Several Fates

Several Fates
Strategi


__ADS_3

Serigala pasir itu melenggak-lenggok mengitari Ava yang sedang membuat strategi. Gigi-gigi mencuat bagaikan gergaji yang siap mengorok apapun. Lendir yang terlihat sedikit lengket beberapa kali menetes dari mulutnya.


Mungkin serigala pasir itu masih muda, masa-masa yang tepat untuk menunjukkan jati dirinya. Bulunya tipis dan kulit yang berwarna kuning keabu-abuan terlihat jelas sangat cocok dengan warna pasir di tempat itu. Inilah bukti adaptasi diri yang sempurna.


Sudah ku tetapkan! Ava melihat beberapa batu yang tergeletak beberapa meter di belakangnya. Kini ia menantikan serigala pasir itu terlena. Hanya sekali saja, dan ia berpeluang besar memenangkan pertarungan ini.


Serigala pasir itu mengibas-ibaskan ekornya. Telinganya teracung memerhatikan Ava, dan matanya terlihat sedikit aneh.


Ava berteriak sekencang-kencangnya sambil merobek lengan bajunya yang berlumuran darah. Ia sedang memulai bagiannya. Suara teriakannya terdengar memekakkan telinga.


Serigala yang sedari tadi mengancamnya terkejut. Konsentrasinya terpecah. Dengan segera Ava mengambil kesempatan kecil ini.


Hanya beberapa milidetik saja, dan ia berlari menuju kumpulan batu di belakangnya tadi.


Ia mengambil beberapa batu lalu berbalik melihat serigala pasir tadi. Serigala tersebut berlari menujunya, kecepatannya luar biasa. Ava sedikit bergidik.


Ava mengolesi batu-batu tadi dengan sedikit darahnya. Hanya sekejap, lalu ia berteriak lagi sambil mengibaskan lengan baju yang ia robek dan mencipratkan darahnya sendiri ke udara.


Serigala tadi terlihat sedikit kebingungan. Melihat hal tersebut, Ava melemparkan batu-batunya secara acak. Arah yang membuat serigala pasir tadi kebingungan.


Ia menyisakan satu batu untuk dibalut dengan sobekan bajunya. Dengan sekuat tenaga ia melemparkan batu terakhir ke arah belakang serigala. Tipuannya berhasil, serigala tersebut terkecoh dan berlari mengejar batu yang telah ia balut tadi.


Ava bergegas menuju tempat dimana ia meletakkan ranselnya. Ia tidak ingin sarigala tadi menyusul dirinya. Ia berari melarikan diri, ia menang.


Ava berjalan sambil memegangi lengannya yang terluka. Fiuhhhhh!. Kini rasa sakitnya sudah sedikit hilang. Padahal baru saja ia mengoleskan obat ke luka tersebut, tapi sepertinnya ia sudah dapat berjalan lagi. Obatnya bekerja dengan baik. Tak salah ia membelinya sewaktu ia berada di kota.


Dia merasa sangat bersyukur, kali ini dia beruntung. Serigala pasir tadi benar-benar buta, matanya yang terlihat aneh dan telinganya yang selalu waspada memberi kepastian akan hal tersebut.


Serigala pasir sebenarnnya memiliki kelebihan dalam penglihatan. Indra penciumannya bisa dibilang tidak begitu baik, kecuali jika untuk mencium bau darah. Ava sadar akan hal itu. Keputusannya untuk memanfaatkan indra penciuman sarigala pasir tersebut tidak salah.


Beberapa menit berlalu, kini Ava telah sampai daerah semak-semak. Aku harap tidak ada yang akan menerkamku lagi.


Ava melihat beberapa tanaman yang ia kenal. Ia memang bukan seorang alchemies, tetapi ia perlu beberapa untuk membuat obat dan racun.

__ADS_1


Ava mengambil beberapa helai daun koyun yang beracun. Sudah lama ia mencari daun ini. Persediaannya sudah habis beberapa bulan lalu. Yah, semua itu gara-gara portal aneh yang harus dijaganya –dengan Eldo.


Kurasa ini sudah cukup, ia menutup kantong tempat ia meletakkan semua daun koyun yang telah ia petik. Getah dari daun ini biasa ia gunakan untuk melumuri pedangnya.


Tetapi racun dari koyun ini hanya bekerja pada beberapa makhluk buas saja, dan lebih disayangkan lagi juga pada rasnya sendiri. Jadi jika Ava tidak berhati-hati mengayunkan pedang, nyawanya dipertaruhkan.


Sebenarnya masih banyak alternatif racun yang biasa digunakan untuk melumuri pedang atau senjata lainnya. Hanya saja racun-racun lain cenderung membutuhkan waktu atau katalis untuk menunjukkan efeknya.


Sementara Ava berjalan, sesuatu yang cepat dan tak diketahui membututinya. Makhluk itu mengawasinya dalam jarak yang agak jauh. Matanya tidak memantulkan cahaya seperti pada makhluk-makhluk buas.


Dia bertengger di atas sebuah pohon yang tidak terlalu besar. Seharusnya ranting itu patah karena beban tubuh yang diberikannya. Lima detik dia ada di sana, lalu melompat ke bawah. Sangat sempurna, tidak ada sedikit pun suara yang ditimbulkannya.


Masker yang dikenakannya memiliki tali yang panjang dan berayun ke arah kiri mengikuti angin. Dia jongkok dan kepalanya menunduk. Dengan segera dia melompat dan berlari ke arah batu sekitar sepuluh meter di depannya. Bersembunyi dari penglihatan Ava yang sedang memalingkan wajahnya ke kiri, ke arahnya.


Ava merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia tidak menyadari kehadiran makhluk itu. Langkahnya tidak diperlambat ataupun dipercepat. Pandangannya dia luruskan ke depan, jalan yang dilaluinya seakan tidak berujung.


Pos penjagaan masih jauh dan butuh sekitar tiga minggu perjalanan –jika hanya dengan jalan kaki. Untungnya ia akan menemui perkampungan jika melewati jalan ini. Sehingga ia dapat beristirahat dengan tenang, walaupun hanya sebentar.


.


.


Panas.


Panas.


Panas.


Sepertinya pepohonan tidak berkutik menahan panas. Huh.. sia-sia saja aku membangunnya disini, eluhnya.


Ia mengambil ransel lalu membukanya. Dari dalamnya ia mengambil beberapa makanan yang masih tersisa. Ia mengembalikan makanan yang dapat langsung dimakan ke dalam ransel.


“Setidaknya aku harus menghemat makananku, ini sudah cukup,” ucapnya sambil berjalan keluar tenda.

__ADS_1


Makanan yang ia bawa adalah makanan yang perlu dipanaskan terlebih dulu, dan itu hanya setengah porsi dari yang seharusnya.


Ia mengambil panci yang sudah ia bawa dahulu keluar tenda tadi. Dengan cuaca terik seperti ini setidaknya ia tidak harus bersusah payah menggunakan kayu bakar. Yang ia perlukan hanyalah tempat yang terpapar matahari langsung, dan itu tidak jauh dari tendanya.


Semua peralatan sudah tersusun sempurna. Daging setengah matang yang akan ia makan sedang dalam proses pembumbuan. Untungnya hari ini angin sedang bersahabat, tidak terlalu kencang dan agak lembab.


Setelah dirasa sudah cukup enak, daging yang telah dibumbui tadi diletakkan di dalam panci. Setelahnya, ditutup dengan tutup transparan yang memang dibuat seperti itu. Tutup tersebut dapat measukkan energi panas matahari ke dalam panci sekaligus mengurungnya disana. Jika tempat ini bukanlah gurun yang selalu menerbangkan debu, sebenarnya tutup ini tidak perlu digunakan.


Panci yang berbentuk melengkung-cekung dan mengkilap sangat efektif mengumpulkan panas ke tengah-tengah panci. Masakan apapun yang dimasukkan dalam panci ini pasti akan cepat panas dan siap dihidangkan.


Ava meletakkan masakannya di tempat panas tersebut lalu meninggalkannya. Ia tentu saja tidak ingin terpanggang matahari juga.


Beberapa meter dari tempat tersebut persis di sebelah tendanya, sebuah bayang-bayang pohon menyelimuti pasir. Ava menggelar sebuah kain dan duduk disana. Tak lama kemudia ia menggeletakkan badan lalu memejamkan mata.


Sempurna, perasaan Ava sangat lega. Sudah lama sekali semenjak terakhir kali ia mampu menikmati hidupnya sedirian. Tanpa apapun yang perlu mengganggunya, tidak kali ini.


Beberapa saat berlalu dan semilir angin yang datang silih berganti membuat Ava mengantuk. Kemudian mengantarnya pada tidur nyenyak.


Sekitar lima puluh meter dari tempat Ava terbaring lelap, sosok yang selama ini membumtuti Ava melakukan observasi. Dari sorot pandangnya terlihat dia sedang merasa senang. Racun yang disebarnya berhasil. Jika tidak karena masker yang menutupi mulut dan hidungnya, pasti akan terlihat senyumannya.


Dengan perlahan sosok itu keluar dari semak-semak. Langkah kakinya kali ini sangat tenang dan berisik. Dia menuju tenda milik Ava. Hanya beberapa langkah saja yang perlu ia tempuh.


_– ***Several Fates –_


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ikutin terus petualangan Ava yaaa. Jangan lupa tekan "like" buat support kami selalu. Nuna mau lanjut rebahan😂 Oh kalo kalian nanya si Alien, dia sok menyibukkan diri sih. Jadi jarang nongol di sini. Kapan-kapan Nuna minta dia buka akun ini deh wkwk. See you✨


__ADS_2