SERIBU TEROWONGAN MENGUBAH SEGALANYA

SERIBU TEROWONGAN MENGUBAH SEGALANYA
_Chapter 15_


__ADS_3

Bagian 2


...(Muntah)...


Meyla yang terguncang-guncang dalam pelukkan Rezka, mengangkat kepalanya untuk melihat sekelilingnya. Banyak orang-orang yang jatuh karena guncangan hebat ini. Tapi ada yang aneh, mereka yang jatuh tidak terlihat bahwa mereka benar-benar jatuh, seakan-akan mereka menghilang ditelan kegelapan.


“TOLONG...AKU TIDAK INGIN JATUH...”


“SESEORANG TOLONG AKU”


“AGHHH!!!”


Teriakan demi teriakan terjadi, tapi saat orang-orang itu jatuh, tak terdengar suara terhempas atau suara kesakitan saat jatuh. Itu yang membuat Meyla merasa aneh. Ada yang jangal dihatinya. Ia mengingat bahwa keadaan yang disini beda jauh dengan ingatannya. Atau mungkin diubah dengan apa yang diingat olehnya.


“Apa kau merasa baikkan”ucap Rezka. Meyla terbelak menyadari bahwa saat ini Ia masih didalam pelukkan dan dipangkuan Rezka, Tunangannya sendiri. Masih untung itu Tunangannya kalau bukan sudah dipastikan Meyla langsung melompat terjun dari tempat Ia duduk sekarang.


Karena merasa tidak enak, Meyla memilih kembali duduk ditempatnya. Rezka engan melepaskan pelukkannya, tapi melihat Meyla yang merah padam karena malu ditambah mereka sedang menghadapi tantangan, tidak mungkin kan menunjukkan keromantisan disaat orang-orang tengah berjuang.


“Terimakasih..dan maaf”ucap Meyla pelan.


Rezka yang mendengarnya mengangguk dengan senyumnya.


Orang-orang makin kesulitan mengimbangkan diri mereka, bahkan separuh dari peserta sudah menghilang begitu saja. Membuat panik dan rasa takut menjalar disekujur tubuh mereka.


Bahkan ada yang berani melihat kebawah untuk mengetahui apa yang terjadi sampai orang-orang yang jatuh tidak terdengar teriakkannya.


Seorang pemuda langsung mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling dengan tatapan kosong. Orang-orang yang melihatnya merasa aneh dengan pandangan itu.


“Apa yang terjadi huh?...katakan?...”tanya kelompok orang yang berada didekatnya.


Orang yang melihat tadi dengan gemetar menunjukkan tangannya kebawah dan berkata “J..ju....rang...jurang!!!”


Semua orang langsung mengerutkan alis mereka,tidak habis pikir kenapa ada jurang dibawah tempat mereka duduk, bukannya seharusnya hanya bayangan hitam gelap yang tak jelas. Tapi kenapa orang ini melihat jurang?.


Masing-masing dari mereka penasaran hingga memberanikan diri melihatnya. Setelah melihatnya mereka mulai memberikan hasil dari penglihatan mereka.


“Apanya yang jurang..itu hanya kolam air”


“Bukan kolam...hanya lumpur”


“Bukan lumpur broo..kau tidak lihat bahwa itu hanya kegelapan tidak ada apa-apa disana”


Pendapat mereka dalam melihat hasil yang mereka miliki membuat semua orang memberanikan diri melihat kearah yang membuat penasaran. Namun hal itu terhenti ketika 5 orang yang melihat kebawah tiba-tiba berdiri dan melangkah menjatuhkan diri dari tempat.


Semua orang membelak melihatnya. Bukannya mereka masih berdebat. Apa mereka gila sampai ingin membuktikan apa yang mereka lihat.


Masih dengan rasa penasaran membuat orang-orang ingin melihat apa yang dilihat oleh 5 orang tadi. Tapi seseorang berteriak.


“Jangan melihat....jangan melihatnya..kalian akan terkena ilusi yang akan membawa kalian kematian”ucapnya.


Orang yang ingin mencoba tadi mengundurkan diri mereka, mendengar kata kematian seketika menghantui diri mereka.


Tak berapa lama, guncangan tempat mereka duduk makin luar biasa kuat, membuat orang-orang yang tidak dapat menemukan keseimbangan, terguncang-guncang dari duduknya.


Saat ini tidak perduli Kau menabrak siapa, baik cowok mampu cewek, mereka tidak perduli akan hal itu, yang pasti saat ini mereka harus tetap berada ditempat mereka.


Tapi guncangan bagaikan gempa itu begitu kuat membuat 700 orang tersebut berkurang menjadi 500 orang. Bahkan makin berkurang karena orang-orang dengan mudahnya terjatuh dari tempat mereka.


Octa dan Ina saling berpegangan tangan, membiarkan tubuh mereka terlempar kemana-mana, bahkan sampai menabrak orang-orang yang juga tengah terguncang. Beda dengan Meyla, ia yang kembali duduk semula saat guncangan semakin kuat membuatnya dengan mudah dipindahkan dari tempat duduk kepangkuan seseorang.


Meyla tidak menghiraukan hal itu, karena menurutnya yang memangkunya kali ini pasti Rezka. Jadi dengan tenang ia membenamkan kepalanya kedada bidang Pria yang memangkunya.

__ADS_1


Setelah lumayan lama dengan guncangan yang ada, hingga tiba-tiba seseorang berteriak.


“Berhenti...guncangannya berhenti....semua lihat ada pemukiman disana” ucap seseorang sambil menunjuk kearah yang cukup jauh tapi tampak jelas jika dilihat. Karena lampu-lampu pemukiman itu menyala, menandakan bahwa mereka sudah duduk disini sampai malam tiba.


Meyla mengangkat wajahnya kala mendengar apa yang diucapkan oleh orang tersebut. Belum sempat mengangkat kepalanya, ia melihat seorang pemuda lain mendekat kearahnya dan menariknya secara paksa, membuat Meyla merasa sakit menerima tarikkan dadakan itu.


“Ada apa?”tanya Meyla saat ingin melihat kebelakang untuk mendapati dengan siapa ia tadi. Tapi pria tersebut dengan cepat memeluknya. “Tidak ada apa-apa”ucapan Rezka mengema ditelinga Meyla.


Meyla yang mendengarnya merasa ada yang salah. Pertama kenapa dirinya ditarik oleh Rezka terus siapa orang yang memangkunya dari tadi, apa dia orang lain. Meyla tidak mendengar suara pemuda itu tapi ada rasa kemiripan dengan seseorang yang dikenalinya. Tapi ia tidak tahu siapa.


Karena Meyla terdiam, Rezka juga diam tidak ada yang bicara sampai Octa dan Ina menghampiri mereka. Dan memahami keadaan yang penuh kesunyian ini, Octa membuka suasana.


“Apa kita hanya akan berdiam diri disini, semua orang telah turun”ucapnya.


Meyla dan Rezka pun melihat kerumunan orang yang perlahan untuk turun, membuat Rezka mengenggam tangan Meyla dan turun bersamanya. Octa dan Ina hanya saling memandang bingung kearah mereka.


“Apa lagi bertengkar?”Tanya Ina.


“Ku rasa tidak..bukannya kau lihat tadi dirinya selalu dilindungi oleh kekasihnya itu”ucap Octa dengan nada cemburu.


“Ayoo..lihat Octaku ini..ternyata cemburu ya”ucap Ina yang mendapat tatapan tajam dari Octa. Merasa mendapat teguran dari tatapan tajam membuat Ina langsung berlari mengejar Meyla dan Rezka yang telah turun dari teras.


-


Melihat sekelilingnya. Orang-orang tengah sepi, tidak ada tanda-tanda ada kehidupan, tapi rumah-rumah yang ada memiliki lampu halaman yang menandakan bahwa didalam rumah itu terdapat kehidupan.


“Apa orang-orang disini tengah tidur?”tanya Octa mengamati sekitarnya dengan berdiri disamping Meyla.


“Aku tidak tahu...tapi kalau diperhatikan lewat jendela itu, bukannya kau melihat tirai dijendelanya sedikit terbuka”Jawab Meyla.


Rezka yang berada disampingnya, mengangguk dan berkata “Tapi mereka tidak bisa melihat kita”


Rezka yang melihatnya mengerutkan alis. “Kenapa?..salah..coba perhatikan mereka memang membuka tirai tapi kalau diperhatikan tirai itu tidak dibuka atau kita sedang diintip, karena yang membuat tirai itu terbuka sedikit...”Rezka menunjukkan sisi atas tirai.


“Karena Tirainya terhalang sesuatu”lanjutnya.


Octa,Ina dan Meyla mengangguk mengerti, untungnya jiwa penasaran mereka terjawabkan oleh hadirnya Rezka disini yang memiliki kejeniusan yang luar biasa.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”tanya Ina yang melihat orang-orang mulai melangkah kerumah tua yang tidak terurus. Matanya merasa jijik melihatnya, dirinya cinta kebersihan bahkan sampah sekecil jarum pun dapat ditemukan olehnya, tapi kalau Meyla yang berada dirumahnya Sampah sekecil apa pun bisa sulit ditemukan karena Meyla mampu menyimpan sampah bekas permennya dimana yang dinginkan olehnya.


“Apa kita harus mengikuti mereka?”tanya Octa yang melangkah sedikit cepat untuk melihat orang-orang yang telah masuk.


Ina memperhatikan sekeliling rumah dan matanya tertuju kearah belakang rumah-rumah tua itu.


“Apa itu bendungan?”tanyanya. membuat Rezka dan Octa melihat kearahnya, tanpa disadari Meyla telah pergi dari mereka betiga.


“Kenapa bendungan sebesar itu ada?”tanya Octa.


“Aku tidak tahu”ucap Rezka yang kemudian mengalihkan pandangannya kearah samping untuk melihat Tunangannya. Tapi apa yang dilihat hanya hawa angin yang melewati tubuhnya.


“Meyla?”Ucapnya membuat Octa dan Ina melihat kearah Rezka yang menyebutkan nama keponakkan mereka. Mereka langsung panik menyadari apa yang terjadi. Meyla tidak berada didekat mereka.


“Kemana dirinya?”tanya Octa hingga melihat seorang gadis tengah menenangkan diri dari kejauhan.


“Itu”ucapnya membuat Rezka langsung bergegas mengejar Meyla yang menangis tersedu-sedu. Bukan menangis lebih tepatnya muntah kering.


“huekkk....”


“Meyla apa yang terjadi padamu?”tanya Rezka mengelus punggung Meyla.


Octa dan Ina yang telah menyusul, langsung mendekati Meyla dan menenangkannya.

__ADS_1


“Apa yang kau makan sampai bisa muntah begini..apa lagi perutmu sedang kosong sekarang”tegur Octa yang berusaha mencari toko untuk membeli minuman. Namun tangannya ditahan oleh Meyla.


“Tunggu...”ucapnya sambil mengatur nafas.


“Apa yang tunggu?...Kau sedang muntah aku akan membelikan minuman untukmu”ucap Octa. Tapi Meyla tidak membiarkannya pergi hingga Ina tiba-tiba merindik geli dan menatap kearah Octa.


“Octa..lihat itu...mereka..mereka..makan belatung dan serangga-serangga kecil itu”ucap Ina dengan tubuh yang melemah karena tidak kuat melihat apa yang dari tadi dilihatnya.


Octa melihat kearah yang Ina tunjukkan, membuatnya membatu dan seketika rasa mualnya menghantuinya. Bagaimana tidak, dirinya tidak menyadari bahwa tempat seperti ini terdapat orang-orang yang mau memakan serangga-serangga yang hidup, yang masih mampu berjalan, masih mampu mencari makanan untuk hidup mereka.


Bagaimana mungkin dirinya bisa makan serangga seperti itu, jangankan yang hidup yang matipun tidak akan mungkin.


Meyla sebenarnya tidak sengaja melihatnya, dirinya dari tadi memandang seseorang yang tengah memunggunginya, hingga ia mendekati orang tersebut. Namun entah apa, saat tiba ditempat yang ingin ia kunjungi seseorang menabraknya dan membuat tubuhnya sedikit oleng tapi untungnya ia mampu mempertahankan keseimbangan tubuh. Setelah merasa aman, ia ingin melihat lagi orang yang ia rasa kenali, tapi saat melihatnya. Orang tersebut telah pergi dan pemandangan santai berganti dengan pemandangan yang mengerikan.


“Aku..hanya ingin mengunjungi seseorang, saat tiba... seseorang menabrakku dan aku malah kehilangan keseimbangan dan berakhir melihat hal yang menjijikkan itu”ucap Meyla yang mendapat anggukkan oleh Ina dan Octa.


Beda dengan Rezka, ia memasang wajah tak senang mendengar kata seseorang yang ingin ditemui oleh Tunangannya ini. Niatnya ingin bertanya tapi melihat Meyla tidak mau memperjelas siapa orang yang ingin dikunjunginya membuat hatinya mengurunkan niat.


“Sudahlah..jangan dilihat lagi....sekarang apa yang akan kita lakukan?”tanya Rezka yang dengan lembut mengelus punggung kecil wanita didepannya ini. Wanita yang dicintainya tanpa mendapat balasan dari orang yang dicintai.


Meyla yang merasakan usapan lembut tersebut hanya bisa membiarkan hal itu, disatu sisi Ia seperti wanita yang mudah luluh tapi tak mudah menyerahkan hati. Namun kadang dirinya seperti wanita yang memberikan ruang untuk orang lain mampir, yang sebenarnya hanya ruang palsu.


Meyla hanya bisa sedikit menjauhkan diri, tapi juga tidak bisa menjauh sepenuhnya dari Rezka, entah kenapa. Rasa familiarnya tadi bersama orang lain membuatnya merasa bahwa Ia telah jatuh cinta dengan orang yang bukan Tunangannya sendiri. Tapi rasa Familiar itu juga ada sepucuk kecil rasa yang tertaman untuk Rezka.


Dengan mengelengkan kepalanya ingin membuang pikiran-pikiran yang tidak jelas. Menurut Meyla, siapa yang dicintainya itu tidak penting, sekarang yang penting adalah menghargai Rezka yang menunggunya lama hanya untuk mendapatkan cintanya.


Jujur saja, Meyla sudah lama memikirkan ini, memikirkan cara untuk membuat Rezka mengerti bahwa ia belum bisa mencintai Rezka tapi dengan lapang dada memberikan peluang namun itu hanya sampai benar-benar pertunangan mereka berakhir.


Pertuangan berakhir? Iya karena mereka sekarang telah diberi waktu selama 3 bulan kedepan, jika Meyla masih belum bisa menerima Rezka, maka pihak keluarga Rezka akan membatalkan pertunangan dan membiarkan kedua belah pihak bebas dari sebuah hubungan.


Maka tidak heran Rezka selalu menempel didekatnya. Karena Rezka masih kukuh berjuang untuk mendapatkannya, dan untuk Meyla dirinya sendiri lebih sulit menentukannya. Apa ia sudah mencintai si Tuan Muda ini atau hanya sekedar kasihan. Entahlah yang pasti Meyla berharap tidak menyakiti hati siapa pun nanti.


Mereka berempat pun melangkah kesebuah rumah tua yang terlihat begitu rapuh. Namun dibalik pandangan rumah tua itu, saat masuk Meyla,Ina,Octa dan Rezka membinar kala melihat bendungan tinggi yang luar biasa.


Meyla seketika merasa mengenali bendungan yang dilihatnya. Ia sekilas melihat ingatan buramnya yang saat itu dirinya tengah memandang bendungan yang tinggi ini.


Octa dan Ina menikmati pandangan yang ada, tapi mata mereka tidak mungkin hanya memandang lurus kedepan, dengan memandang sekeliling dan mata Octa serta Ina bersama-sama memandang kearah bawah jendela yang menunjukkan betapa tingginya mereka berdiri saat ini.


Lebih tepatnya mereka tidak bisa memastikan apakah disana tinggi atau hanya rendah karena kabut asap begitu memenuhi area tersebut.


Ina dan Octa langsung mundur kala melihat hal yang menakutkan seperti tadi, jantung mereka langsung berdegup kencang membuat tubuh mereka lemas dan duduk seketika.


Rezka yang melihatnya langsung membantu dengan mendudukkan mereka kedinding agar tubuh tersebut mudah bersandar dan Rezka juga memberikan botol minuman mineral yang didapatnya didepan jendela tadi.


Sebelum memberikannya, Rezka terlebih dahulu mencobanya karena takut minuman tersebut seperti yang diluar yang meminum darah, entah darah apa.


“Apa mereka takut ketinggian?”tanya Rezka kepada Meyla yang kini tengah menenangkan Octa dan Ina.


“Tidak..bahkan gedung dengan tinggi 60 lantai pun masih bisa mereka atasi”jawab Meyla yang mengelus pundak Ina yang kaku karena rasa takut yang ada didirinya.


“Apa setinggi itu?”tanya Meyla yang kini berdiri dan mendekati jendela. Ia ingin melihat namun belum sempat mendekat, tiba-tiba tubuhnya merasakan guncangan sehingga ia kehilangan keseimbangan, membuat Rezka dengan cepat menangkapnya dan memeluknya.


“Apa yang terjadi”ucap Meyla yang didalam pelukkan Rezka. Rezka mengeleng tanda menjawab pertanyaan Meyla.


Octa dan Ina sudah berteriak hal yang tidak jelas. Rasa takut mereka mulai menghantui mereka. Membuat Meyla merasa bahwa Octa dan Ina akan mendapat masalah. Sehingga dengan cepat, Meyla pergi mendekati Octa dan Ina yang berteriak.


Bukk


Bukk


Octa dan Ina pingsan seketika ketika mendapat pukulan ditengkuk mereka. Meyla merasa hal itu perlu ia lakukan, meski tidak tahu benar tidak apa yang dilakukan oleh nya.

__ADS_1


__ADS_2