SERIBU TEROWONGAN MENGUBAH SEGALANYA

SERIBU TEROWONGAN MENGUBAH SEGALANYA
_ Chapter 9_


__ADS_3

...(Siapa laki-laki itu?)...


-


Semua orang masih berdebat dengan mempertahankan argumen masing-masing.


“Bagaimana caraku bisa menebak teka teki, saat ini aku juga harus menghadapi omongan kosong dan debat kalian” benaknya melihat sekumpulan orang masih berdebat.


Karena merasa dirinya benar-benar tidak menemukan petunjuk. Meyla melihat kebawah kakinya untuk melihat keadaan yang saat ini tidak bisa dimengerti. Air sudah melebihi kepalanya jika ia berdiri dengan tenang. Sekarang dirinya sedang mengapung diair. Jadi dirinya mencoba untuk melihat lagi air dibawah kakinya, siapa tahu ada sesuatu yang tersimpan.


Melihat kearah air, yang ia dapati bukan sesuatu keberuntungan. Sebuah besi penggiling daging berputar dengan cepat. Melihat ini ia langsung memperingatkan yang lain.


“KALIAN SEMUA, BERHENTI BERDEBAT. TIDAK ADA GUNANYA SEKARANG. JANGAN TURUNKAN KAKI KALIAN KEBAWAH, ADA MESIN YANG BISA MENGHANCURKAN KAKI KALIAN” lantang dan keras. Memberikanmu peringatan tanpa berpikir dua kali.


Semua orang langsung melihat kebawah dan mendapati sebuah besi yang berputar siap merobek kaki mereka.Disisi lain dinding yang mendekat itu hanya tinggal beberapa meter lagi, untuk meremukkan tubuh. Lagi-lagi semua menjadi panik dan mereka melihat ke Meyla.


“Aku tidak tahu...kali ini misi yang sulit untuk ditebak” ucapnya sambil menunduk takut menatap wajah semua orang.


Orang yang menghinanya berkata “Ooh sekarang kau sudah tidak berguna lagi...lagian aturan awal dari tantangan ini selamatkan dirimu sendiri, jadi untuk apa kami menunggumu”


Yang lain membela “Kalau kau merasa bisa menyelesaikannya kenapa tidak kau saja yang memecahkan teka tekinya?” ucapnya.


Semua orang pun meliriknya dengan tajam dan berusaha untuk memojokkan Pria kasar tidak tahu terimakasih itu.


“Gampang....aku mau bertanya pada Neng ini, siapa laki-laki yang dengan nyaman kau bersandar didadanya?”


Mendengar pertanyaan ini, Meyla mengerutkan alisnya. “Sungguh..Aku pikir orang-orang tidak akan melihatku, atau melirik kelakukanku, tapi orang ini teliti”benaknya.


Ia menjawab “Aku tidak tahu...aku hanya tidak sengaja menabrak tubuhnya dan...” Meyla jelas tidak bisa melanjutkan, karena sebenarnya kejadian saat dirinya berada dimisi pertama sampai misi kedua, ia seperti nyaman dengan Pria yang lembut memeluknya.


Semua orang terdiam, dan tak lama dinding pembatas itu terbuka pelan. Seperti sudah menemukan jawabannya.


“Apa maksudnya ini..hanya pertanyaan, aku pikir kita akan menghadapi kematian lagi” ucap seseorang.


Wanita yang berdiri dibelakang Meyla terus memandangnya dengan pandangan tidak suka. Seakan-akan mengatakan bahwa Meyla adalah orang yang berpura-pura takut.


Disisi lain, orang-orang mulai meliriknya.


“Jadi gampang bukan...aku curiga jangan-jangan Neng ini adalah pengawas” ucap orang yang menghinanya.


Meyla ingin menjawab, namun tiba-tiba dinding yang telah terbuka lebar itu terdapat orang tuanya yang sudah berkumpul dan tidak terlihat orang lain selain Ayah,Ibu,Kedua Paman dan Bibinya yang tersenyum sambil berdiri dengan tenang menunggu kedatangannya.


Semua orang langsung melangkahkan kaki mengunjungi mereka. Sambil melirik kearah yang lain. Untuk melihat apakah ada orang lain yang juga sedang menunggu kedatangan mereka.


Namun langkah mereka langsung berhenti saat mendapati bahwa diTerowongan dengan gerbang yang tertulis angka seribu. Tidak ada orang lain selain keluarga Neng yang bersama mereka.


Melihat bahwa pandangan mulai saling menyalahkan. Ayah Meyla pergi menyambut Putrinya yang masih termenung belum masuk keTerowongan bersama orang-orang.Ia menarik putrinya dan memeluknya pelan lalu berdiri dekat dengan Ibunya. Sedangkan Kedua Paman dan Bibinya berdiri dibelakangnya.


Semua orang melihat ini, melirik Meyla. Dan orang yang menghinanya keluar dari kerumunan lalu dengan angkuh melipat tangannya didadanya.


“Benarkan apa yang ku bilang....kau pasti pengawasnya” ucapnya.


Semua orang pun berdiskusi dalam kebisingan ringan.


“Apa benar..?”


“Kalau benar...kenapa dia harus takut..bahkan tubuhnya dari tadi gemetar ringan”


“Apa dia berpura-pura?”


“Dan lagi misi keempat ini hanya perlu mendengar jawabanya”


“Siapa neng ini..”


“Apa dia benar-benar pengawas?...”


Semua orang berdiskusi sambil melihat orang-orang yang menjadi objek pembicaraan.


Meyla tidak menyetujui perkataan itu. “Apa maksudmu, Aku?..Aku tidak mungkin menjadi pengawas, sedangkan aku punya kartu undangannya”

__ADS_1


“Undangan...lalu siapa pria yang bersamamu..siapa laki-laki itu?...dengan melihatmu tidak mungkin orang tidak tahu, kami pikir kau pasti kekasihnya”


“Tunggu..” Meyla mundur perlahan. Ia melanjutkan “Aku...kekasih?...aku saja tidak mengenalnya, jangankan kenal, aku saja tidak mengetahui wajahnya” Kali ini Meyla menuangkan apa yang ada dihati dan otaknya. Ia berpikir, bagaimana semua orang mulai mengkaitkan dirinya,


sedangkan dirinya tidak ada hubungan apapun dengan Pria yang menyelamatkannya.


“Kau bilang kau tidak mengenalnya....Nona..” panggilan dengan sebutan Nona terdengar seperti seseorang berjabatan tinggi. Meyla memasang wajah bingung sambil menatap Pria yang menghina dan sekarang menuduhnya sebagai Pengawas.


Ia melanjutkan “ Nona...coba kau pikirkan kejadian sebelum berangkat misi kedua, kenapa dirimu berada didalam rumah sedangkan Orang Tuamu harus berenang?”


Meyla menjawab “Karena agar memudahkan jalannya misi kami”


“Tidak....kau salah...dirimu adalah pengawas beberapa tahun yang lalu, atau Kau adalah seorang mantan pengawas. Dengan menginjakkan kaki ke atas rumah dan melihat melalui jendela luas, kau adalah orang yang membuka dinding besar itu”


Meyla sedikit kaget mendengar perkataan itu, karena ia tidak pernah berbicara langsung bahwa mereka berlima tepatnya dirinya adalah mantan pengawas menara. Hatinya mulai berguman “Apa saat Aku berbicara dengan Ayah dan Ibu, mereka mendengarnya. Dan mengetahuinya...pasti ini sebabnya..tidak mungkin mereka mengetahui dengan mudah”


Meyla menjawab “Tidak...kau salah, aku saja tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi jelas ku lihat kalian tidak ada disana, kalian pasti masuk lebih dahulu dariku”


Pria itu menyela “Tidak...salah, salah......kami tidak masuk terlebih dahulu, kami harus memutari dinding besar itu, menyusurinya agar menemukan pintu masuk”


Meyla mendengar, mengingat kejadian saat mereka memasuki dinding besar untuk melanjutkan tantangan ketiganya.


“Tidak...aku tidak melihat kalian disisi lain, saat aku masuk, aku menyempatkan diri untuk melihat keluar dan mencari kalian..tapi kalian tidak ada”


Seorang Wanita keluar, dan menjawab perkataan Meyla. “Tidak...kami belum masuk, bahkan saat kalian sudah masuk Terowongan pertama, kami harus menunggu untuk bisa mendapatkan ban bekas sebagai tumpuan kami”


“Menunggu?” Meyla mengerutkan alisnya.


Wanita itu melanjutkan. “Kami merasa curiga saat kalian memasuki Terowogan ketiga,kenapa kami harus berputar dua kali dalam Terowongan kedua. Apa menurutmu ada yang baik-baik saja. Justru tidak, kami disini sudah mulai merasa aneh”


Seseorang Pria lain juga keluar, yang menolak dengan keras saat berdebat dimisi ketiga “Kau pikir...kenapa kita bisa meloncati Terowongan lebih jauh, apa menurutmu ada yang tidak beres dengan itu...?”


Ia melanjutkan setelah melihat Reaksi Meyla yang menunggu kelanjutannya. “Kau tertidur....dan Orang tuamu lah yang menunjukkan kami untuk melompat Terowongan, tapi apa yang harus kami korbankan...”


Sedikit ragu ia melanjutkan “kami harus mengkorbankan darah kami sebagai gantinya....dan baru saat itu kami bisa melompat sampai Terowongan Delapan Ratus Sembilan Puluh Sembilan”


“Ridak...tepatnya sejak Terowongan ketiga, saat kau tertidur”


“Dan lagi...kenapa hanya Orang tua, Paman, Bibi mu saja yang berhasil lolos, sedangkan yang lain dimana mereka?”


“Apa maksudmu” jawab Paman Keduanya.


“Kenapa...BUKANNYA SEJAK AWAL, KALIAN YANG MENENTUKAN KAMI, KAMI MENGIKUTI KALIAN ,SEDANGKAN NONA INI BERSAMA KELOMPOK LAIN, TERUS KENAPA TIBA-TIBA KEADAAN BERUBAH DAN KAMI HARUS BERSAMA NONA INI...TAPI....TAPI KAMI SEDIKIT BERSYUKUR BAWAH NYAWA KAMI MASIH DISELAMATKAN OLEH NONA INI...JADI ORANG-ORANG YANG BERSAMA NONA INI SAAT MISI UNTUK KETEROWONGAN SERIBU....”


“Berhenti beromong kosong”ucap Paman Pertamanya.


Pria itu tetap melanjutkan dengan nada sedihnya. “Aku yakin...orang-orang yang ditukar dengan kami, menghadapi kematian...benar bukan?”


Seperti disambar petir, Meyla terdiam mematung ditempat. Orang tuanya sudah menyentuh punggungnya dan mengusap pelan untuk menenangkannya.


Semua pun terdiam. Yang lain sudah memasang wajah tidak percaya, kecewa dan merasa dimanfaatkan.


Tak berapa lama seseorang muncul tiba-tiba dibalik celah dinding yang lain. Yang tidak ada seorang pun tahu bahwa disana ada tempat persembunyian.


“Jadi...Aku pikir hanya Aku yang mengetahui tentang Neng ini”


Lagi-lagi, Meyla dibuat kebingungan. Pria yang jelas-jelas mati diperas. Wanita yang mati terjepit. Wanita yang mengkorbankan dirinya demi menyelamatkannya, semua berjalan layaknya tidak terjadi apa-apa.


“huh..susah sekali aku berakting didepan seperti ini”


“yah...” sambil tersenyum mereka menghadap kearah Meyla yang menatap dengan tatapan mengatakan ‘Bagaimana kalian bisa hidup?’


Meyla menyentuh kepalanya. Dan berusaha untuk mencerna semuanya.


Semua suara ancaman dan hinaan muncul.“Bunuh saja dia.....kita hanya membuang-buang waktu untuk bermain dengannya”


“Misi ini hanya untuk mengalihkan dirinya agar dirinya tidak sepenuhnya sadar bahwa dirinya hanya sebuah kunci”


“Kalau kau tahu. Aku hanya perlu untuk memanfaatkanya dari awal, sayangnya dinding ini banyak misi”

__ADS_1


“Tapi bagaimana kau bisa hidup kembali?”


“Aku....aku diberi kesempatan, saat masuk terowongan pertama, yaitu aku harus berpura-pura mati demi Nona ini”


“wow..dan apa balasannya”


“Aku akan muncul diTerowongan Seribu”


-*-


Flashback


Saat semua orang sudah lewat dan melanjutkan misi.Orang-orang yang mati mendapat sebuah kesempatan untuk melanjutkan misi. Yaitu dua pilihan


Pilihan pertama berdiri disamping Meyla dan menikmati semua keadaan.


Pilihan kedua berpura-pura mati demi Meyla.


Dan setelah itu semua orang-orang akan mendapat imbalan yaitu lolos tanpa menghadapi misi disemua Terowongan.


Mereka tidak bisa memilih dengan meneliti lebih lanjut. Namun dipilihan mereka lah yang menentukan nyawa mereka. Sedangkan yang terburu-buru tidak memilih itu, akan menjadi korban sebenarnya. atau bisa di bilang benar-benar mati.


_*_


Meyla lagi-lagi merasa bahwa dirinya benar-benar dipermainkan. Ia merasa Pertandingan Seribu Terowongan ini memang khusus untuknya. Dan untuk mempermainkannya.


Meyla meneteskan airmata, tidak mempercayai semuanya. Memaksa dirinya untuk mundur dan bersandar di dinding sambil menangis.


“Kenapa-kenapa....Kenapa Aku yang jadi patokkan untuk dipermainkan, apa maksudnya...apa maksud dari pertandingan ini....waktu itu aku memang tidak jelas mengingat, apa lagi aku dulu hanya seorang pengawas menara. Sekarang aku ikut dalam pertandingannya, terus kenapa-kenapa seseorang seperti mempermainkanku...apa aku ini..”benaknya. pikiran melayang entah kemana. Ia bahkan tidak menyadari bahwa saat ini orang-orang sudah menerobos untuk menyelesaikan pertandingan dan semua orang yang hadir hanya tersisa lima belas orang termasuk dirinya.


Orang tuanya juga ikut masuk, meninggalkan dirinya dan mengamati keadaan didepan mereka. Sedangkan Bibinya menenangkannya.


“Bibi...siapa laki-laki itu....kenapa-kenapa aku merasa dalang semuanya adalah laki-laki itu”


Bibinya tidak menjawab. Bibinya menuntunnya untuk melangkah memasuki Misi terakhir.


Meyla sudah muak dengan permainan ini. “Aku sudah lelah....lelah menghadapi tantangan, jadi mereka ini lah yang dengan santainya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Akan ku cari dalangnya setelah lepas dari semuanya” benaknya.


Ia tahu betul, tidak mungkin baginya untuk mengingat semua ini. Apa lagi saat misi terakhir sudah diselesaikan.


Meyla ingin menyelesaikan semuanya sendiri. Tidak ingin membantu siapa pun. Ia membulatkan tekadnya dan melangkah memasuki gerbang akhir itu. Disana kau sudah melihat jelas diujung terlihat semua kursi dengan meja yang diatasnya terdapat kunci.


Selain itu langkahnya mulai menurun. Ia menuruni tangga yang sudah dipenuhi air. Tidak ada yang tahu kedalamannya berapa, yang pasti saat ini kakinya masih melangkah turun.


Ia mengingat semua kejadian dalam Terowongan. Dan mengingat kematian setiap orang. hatinya sakit saat semuanya yang ia hadapi hanya ilusi bukan kenyataan.


Air kini sudah menyampai pingangnya dan lagi dibawah kakinya sudah terpasang rantai yang terbuat dari besi. Serta didalam air, matanya jernih memandang semuanya.


Didalam air, dirinya masih menuruni tangga dan dari jauh meski menahan nafas. Ia melihat bahwa masing-masing dinding terdapat sebuah mesin yang kalau kertas dimasukkan kedalamnya bisa *******, merobek dan menghancurkan berkeping-keping.


Orang-orang berusaha dan berhambur untuk mencari kunci. Karena kunci itu adalah salah satu yang bisa membuka jeratan dikaki mereka.


Kaki yang sudah dipasang dengan rantai besi. Sedangkan kunci sudah tersebar kesegala arah. Kau hanya perlu mencari yang cocok, sedangkan mesin yang bergerak itu siap menyambut kedatangannya.


Semua orang berusaha untuk tidak melirik satu dengan yang lain, mereka semua fokus untuk menyelesaikan misi mereka.


Sedangkan Meyla hanya terdiam sejenak. Berusaha untuk naik, ia berenang dan menaiki air, yang kini diseberang tempat akhir terdapat Orang Tua,Kedua Paman dan Bibinya menatap seseorang yang membelakanginya. Mata Meyla terbelak melihat baju orang tersebut yang tidak lain adalah orang yang dengan nyamannya memberikan perlindungan padanya.


“Bagaimana Bibi bisa lolos dari sini?...bukannya dia dibelakangku, saat menuruni tangga”benaknya. Namun tiba-tiba dibawah kakinya, Rantai besi itu menarik kedalam air. Menarik tubuhnya dengan cepat dan membuatnya melirik kedalam serta bernafas dadakan.


Dadanya sekarang dipenuhi air, namun anehnya. Ia bisa dengan mudah bernafas. Dan Ia melirik ditempat lain, orang-orang juga dengan enteng bernafas, hanya saja yang membuat mereka panik adalah tali rantai besi yang kian menarik, membuat diri mereka mendekati kematian.


Seseorang sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia dengan berbaring terlentang dan tak berapa lama tubuhnya terseret cepat, lalu masuk dalam mesin yang bekerja itu. Tubuh dari kakinya udah hancur dan menyisihkan daging-daging yang hancur bertebaran.


Melihat ini Meyla menahan muntahnya. Ia melirik yang lain, yang lain tidak memperdulikan hal itu. Sedangkan dirinya yang kini baru saja tenang dihadapi lagi dengan kematian dan bau darah.


Namun Meyla tetap tidak bergerak mencari kunci untuk melepaskan dirinya. Karena ia merasa itu tidak perlu. Dan apa lagi ia mengetahui bahwa ini hanya ilusi belakang untuk membuatnya seperti ketakutan diawal dan terlihat bodoh.


“huh...kalian mempermainkan ku lagi?...tidak akan terulang lagi..kali ini aku tidak akan bergerak, dan lihat siapa yang akan benar-benar mati” benaknya..

__ADS_1


Namun tiba-tiba...................................


__ADS_2