Setajam Duri Mawar

Setajam Duri Mawar
SDM #4


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian..


Selesai membersihkan diri, gadis itu turun menggunakan gaun mini bermotif bunga, rambutnya yang bergelombang membuatmu terlihat sangat anggun dan cantik. Gadis itu berjalan menuju ke arah dapur, ia membuka lemari es dan melihat apa yang bisa diolah.


"Non, Apa yang sedang anda lakukan?" Tanya Zaza kepala pelayan yang melihat Luna mengambil beberapa sayuran.


"Saya ingin memasak untuk Tuan? Sebagai ucapan terimakasih," Jawab Luna sambil tersenyum ke arah Zaza.


"Anda tak perlu repot-repot, Non. Anda bisa meminta kami untuk memasakkannya.." Ucap Salah seorang pelayan yang bekerja di dapur.


"Kalau begitu ucapan terimakasih tak tersampaikan," Ucap Luna membuat bungkam pelayan, "Kalian kembalilah untuk istirahat, Selebihnya biar aku yang mengerjakan." Ucap Luna melihat raut wajah mereka yang ketakutan. "Kalian tak perlu takut, urusan Tuan kalian, biar aku yang menghadapi nya.. Aku tau kalian lelah bekerja dari pagi bukan?" Ucap Luna mendapat anggukan pelan. "Aku mengizinkan kalian untuk istirahat, ini perintah dan aku tidak suka dibantah" Ucap Luna.


"Kalau begitu kami pamit, Non." Ucap para pelayan sebelum melangkah pergi meninggalkan dapur.


"Non.. Ada yang perlu saya bantu?" Tanya Zaza kepada Luna.


"Ada, Saya ingin meminta anda menyampaikan jadwal baru untuk pekerja lainnya..." Jawab Luna memberikan sebuah kertas yang sudah ia siapkan. "Tolong sampaikan kepada yang lain" Ucap gadis itu dengan lembut.


"Baik, Non. Kalau begitu saya pamit undur diri," Ucap Zaza berpamitan untuk menyusul yang lain.


Kini dapur sudah kosong dan hanya tersisa Luna seorang. Gadis itu dengan cekatan memasak makan malam, ia menyiapkan ikan bakar dan menumis sayuran, tak lupa ia membuat dessert sebagai penutup dan memotong buah. Gadis itu menata semua nya di meja makan, lalu membersihkan dapur yang baru saja ia gunakan untuk memasak.


Luna duduk di meja makan sendirian, sambil mengemil buah-buahan yang ia potong tadi, ia memikirkan haruskah ia menunggu lelaki itu pulang? Atau ia makan malam sendiri seperti hari sebelumnya?


"Apa lelaki itu benar akan kembali malam ini? Atau para pelayan itu membohongi ku?" Gerutunya sambil mengunyah apel. Tak terasa buah yang ada di piring kini sudah habis dimakan Luna, gadis itu kembali ke dapur dan mengambil buah yang baru.

__ADS_1


Dengan melamun Luna memotong buah yang sudah di cuci, cukup lama Luna melamun dengan posisi yang tak berubah sedikitpun, hingga ia tak menyadari kehadiran seseorang.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Dan kapan buah itu siap?" Tanya nya mengagetkan Luna dan membuat pisau tak sengaja menggores telapak tangan gadis itu.


"Aw.. sstt" Rintih Luna melihat tangannya yang mulai mengeluarkan darah segar.


Melihat itu, Lelaki tadi langsung menghampiri Luna dan meraih kain bersih untuk menutup luka di tangan Luna. "Kita kerumah sakit ya?" Tanya lelaki itu khawatir.


"Ehm" Luna hanya menggeleng kan kepalanya, "Aku bisa mengobatinya sendiri," Ucap Luna beranjak dari tempatnya.


"Tidak, aku yang akan bertanggungjawab untuk lukamu" Ucap Lelaki itu menggendong Luna menuju tempat makan, ia mendudukkan Luna di kursi dengan pelan. "Tunggu disini, aku akan mengambil kotak P3K" Ucapnya diangguki Luna. Tak lama, lelaki itu kembali membawa kotak P3K dan baskom berisi air dingin untuk mengompres luka Luna. Dengan pelan Lelaki itu mengobati lukanya, sesekali meniupnya agar mengurangi rasa perih.


Luna mengamati wajah yang terlihat serius mengobati lukanya, ia melihat ada rasa khawatir yang terbaca pada ekspresi lelaki tersebut.


"Aku meminta mereka kembali lebih awal dan merubah jadwal kerja mereka," Jawab Luna mendapat tatapan tanya dari lelaki itu. "Bukankah saya memiliki hak untuk itu semua? Anda sendiri yang membawa saya ke mension ini dan saya masih berstatus sebagai istri Anda, dengan kata lain milik anda adalah milik saya juga" Jelas Luna membuat lelaki itu menghembuskan nafas dengan kasar.


"Lain kali berhati-hati, jangan melamun seperti tadi," Ucap Lelaki tersebut mencium luka yang sudah terbalut oleh perban. "Aku akan membereskan ini terlebih dahulu," Ucapnya berdiri dari tempatnya dan membersihkan darah yang berceceran di lantai.


Disaat yang bersamaan, Luna diam tersipu sambil mengusap lukanya, syukurlah wajahnya masih tertutup masker dan rambutnya, hingga lelaki itu tak menyadari kalau wajah Luna merah seperti udang rebus untuk saat ini.


"Angkat kepalamu," Ucap Lelaki itu membuat Luna menatap bingung.


"Ada apa?" Tanya Luna melihat gerakan lelaki itu.


"Rambutmu akan membuatmu kesulitan," Ucap lelaki itu mengambil rambut yang menutupi wajah Luna dan menjadikan satu kebelakang lalu menjepitnya dengan jepit rambut. "Apa kamu bisa makan sendiri?" Tanya lelaki itu membuat Luna merasa kaget.

__ADS_1


'Hah! Apa maksud dia? Apa dia tidak mau makan dengan ku? What! kalau tau begini lebih baik aku makan dari tadi dan pergi tidur!' Batin Luna merasa kesal.


"Kenapa diam? Kamu bisa makan sendiri atau tidak dengan keadaan tanganmu ini?" Tanya lagi membuat Luna tersadar akan lamunannya.


"Oh.. Ntahlah, sepertinya bisa" Ucap Luna lalu mencoba mengambil nasi, namun jangankan mengambil nasi, memegang sendoknya pun ia tak bisa. Rasanya sakit baginya untuk menggerakkan tangan. "Sstt.." Rintih Luna dan kembali duduk diam. "Anda makan saja terlebih dulu, saya akan beradaptasi terlebih dahulu dengan luka ini," Ucap Luna menundukkan kepala.


Siapa sangka, lelaki itu beranjak dari tempat duduknya dan pindah ke sebelah Luna, ia mengambil nasi di piring milik Luna begitupun dengan lauknya. "Ingin makan dengan tangan atau sendok? Aku sudah mencuci tangan," Ucap Lelaki tersebut bertanya pada Luna.


"Tangan saja, akan lebih nikmat memakan ikan bakar menggunakan tangan" Jawab Luna.


"Kalau begitu buka maskermu," Ucap lelaki itu mulai menyatukan nasi dan lauk.


"Hah?" Dengan ragu Luna membuka masker yang selama ini menutupi wajahnya, ini kali pertama ia menunjukkan wajahnya kepada orang. Ia menaruh maskernya di atas meja, "Sudah" Ucap Luna.


Lelaki itu tak bergeming, ia terus mengamati wajah yang selama ini ia perhatikan setiap malamnya secara diam-diam, dan ia tak pernah berhenti mengagumi wajah tersebut. bibirnya yang mungil dan nampak alami, pipi chubbynya bersemu merah muda, dan manik matanya yang bersinar bagai bulan di kegelapan malam, tak mampu ia mengalihkan pandangannya.


"Tuan? Tuan io?" Panggil Luna dengan lembut membuyarkan lamunan Xion. "Apa kita jadi makan?" Tanya gadis itu membuat Xion tersadar dan segera menyuapi Luna. "Apa, tuan tidak makan?" Tanya Luna.


"Aku bisa makan nanti," Jawab Xion dengan lembut tanpa menatap Luna. "Apa kamu mau menambah sayur?" Tanya Xion diangguki Luna.


"He'em,"


"Tuan bisa makan bersama saya?" Ucap Luna membuat Xion bertanya, "Disatu piring yang sama, jika tuan tidak merasa keberatan" Jawab Luna di pahami Xion.


Malam yang panjang untuk kedua insan tersebut, diterangi rembulan malam dengan bintang yang menghiasi langit, nampak indah membuat Luna tak ingin beranjak dari tempat nya. Setelah makan malam tadi, kini ia mulai memahami sifat lelaki itu, dan membuat mereka dekat. Luna yakin dapat menjalankannya hingga akhir.

__ADS_1


__ADS_2