
“Ada yang tidak beres!” ucap sosok itu lirih hanya untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba dari atas sesuatu yang besar melesat turun, tepat menuju panci yang tadi ditaruh Ava. Begitu cepatnya lalu menghantam pasir dengan bebasnya.
“Bumm!” pasir berhamburan dan menerpa Ava yang sedang terlelap. Ava tetap terdiam, efek dari racun tidur yang disebar oleh sosok misterius tadi masih bekerja sempurna.
Sosok misterius tadi menghindar dengan lincah. Menyiapkan kedua cakramnya lalu mendekati tempat terjadinya tumbukan. Berlari dengan cepat dan bersiap melancarkan serangan.
Debu masih beterbangan mengganggu pengelihatan, namun itu bukan masalah bagi sosok misterius. Sesuatu yang terjatuh dan menimbulkan kepulan debu adalah masalah yang sesungguhnya. Dia yakin betul tadi itu bukanlah benda. Dia yakin itu adalah makhluk!
Tepat lima meter dari si sosok misterius, seseorang yang kelihatan kesal keluar dari tempat dentuman. Dia menggerutu. Dia hanya seseorang namun sepertinya sedang berbincang-bincang saling menyalahkan.
“Sudah ku bilang aku tidak bisa mengendalikan.” Suara gadis terdengar dari makhluk yang terjatuh. “Sudah hilangkan saja sayap ini!”
Lalu dengan segera keempat sayap yang dimilikinya lenyap, meninggalkan lingkaran berpendar keperakan yang masih melayang dibalik punggungnya.
“Begitu dong! Oh, siapa disana? Jadi ini target ketiga kita? Aku sudah tidak sabar menghabisinya”. Direntangkannya tangan kirinya, lalu munculah sebuah sabit besar dengan warna dasar merah dan biru gelap.
“Tidak mungkin! Dia masih hidup?” Si sosok misterius bergumam, dia terlihat waspada.
“Dasar kau Angel-Ausare!” dia berteriak sambil melesatkan cakramnya. Cakram itu terbang bagaikan angin, tanpa suara namun sekejap dan mematikan.
“Menarik!” Ausare mengayunkan sabitnya, bukannya untuk menangkis cakram yang mengincarnya namun malah dia hilangkan sabit itu. Dia melompat, berlari, dan melompat lagi kesana-kemari menghindari serangan dari mangsanya. Tak henti-hentinya Ausare menghindari kedua cakram itu.
Cakram memang dibuat dengan sedikit sihir. Setelah dilontarkan, cakram akan kembali pada pemiliknya, seperti bumerang. Saat diantisipasi dari depan, cakram lain yang telah dilontarkan lebih dulu menanti untuk merobek daging dari belakang.
Beberapa menit berlangsung hanya dengan sekejap. Master Cakram –sosok misterius– terengah-engah, keringatnya tak dapat dibendung lagi. Dia mulai curiga kalau sebenarnya dia hanya di gunakan sebagai mainan oleh Ausare.
Ausare berdiri dengan tegak, menampakkan bahwa tubuhnya tidak terlalu besar ataupun kecil. Jubah hijau kebiruannya berayun dan menari mengikuti melodi angin siang hari. Wajahnya tidak terlihat karena selalu tertutup oleh bayang-bayang dari tudungnya dan sihir.
‘Ausare’ adalah tugasnya yaitu sebagai ‘pemenggal takdir’ atau ‘pencabut nyawa’ atau ‘pengakhir hidup’. Ausare mengangkat wajahnya, dia sadar betul dengan apa yang sedang dihadapinya.
“Jika kau ingin membinasakanku, kau menyalahi takdirmu sendiri!” kata-kata Ausare terdengar menggema.
“Kau bukan takdir! Mati kau!” Master Cakram menangkap kedua cakramnya.
__ADS_1
Master Cakram memasang kuda-kuda dengan sempurna Tangan kirinya menyiku di depan sedangkan tangan kanannya lurus ke belakang. Lalu dia memutar tubuhnya satu putaran penuh sambil melangkah ke depan. Saat itu juga dia melepaskan kedua cakramnya.
Cakram itu berotasi dengan cepat, terbang melenggak-lenggok ke arah Ausare. Tepat lima meter melayang, kedua cakram itu menyebar dan mengeluarkan ilusinya. Sekitar lima cakram lagi muncul dan terus menggandakan diri. Master Cakram menyembunyikan senyum dibalik maskernya.
Melihat teknik itu, Ausare hanya mengatakan dengan lirih, “Mari kita coba,” kali ini suaranya terdengar lebih dalam.
Ausare telah mengetahui pola gerakan lawannya dan juga senjatanya. Tanpa suara, tubuh Ausare beserta jubahnya menghilang. Cakram yang mengincarnya melesat tanpa halangan.
Dengan sigap dan tenang, Ausare muncul di depan Master Cakram, dan membuatnya tersentak. Sabit muncul sepersekian detik dari tangan Ausare dan diacungkan tepat di muka Master Cakram. Dia mengatakan, “Kena kau, Assassin!”
Master Cakram terbelalak dan tak dapat mengatakan apa-apa. Kedua cakramnya yang seharusnya kembali kepadanya ditangkap Ausare.
“Bagaima...” kalimatnya terputus.
Ujung sabit Ausare menempel ke dahi Master Cakram. “Tuk..” lingkaran sihir sebesar kepalan tangan muncul di antaranya. Nyawanya sudah terserap dalam sabit itu. Dia mati.
“Huh, akhirnya selesai juga. Berapa lama yang kita butuhkan tadi?” suara yang terdengar mengandung kelegaan diucapkan Ausare.
“Lumayan bukan, bagiku cukup cepat,” dia seperti sedang berbincang dengan seseorang. “Haha.. aku masih pemula, jadi tolong dibantu ya?” ucapnya sambil berjalan ke arah Ava yang masih sedari tadi terlelap.
“Ok, ok.. kita pergi. Tapi aku tidak ingin terbang, deal?” ucapnya setelah melihat keadaan Ava yang masih hanyut dalam tidurnya. Dia melangkah ke belakang beberapa kali sambil terus melihat ke arah Ava. Melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal pada Ava, “Jaga dirimu baik-baik,” sambil tersenyum.
Jubah hitamnya sedikit berkibar saat dia membalikkan badannya. Dengan merendahkan badannya Ausare mengambil ancang-ancang dan menghilang, seperti tadi. Lalu dengan cepat dia muncul beberapa meter ke depan, melanyang di udara menginjak angin. Begitu seterusnya.
.
_– Several Fates –_
.
Satu jam berlalu. Dua bahkan tiga jam berlalu tetapi Ava belum tersadar juga. Matahari mulai enggan menemaninya, perlahan menyelinap di ujung cakrawala. Pendar kemerahan menggantikan dominasi warna biru di langit. Pusaran angin terkadang muncul mengangkat pasir dan debu. Mayat Master Cakram masih tergeletak disana, kesepian, teracuhkan.
Ava membalikkan tubuhnya, menempatkan tangannya tertindih badannya. Kedua kakinya melilit satu sama lain. Sudah pasti ia mulai kedinginan. Berkali-kali ia merubah posisi tidurnya. Kadang tengkurap, menyamping, namun jarang terlentang.
Beberapa saat Ava mengerutkan dahinya. Rasanya berguling ke kanan dan ke kiri tidak menambah kenyamanan tidurnya. Ava menyerah, memang sepertinya ia harus terbangun. Dia memaksa bangkit dan duduk. Satu kedipan, lalu dua dan menguap.
__ADS_1
“Berapa lama aku tidur? Oh, sepertinya masih malam,” dia mengucapnya sambil merebahkan lagi tubuhnya.
“Heh! Sejak kapan aku tidur!” dengan segera Ava bangkit lagi, kali ini sampai ia berdiri. Ia mengamati kondisi sekitar. “Tunggu sebentar, sepertinya aku tadi kelaparan dan... tidak, panciku!”
Tidak sengaja ia melihat tempat kejadian jatuhnya bencana, tempat ia meletakkan pancinya. Ia mulai panik. Tempat itu telah porak-poranda. Suatu cekungan besar telah menggantikan pancinya.
“Panciku... panciku... panciku...” Tidak henti-hentinya ia mengucapkan kata tersebut sambil memutari tempat itu.
“Bencana macam apa ini? Oh, Vaxj (Dewa)! Apakah aku telah berbuat kesalahan sebegitu besarnya?” Ava mulai melantur, selain rasa kehilangannya, ia masih di bawah efek racun yang disebar Master Cakram.
Merasa menyerah, Ava kembali menuju tendanya. Selama berjalan ia masih menyebutkan kata-kata panci sambil menunduk. Tatapannya masih sayu, menandakan ia masih belum sadar betul.
Saat di tengah-tengah perjalanannya, dan masih dalam keadaan tertunduk, Ava melihat bahkan menyandung benda kenyal yang hitam. Ava mencermati benda itu, pandangannya meluas, dan saat semuanya terlihat utuh, Ava terkejut. Mayat!
Ava meloncat ke belakang lalu terjatuh, salah satu tangannya menutupi mulut dan matanya melotot ketakutan. Ia tidak dapat berkaka-kata lagi. Dari pakaian dan postur tubuhnya, Ava dapat memastikanbahwa mayat tersebut adalah mayat Assassin, ras pembunuh nan licik.
“Aku telah diracun!” sekarang Ava sadar betul. Tangan kanannya meremas pasir, dengan dibantu kaki ia mendorong tubuhnya menjauhi mayat itu.
Beberapa detik berlalu selama Ava terdiam. Kemudian otaknya berpikir, siapa yang membunuhnya? Ia menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, siapa tahu si pembunuh masih berkeliaran di sekitarnya. Meskipun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat bertemu dengannya, berterimakasihkah atau waspada.
Namun nihil. Ia hanya mampu menangkap pemandangan kosong saja. Tidak ada satu makhluk hidup lain selain dirinya disana.
_– ***Several Fates* –_
.
.
.
.
.
Hati-hati buat kalian semua. Lockdown di rumah. Jaga kesehatan dan tetap beribadah. Jangan lupa like nya ya. Makasih😘
__ADS_1