
Main Caharacters
Dan/Lone –
Seorang siswa ‘luar biasa’ pada jamannya. Hidup di era teknologi, sains, dan paranormal yang maju. Dia hanya seorang tanpa tujuan; bermain game dan menonton di kala teman-temannya sibuk dengan berbagai eksperimen.
Suatu hari, dia tertarik portal menuju dunia lain, pulau Zenhonv. Tempat dimana sihir dan makhluk game berada. Dia dipanggil Lone di negeri itu; orang tanpa ekspresi dan bisu. Tidak ada seorangpun yang tahu nama asli dan darimana asalnya karena dia tidak ingin hal yang buruk terjadi.
Ava –
Anak buah Komandan Zery. Bersama Ani dan Anita (Nita) mereka termasuk dalam Divisi Investigasi, Penjaga Manusia. Dia bertugas menjaga portal lalu kemudian menyelidiki Lone.
Ava tidak terlalu suka sihir karena kejadian itu membuat bagian tengah Zenhonv menjadi Padang Terkutuk. Bencana mengerikan akibat kenaifan Angel-Chiccan.
Komandan Zery –
Komandan salah satu Divisi Investigasi kota Soqon. Divisinya ditugaskan untuk menyelidiki portal dan makhluk yang keluar darinya. Dia juga mendapat pesan dari kakeknya tentang makhluk ini, Alien. Dia diberi password untuk memastikan.
Vaxj –
Siapa dia? Dialah dewa Zenhonv. Pemilik kekuatan ‘waktu’ yang dahsyat. Dia membawahi para Angel di pulau itu. Vaxj memerintah di balik bayang-bayang. Banyak Manusia yang tidak mengetahui keasliannya. Seperti Alien, Vaxj adalah mitos bagi mereka.
Mari kita mulai ceritanya.
.
.
.
Page 1
“Baik, untuk yang terakhir. Silahkan,” Pak Guru di depan sana mempersilahkan Dan untuk memperkenalkan dirinya. Entah siapa nama guru tersebut.
Tanpa meninggalkan bangkunya, Dan berdiri dan memperkenalkan dirinya, “Namaku Everlone Dan, tanggal lahir 29 Februari 2148, tempat tinggal di no. 001, blok F, Pulau Baru. Hobi melihat film dan bermain game. Sekian, salam kenal dan mohon kerjasamanya.” Dan duduk kembali, tidak menghiraukan sekelilingnya.
Orang-orang disekitarnya memperhatikan sambil berbisik-bisik.
“Hoi-hoi, apa dia serius? Dia tidak produktif,” kata seseorang.
“Ssst, jangan keras-keras.” “Hobi macam apa itu?”
__ADS_1
“Ini jaman apa? Apakah dia yakin?” seluruh kelas menjadi ramai. Berdengungan kata-kata mengejek dan kritikan di sana-sini.
Dan hanya terdiam, ketenangannya sungguh luar biasa. Orang ini acuh, kemungkinan beberapa orang akan memberi cap seperti itu. Lagaknya sok dan sombong, ketidaksukaan manusia kepada sikapnya akan memberi pikiran seperti itu. Semakin parah, bahkan ada yang menyebutnya tidak berguna, sia-sia, tidak diperlukan, dan umpatan lainnya.
“Heh, bukankah dia adik orang itu?” kata seseorang, dia berbisik namun cukup keras untuk didengar.
“Hah? Benarkah?”
“Dia mirip”
“Ya, mungkin,” mereka bergumam lagi.
“Yap, yap. Cukup. Kita lanjutkan perkenalannya nanti,” Pak Guru menghentikan percakapan mereka.
Pikiran Dan hanya simpel dan enteng sebenarnya, Apa yang harus aku lakukan jika seperti ini? Pertanyaan tersebut selalu melayang di kepalanya. Memutari setiap sudut otaknya, hipotalamus? Ah, bahkan untuk menghafalkan nama-nama aneh seperti itu dianggap Dan sebagai ‘kesia-siaan’ yang sebenarnya.
Aku? Berfikir? Beradaptasi? Sama atau berbeda? Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian memecahkan masalahnya setiap hari. Munculah jawaban yang selalu dipakainya menghadapi tatapan orang-orang, yaitu tetap tenang. Jawaban ini mungkin terlalu diandalkannya hingga mengubah raut wajahnya tanpa ekspresi. Kemudian malah memunculkan masalah baru yang tidak terpikirkan. Semua orang menjauhinya, Dan menjadi sosok individual di eranya.
Huh? Siapa itu? Sudut pandang Dan menangkap sekejap pemandangan. Pemandangan seorang gadis diluar kelas, tepat dibawah pohon rindang. Hmmm? Siapa?
.
_– Several Fates –_
.
Rumahnya tidak besar dan hanya terdiri dari tiga lantai. Basement, lantai utama, dan loteng tempat kamarnya berada. Dan berjalan langsung menuju kamarnya. Memanjat tangga kecil lalu sampailah ia di istana pribadinya.
Kamarnya bisa dibilang bersih dan rapi daripada kamar-kamar remaja seumurannya. Barang-barangnya sedikit, tidak ada barang khusus untuk pekerjaan atau eksperimen, inilah sebabnya kamarnya terlihat ‘bersih dan rapi’.
“Hmm, kurasa aku perlu menata ulang kamar ini,” Dan bergumam, menjadi sok perspektif.
Dia mengarahkan kedua tangannya lurus ke depan lalu menggunakan telunjuk dan jempolnya menjadi kotak bidang pandang. Matanya menyipit sebelah, memungkinkan dirinya untuk memfokuskan diri. Puas dengan konsep yang ada dalam pikirannya, Dan mulai menata ulang kamarnya.
“Baiklah, selesai,” ucapnya setelah 30 detik.
Proses pemidahan kasur telah selesai. Kamarnya serasa baru dan lebih longgar dari sebelumnya. Selayaknya orang yang habis bekerja keras, dia merentangkan tangannya ke atas. Menarik otot-ototnya untuk melemaskannya. Rasa lelah pun hilang dalam sekejap. Ia menjadi sosok Dan yang seperti biasanya, tetap dalam mode tanpa ekspresi.
Sejenak ia memeriksa kembali setiap bagian kamarnya. Satu kasur tanpa keranjang, satu almari pakaian, satu meja dengan penayang disana. Dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak ada yang kurang ataupun lebih.
Saat berbalik untuk menuju pintu, pandangan Dan menangkap bayang-bayang perempuan di tempat mula-mula kasurnya berada. “Hantu ya?” reponnya datar. Akhirnya ia membalikkan badannya lagi untuk memastikan. Bayang-bayang itu masih ada di sana.
__ADS_1
“Oh, bukan.” Itu adalah sebuah hologram yang terpancar dari sebuah papan tipis di lantai.
Dan mendekatinya lalu duduk disebelahnya sambil mengamati. Ia tidak merasa mengenal bayangan yang ditampilkan. Anak perempuan yang digambarkan hanya diam. Dan mengulurkan tangannya, menyentuhnya, memastikan bahwa itu adalah hologram.
“Ini bukan hologram!” Dan tersentak dan menarik tangannya.
Rasa penasaran dan curiga melintas dibenaknya,
Mungkinkah ini peninggalan Kakak? Eksperimennya saat masih di sini kalau tidak salah berhubungan dengan hal semacam ini? Beberapa detik selanjutnya digunakan Dan untuk mengamati papan pipih seukuran buku tulis yang memancarkan bayangan itu.
“Jangan-jangan anak ini pacarnya Kakak? Dia lolicon?” Dan kembali menatap bayangan itu. “Mana tombol on/off-nya?” lanjutnya mengamati lalu mencoba untuk menyentuh papan itu.
Saat disentuhnya, bayangan yang ditampilkan tadi menghilang tanpa suara. “Heh? Rusak?” Dan terkejut.
Dia menggenggam papan itu lalu mencoba untuk menggoyang-goyangkannya. Berharap bayangan tadi muncul kembali. Sialnya, harapan itu tidak terwujud.
Dan beranggapan kemungkinan sumber daya papan tersebut habis. Ia tidak tahu harus mengisi dengan cara apa. Tidak ada lubang untuk charger ataupun panel surya pada papan tersebut. Aneh, dari ukurannya yang kecil, tidak mungkin juga jika papan ini butuh reaktan nuklir.
Merasa tidak mendapat ide, Dan memutuskan untuk menangguhkan hal ini. Ia meletakkan papan itu di meja lalu pergi meninggalkan loteng. Perutnya telah memberi kode keras untuknya. Seperti biasanya, untuk makan malam ia akan mencari di luar.
Lampu indikator merah dari papan yang Dan letakkan berkedap-kedip. Benda ini masih hidup dan Dan tidak menyadari hal ini. Semakin lama frekuensi kedipannya semakin cepat, layaknya handphone jaman 2000-an.
Getaran itu membuatnya terjatuh ke lantai loteng. Tiada akhir, tidak berhenti, malah semakin menjadi-jadi, papan lalu melayang di udara sekitar 10 cm dari lantai. Berotasi hingga membuatnya berdesing lalu muncul cahaya dari permukaan atas.
Papan tersebut bersinar. Cahayanya putih dan perlahan semakin besar intensitasnya. Hal ini membuat seluruh ruangan menjadi tampak kaku dan kosong. Dalam sekejap cahaya itu hilang dan tanpa memakan waktu yang lama papan itu jatuh tertarik oleh gravitasi bumi. Posisi papan telah stabil kemudian bersamaan dengan bunyi do rendah, munculah bola hitam tepat di atas papan tadi.
_– Several Fates –_
.
.
.
.
.
Hallo welkam! Jangan lupa tambahkan cerita ini ke favorite list kalian ya biar ngga ketinggalan sama alur barunya. Dan klik "like" buat support kami. Eh, kok kami? Iya dong. Cerita ini murni dari ide Bapak Alien dan Nuna Gendhis sebagai editornya😍 Yuk kepoin akun Gendhis juga dengn nick: @nunagndhs
Makasih semuanya✨
__ADS_1