Several Fates

Several Fates
Alien


__ADS_3

Sesaat setelah mengemasi barang-barangnya, Ava menuju tenda Eldo yang berada di sisi utara penjagaan. Tidak terlalu jauh, hanya beberapa meter.


Ava berjalan dengan sigap. Sepatu yang ia kenakan mengepulkan debu saat menyentuh tanah yang telah mengering. Aku benci perjalanan, batin Ava menggerutu.


Saat melewati semak-semak tepat di belakang tenda, Ava memperlambat langkahnya. Dia menata pikirannya.


Bagaimana aku harus menghadapinya setelah kejadian kikuk tadi? itulah hal yang pertama kali ia khawatirkan saat ini. Setelahnya baru masalah tentang perjalanan memburu orang yang dia sendiri tidak tahu siapa dan dimana.


Lalu Ava memandang ke arah tenda milik Eldo. Dengan langkah mantap yang diikuti helaan napas, dia menuju ke sana. Rumput kering yang diinjaknya menimbulkan bunyi. Sampah-sampah sisa makanan mulai terlihat.


Ava menelan ludah. Beberapa langkah kemudian Eldo terlihat di samping tenda. Dia tidak sadar jika Ava datang. Punggungnya membelakangi Ava, dia sedang duduk dan mengerjakan sesuatu.


“Apa yang kau buat?” tanya Ava sambil berjalan menghampiri.


Eldo memutar wajahnya, menengok ke arah Ava. Senyumnya merekah. Dengan bangga dia mengatakan, “Seperti punyamu bukan?” Itu adalah sebuah ketapel, tetapi belum sepenuhnya jadi.


Glek. Ava teringat dengan ketapel buatan ayahnya yang sudah lama tidak digunakannya. “Dari kayu apa kau membuatnya?”


“Emm, entahlah. Aku hanya menemukannya di sebelah sana,” sambil menunjuk semak-semak di belakangnya. Di dekatnya ada pohon yang cukup besar.


“Oh, itu rokih,” Ava mengenali pohon itu. Lalu ia mendekati Eldo dan duduk di samping kanannya.


Ava memperhatikan Eldo yang sedang menyelesaikan ketapelnya. “Kau tahu, rokih bukan pohon yang cocok untuk membuat ketapel. Kayunya lebih lentur dan itu bagus untuk dibuat busur?” lanjutnya setelah beberapa jeda.


“Hehe.. kau benar,” Eldo menggaruk-garuk kepala seperti biasanya. “Oh, bukankah kau akan pergi sekarang? Jangan lupa beri kabar kalau kau menemukannya ya!”


“Yayaya..” Ava mengangguk pelan. Sepertinya Eldo tidak terlalu peduli dengan kejadian tadi. “Kalau begitu aku pergi sekarang.”


“Hemph.. lebih cepat, lebih baik. Hati-hati dijalan,” itulah kata Eldo sebagai perpisahan.


“Oh iya, kau sudah mengirim kabar ke markas bukan?” tanya Ava setelah beberapa langkah.


“Ya, nanti akan ku sampaikan,” Eldo menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.


Ava melangkah menjauh, menuju tanah lepas yang tak berujung. Ia menengok ke belakang sekali-kali. Kali ini dia benar-benar sendiri. Akankah dia baik-baik saja. Mungkin bukan itu yang dia khawatirkan. Apakah Eldo akan baik-baik saja jika ia pergi. Itu baru masalah.


Namun bukankah selama ini Ava telah meremehkan Eldo. Sebelum mendapat misi ini bersama Ava, Eldo selalu sendiri. Dia juga terlihat bodoh saat berkomunikasi dengan orang lain.


Semua itu mungkin karena kemampuan membaca pikiran yang dimilikinya. Dia tidak mau orang tahu kalau dia bisa membaca pikiran. Orang-orang mungkin akan menganggapnya aneh dan berbahaya.


Ava sebenarnya sangat ingin menanyakan hal tersebut. Tapi bukan sekarang, mungkin dipertemuan yang akan datang. Ia penasaran, tapi ia menahan perasaan itu.


.


_– Several Fates –_


.

__ADS_1


“Akhihnya sampai juga...” Ava sampai di perkemahannya. Dia sangat lega.


Di belakang batu besar dan semak-semak kering di depan sana adalah tempat perkemahan milik Ava berada. Sangat tersembunyi namun dapat dengan mudah ditemukan oleh Ava sendiri. Sedikit lagi.


Masker yang ia gunakan sekarang lebih bersih. Noda-noda kecoklatan sudah tidak ada, hanya ada beberapa bintik kehitaman yang masih tersisa.


Xizu memang memberi bekas yang sulit dihilangkan. Bahkan setelah beberapa kali dikucek. Itulah sebabnya ia sangat kecewa karena lupa membawa cairan pembersih.


Hujan yang terjadi secara tiba-tiba tadi memang memberi berkah yang luar biasa. Namun mengapa di tengah padang pasir dan cuaca panas seperti itu bisa ada hujan. Itu hal yang janggal.


Namun semua itu dapat dikaitkan dengan kemunculan sosok hitam. Mungkin dialah yang membuat hujan tersebut. Apapun itu, Ava merasa sangat terbantu. Sekarang ia bisa minum sepuasnya. Bahkan dia tadi sempat mandi –dengan sembunyi-sembunyi tentunya.


Ava berjalan dengan perasaan bahagia dicampur cemas. Berharap sosok tadi tidak memutuskan membututinya dan ingin memenggal kepalanya.


Sampai di depan pintu tenda, angin mulai mereda. Ava segera menarik resleting tenda lalu masuk kedalamnya. Setidaknya ia aman dari terpaan debu sekarang.


Sepatu ia lepas, dan ia bawa bersama ransel menuju pojokan tenda. Ia mengabil sebotol air dari dalam ransel tersebut, membawanya menuju tengah tenda. Meneguknya beberapa kali, lalu meletakkanya di samping tiang.


Surga.. ah, tenda! Ia melepaskan jubah kusamnya dan melemparkannya ke atas ransel. Lalu ia merebahkan diri. Satu kancing teratas pada bajunya ia lepaskan. Keringat masih membasahi kulitnya.


“Mungkin sosok tadi adalah yang kucari,” Ava bergumam. “Dia jelas-jelas bukan dari ras Angel, dia hanya mirip. Tunggu sebentar...” dengan segera ia mengambil buku yang ada di dalam ransel.


“Dia tadi punya empat sayap, dua seperti burung dan dua lagi seperti kelelawar,” ucapnya sambil mencorat-coret buku, dia sedang menggambar sosok tadi. “Tidak mungkin,” Ava terhenti sebentar, tangannya gemetaran memegang pena, “dia seorang Alien!”


Ava tersentak takjub. Mulutnya melonggo, matanya terbelalak. Perlahan wajah yang terlihat lusuh tadi berubah menjadi riang seperti anak-anak yang sedang diberi mainan baru.


Itulah sebabnya kebanyakan orang hanya menganggapnya sebagai dongeng yang dibuat-buat. Ras bersayap empat, eh, itu hanyalah fantasi,... fantastis. Ia bisa saja menjadi penyumbang cerita sejarah yang dapat merubah pandangan orang-orang.


“Mungkin aku harus mengabari markas.. Aku harus!”


.


_– Several Fates –_


.


Udara dalam tenda mendingin. Ava mengambil kembali jubahnya lalu memakainya. Cahaya di luar sana meredup, menandakan matahari-kedua sudah mencapai waktunya beristirahat.


Perlahan Ava membuka tenda dan keluar untuk melihat sekitar. Awan mulai melingkupi beberapa bagian langit. Mereka tersebar.


Waktunya untuk pergi, pikir Ava. Ia memutuskan untuk kembali menuju pos penjagaan. Hanya disanalah alat untuk berkomunikasi dengan markas ada. Ia mulai mengemasi barang-barangnya. Merobohkan tendanya dan mengepaknya. Ia siap untuk pergi, menuju ke selatan.


Ava tidak sabar untuk menceritakan semua pengalamannya selama sebulan terkahir ini kepada Eldo. Ava berharap Eldo masih bertahan disana. Kira-kira kesibukan apa yang ia kerjakan?


Malam mulai larut dan bulan-bulan sudah terpasang di langit secara lengkap. Ava berangkat dalam kensunyian. Masker hanya ia gantungkan ke leher. Pada malam hari seperti ini ia tidak perlu cemas tentang debu dan xizu.


Beberapa kali Ava menggosokkan kedua telapak tangannya. Sedikit kehangatan terasa saat ia melakukan itu. Tak terasa hampir dua jam ia berjalan dan rasa lelah hinggap di badannya.

__ADS_1


Aku butuh istirahat. Ia mencoba mencari sesuatu untuk dikunjungi; pohon, semak, atau apalah.


Masih dalam keadaan berjalan, Ava melihat di depan sana ada sebuah tempat. Rasanya tempat itu cocok untuknya. Ia bergegas kesana. Mengambil langkah yang cepat dan mantap.


“Huih.. sampai juga akhirnya,” dengan segera Ava duduk dan meluruskan kakinya. Tak lupa ia menaruh ranselnya. Rasa kelegaan timbul di bahunya. Hari ini adalah hari keberuntunganku! Semoga saja.


“Sssstttt!” tiba-tiba terdengar sesuatu dari arah belakang, suara desisan yang kecil.


Dengan sigap, Ava berdiri dan memegang gagang pedangnya. Ia waspada. Mungkinkah itu Alien yang telah ditemuinya? Desisan itu terdengar lagi, kali ini beberapa kali.


Ava mulai penasaran. Dengan langkah hati-hati ia mendekati sumber suara itu. Perlahahan tapi pasti sembari memasang pendengarannya baik-baik. Ava menelan ludah, ia sedikit gugup.


Mungkin itu hanya hewan biasa, tetapi ia tidak boleh lengah. Di alam liar seperti ini apapun bisa terjadi. Pemangsa dapat dimangsa, tergantung siapa yang lebih kuat dan siap.


Desakan kakinya ke tanah menimbulkan bunyi yang berisik. Membuat Ava semakin gugup. Belum ada keringat yang keluar dari tubuh Ava, ia sadar. Tapi dimana?


Selang beberapa detik, dan tak ada bunyi sedikitpun selain tiupan angin yang ringan. Ini mencurigakan, pikir Ava.


Aku telah dijebak! Belum selesai ia mengutak-atik pikirannya dengan rasa tegang, tiba-tiba suara menggeram terdengar dari sisi kanannya. Sangat keras hingga membuat Ava terkaget.


Dengan sekejap Ava memalingkan badannya, siap untuk menerima serangan dadakan tersebut. Suara mendesing terdengar seraya ia mencabut pedang yang selalu ada dipinggulnya.


Ava melihat makhluk itu, bertubuh besar dan kekar. Makhluk itu meloncat dengan beringas akan menerkam Ava. Empat cakar besar yang tentu saja bukan sekedar hiasan tertanam kuat pada masing-masing kaki makhluk tersebut.


Ava mengelak walaupun ia rasa itu sedikit terlambat. Hanya selisih satu meter saja, dan Ava berhasil menghindari terkaman serigala pasir itu.


Ia mengela napas pendeknya, bersyukur barangkali bukan pada serangan pertama ia tewas. Tangan kirinya terasa perih, tepat di atas sikunya yang tak terlindungi. Beberapa tetes darah menetes ke tanah.


Cih! Ava meringis, mencoba menahan rasa sakit. Tidak ada waktu untuk mengobatinya sekarang, serangan susulan akan segera datang. Dan sebelum itu terjadi, ia harus melakukan sesuatu.


Berhadapan langsung satu lawan satu? Rasanya ingin bunuh diri saja. Ini bukan tipe pertarungan yang dapat ia menangkan.


Ava melihat sekelilingnya, mencoba mencari celah meski itu sebesar debu sekalipun. Hanya ada dua jalan keluar dari tempat itu. Satu di kanan tempat serigala pasir itu muncul dan satu di kiri. Tebing kusam membentengi tempat itu, mengelilingi akan tetapi tidak sepenuhnya mengepung.


_– Several Fates –_


.


.


.


.


.


Support kami dengan klik "like" dan jangan lupa komen pendapat kalian tentang cerita kali ini. Nuna sih ngga suka pisah gitu. Sad😭

__ADS_1


__ADS_2