
"Non, ada telepon dari tuan," Ucap Zaza kepada Luna yang tengah merakit bunga.
"Bilang saja, saya sedang ada di ruang baca," Balas Luna bohong, nyatanya dia sedang ada di ruang tamu dengan banyaknya bunga yang berserakan di meja hingga lantai.
"Baik, Non."
Sudah satu minggu Luna tak ingin di ganggu dan sudah banyak kegiatan pula yang ia kerjakan untuk mengisi waktu luangnya.
"Non, cantik sekali anda merangkai bunga-bunga ini.." Ucap salah seorang pelayan yang sedang membantu Luna merapihkan daun dan tangkai yang terbuang.
"Terimakasih," Ucap Luna seraya tersenyum menatap hasil rangkaiannya.
"Kalau boleh tau kenapa ada bunga lily dan lavender ini ditaruh terpisah dengan yang lain?" Tanyanya.
"Saya ingin menaruhnya di kamar dan ruang baca," Jawab Luna menatap bunga lili.
"Kelihatannya anda sangat menyukai bunga" Tebaknya diangguki Luna.
"Saya menyukai semua bunga, tergantung situasi saat itu.. Karena setiap bunga memiliki makna tersendiri dan saya akan menggambarkan situasi saat itu dengan bunga," Jelas Luna.
"Dimana anda akan meletakkan bunga Lavender ini?" Tanya nya lagi mendapat panggilan dari Zaza.
"inna! kembalilah bekerja!" Ucap Zaza dengan nada tinggi.
"Maaf, Non"
"Saya ingin menaruh bunga ini di ruang kerja milik tuan," Jawab Luna setelah diam menatap bunga Lavender tersebut. "Saya merasa bunga yang ada di ruangan tersebut sudah lama dan layu, saya ingin mengganti nya" Lanjutnya.
Zaza dan Inna terkejut mendengar jawaban dari Luna. Mereka tahu bunga yang ada diruangan tersebut memang layu, namun tak ada yang berani menyentuh vas bunga. "Tapi, Non.."
"Saya tidak akan melibatkan kalian dan saya paling tidak suka di bantah," Ucap Luna terdengar tegas dengan sikap yang sangat tenang.
.
.
.
__ADS_1
Luna masuk kedalam ruangan sebelah ruang bacanya, terlihat gelap saat pertama kali ia membuka pintu. Luna merabah dinding sebelah pintu untuk mencari saklar lampu dan 'tek' lampu menyala memperlihatkan isi dalam ruangan tersebut.
"Jika kamu tak bisa melakukannya sendiri, akan ku bantu kamu untuk melakukannya" Gumam Luna dengan tatapan yang tak bisa digambarkan namun terlihat tekad yang kuat.
Luna mulai membersihkan ruangan tersebut, ia mengganti beberapa interior yang membuat ruangan tersebut terasa mati dengan interior yang elegant namun membuatnya hidup. Tak lupa ia mengganti vas dan bunga yang ada di ruangan tersebut. Luna menyimpan barang barang lama yang tergantikan dalam satu kotak besar dan ia simpan dalam ruang baca yang tidak dapat diketahui orang.
"Tidak ada lagi Rara maupun Ara, semua hanya kenangan yang hanya bisa kamu lampirkan kesebuah lembaran cerita semata,"
Luna menutup bingkai foto yang ada di atas meja kerja, dengan samar terlihat tersenyum getir. Setelah itu, Luna keluar ruangan tersebut dan kembali mematikan lampu lalu mengunci pintunya seperti semula.
...----------------...
"Pergi! Saya tidak menerima sampahmu ini!"
Para karyawan kantor berlalu-larang, keluar masuk ruangan dengan badan gemetar dan kepala yang menunduk. Suasana perusahaan sangat riuh nan suram selama beberapa hari kebelakang. Tak ada yang berani berdiri dari tempat mereka, kecuali panggilan dari atasan.
"Yon, kenapa sih? Dari kemarin marah-marah terus, kaya orang kurang belaian tau gak?!" Ucap sekretaris sekaligus sahabat dari Xion.
"Lanjut kerja sana! Bukan urusan lo juga." Ucap Xion ketus dengan wajah yang muram.
Hann terdiam mendengar balasan dari Xion, ia hafal betul lelaki tersebut bukan lah dirinya untuk sekarang ini.
Disisi lain, seorang gadis berjalan menuju resepsionis. Sekitar menatap gadis tersebut, meski wajahnya tertutup oleh masker, namun tak membuat kecantikannya tertutup. Gadis itu terlihat cocok dengan pakaian dan rambut panjangnya.
"Apa anda sudah membuat janji dengan Tuan Xion?" Tanya salah satu karyawan kepada gadis tersebut.
"Ya, tuan yang memanggil saya kemari," Jawab gadis tersebut dengan lembut. "Atas nama Aluna" Lanjut Luna membuat karyawan tersebut kaget begitupun sebelah nya.
Bergegas karyawan tersebut beranjak dari tempatnya, "Mari saya antar," Ucapnya diangguki pelan oleh gadis tersebut.
Gadis tersebut mengikuti arahannya, sesampainya di depan pintu mereka berhenti. "Saya hanya bisa mengantarkan anda hingga sini,"
"Tidak apa, terimakasih sudah mengantarkan saya," Jawab gadis tersebut sebelum pergi. Ia mengetuk pintu dihadapannya, tak lama seseorang membukanya.
"Ya? Ada yang bisa di bantu?" Tanya Kenzo kepada gadis tersebut.
"Saya ingin menemui tuan Xion," Jawab nya dengan lembut membuat Kenzo terdiam.
__ADS_1
"Sebentar ya," Kenzo menutup pintu tersebut. "Yon, ada yang nyariin," Ucap Kenzo.
"Siapa?"
"Ngga tau," Jawab Kenzo lagi. "Cewe, cantik banget lohh.." Lanjut Kenzo seraya tersenyum.
"Pergi!" Ucap Xion dengan nada tinggi.
"Lo serius, yon?"
"Kalian yang pergi, biarin dia masuk" Ucap Xion membuat Kenzo dan Hann saling menatap.
"Tumben amat" Ucap Kenzo dan Hann bersamaan.
"Buruan!" Bentak Xion membuat kedua sahabat merinding dan langsung keluar ruangannya, sedangkan gadis tadi masuk dan menutup pintu sebelum berjalan ke arah sofa dan duduk disana.
"Ada apa?" Tanyanya melepas masker yang menutup wajahnya.
Xion bergegas beranjak dari tempat nya menuju ke arah gadis tersebut.
"Berhenti. Tetaplah ditempatmu," Ucap gadis tersebut membuat Xion menghentikan langkahnya.
"Lun.."
Gadis tersebut adalah Luna. Ia datang memang atas panggilan dari Xion. Bukan tanpa sebab, Luna datang untuk membawakan kontrak milik Xion dan atas kemauan Xion sendiri.
"Pokoknya saya ngga mau kamu keluar dari pulau, pokoknya jangan sampai orang tau kamu, pokoknya.." Ledek Luna menirukan gaya bicara Xion saat lelaki tersebut menikahinya. "Makan tuh pokoknya," Ucap kesal Luna mengeluarkan dokumen yang ia bawa dan menaruhnya di atas meja. "Cek dulu, kalau ada yang kurang biar aku benerin," Ucap Luna.
Xion menatap Luna dari tempatnya, ia diam mendengar ocehan gadis tersebut. "Boleh aku kesitu?" Tanya Xion hanya mendapat deheman. Xion berjalan mendekat kearah Luna, dan duduk di hadapan gadis itu. Lelaki tersebut mengambil dokumen yang ada di atas meja dan membacanya dengan seksama.
"Aku ngga setuju sama nomor 6 sama 22," Ucap Xion.
"Aku kasih kamu dua pilihan dan kamu harus memilihnya saat ini juga" Ucap Luna dan Xion menaikan satu alisnya. "Pilih salah satu dari dua tersebut atau tidak semua?" Ucap Luna membuat Xion bingung.
"Maksud kamu?" Tanya Xion menatap Luna dengan seksama.
"Pilih salah satu dari enam dan dua puluh dua atau kita batalkan semuanya," Ucap Luna membuat Xion kaget. "Aku kasih kamu waktu lima menit untuk menentukannya"
__ADS_1
"MAKSUD KAMU APA?!" Bentak Xion membuat Luna kaget.