
"Aku mau kita berakhir disini, jangan pernah mengharapkan aku lagi!" Ucap seorang gadis kepada lelaki dihadapannya.
"Kenapa? Apa aku berbuat kesalahan?" Tanya Xion kepada gadis dihadapannya.
"Bukan kamu yang salah, tapi akulah yang bersalah disini. Jadi, aku harap kamu bisa menerimanya. Maaf," Jawab gadis itu melepas pegangan Xion pada bahunya dan berlalu begitu saja.
***
"Bukankah aku sangat menyedihkan sekarang?" Tanya Xion yang sudah mabuk kepada kedua temannya.
"Anda memang sangat menyedihkan, Tuan." Jawab Hann tanpa merasa bersalah.
Xion tertawa hambar mendengar jawaban Hann, ia sudah menebak jawaban dari lelaki itu. "Enyah saja kamu Hann" Ucapnya.
"Baik, saya masih bisa bekerja dengan Kenzo," Jawab Hann dengan enteng membuat Kenzo menyemburkan minumannya. "Bukan begitu, Ken?"
"Hah? Heem, aku tunggu pengunduran dirinya besok," Jawab Kenzo dengan senang hati.
"Aku bersumpah kalau kau sampai melakukan itu, aku akan mengirimmu kembali, Hann" Ucap Xion mengancam.
"Mabuk saja masih bisa bersumpah, lebih baik cari gadis pengganti Rara," Ucap Kenzo melanjutkan makannya.
Xion menggeleng, ia tak berminat mencari gadis lain sebelum masa lalunya benar-benar selesai.
"Sepertinya saya benar-benar mengundurkan diri, anda sangat keras kepala dan itu menyebalkan" Ucap Hann yang lelah dengan sikap Xion.
"Sudah aku bilang, kau tidak akan bertahan bekerja dengannya," Ucap Kenzo mengingatkan.
.
.
__ADS_1
.
Suasana yang tenang dan nyaman, sinar mentari yang masuk melalui celah, suara merdu barung yang berkicau dengan suara kemercik air yang indah menjadi alarm bagi lelaki yang tengah tertidur pulas diatas kasur yang empuk.
"Eumh.." Dengan perlahan kelopak mata itu mulai terbuka, dan dengan samar ia melihat sosok yang tengah berdiri membuka jendela kamar. "Argh.. jangan dibuka!" Ucapnya dengan serak dan langsung bersembunyi dibalik selimut.
"Sampai kapan anda akan tidur disini, Tuan? Sekarang sudah pukul sembilan dan anda masih tidak bangun dari tempat anda," Ucap seorang perempuan merapihkan barang barangnya.
'Tunggu, suara perempuan!' Batinnya terkejut, Xion langsung bangun dan melihat ke satu arah. "Siapa anda? Dan.. Apa yang kita lakukan disini? Apa yang kamu lakukan semalam!" Tanya Xion berturut-turut kepada perempuan itu.
"Bisakah anda tenang terlebih dahulu? Lagi pula kenapa anda bertanya seperti itu? Bukankah yang seharusnya bertanya itu saya? Kenapa anda masuk ke dalam kamar saya?" Ucap Perempuan itu membuat Xion diam dan mengingat kejadian semalam.
"Saya minta maaf atas kesalahan saya, saya akan mengganti ruginya.." Ucap Xion membuat perempuan dihadapannya menghembuskan nafasnya.
"Dengan?"
"Apapun yang kamu inginkan," Jawab Xion kepada perempuan itu.
Betapa terkejutnya Xion melihat leher gadis dihadapannya, ia sangat merutuki kesalahannya kali ini. "Apa aku sebuas itu semalam?" Gumam Xion mengingat sisa-sisa ingatannya semalam.
"Harga diri saya tak bisa dibayar dengan harta dan kekuasaan anda, saya tidak tertarik dengan itu semua, saya hanya ingin keadilan bagi saya," Jelas perempuan itu membuat Xion semakin dibuat bungkam.
"Saya akan bertanggung jawab, saya tidak bohong, saya bersumpah akan mempertanggungjawabkan semuanya, jadi saya mohon sekali jangan bawa kasus ini ke hukum.." Ucap Xion melihat gadis itu memegang handphone.
"Bukankah saya sudah bilang saya tidak tertarik dengan anda, dengan status anda? Saya hanya menginginkan anda dihukum!" Tolak gadis itu kepada Xion.
"Dimana handphone saya?" Tanya Xion mencari keberadaan handphonenya.
"Ada di atas nakas samping tempat tidur," Jawab gadis itu dengan kesal.
Xion mengambil handphonenya dan mengeti sesuatu disana, agaknya sangat serius hingga ia tak menghiraukan ocehan gadis itu. Setelah selesai, ia meranjak dari tempat tidur dengan selimut sebagai penutup tubuhnya dan pergi ke kamar mandi. " Tunggu aku disini dan jangan beranjak dari tempatmu sekarang" Perintah Xion kepada gadis itu sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
* 30 menit berlalu...
Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Xion sampai ditempat tujuan, tentu hal itu membuat gadis itu terkejut saat membaca palang yang terpampang jelas diatas gedung, sedangkan Xion keluar dari mobil dan beralih ke pintu samping dan membukanya.
"Turun"
"Tidak mau. Saya tidak mau turun ditempat ini!" Bantah gadis itu.
"Saya bilang turun atau saya yang akan menggendongmu hingga ke dalam!" Ucap Xion membuat gadis itu langsung turun.
"Untuk apa kita kesini? Bukankah seharuskan ke kantor polisi?" Tanya gadis itu melihat bangunan dihadapannnya.
"Nanti kita kesana, sebelum itu kita ada urusan disini, jadi diam dan turuti saja" Ucap Xion menggandeng tangan gadis itu.
"Tungguu, saya tidak mau menikah dengan anda, saya tidak ingin menikah bukan karena landasan hati, lepaskan saya, ini pemaksaan dan saya sangat membenci anda!" Bantah gadis itu meronta dan mencoba melepaskan diri.
"Saya tidak perduli, landasanmu itu biar saya yang menjalankannya, biar saya yang mencintai anda, itu sudah cukup sebagai landasan" Jawab Xion dengan santai.
"Lepaskan saya, saya akan memanggil kakak saya dan menyuruhnya untuk menghajarmu!" Ancam gadis itu.
"Bagus, panggil kesini sekalian keluargamu yang lain juga tidak apa, aku akan meminta restunya dan akan tetap menikahimu," Ucap Xion berbalik menantang. "Sebelum masuk ke dalam ada yang ingin kamu minta?" Tanya Xion berhenti di depan pintu.
Gadis itu dibuat bungkam dengan pernyataan lelaki itu, ia tak bisa mengatakan apapun dan lebih baik diam menuruti lelaki itu. "Eh? Aku belum memikirkannya, anda saja duluan.." Jawab Gadis itu kepada Xion.
"Baiklah, kita akan memikirkannya nanti, sekarang kita masuk dulu dan jadilah anak baik," Ucap Xion tersenyum kepada gadis itu.
.
.
.
__ADS_1