
Sang sosok merentangkan tangan kanannya, kelima jemarinya terbuka seakan-akan sedang ingin menangkap sesuatu. Lalu dari tangannya tersebut muncul secara perlahan sebuah sabit besar dengan tombak pada ujungnya. Tanpa cahaya tanpa suara, dengan cepat tangan itu memegang gagang sabit dengan sempurna.
Hanya dengan satu tangan saja? Sabit sebesar itu? Mati aku, pikir Ava sambil mengigit bibir bawahnya. Keringat mengucur dari segala tempat yang ada di badannya. Ia gugup, pasti. Ia takut, mungkin.
Suara gemuruh terdengar dari langit tempat sosok hitam itu muncul. Ava mengedipkan matanya, mencoba menenangkan pikiran. Sang sosok mengibaskan sabitnya ke bawah.
Dia masih tetap berada pada posisi sebelumnya, melayang di atas langit. Dari belakang punggung sang sosok, muncul suatu simbol yang berputar. Besarnya mungkin mampu melenyapkan lima ekor sapi sekaligus.
Ava terkejut, ia tidak pernah melihat simbol seperti itu sebelumnya. Betuknya tidak biasa, yang ini kompleks. Terdiri dari bermacam-macam bentuk seperti lingkaran, persegi, segi enam, dan sudut-sudut. Dia bukan salah satu Angel?
“Siapa kau?!” Ava berteriak kepada sosok tersebut.
Tanpa disangka, sang sosok bergumam tanpa ada kata yang dimengerti oleh Ava. Suaranya tidak menggema seperti yang biasa ras Angel lakukan. Malahan suara yang terdengar seperti suara seorang remaja yang sedang pubertas.
Apa-apaan ini? Rasa ngeri yang sedari tadi dirasakan Ava lenyap begitu saja. Ia sekarang malah sedikit penasaran sambil menahan raut wajahnya agar tetap tampak serius.
Ia hanya anak-anak? Yang benar saja! Tapi aku harus tetap tenang, jangan meremehkan, jangan gegabah. Pegangan pada pedang yang tadi mulai mengendur mulai dieratkan. Ia tidak mau lengah sedikitpun.
Akan tetapi sosok tersebut tiba-tiba mengacungkan sabitnya ke atas. Sebuah cahaya putih muncul dari ujung tombak pada sabit. Begitu menyilaukan, Ava mengangkat tangan kirinya untuk melindungi matanya. Ia tidak dapat melihat dengan pasti, cahaya itu terlalu banyak dan terlalu putih.
Sekejap kemudian cahaya itu menghilang begitu juga dengan si sosok bersayap. Ava melebarkan pandangannya ke langit, barangkali sosok itu terbang di salah satu sisinya.
Heh? Kemana dia? Cahaya itu hanya sarana untuk melarikan diri, Ava yakin itu. Kemungkinan dia takut berhadapan secara langsung dengan Ava. Tidak mungkin dia takut.
Ava merobohkan badannya, pantatnya yang sudah lelah dibiarkan menghantam ke atas pasir. Ia sangat lega. Hehehe.. Mungkin aktingku berhasil, sok kuat.
Ia tak habis pikir bagaimana jika sosok tadi menghajarnya. Apalagi dengan sabit sebesar itu, mungkin dia akan terkapar dalam sekali serangan. Atau bisa saja sosok tadi menyerang dengan sihirnya, melemparkan bola magis, atau bahkan sampai menghujani dengan petir.
“Ahh.. Setidaknya aku selamat sekarang. Tapi, sebenarnya siapa sosok itu?” Ava merebahkan tubuhnya ke pasir.
“Sepertinya dia perempuan, dilihat dari ciri-ciri dan suaranya mungkin dia masih anak-anak?” sambil meletakkan pedangnya lalu mengalihkan tangan kanannya tersebut ke keningnya.
Langit yang sedang ia tatap mulai memerah. Sebentar lagi matahari-kedua akan terbenam. Betapa lamanya hari berlalu, namun bukan itu yang sedang ada dipikirannya.
Ia mulai kelelahan. Mungkin tidak ada salahnya untuk beristirahat sebentar. Melemaskan otot-ototnya, menenangkan pikiran juga bukan pilihan yang buruk.
Lagi pula untuk apa tergesa-gesa ke perkemahan, itu juga bukan rumah. Tidak ada rumah baginya untuk pulang selain tempat itu. Ia hanya pengembara dan apa yang bisa dia lakukan hanya mengembara. Ia hanya tahu bahwa inilah misi yang harus ia kerjakan.
Tes.
Tes.
__ADS_1
Tes.
Ava membuka matanya dengan segera. Ia merasakan sesuatu yang kecil dan basah mengenai wajahnya. Air!
Dengan segera ia menyiapkan peralatan khusus yang ada di dalam ranselnya. Alat tersebut adalah pengumpul air, ia yang mengembangkannya sendiri.
“Tak disangka aku sangat beruntung! Alam telah berpihak kepadaku!” Ava sangat senang. Dengan cekatan ia merakit peralatannya. Satu demi satu bagian digabungkannya. “Cepat.. cepat.. ayo.. cepat,” dia tergesa-gesa.
Peralatannya sangat sederhana. Hanya terbuat dari beberapa tongkat yang dapat di lipat, selembar kain, dan tempat-tempat minum. Tongkat-tongkat di kaitkan pada tepi-tepi kain yang sengaja dibuat agak longgar agar dapat menampung air hujan.
Kain yang ia gunakan memiliki lubang di bagian tengah-tengahnya. Jika sudah didirikan, lubang tersebut tepat berada di dasar cekungan kain. Sehingga air akan mengalir ke lubang tersebut dan langsung mengarah tepat pada tempat minum yang diletakkan di bawah alat.
Peralatan ini juga dapat digunakan sebagai tenda sederhna. Hanya tinggal memberi selubung pada samping-sampingnya untuk membuat dinding. Jika cuacanya panas, bagian tengah tenda diberti tongkat yang panjang sehingga langit-langit tenda menjadi lebih tinggi. Lalu ventilasi-ventilasi dibiarkan terbuka.
“Waahh... aku masih dapat hidup lebih lama...”
.
_– Several Fates –_
.
Gundukan tanah itu tidak terlalu besar. Sebenarnya itu hanyalah kumpulan tanah yang berada di tengah-tengah lembah yang dikelilingi bukit. Jika dilihat dari atas, formasi bukit-bukit tersebut akan membentuk persegi.
“Ava! Oi...” suara familiar terdengar dari balik bukit di sisi utara.
Ava masih terdiam. Berbaring di tengah-tengah lembah rasanya sangat menenangkan. Ia mengabaikan panggilan itu. Matanya tertutup.
Suara panggilan terdengar lagi. Kali ini lebih dekat. Diikuti dengan suara langkah kaki menyaruk pasir yang sedang berlari.
Ava membuka kedua matanya dengan paksaan. Mengedap-kedipkan untuk menghilangkan rasa kantuk. Cahaya matahari masuk kedalamnya, membuat pupilnya mengecil. Terlalu banyak cahaya dan itu menyilaukan.
Ava bangun dari tempatnya. Memutar punggungnya ke kanan dan ke kiri sambil menguap lepas. Rasanya sangat fantastis. Semilir angin menambah kesempurnaan yang ia rasakan.
Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah suara panggilan tadi. Ia melihat pada sekitar jarak sepuluh meter ke depan ada seseorang yang berlari. Ava melihat wajah orang itu, kelihatannya orang tersebut kelelahan. Ava menanti orang itu tanpa lambaian tangan. Ia masih berdiri pada tempatnya.
Orang tersebut datang dengan terengah-engah. Dia membungkukkan badannya dan mulai mengatur napasnya. Ava duduk tepat di depan orang itu. Memerhatikan napas orang tersebut yang tersendat-sendat. Keringat mengucur dari berbagai tempat. Pakaiannya sampai basah.
“Sudah kau dapatkan?” sambut Ava kepada orang itu.
“Begitukah caramu menyambutku?” Eldo menjawab dengan sedikit tawa. Ia masih terengah-engah. “Kau punya air?” dia bertanya sambil mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
“Bukankah aku menyuruhmu pergi untuk mencari air?”
“Oh, iya aku lupa. Pantas saja seperti ada yang terlewatkan,” jawab Eldo sambil menggaruk kepalanya dan tertawa kecil.
“Bodoh...” Ava mulai frustasi menghadapi orang ini. Beberapa hari yang lalu, Ava kahilangan kudanya karena orang ini. Belum lagi jika mau mengingat-ingat, orang ini juga yang telah membuatnya ada dalam misi bodoh tak berpenghujung ini. Lalu sekarang... ah, lengkap sudah alasan untuk membencinya.
“Eh,.. tapi aku punya..”
“Diamlah,” potong Ava dengan memelas.
“Aku ingin menata pikiranku,”
“Tapi..” suaranya terpotong lagi, Eldo hanya mampu melihat Ava pergi meninggalkannya.
“Aku tadi melihat seseorang yang keluar dari portal,” suaranya melirih sampai-sampai hanya dirinya sendiri saja yang mendengarnya. “Ah, terserah. Aku juga akan pergi ke tendaku sendiri. Wleekkk...” ucapnya mengejek.
Di tengah-tengah gundukan tanah itulah mereka berdua menghabiskan waktunya beberapa bulan terakhir. Misi mereka adalah memantau portal yang muncul secara tiba-tiba di daerah itu. Tepatnya di balik bukit sisi utara.
Mereka tidak tahu portal apakah itu sebenarnya. Yang jelas kemunculan portal itu aneh dan munkin saja berbahaya. Namun hingga saat ini tidak ada tanda-tanda yang membuktikan bahwa portal itu berfungsi. Sensor-sensor yang telah mereka pasang belum memberikan tanda-tanda berarti.
Tidak ada sesuatu pun yang muncul ataupun hilang masuk ke dalamnya. Ini hal yang aneh, portal-potal biasa hanya mampu bertahan beberapa menit saja, itu pun akan menguras habis tenaga pemakainya atau pembuatnya.
Keanehan lain dari portal ini adalah bagian dalam portal tidak dapat dilihat, warnanya gelap. Biasanya, portal akan menunjukkan ke mana tujuan dari portal tersebut dengan gambaran yang muncul pada bagian dalam portal.
Bulan-bulan mulai bermunculan. Diikuti oleh rasi bintang Vipene, Yonyik, dan Jovehokeuj. Mereka berlomba-lomba menunjukkan aksinya yang menakjubkan. Malam-pendek ini langit terasa sangat ramai akan taburan cahaya-cahaya mungil. Warna-warni telah siap memberi kejutan bagi mereka yang tidak pernah menatapnya.
Siapapun berani bertaruh, bahwa sebenarnya dunia ini indah. Sangat indah. Hingga sampai-sampai tidak ada yang menyangka telah masuk terlalu jauh dan perasaan takjub yang tadinya menggelora pun hilang.
_– Several Fates –_
.
.
.
.
.
Udah tekan like? Terimakasih😂 Nuna sepenasaran ini juga sama ceritanya wkwk padahal Nuna yang lebih dulu tau ceritanya daripada kalian :v
__ADS_1