
Ava membenahi kantong tidurnya. Matanya masih terpejam. Di luar sana matahari-kedua telah menampakkan dirinya. Menghangatkan daratan dan segala yang ada di atasnya. Ini akan menjadi hari yang panjang.
Ya, matahari-kedua memiliki waktu beredar yang lebih lama. Namun matahari ini lebih kecil dan cahayanya pun lebih redup jika dibandingkan degan matahari-pertama.
Itulah sebabnya matahari-kedua lebih banyak disukai makhluk. Mereka akan keluar sarang untuk berburu atau sekedar bercengkrama dengan alam. Setidaknya itu di bagian lain Zenhonv, tidak untuk Padang Terkutuk.
Ava kembali membetulkan letak kantong tidurnya, menarik-narik ke atas hingga leher. Eldo menarik kantong tidur itu ke bawah. Membiarkan dada Ava tak tertutupi selain baju yang ia kenakan. Merasa kedinginan, Ava mencoba menarik lagi kantong tidurnya, namun kali ini ia tidak mampu. Eldo menahan kantong tidur tersebut.
Ava perlahan membuka matanya, ingin melihat apakah kantong tidurnya tersangkut. Samar-samar terlihat, lalu menjadi lebih jelas, dan lebih jelas lagi. Eldo ada di atasnya, wajahnya tepat berada di wajah orang Ava.
Sontak, Ava berteriak, “Ahhh... Ap..apa yang kau lakukan di tendaku? Kau..kau..” wajahnya memerah panik, kedua tangannya menempel ke dada.
“Selamat pagi!” Eldo menjawab dengan senyum lebar.
“Bodoh.. apa.. yang kau.. lakukan.. di tempat.. tidur.. perempuan?” bertubi-tubi Ava menghajar Eldo dengan pedang yang masih ada sarungnya.
“Maaf, maaf,” Eldo menangkis beberapa pukulan yang bengarah tepat ke kepalanya. “Habis kau sangat lelap. Sudah aku coba bangunkan dari luar tapi kau masih tidur. Jadi aku mas-urghh...” tepat, sebuah pukulan mengenai hidungnya.
Ava mengakhiri serangannya. Wajahnya masih merah padam, dia terengah-engah. Kadua tangannya mengepal erat dan sedikit bergetar.
Dia benar-benar kesal. Rasanya ingin dia akhiri saja kehidupan orang ini. Tapi untuk apa? pikirnya. Dengan langkah yang tegas, dia keluar dari sarangnya lalu berteriak lantang. Segala kekesalannya ia coba lampiaskan.
Matahari menyapanya dengan sayu. Bertengger di langit seakan-akan dialah rajanya. Tidak ada apapun yang menyertainya. Awan masih belum berani menampakkan diri. Ini akan menjadi hari yang panjang, pikir Ava sambil berjalan masuk ke tendanya.
Di dalam tenda Eldo masih duduk sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Ava melewatinya dan berhenti di pojokan tempat ranselnya berada. Ia mencari air yang selalu dibawanya. Dirogohnya satu demi satu kantong ransel yang ada. Ia menemukannya.
Dengan segera ia menghampiri Eldo yang masih berusaha menghentikan pendarahan di hidungnya.
“Itu salahmu,” kata Ava sambil menodongkan botol air itu kepada Eldo.
Tanpa berbicara Eldo menangkap botol air tersebut. Membukanya lalu mencoba untuk meminumnya.
“Bodoh! Itu obat luar!” dengan segera Ava menyambar botol itu. “Begini caranya,” Ava mulai mengobati hidung Eldo. Perlahan-lahan Ava memasukkan kain yang sudah diberi air dari botol tadi ke dalam lubang hidung Eldo.
__ADS_1
“Terimakasih,” kata Eldo di tengah-tengah sesi pengobatan itu. “Tadinya aku hanya ingin mengatakan kalau kemarin aku melihat seseorang keluar dari portal itu,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah portal yang sedang mereka awasi.
Ava berhenti tiba-tiba. Auranya menghitam. “Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?” jari yang tadinya digunakan untuk mengobati, berubah menjadi senjata.
“Augh..” Eldo kesakitan. “Kemarin aku ingin memberitahumu, tapi kau malah pergi.”
“Tapi kenapa sensor tidak mendeteksi,” kata Ava sedikit bingung. “Aduh.. seharusnya kau membujukku. Lalu kau lihat kemana dia pergi?” lanjutnya.
“Aku terlalu tergesa-gesa ingin mengabarimu, jadi..” kalimat Eldo terpotong.
“Sial,” Ava menepuk pahanya.
.
_– Several Fates –_
.
Dia sedang memikirkan bagaimana cara mereka mencari orang yang telah keluar dari portal itu. Di luar sana cuaca sedang bagus. Tidak terlalu panas dan tidak ada angin yang terlalu besar.
Akan tetapi portal itu belum tertutup sepenuhnya. Mungkin saja masih ada orang yang akan keluar dari portal itu. Itulah masalahnya. Mereka tidak dapat meninggalkan anomali yang ada di depan mata mereka begitu saja. Lagi pula mereka ada disini karena hal itu. Kalau begini mau tidak mau...
“Bagaimana kalau kita membagi tugas?” tanya Eldo menghentikan lamunan Ava.
“Aku juga sedang memikirkan itu, tapi siapa yang mencari dan siapa yang tinggal?” Ava sedikit terkejut dengan pemikiran Eldo yang tidak seperti biasanya. Mungkin pukulannya telah menyadarkan orang itu.
“Maksudmu?” Eldo bingung.
“Eh..” Ava lebih bingung.
“Hmm.. mungkin aku akan memasak dan kau yang membersihkan tenda. Itu karena aku telah mengganggumu. Aku rasa kau tidak mau barang-barangmu aku pegang,” Eldo mengungkapkan idenya.
Ava hanya tertunduk diam. Dia benar-benar bodoh, rasa kagumnya karena Eldo telah semakin cerdas luntur seketika. Tangannya melayang menutupi wajahnya.. Ah.. mengapa aku mendapat misi ini? Tidak, tidak, mengapa misi ini melibatkan orang seperti Eldo? Mengapa? Mengapa? Apa salahku?
__ADS_1
“Kau tidak salah,” suara Eldo terdengar dalam.
“Eh..” Ava tidak menyangka Eldo mendengar rengekannya.
“Aku memang bodoh, jadi aku bersamamu,” senyum Eldo terlihat kosong.
“Kau mendengarkannku?”
“Bahkan sekarang kau menyesal dan ingin meminta maaf pun aku tahu,” jawab Eldo.
Heh! batin Ava. Dia terkejut.
“Tentang idemu untuk berpencar, aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Tapi kalau memang harus begitu aku akan menunggu di sini. Mungkin masih ada yang akan keluar dari portal itu,” Eldo meneruskan.
Setelah itu Eldo keluar dari tenda, menatap langit beberapa saat, lalu menoleh ke tenda tempat Ava yang masih terdiam shock.
“Cuacanya baik,” ucap Eldo sambil tersenyum segar seakan-akan tidak ada hal serius yang telah terjadi. Senyum yang membuat Ava tidak dapat berbuat apa-apa. Lalu Eldo berjalan menjauh, menuju tendanya sendiri.
Senyum tadi membekas keras di dalam pikiran Ava. Senyum itulah yang akan ia nanti kelak. Ava masih tak habis pikir, bagaimana bisa Eldo membaca pikirannya. Ia kini merasa bahwa selama ini Eldo yang ia kenal bukanlah yang sesungguhnya. Penyesalan menyelimuti pikiran Ava. Ia telah salah menilai rekan kerjanya sendiri.
_– Several Fates –_
.
.
.
.
.
Part kali ini ngga ada seribu kata wkwk Bapak Alien lelah dengan rutinitasnya dan juga Nuna yang sibuk rebahan. Kira-kira habis ini Ava sama Eldo mau ngapain lagi ya? Yuk simak lanjutannya. Sebelum itu jangan lupa "like". Tengkyu😍
__ADS_1