SERIBU TEROWONGAN MENGUBAH SEGALANYA

SERIBU TEROWONGAN MENGUBAH SEGALANYA
_ Chapter 6 _


__ADS_3

...(Pria Misterius)...


Sisa tubuh Pria itu masih bergerak, sepertinya langit belum seutuhnya mengambil nyawanya. Semua orang menyaksikan hal itu menutup mata, tidak sanggup melihatnya.


Meyla yang sudah tidak tahan diam didalam air, kini keluar sambil mengatur nafas. Nafas yang diatur itu pun cepat berhenti karena dirinya lagi-lagi menghirup bau darah segar yang baru saja disebar.


Semua orang melihat kehadirannya sedikit bahagia, namun kembali sedih lagi, bingung terlihat diwajah mereka serta sedih. Disisi lain mereka bingung dengan diri mereka yang berharap lebih dengannya. Sedangkan sedih mereka muncul karena takut untuk berbicara padanya.


“Kenapa Kalian seperti takut begitu....yeah...siapa yang tidak takut dengan kejadian didepan Kalian...sudahlah, kemari ikut denganku....”ucapnya yang kemudian menyelam kedasar lagi.


Yang lain juga tidak berkomentar atau keberatan, mereka dengan cepat mengikuti Meyla berenang.


-


Setelah sampai dicelah, Ia memberi arahan dengan menunjuk celah dan menyuruh Mereka mengikutinya perlahan. Semua pun berenang menyusul dan terus mengikutinya. Hingga mereka keluar dari dasar kepermukaan air.


“Apakah semua orang selamat?” Tanyanya.


Semua orang mengangguk.


Setelah merasa aman, ia menghela nafas ‘Sungguh menegangkan’ benaknya.


Disisi lain, seorang wanita berbicara padanya. “hmmm....Neng, kenapa air disini menyusut?” ucapnya.


Meyla mendengar perkataan tersebut, langsung melihat kebawah dan mendapati bahwa air sekarang hanya sebatas pingangnya.‘Aneh..apa yang terjadi sekarang’ benaknya.


Semua orang kembali panik. Lagi-lagi mereka berusaha untuk cepat melarikan diri, seseorang yang dari belakang tiba-tiba berlari kedepan dan menghancurkan suasana dengan mendorong orang-orang didepannya.


“Pergi...Pergi..Aku tidak ingin mati, Aku ingin kembali, dimana Terowongannya...dimana Terowongannya...dimana?......” ia berbicara menggunakan nada ketakutan yang membuat semua orang juga ikut takut. Termasuk Meyla.


Semuanya melihat kemana Ia pergi tanpa mengingatkan dirinya untuk tidak panik. Setelah berlari cukup jauh dari mereka. Semua orang mendengar suara remukan lagi kali ini.


Terowongan didepan mereka berbeda, yang saat beberapa Terowongan yang lalu terdapat cahaya walau redup. Namun sekarang mereka melihat Terowongan itu dari kejauhan sudah gelap tidak ada yang bisa menebak apa didepan mereka.


Air makin lama makin menyurut, tidak ada lagi air yang membuat tubuh mengambang.


“Apa yang terjadi pada Orang itu...kenapa Kita tidak mendengar teriakkannya...atau ucapan menyerahnya” ucap salah satu orang.


“Tidak ada yang bisa menebak apa yang terjadi padanya”


Menghela nafas, Meyla lagi-lagi memberanikan diri. “Biar Aku yang memeriksanya” ucapnya.


Ingin melangkah pergi, Meyla dihadang dengan seseorang dari belakang. “Jangan lagi...kau membahayakan dirimu, kasihan orang tuamu...biar aku yang memeriksanya” ucap Seorang pria yang menghadangnya.


Meyla hanya terdiam. Sedangkan yang lain menyetujui, bahkan ada yang ingin membantu. Sekitar empat orang melangkah menyusuri terowongan yang genangan air kini sampai dilutut mereka. Sedangkan sisanya menunggu hasil.


“Apa kau tidak takut ikut pertandingan ini?” Tanya seorang wanita ke Meyla.


Mengelang. Meyla menjawab “Tentu saja ada rasa takut tapi aku datang bersama orangtuaku”


“Kalau begitu....kenapa kau dari tadi bersikap berani”ucapnya lagi. Kali ini Meyla menegakkan tubuhnya. Ia bingung kenapa orang-orang ini terlihat aneh. Dia tidak sepenuhnya berani, bahkan kalau boleh berkata jujur, saat ini tangannya sudah gemetar. Bukan karena suhu air, melainkan segala kejadian yang selalu muncul dihadapannya.


“Aku...aku tidak berani, hanya aku tidak ingin melihat banyak orang menumpahkan darah lagi...jadi aku berusaha untuk bisa maju lebih dulu” balasnya.


“Seharusnya kalau kau takut bicara saja” ucap seorang Pria yang berdiri dari jauh. Meyla mengangguk.


Para wanita duduk karena lelah, sedangkan pria berdiri. Air sudah tidak lagi bergenang, mengering dikaki mereka.


“Lihat airnya sudah menyurut, menurutmu apa yang terjadi disana?” ucap seorang pria lain.

__ADS_1


Pria yang lain yang mendengarnya menjawab “Mungkin Terowongan ke sembilan ratus satu sedang tertutup”


“Aneh ya..bukannya seharusnya kita sudah mendapati Terowongan, kenapa sekarang misi yang sampai harus lebih dari dua kali”


“Iya benar...dari Sembilan Ratus Terowongan hanya Terowongan ini yang aneh”


Meyla hanya menyimak apa yang mereka bicarakan. Ia tenggelam dalam pikirannya yang entah kemana.


-


Sekitar tiga puluh menit sudah mereka tunggu. Tidak ada orang yang kunjung kembali. Empat orang yang pergi itu tidak ada suara sama sekali.


“Apa Mereka mati?” ucap seseorang.


“Perhatikan omonganmu, Mereka tidak akan mati semudah itu”


“Kau benar..lalu kenapa mereka lama sekali?”


Meyla berdiri, ia tidak sanggup menunggu lagi. “Lebih baik kita bersama-sama pergi” ucapnya,


Saat ingin melangkah menyusul, mereka dikejutkan dengan air pasang yang entah datang dari mana.


“Lah....kenapa air ini kembali menaik, apa mereka menemukan sesuatu?”


Mereka pun bergegas lari. Sedangkan Meyla, mengamati belakangnya melihat celah yang mereka masuki. Celah itu entah dari mana tertutup rapat tidak memberi celah air untuk masuk dan lagi anehnya, celah itu tertutup sejak kapan.


Karena Ia masih ingin mengamati lebih lanjut, seseorang menariknya. “Ayuk...kita harus lihat bersama”ucap Gadis yang duduk disebelahnya saat menunggu.


Ia ditarik dengan keras dan berlari mengimbangi lari lawannya. Situasi saat ini memang gelap. Meyla hanya mengikuti orang yang menariknya. Meski tidak saling kenal, Meyla merasa bahwa orang yang menariknya itu baik.


Didalam Terowongan tidak terdengar orang yang berbicara, hanya suara langkah kaki yang banyak, saling membalas. ‘Apa karena gelap, atau karena fokus mereka tidak berbicara sama sekali’ benak Meyla.


Orang yang menariknya itu, berhenti. Meyla juga ikut berhenti, serta bingung. Ia memberanikan diri bertanya “Apa ada sesuatu?”


Orang didepannya tidak menjawab. Melainkan melepas tangannya dari mengenggam Meyla.


Karena gelap, Meyla sedikit berhenti, ia bingung ingin maju apa tidak. Dan lagi saat ini posisinya ditengah jalan, tidak disisi kiri atau kanan.


Merasa ada yang tidak beres ia berteriak “APA KALIAN MENEMUKAN SESUATU?”. Teriakannya bergema, namun tidak ada jawaban.


“Sebenarnya apa yang terjadi” benaknya.


Karena tidak ada yang membalas, ia berinisiatif untuk menyusuri jalan sambil menyentuh dinding, agar tidak tersesat. Belum sempat menyentuh dinding, Ia merasa seseorang mengambil tangan terulurnya. Tangan kanan yang ia gunakan untuk menyentuh dinding disambut lembut oleh seseorang.


Kaget, dan langsung menarik tangan, Meyla merasa orang yang mengambil tangannya itu tidak ingin melepasnya. Malah menarik dan menuntunnya kedepan.


Karena kaget dan merasa takut, Meyla hampir tersungkur kedepan. Sambil menutup mata, ia merasa dirinya jatuh disebuah tubuh, tepatnya didada seseorang. Dan lagi ia merasa tubuh orang ini sedikit familiar baginya.


“Kau...”ucap Meyla, namun tidak dihiraukan oleh orang didepannya. Meyla tahu bahwa orang didepannya ini Pria, karena dari caranya mengenggam tangan Meyla, serta memeluknya untuk menolong berbeda. Kalau wanita, Meyla tahu tangan gadis pasti sama ukuran dengannya. Sedangkan pria lebih besar dari tangannya. Dan lagi kalau wanita, Meyla pasti ditolong dengan tangan satunya lagi, tapi kalau Pria pasti rela untuk menolong dengan tubuhnya sekalipun. Tapi kadang-kadang pria malah langsung menarik tangannya untuk menahan agar tidak jatuh.


Karena tahu orang didepannya Pria, Meyla mendorong diri untuk menjauh dan tidak bersandar seperti saat yang lalu. Ia merasa bahwa dirinya terlalu nyaman bersandar didekat Pria. Meski ia tidak tahu apakah pria lain juga memberikan hal yang sama.


Selama ini, tidak pernah dirinya menyentuh apa lagi bersandar tenang didekat Pria, dan baru kali inilah ia mengalaminya. Dan anehnya Pria yang selalu membuatnya nyaman ini tidak berbicara atau memberikannya sedikit waktu mengenal.


Meyla yang tadi sudah menjauh, namun tangan kanannya masih digenggam lembut oleh Pria misterius didepannya. Mengajaknya maju perlahan.


Karena Meyla merasa bahwa Pria misterius didepannya ini tidak akan menyakitinya. Ia pun melangkah mengikuti pria itu. Air makin lama makin naik, dan kini sudah sampai pahanya.


“Kenapa sekarang air menjadi naik...padahal kan tadi surut”benak Meyla.

__ADS_1


Ia melirik keatas untuk melihat, tidak ada apa pun disana, hanya ada warna gelap yang memenuhi. Meyla merasa sedikit pusing melihat semua warna gelap disegala arah. Ia merasa bahwa matanya masih terpejam. Dengan cepat Ia mendekat Pria yang menarik nya perlahan kedepan.


Dengan bruk..Meyla menabrak punggung Pria itu. Pria didepannya berhenti. Sedangkan Meyla membenamkan kepalanya dipunggung Pria itu. Ia berbicara “Sudah tidak perlu merasa aneh, Aku hanya meminjam punggungmu sebentar, mataku sakit melihat kegelapan. Dan lagi kau sendiri yang muncul tiba-tiba didepanku dan mengambil tangan kananku tanpa izin. Berjalanlah...dan aku... minta..... maaf” ucapnya.


Pria didepannya mendengar itu kembali berjalan perlahan. Sedangkan Meyla menerka-nerka dibelakang sambil terus membenamkan wajahnya.


“Aku merasa, kalau aku yang mengambil kesempatan untuk merasa nyaman dengan Pria ini...tapi aneh juga sih,siapa yang mau mendekatiku secara kebetulan begini, apa pria itu hanya sekedar menolong?” benaknya.


“Dan lagi...kenapa bajunya tidak basah, bajuku kan basah semua. Serta yang lain juga, tidak mungkin selama tiga puluh menit pakaian bisa kering. Dan lagi sekarang air pasang, sudah sampai pahaku, kenapa Aku merasa jalannya seperti tidak ada hambatan”


“Gengamannya pun terlalu ringan dan sedikit..umm...agh...gila juga Aku dekat pria yang tidak dikenali ini”benaknya lagi.


Dalam perjalanan, tidak ada yang saling berbicara, masih terdiam tak bergeming. Namun suara pisau yang saling bertemu itu, kini makin kuat, makin keras membuat telingga dan bulu kunduk Meyla berdiri. Bukan takut dengan hantu atau apa. Tapi karena dirinya membayangkan suara pisau itu menyayat tubuhmu perlahan.


Pria didepannya lagi-lagi berhenti. Seperti menunggu. Kemudian berjalan lagi. Setelah beberapa langkah berhenti lalu berjalan lagi. Itu terulang berkali-kali. Sedangkan Meyla dengan santai mengikuti, karena kepalanya terbenam dalam punggung Pria itu. Ia tidak ingin mengamati sekelilingnya. Suara pisau yang bertabrakkan itu masih bergema dengan kuat.


Tangan kanannya masih lembut digenggam. Dan tubuh pria itu tidak membuatnya merasa gelisah. Jadi dengan nyamannya Meyla hanya mengikuti tidak ingin mengacaukan keadaannya sekarang.


Setelah beberapa lama berjalan, berhenti, dan berjalan lagi. Mereka pun berhenti. Pria didepannya berbalik. Sedangkan Meyla kembali keposisinya. Meski tangannya masih digenggam, Pria didepannya seperti tidak ingin melepaskannya. Ia melangkah kedepan mendekati Meyla.


Air sudah sampai didadanya, dan ia juga tidak melihat cahaya sama sekali. Mendengar suara air yang sepertinya ada seseorang mendekat. Meyla sedikit mundur. Namun tangan lain menyentuh pinggangnya dan mendekatkannya kedadanya. Mata Meyla terbelak lagi, sedikit tidak mempercayai apa yang terjadi. Tangan Pria yang mengengamnya kini mengendur dan tangan lagi memeluknya. Seperti tidak ingin berpisah. “Ada apa” Tanya Meyla pelan untuk mendapati bahwa saat ini Pria didepannya bertingkah aneh.


Setelah merasa tindakkan dadakan itu, Meyla dikagetkan oleh seseorang yang menariknya. Sambil berguman “Kenapa Neng ini lepas dari tanganku sih..Neng untung bisa selamat, ayuk..lihat mereka menemukan Terowongan lain, sebentar lagi kita akan selamat” ucapnya.


Meyla yang masih mencerna situasi, kini mengikuti seseorang yang menariknya. Meski tubuhnya tidak ingin bergerak.


Setelah tidak lama, kini cahaya pun muncul meski redup. Dan setelah keluar dari semua yang ada, Meyla mendapati orang-orang berkumpul serta orang tuanya yang kini menunggu sambil tersenyum.


Meski melihat hal itu, Meyla cepat mengalihkan perhatiannya kearah belakang. Ingin melihat ada yang terjadi sebenarnya.


Melihat Terowongan yang ia masuki, sebuah pembatas tiba-tiba muncul. Ingin menutup bagian sebelumnya. Meyla tidak terganggu akan hal itu, yang membuatnya terganggu adalah cahaya redup dan menampilkan beberapa manusia yang tertusuk dengan tidak wajar.


Ada yang tertusuk dibagian mulut dan perutnya. Ada yang tertusuk dibagian perut dan dadanya. Ada yang tertusuk dibagian paha kanan dan tertusuk dibagian dada serta kepalanya hancur akibat tusukan. Dan lagi seseorang yang ia kenali,Pria yang menolong nya itu berdiri membelakanginya.


Meyla ingin berlari dan menangkapnya, namun Orang tuanya menghalangi dan memeluknya. Meyla melihat jelas bahwa suara yang terdengar seperti pisau bergesekan dengan pisau lain itu memang ada. Dan semua pisau itu masih bergerak. Sedangkan tubuh yang sudah tertusuk pisau itu hanya bisa terulai kesegala arah.


Meyla membelakkan matanya, bingung dan sulit mengerti dengan apa yang terjadi. Apa lagi Pria yang menolongnya, memeluknya, dan mengenggam lembut dirinya masih tinggal disana sampai pembatas tersebut tertutup.


Tak lama, Air yang sampai didagu, kini menyurut dan tingginya sampai pinggangnya. Orang Tuanya masih memeluknya, sedangkan Paman dan Bibinya menghampiri dan menanyai kabarya.


“Bagaimana keadaanmu?..apa sulit kau melewatinya” tanya Sang Bibi.


Meyla tidak menjawab.Sedangkan yang lain berdiskusi, karena saat ini Terowongan hanya tinggal dua dan tidak memiliki angka. Selain itu Terowongan ini lebih tinggi saat tidak ada air. Dari bawah keatas mungkin tinggi sekitar tiga atau empat lantai.


“Sekarang Terowonganya hanya tinggal dua, yang mana yang akan kita pilih?” tanya Seseorang.


“Gimana kalau kali ini, biar Neng yang tadi aja. Dia bisa memilihnya”Ucap salah seorang Pria.


Mereka pun melihat kearah Meyla yang sekarang sepertinya tidak ingin berbicara. Karena merasa aneh, Mereka pun mendekat dan menanyai keadaannya.


“Lenapa?..apa yang terjadi pada Anda, Neng..Anda tidak apa-apa” ucapan Formal dari seorang Pria.


“Benar...apa kau merasa ada yang aneh?” tanya wanita yang menariknya.


Ayah dan Ibu Meyla tidak menjawab, Kedua Paman dan Bibinya fokus kedua terowongan.


“Ada yang ingin kutanyakan kepadamu “ ucap Meyla keseorang Wanita yang menariknya.


“Iya silahkan” ucap wanita itu.

__ADS_1


“Kenapa....kenapa kau melepas tanganku dipertengahan jalan, kenapa kau tidak menjawab seruan ku, kenapa kalian berjalan seperti tidak terjadi apa-apa...apakah kalian sudah tahu kejadian ini, kenapa lima pria yang lain itu bisa meninggal, sedangkan kalian selamat. Padahal kita berada dikegelapan..apa yang sebenarnya terjadi...jelaskan kepadaku” ucap Meyla, tanpa bertele-tele dan nadanya menjadi dingin.


__ADS_2