gerbang yang kini terbuka.


Langkahnya santai, sehingga orang-orang dengan mudah mengikutinya. Meyla yang tadi dipeluk, perlahan merasa lega karena Rezka berhenti memeluknya.


“Tetap didekatku” ucap Rezka disamping telinganya.


Meyla yang mendengarnya hanya terdiam, tidak menjawab. Ia berlari mengikuti langkah Rezka dengan mengenggam tangannya.


Octa dan Ina berlari terlebih dahulu, mereka tahu bahwa Meyla pasti aman jika ada Rezka didekatnya. Lari mereka santai tidak terburu-buru namun dibarisan paling depan seperti pembalap. Prinsip mereka, makin cepat makin bagus.


Meyla dan Rezka yang masih santai dengan tenang berlari, Rezka menuntung Meyla berlari pelan disampingnya. Sampai seseorang mencibir mereka.


“Ini tantangan, bukan tempat untuk pacaran”ucapnya yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Meyla dan Rezka yang terdiam.


Rezka mendengarnya senang, tapi Meyla tidak, ia merasa ada benarnya perkataan orang tersebut. Dengan berlari santai ia berbicara. “Tuan Rezka..tolong lepaskan tanganku, Aku akan berlari dengan baik”


Rezka mendengarnya lalu menghela nafas. “Baiklah...aku akan melepaskan tanganmu, tapi kau harus disamping ku”ucapnya.


Meyla yang mendengarnya tidak menjawab, tapi juga tidak menolak. Ia tetap berlari disamping Rezka setelah tangannya benar-benar dilepas.


Tak berapa lama, mereka mempercepat langkah, karena barisan didepan sudah mulai menjauh. Selain itu orang-orang ada yang tertinggal.


Meyla melihat sekelilingnya. Sambil berlari ia berguman “ini mirip seperti anime yang ku tonton”


Melihat Meyla yang berguman sendiri, Rezka dengan antusiasnya mencolek pipi Meyla. Meyla merindik ngeri mendapati Rezka yang menyentuh pipinya.


“Apa yang anda bicarakan dengan nada berguman seperti itu Nona Meyla?”tanyanya.


Meyla sedikit menjaga jarak dari Rezka dan menjawab “Aku hanya merasa kita berlari seperti dalam anime yang ku tonton”


“Anime apa yang anda tonton nona?”


Rezka yang mendengarnya tersenyum, ia mendekati Meyla yang menjaga jarak darinya.


“Jangan mendekat”tegur Meyla.


“Kenapa..?”tanya Rezka.


“Aku tidak ingin orang-orang salah sangka”jelas Meyla.


Rezka mendengarnya memayunkan bibir. “Baiiklah..tapi ku harap Nona Meyla tidak jauh dari ku” ucapnya.


Mereka terus berlari, sampai keringat mulai mengalir di dahi mereka. Selain itu ada yang mengeluh dan ada yang menyerah.


“Aku tidak sanggup lagi..sungguh..Terowongan ini sangat panjang”


“Apa kita tidak bisa istirahat sebentar....Aku capek..”


“huh..huh...sungguh aku tidak sanggup, aku menyerah”


Octa dan Ina masih sanggup berlari, bahkan saat ini entah kenapa mereka masih berstamina untuk melangkah maju. Melihat beberapa orang sudah mulai menyerah bahkan ada yang larinya makin lambat namun mereka tetap memaksa maju.


Pria berpakaian santai itu tetap berlari tanpa melihat kebelakang. Ia makin berjarak dengan para peserta yang ada. Jam didadanya berdetak terus menerus.


3 jam telah berlalu, kini mereka melihat sebuah gerbang lain yang tetutup. Dan saat itu juga Pria berpakaian biasa pun berhenti.


Semua orang yang tersisa masih bisa dibilang banyak meski saat mereka dipertengahan jalan, ada yang sudah banyak menyerah.


Pria berpakaian biasa itu pergi sendiri, semua orang langsung ricuh melihat kepergiaannya.


“Apa..apaan ini..kenapa dia pergi begitu saja tanpa berbicara”


“Apa kita ditinggal disini?”


“Apa kita ditipu”


Semua orang terdiam saat pintu gerbang dibuka perlahan. Suara gesekkannya terdengar mengema didalam lorong. Dan terdapat suara yang begitu kerasnya menyambut mereka.


“Selamat datang para peserta Seribu Terowongan...kalian telah berhasil lolos ditantangan pertama. Maka akan saya beritahukan bahwa saat ini peserta yang tersisa hanya sekitar 700 orang”

__ADS_1


Semua orang berbisik mendengar suara itu.


“Jumlah keseluruhan peserta sebelumnya adalah 1000 orang, tapi tampaknya 300 orang telah tereliminasi, saat gerbang terbuka, secepatnya kalian masuk karena saat itu tantangan yang lain menanti kalian”ucapnya yang kemudian terdiam tak melanjutkan apa yang dibicarakan.


Gerbang terus terbuka, saat celah mampu untuk memasukan 1 orang, maka saat itu juga orang-orang yang tersisa masuk perlahan secara bergantian. Octa dan Ina kini berdiri didepan Meyla dan Rezka. Mereka memilih untuk tidak berpisah saat masuk kedalam gerbang selanjutnya.


Tibanya didalam gerbang tersebut, terdapat sebuah rumah yang tidak beratap. Semua orang duduk ditempat yang mereka inginkan, namun mereka terlempar saat mendudukkan diri.


“Apa-apaan ini...kenapa Aku terlempar?”ucapnya dengan penuh amarah. Saat melihat tempat asal ia terlempar tadi, sebuah angka keluar dari lantai. Angka-angka itu dari 1-700 dan semua tersusun rapi.


Melihat itu semua orang langsung mengerti, bahwa untuk bisa duduk, mereka harus tepat sesuai angka kartu mereka. Dengan begitu semua pun memilih angka-angka yang tepat dan duduk disana.


Kini, Ina,Octa,Meyla dan Rezka yang ternyata mendapat nomor 83, duduk disamping Meyla.


Mereka berempat duduk dengan horizontal. Mereka berdamping dan mendapat barisan yang didepannya laki-laki dan dibelakang laki-laki. Bisa dibilang nomor mereka ini adalah keberuntungan dan keburukan.


Keberuntungannya mereka dikelilingi cogan namun keburukkannya Meyla,Octa dan Rezka tidak menyukainya. Beda dengan Ina yang menikmati keadaan. Apa lagi laki-laki disampingnya bisa dibilang maskulin, sangat WOW didepan mata Ina.


Setelah semua orang duduk, tiba-tiba gerbang aneh didepan mereka terbuka. Ada pemandangan indah dengan cuaca yang cerah. Melihat ini entah kenapa ingatan suram Meyla menghantui pikirannya.


Meyla mengeleng kepala untuk menghilangkan ingatan suram yang membuatnya sakit kepala. Rezka yang melihatnya meletakkan jari telunjuk dan ibu jari untuk memijat Jidat Meyla.


Meyla hanya diam, ia juga merasa nyaman saat ada yang membantu meredakkan sakit kepalanya. Tapi ada rasa tidak enak mendapati perhatian Rezka ini. Tentu saja seharusnya dia sudah bisa menerima Rezka, tapi hatinya seperti belum siap, ia seperti menunggu orang lain, menunggu orang tersebut menjelaskan apa yang ingin ia ketahui. Tapi Meyla sendiri tidak tahu siapa yang ditunggunya, dan apa yang ingin diketahuinya.


Setelah gerbang itu terbuka, tiba-tiba lantai tersebut bergerak melesat dengan cepat, seperti mobil yang langsung ditancap gasnya.


Meyla tiba-tiba mengenggam tangan Rezka karena mendapat gerakkan tiba-tiba dari lantai yang mereka duduki. Semua orang juga begitu, mereka kehilangan kendali saat lantai tersebut bergerak dengan dadakkan.


Genggaman tangan Meyla mendapat balasan dari Rezka yang kini memandangnya. Meyla melihat hal itu hanya terdiam dan melepas tangannya dari genggaman tiba-tiba. Tapi Rezka menahan tangannya dan lagi-lagi memasukkannya kedalam kantung hoodienya.


Mata Meyla berkedip berkali-kali melihat tingkah Rezka yang aneh, tapi ia tidak ingin berdebat dengan orang disampingnya ini dan membiarkan tangannya digenggam lembut oleh Rezka.


Octa dan Ina juga sempat terpental tapi untungnya mereka bisa menahan keseimbangan dan duduk dengan tenang.


Lantai itu terus berjalan membawa 700 orang dengan kecepatan yang luar biasa, entah kemana mereka dibawa. Yang pasti saat ini mereka yakin bahwa ini juga terdapat tantangannya.


Terlihat dari kejauhan ada pepohonan yang besar, melihat itu semua orang menundukkan kepala agar tidak jatuh, tapi entah kenapa ada seseorang dengan rasa penasaran mengulurkan tangannya kesamping. Ia mendapatkan tangannya terjerat dan tubuhnya tertarik oleh ranting.


Melihat itu semua orang terdiam. Namun itu hanya khusus orang-orang dibagian samping kanan, kalau ditengah mereka masih santai dan tidak mengetahui bahwa ada orang yang terseret oleh ranting. Sedangkan disisi kiri, dimana tempat Octa,Ina,Meyla dan Rezka berada sudah ada 10 orang tertarik oleh ranting.


Ina mual tidak tahan melihat bagaimana bagian tubuhmu terpisah dengan cepat dari dirimu, Octa juga begitu. Namun Meyla, ia tidak melihat apa yang terjadi karena Rezka dengan cepat memeluknya dan membenamkan wajahnya didada yang kokoh itu.


Meyla memberontak untuk minta dilepaskan, namun keteguhan Rezka tidak bisa dilawan, hingga dengan lelah memberontak, Meyla pun membiarkan hal ini, lagian dia juga masih bisa mendengar apa yang terjadi.


Bagaimana keadaan mu jika melihat tubuh seseorang terpisah didepan mata. Laki-laki yang tidak beruntung tiba-tiba kepalanya terlempar kebelakang oleh dahan ranting yang kokoh. Mata Octa dan Ina terbelak melihatnya, darah pria tersebut langsung keluar seperti kerang air yang dinyalakan.


Darah itu terkena wajah Octa dan Ina dan terkena juga kebaju Meyla. Mereka diam, bingung dengan keadaan. Sampai tubuh pria tersebut jatuh kesamping dan langsung dipotong-potong dengan ranting.


Mereka menebak bahwa ini tantangan yang luar biasa, bagaimana tidak, kalau dari kejauhan yang kita lihat adalah pohon maka saat mendekat itu adalah pisau pembunuh yang siap membunuhmu.


Ina sudah berusaha untuk tidak muntah, tapi mulutnya sudah terisi, dengan cepat ia kesampingkan tubuh dan membuangnya. Namun belum selesai membuang hal itu, Octa sudah menariknya dan muncul ranting kecil menyayat lehernya. Untung tidak dalam sayatan itu.


Tapi gadis mana yang tidak menangis melihat dirinya terluka, apa lagi maut baru saja tiba dan tidak berhasil membawanya. Ina langsung menangis mendapati lehernya tersayat dan darah mengalir dengan tenang. Para pria dibelakangnya tidak berani bergerak, jika bergerak sedikit maka sabit maut menjemputmu.


Meyla mendengar tangisan itu dan berusaha untuk mengangkat kepalanya, dan untunganya Rezka membiarkannya melihat. Sehingga saat terlepas dari pelukkan Rezka, Meyla melihat kesamping dan mendapati beberapa orang telah tersinggirkan, ia bingung bagaimana mereka pergi, tapi melihat Ina menangis dengan menunjukkan sayatan dilehernya seketika kepala Meyla langsung sakit. Ia memegang kepalanya yang berdeyut cepat. Hingga Rezka kembali membantunya untuk tenang, kali ini Rezka mengangkat tubuhnya dan mendudukkan dirinya dipangkuan Rezka. Meyla merasakan dirinya terangkat dan merasakan sesuatu lewat ditelinganya. Ia ingin melihat apa yang lewat namun sakit kepalanya benar-benar tidak memberinya kesempatan.


Dan saat itu juga suara ricuh pun terjadi, banyak yang menjerit karena bagian samping kanan dan kiri sudah banyak memakan korban. Bagian tengah tidak bisa menolong, karena mereka juga takut.


Korban terus berjatuhan, darah sudah bertebaran kemana-mana, mulai dari tangan yang terpisah, tubuh yang langsung terseret, kepala yang terlempar. Mereka seperti mainan yang dipilih-pilih ketahananya. Makin lama rating tersebut makin menyusut, entah kenapa tapi yang pasti saat sudah memasuki 2 jam mereka duduk, rating tersebut mulai hilang, pohon tinggi yang seperti menyentuh langit mulai berjarang-jarang.


Ada sedikit ketenangan saat menyadari akan hal itu, Octa dan Ina sudah bisa tenang, namun Meyla masih dalam pangkuan Rezka dan membenamkan kepalanya karena sakit yang begitu kuatnya. Octa dan Ina ingin membantu, tapi entah kenapa tempat yang mereka duduki kini sedikit terguncang.


“Apa ini?”tanya Octa menyadari bahwa lantai yang mereka duduki bergetar.


“Apa gempa?”tanya Ina yang kebingungan.


“Tidak..lebih baik Nona Octa dan Nona Ina kalian tetap ditempat dan mencari pegangan, sepertinya kita sudah memasuki tantangan selanjutnya”jelas Rezka yang mengeratkan pelukannya ketubuh Meyla.


Meyla tidak menghiraukan apa yang terjadi, kepingan ingatannya datang tiba-tiba, ia mengingat dirinya berada diteras dan melihat orang-orang mati didepannya, namun ada seseorang yang menghalanginya, tapi semua masih buram, tidak ada yang jelas dalam ingatannya.


Guncangan itu makin kuat, membuat orang-orang tergeser-geser dari tempat mereka duduk.


“Gempa?” tanya seseorang


“Tidak..sepertinya ini Tantangan kedua”ucap yang lain.


Tidak ada yang ingat apa saat bagian-bagian dalam tantangan, mereka hanya tahu bahwa saat ini harus bertahan agar tidak jatuh dari lantai yang mereka duduki.

__ADS_1


__ADS_2