
"Ini bayaran terakhir dan bonus untukmu, saya puas dengan pekerjaanmu.. sa ngat in dah" Ucap seorang pria memberikan sebuah kartu kepada wanita dihadapannya sambil tersenyum puas.
"Terimakasih, kontrak kita selesai sampai disini," Ucap wanita itu mengambil kartu yang berada di ata meja, lalu tersenyum simpul, "Selamat bersenang-senang, kalau begitu saya izin pamit," Ucap wanita tersebut berdiri dari tempatnya.
"Tunggu!" Panggil lelaki itu, menghentikan langkah wanita tersebut. "Bolehkah saya.. melihat wajahmu?" Ucap Lelaki tersebut hanya mendapat senyum simpul sebagai jawabannya. Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari restoran.
.
.
.
'Kita selesai sampai disini' Kalimat tersebut terus menggema dikepalanya, meskipun kejadiannya sudah lama namu sangat sulit baginya melupakan sosok yang pernah bersamanya.
"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda" Ucap Sekretaris Hann kepada atasannya.
"Jika itu keluargaku maupun seseorang yang berhubungan dengan keluargaku, bilang saja aku tidak ada," Jawabnya tanpa berbalik sedikitpun dan masih fokus memperhatikan foto yang ada ditangannya.
"Apa dia akan mengusirku juga, Hann?" Ucap seorang laki-laki masuk tanpa permisi dan langsung duduk di sofa dengan menaruh jas nya sembarangan.
"Kenzo?" Hann hanya bisa memijat pelipisnya akibat tingkah laku lelaki itu yang tak lain adalah sahabatnya.
"Kenapa? Apa kamu akan mengusirku juga seperti, Xion.. Boss mu itu.." Tanya Kenzo meledek sahabatnya.
"Ada keperluan apa kamu datang?" Tanya Xion membalik kursinya menatap Kenzo.
"Ambillah.." Kenzo melempar pelan map dokumen yang ia bawa ke atas meja. Dengan santai ia meminum soda yang sudah disiapkan.
Xion bergegas menghampiri Kenzo dan membuka dokumen yang dibawanya. "Kontrak pernikahan?" Ucapnya membaca salah satu lembaran yang ada. "Apa maksudnya?"
"Hann, Apa kamu yakin sudah memberitahunya?" Tanya Kenzo pada lelaki yang tengah duduk di seberangnya dengan mata terpejam.
"Hann! Jelaskan apa maksud ini" Tanya Xion.
__ADS_1
"Aku sudah cukup lelah menjelaskan pada anda, bisakah anda menggantikkanku, Tuan Kenzo?" Ucap Hann tanpa membuka matanya.
Kenzo menghela nafas mendengar ucapan dari Hann, ia bangkit dari duduknya, "Jam berapa ini? Sepertinya aku melewatkan jam makan malam" Ucap Kenzo menepuk pundak Hann.
Mendapat kode dari sahabatnya, Hann membuka matanya dan beranjak dari tempatnya. "Makan malam apa yang akan aku makan malam ini?" Tanya Hann merangkul Xion dan mengajaknya mengikuti Kenzo.
"Tunggu, Kalian belum menjelaskan tentang pernikahan kontraknya" Ucap Xion merasa kebingungan.
"Akan sia-sia kalau kami jelaskan.. bukan?" Ucap Hann dengan ramah mengingat kejadian satu minggu terakhir.
*flashback...
"Tuan, Ada undangan jamuan makan malam untuk anda," Ucap Hann menaruh amplop yang ia bawa diatas meja.
"Buang! bilang saja aku sedang diluar kota."
"Baik.."
hari kedua..
Hann mempersilahkan seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan. "Saya permisi dulu.." Pamit Hann keluar meninggalkan ruangan.
"Terimakasih, Hann" Ucap wanita tersebut pada Hann sebelum Hann keluar. Wanita tersebut berjalan ke arah tempat duduk Xion dan langsung menjewer telinga lelaki tersebut hingga sang mpu kesakitan. "Kamu itu putra ibu satu-satunya! Darimana saja kamu, satu minggu tidak bisa dihubungi?! Jangan kira ibu tidak tahu tentang kamu dan pekerjaanmu ya!" Ucap Zia mengeluarkan amarahnya yang sudah tertahan pada anaknya.
"Aduh duh, Mah.. Ampun ampun.. Sa-sakit.." Adu Xion memohon untuk dilepaskan.
Zia melepaskan tangannya dari telinga putranya dengan perasaan kesal.
Xion merasa lega dan terasa panas telinganya, ia berdiri dan mebujuk ibunya. "Mah.. jangan marah-marah gitu dong.. Cantiknya ilang nanti loh.. duduk dulu," Ucap Xion mempersilahkan ibunya duduk ditempatnya.
Zia duduk di kursi milih anaknya, dengan tatapan mengintimidasi ia menatap putranya dari atas sampai bawah, "Dua minggu.. atau kamu menerima pilihan mama" Ucap Zia membuat Xion kaget bukan main.
"Ma-maksud mama?" Ucap Xion bingung.
__ADS_1
"Cari gadis itu atau lupakan untuk selamanya, mama gak mau kakek kamu pergi sebelum menggendong cicitnya, dan mama gak mau nerima alasan apapun dari kamu, paham?!" Ucap Zia dengan tegas. Sebelum mendapat jawaban dari anaknya, Ia beranjak dari tempatnya dan pergi begitu saja.
*flashback off
"Luna!"
"Saya sudah bilang berkali-kali pada anda dan jawaban saya tidak akan pernah berubah." Ucap gadis itu menyeruput teh yang disajikan.
"Aish.. terserah kamu, tapi ingat aku tidak akan berhenti untuk membujukmu" Ucap seorang wanita yang mengambil tasnya dan beranjak dari tempat tersebut dengan wajahnya yang terlihat masam.
Sepeninggalan wanita tadi, seorang laki-laki datang menghampiri gadis yang tengah duduk menikmati makan malamnya. "Kak Luna!" Panggilnya dengan senang memeluk gadis itu dari belakang.
"Apa yang kau bawa, lalu sebutkan keinginanmu.." Ucap gadis itu meletakkan alat makannya diatas meja.
"Ini informasi yang kakak minta dan ini hasil ulanganku kemarin," Ucap lelaki itu duduk dan menyerahkan dua amplop coklat yang telah ia sebutkan.
Gadis itu mengambil kedua amplop coklat yang diberikan, ia membuka amplop coklat yang berisi nilai ujian. "Apa kau benar-benar belajar selama kakak pergi? Kau tidak menggunakan cara licik lagi, 'kan?" Tanyannya menatap sang adik dengan seksama.
"Kakak tidak percaya padaku? Aku bersungguh-sungguh belajar dan selalu ikut bimble, demi rezt mobil kesayanganku aku bersumpah kalau aku bohong kakak bisa membakarnya," Jawabnya meyakinkan sambil menunjukkan jari membentuk huruf V.
Gadis itu menaruh kembali amplop coklat yang ada di tangannya dan beralih ke amplop satunya. "Ehm, apa yang kamu inginkan?" Tanya nya membaca lembaran dokumen yang berisikan informasi.
"Eh? Serius? Tapi kakak belum melihat nilaiku" Tanyanya merasa tak percaya.
"Itu hanya sebuah angka, berapapun itu kakak terima asal kamu jujur dan kamu benar-benar berusaha," Jawab gadis itu tanpa beralih dari kertas yang ia pegang.
"Kalau begitu untuk apa aku berusaha mendapat nilai sempurna," Gerutu lelaki itu mendapat deheman dari sang kakak.
"Ehm,"
"Maaf.." Ucap lelaki itu. "Aku mempunyai tiga permintaan" Ucapnya dengan senang menunjukkan tiga jari tangannya sambil tersenyum simpul.
"Sebutkan"
__ADS_1
"Aku mau.."