
Luna berjalan menuju keluar, ia tak menghiraukan panggilan dibelakangnya. Gadis itu terus berjalan meninggalkan lingkungan perusahaan. Ia merogoh tasnya dan mengambil handphone milik nya untuk menelfon seseorang.
"Tolong jemput aku," Ucap Luna kepada seseorang yang ia telepon.
"Berhenti! Luna! Tunggu!" Panggil Xion mengejar Luna, ia tak menghiraukan sekitar yang kini menatapnya.
Xion terus mencoba meraih Luna, ia mempercepat jalannya untuk mengejar gadis tersebut, hingga akhirnya ia dapat meraih tangan gadis tersebut dan menariknya kedalam pelukannya.
"Lepasin!" Bentak Luna terus memberontak.
"Ngga sebelum kamu tenang!" Jawab Xion.
Luna menginjak kaki Xion membuat Xion melonggarkan pelukannya, kesempatan tersebut tak ia sia-siakan. Luna mendorong Xion dan menjauh dari lelaki tersebut.
"Kita batalkan semuanya! Saya akan mengganti kerugian anda dan biaya selama merawat saya!" Jelas Luna dengan tegas.
"No! Kita obrolin lagi oke? Maaf atas sikap tadi" Ucap Xion memohon pada Luna.
"Enyah saja anda dengan gadis itu! Tenggelam dengan masa lalu, jangan berharap pada saya atau yang lain jika anda masih tenggelam! Jangan jadikan orang sebagai pelampung anda! Sia-sia, anda akan berakhir tenggelam!" Jelas Luna mengeluarkan isi pikirannya.
"Jangan pernah bawa-bawa Ara!" Bentak Xion membuat Luna tersenyum miring menatapnya
"Lihat?" Ucap Luna menatap Xion malas. "Jangan berharap apapun, kepada siapapun, kalau anda masih seperti ini, ingat itu!" Lanjutnya. "Saya akan mengembalikan semuanya malam ini juga dan jangan pernah mencari maupun menemui saya lagi, kita sudah tidak ada urusan lagi." Ucap Luna sebelum masuk ke dalam mobil yang baru saja datang menjemputnya.
----------------
"ARRGGHHH! SIAL! SEMUANYA BERANTAKAN" Ucap Xion frustasi. Ia membuang barang yang ada di meja.
"Ckck. Waktu itu adek lo, sekarang Luna, next siapa lagi, yon?" Tanya Kenzo meledek sambil menatap temannya. "Sayang banget, Luna lepas dari genggaman lo.. kalo gue jadi lo, gak bakal gue sia-siain cewe kaya Luna, walau gue harus ngeluarin uang lebih, gue rela..." Lanjut lelaku tersebut lalu menghabiskan soda ditangannya.
__ADS_1
"Ambil tuh cewe! Bekas gue ini! Lagian berapa besar sih kuasa dia sampe dia berani dan balikin bayarannya."
"Tutup mulut lo, jangan asal bicara!"Bentak Hann saat mendengar ucapan Xion.
"Kok lo yang sewot sih, Hann? Tau apa lo sama tuh cewe?!"
"Luna bukan Luna," Ucap Kenzo di angguki Hann.
"Maksudnya?"
"Jadi b**o kan lo, buang aja otak lo!" Ucap Kenzo kesal.
"Itu cuman nama panggung dia, dia pake nama panggung karena ngga mau orang tau, bahkan dia ngga punya akun sosmed dan nomornya selalu ganti, " Ucap Hann
"Kayak buronan aja,"
"Dia emang buronan," Jawab Kenzo membuat Xion kaget. "Buronan ko-long-me-rat," Lanjut Kenzo. "Alasan dia selalu nutupin wajah. Cantiknya sampe bidadari lewat, hartanya ngga usah di tanya! Alderion? Szeano? Lewat!" Ucap Kenzo.
"Buat saat ini ngga ada yang tau alasannya kenapa, karena kalau tujuannya buat liat situasi pasar ngga bisa dibilang gitu, karena sampai sekarang posisi masih sama, ngga ada yang beda. Jadi banyak yang nyimpulin kalau dia kerja ginian cuman gabut," Jelas Hann memperlihatkan statistik pasar.
Xion mendengarkan dengan seksama dan memahaminya.
"Jujur lo... sumpah lo nyia-nyiain kesempatan ini cuman gara gara bagian ara sama akhir, bayaran lo ke dia buat gue itungan murah dari yang lain dan syarat yang dia buat juga ngga ada yang salah," Ucap Hann tak habis pikir dengan sahabatnya itu.
"Udah lah, emang otaknya aja yang bermasalah, bener yang Luna bilang ke lo. Lo kalo masih stuck di zona ini, ngga bakal, ada yang bisa bantu lo keluar. Jadi jangan ngeharapin orang lain buat jadi tali pegangan lo." Ucap Kenzo membuat Xion terbungkam.
"Kalian temen gue atau tuh cewe sih?!"
"Lo bukan temen gue, gak sudi gue punya temen b**o kayak lo! Dikasih yang mulus, minta yang pupus! Gak guna tau gak?!" Jawab Kenzo penuh emosi. "Pantes aja Kak Zai jauhin lo sama Ara, toxic lo ngga ketolongan!"
__ADS_1
*Flashback On*
*Aww, io lepasin.. tangan ara sakitt" Rintih seorang gadis sambil menyamakan langkah kaki Xion.
"Siapa orang tadi?! Bagus ya kamu keluar sama cowo ngga bilang-bilang!" Bentak Xion mencengkram pergelangan tangan gadis tersebut
"Aku udah bilang, dia saudara aku... aku juga udah bilang kamu kalau aku mau keluar sama dia. Nih cek aja!" Jelas gadis tersebut memberikan handphone miliknya
Xion mengambil handphone gadis tersebut dan mengecek semuanya, ternyata betul apa yang dikatakan gadis tersebut, ia sudah izin namun lelaki itu tak merasa bahwa sudah membuka dan menjawab chat sang gadis.
"Kamu mau tanya apa? Ngga usah bilang kalau kamu merasa ngga jawab chat aku, aku tau semuanya dan aku liat pakai mata kepalaku sendiri" Jelas gadis tersebut. "Tolong lepasin tangan aku ya? sakit... '' lanjut nya memohon.
Xion terdiam dengan apa yang gadis itu ucapkan, ia melepaskan cengkraman nya dari tangan sang gadis. "Sorry, honey.."
"Aku ngga masalah kamu ikut organisasi apapun.. Tapi tolong banget, hargain aku sebagai cewe kamu.. Walau cuman tinggal beberapa saat lagi, tolong banget jaga perasaan aku, ai.. " Tutur sang gadis dengan air mata yang mulai keluar membasahi pipi.
Lelaki itu membeku dibuat nya, "Beberapa saat lagi? Maksud kamu apa? Aku minta maaff, aku janji ngga ngelakuinnya lagi, tapi jangan tinggalin aku... " Ucapnya lalu memeluk erat tubuh sang gadis. "Promised that we would grow old together, you won't break that promise, right?"
*Flashback Off*
"Sebelum lo berubah, gue angkat tangan sama masalah lo... terserah lo mau bilang apa ke nyokap lo, pokoknya jangan cari gue" Ucap Hann meninggalkan bar.
Xion terdiam dengan kata-kata Hann, ia menatap kearah Kenzo yang menikmati minuman di tangannya. "Kenapa masih disini?" Tanya Xion.
"Bentar lagi gue cabut," Jawab Kenzo terus memperhatikan ke arah pintu.
Tak lama pintu ruangan terbuka, dan Kenzo beranjak dari tempat nya. "Goodluck sama pilihan lo, gue harap lo gak kecewa buat kedua kalinya." Bisik Kenzo kepada gadis yang sedang berdiri di pintu sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Xion.
Setelah pintu tertutup, gadis tersebut berjalan mendekat kearah Xion, ia melemparkan sebuah amplop coklat kearah Xion. "Surat perceraian, tanda tangan surat itu sekarang!" Pinta sang gadis. Ia menatap Xion dari atas hingga bawah. Ck! Kacau.
__ADS_1
"Gak!"