Several Fates

Several Fates
Sihir


__ADS_3

Dan pulang, menyusuri trotoar dengan kedua kakinya. Ia tak keberatan meskipun jarak antara rumahnya dengan tempat biasa ia makan cukup jauh. Jika dipikirkan lagi, anggap saja sebagai olahraga harian.


Angin sepoi menerpanya dengan lembut, mengibarkan tiap helai rambutnya yang telah mulai memanjang. Sejuk, untuk udara musim panas di khatulistiwa.


Pulau Baru yang muncul secara tiba-tiba bersamaan dengan bencana skala kontinental, tepatnya di antara pulau Jawa dan Kalimantan kini menjadi tempat tinggalnya. Kehadiran pulau Baru sempat diperdebatkan dan bahkan hampir memunculkan perang dunia. Namun pulau misterius ini akhirnya berdiri sendiri dengan penduduk yang berasal dari seluruh dunia.


Semenjak kemunculannya, pulau Baru menimbulkan beberapa peristiwa aneh. Hal ini menarik perhatian para ilmuan dan juga paranormal. Untuk memecahkan misteri yang silih berganti, mereka bahu-membahu saling membantu. Dengan sistem pemerintahan yang baru juga, membuat mereka yang ingin mengkaji dan meneliti pulau ini lebih leluasa. Setidaknya itulah harapannya.


“Pukul 18.00 WIB, diharapkan para warga untuk masuk ke rumah,” bunyi peringatan yang selalu dibarengi dengan sirine berkumandang lagi.


“Oh, aku telat lagi,” ucap Dan sambil melihat jam hologram di atas langit. Ia berjalan terburu-buru.


Setidaknya peringatan yang setiap petang disiarkan adalah bentuk kepedulian pihak yang berwenang. Salah satu kejadian yang beberapa kali terjadi dan belum terpecahkan di pulau Baru adalah hilangnya warga secara misterius. Baik kabar maupun raga korban yang hilang belum pernah ditemukan. Sudah 28 orang hilang di pulau ini. Entah mereka ke mana ataupun bagaimana keadaannya.


Dan berjalan dengan cepat. Kakinya mulai terbiasa dengan cara berjalan ini. Beberapa puluh meter dilaluinya.


Sunyi, pulau ini terlalu sepi untuk saat ini. Sepanjang jalan yang dilalui Dan, ia tidak menemui siapapun. Belokan terakhir, harapan Dan untuk mengakhiri maraton jalan kakinya hampir tercapai. Muka tanpa ekspresinya sedikit terhiasi dengan senyum kecil, ia menunduk.


Saat itulah ia sedikit terkejut, salah satu sudut pandangannya menangkap langkah orang lain. Ia mengangkat kepalanya, hal yang barusan dilihatnya bukan khayalan. Pemandangan itu membuat Dan menolehkan kepalanya. Dengan tidak sengaja Dan memperhatikan perempuan yang baru saja berpapasan dengannya. Perempuan itu memakai jubah aneh.


Gadis itu... Dia teringat gadis yang dia lihat di luar jendela kelas tadi pagi. Dan ingin memanggil, setidaknya waktu sudah terlalu larut, mungkin akan lebih baik jika orang itu tidak berada diluar, untuk saat ini.


Tindakannya terhenti sebelum klimaksnya. Ia berpikir, kalau akan lebih buruk jika ia menyimpan perempuan itu dirumahnya. Dan melanjutkan langkahnya, mengabaikan hal yang barusan terjadi.


Dan membuka pintu depan rumah dengan kuncinya. Menutupnya kembali dan langsung menuju kamarnya. Setelah pintu kamarnya terbuka lebar, Dan melihat kamarnya secara sekasama, dan ia terkejut. Makanan yang ia bawa terjatuh ke lantai. Tanpa menghiraukannya, Dan berjalan menuju tengah kamar tempat bola hitam muncul.


“Portal,” dengung Dan terkesima.


Ia mengulurkan tangannya ke tengah portal itu. Saat menyentuhnya, sontak ia tertarik. Sebuah gaya yang sangat besar menariknya ke dalam. Oh, syit... Bahkan untuk menjerit minta tolong ia tidak sanggup. Ia telah lenyap tertelan portal, entah kemana dan kapan.


qHal terakhir yang terpikirkan oleh Dan adalah penyesalannya karena tidak memberikan ‘penginapan’ untuk gadis-itu dan penyesalannya karena belum belajar untuk ujian awal semester esok hari, 24 Agustus 2161 pukul 08.30 WIB.


Portal mulai menstabilkan diri, suara dengungan dan desingan memudar. Meski demikian portal tersebut tetap terbuka. Siapapun atau apapun yang menyentuhnya dijamin akan tersedot. Lalu portal itu hilang begitu saja.


Berselang belasan menit, portal mulai bergejolak lagi. Pusaran pada portal terlihat terbalik sekarang. Berpilin seperti spiral, motif dari portal jika diperhatikan dengan seksama. Sebuah kilatan mencuat dari dalam portal. Berwarna putih menyilaukan.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Dan terlontar keluar dari dalam portal. Ia terhempas lalu terseret di lantai kamarnya. Belum sempat membenahkan diri, lontaran kedua jatuh menimpanya.


“Arrkk..” seorang perempuan mungil menghajar tubuhnya. Dan benar-benar kalah telak.


“Dan... Dan... Dan!” suara perempuan itu membangunkan Dan. “Kau sudah bangun?” tanyanya memastikan.


Dan mengucek-kucek kedua matanya, berharap pandangannya memulih. Dilihatnya sekitar, lalu pandangannya terhenti tepat ke depan. Sesosok perempuan yang membangunkannya duduk dengan santun dan penuh harap. Loli, pikiran Dan secara reflek mendeskripsikan. Dan mengukek-ucek matanya sekali lagi, berharap bahwa kejadian ini nyata. Perempuan itu masih ada di depannya.


“Ehem, jadi siapa kamu?” Dan bertanya dengan tenang.


“Eh, kau tidak kenal aku? Emm, aku yang selama ini menempatimu dan kau yang selama ini menempatiku,” jawab perempuan itu.


“Jadi, aku akan memanggilmu Eir atau kamu mempunyai nama lain?”


“Haa.. panggil aku Eir!” gadis itu terlihat sangat senang. Senyumannya mengindikasikan perasaan itu.


“Jadi, kamu yang tergambar pada hologram itu?” tangan Dan menunjuk ke portal yang sekarang berubah menjadi hologram perempuan seperti ‘sore tadi’.


“Ya!”


Dan menghela napasnya, ia menyadari bahwa yang selama ini lolicon adalah dirinya, bukan kakaknya. Ia memandang langit-langit, menyadarkan dirinya untuk mengetahui keadaan di tempat itu.


Beranjak dari tempatnya, Dan menuju meja satu-satunya di kamar itu. Di sana terletak benda yang ia cari, jam19.15 WIB tanggal 23 Agustus 2161, itulah yang tertera. Tanpa debu ataupun kusam, ini benar-benar nyata. Mengerikan namun melegakan, Dan kembali setelah ‘sekian lama’ berpetualang dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.


Dan menengok ke belakang, pandangannya terhenti pada Eir. “Bantu aku selamatkan Ava!” ucapnya. Ajakan yang disambut hangat oleh Eir. Mereka berdua bergegas keluar rumah dan menyusuri jalan yang dilalui Ava.


_– Several Fates –_


Hawa panas menyengat, tanpa angin yang mampu menghempaskannya. Langit cerah, ranting-ranting kosong telah mengering. Entah pohon yang di sana itu mati atau tidak.


Suasana semakin hari semakin memilukan, tidak ada lagi hewan bermigrasi melewati tanah itu. Sudah lama sekali, tempat itu sunyi tak berpenghuni bahkan untuk seekor nyamuk pun. Debu mengepul, terhempas meski tidak ada angin yang menyuruhnya.


Pengembara itu (sebut saja Ava) dengan perlahan menyiapkan ketapel andalannya. Terbuat dari kayu pohon sohe yang dibelah di tengah-tengahnya. Sangat kuat karena tidak dibuat untuk mainan seperti halnya milik Eldo.


Dia memposisikan diri diantara semak-semak yang kurang-lebih berjarak 10 meter dari pohon entah-mati-atau-tidak dimana burung yang diincarnya berada. Ini adalah kebetulan yang istimewa. Sudah hampir mati ia menantikan sesuatu berpihak kepadanya.

__ADS_1


Ditariknya pelontar batu pada ketapel tersebut. Sedikit menahannya sambil membidik tepat di kepala si burung. Dia menahan napasnya sejenak menunggu waktu yang tepat.


Beberapa detik dan burung itu berhenti berkicau yang berarti... Sekarang! pikirnya dengan sangat mantap.


Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang dari arah belakang Ava. Ia tersentak dan sedikit menggeluyur. Kaki kanannya dengan spontan melangkah ke depan mencoba untuk menyeimbangkan diri. Tembakannya meleset.


Sambil menggerutu, ia menengok ke pohon tadi. Burung incarannya sudah tidak ada lagi disana. Sial.. jatah makanku selama sebulan tertunda lagi, erangnya sambil melangkah pergi untuk mengambil ransel dan pedangnya.


Pasir yang diinjaknya mengepulkan debu. Semakin ia melangkah ke depan, semakin ia tak ingin menengok kebelakang. Sudah lama sekali semenjak hujan terakhir turun membasahi tempat itu, Padang Terkutuk.


Ava tidak yakin betul kapan, namun ia benar-benar tahu kenapa tempat itu bisa seperti itu; panas, gersang, tak berharapan. Namun Ava tidak mau mengungkit-ungkit masa lalu, ia selalu mengucapkan: masa lalu itu untuk dikenang bukan untuk diingat-ingat.


Angin mulai berhembus lagi. Dengan agak malas Ava merogoh bagian dalam jubahnya, mengambil masker yang sebenarnya sudah tidak layak lagi untuk di pakai pada daerah seperti itu.


“Sudah seminggu ya.. Aku harus mencucinya,” Warna dari masker miliknya sudah kecoklatan dengan motif kehitam-hitaman akibat terlalu lama menyaring xizu, debu yang akan membunuhmu.


Kemarau tanpa jeda ini memang adalah sebuah takdir kelam bagi ras Manusia, ras tanpa keahlian khusus dan Ava adalah salah seorang darinya. Yang berarti dia juga menderita karena hal ini.


“Huih..” Ava mendesah, keringatnya mulai meluncur melewati keningnya. Masih beberapa kilometer lagi untuk mencapai perkemahan.


Sudah hampir satu setengah jam ia berjalan, namun nampaknya perkemahan belum juga terlihat. Ia sudah melihat ke kanan dan ke kiri namun apa yang diharapkannya tidak ditemuinya. Ia merasa aneh, sesuatu sudah membingungkannya. Sepertinya tempat itu belum pernah dilaluinya, tetapi mengapa seakan-akan ia tidak dapat lepas dari tempat itu.


Ia menatap ke atas, langit yang dilihatnya tidak seperti biasanya. Itu bukan mendung, warna awan itu biru kehitaman berbentuk piringan seperti akan terjadi tornado. Di tengah awan ada semacam kilatan yang menyambar pada sebuah sosok hitam yang bersayap.


“Sihir,” tak sengaja ia ucapkan kata terlarang tersebut. Dengan segera ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya, dan bersumpah akan menghancurkannya. Sesuatu yang paling dia benci setelah xizu.


Tanpa sadar mereka saling menatap satu sama lain. Ava mengamati sosok itu dengan seksama. Jika dilihat dari akibat yang ditimbulkannya, makhluk itu adalah salah satu pengguna sihir terhebat di Zenhonv.


Tangan kanannya telah bersiap-siap mencabut pedang yang selalu ia sembunyikan di balik jubah lusuhnya. Tanpa ia sadari, kaki-kakinya sudah membentuk kuda-kuda dan badannya lebih membungkuk seperti hendak menerkam.


Sosok hitam tersebut melebarkan keempat sayapnya. Dua sayap seperti sayap burung sedangkan dua lainnya yang letaknya lebih di bawah menyerupai sayap kelelawar.


Ava semakin tegang, kedua tangan dan kakinya sekarang benar-benar kaku. Aku tidak bisa bergerak, sial! lehernya mulai kaku, bukan karena ia terlalu menengadahkan kepala. Apa yang ia mantrakan kepada ku? bahkan untuk mengucapkan kata-katanya ia tidak mampu.


_– Several Fates –_

__ADS_1


Nuna ngga bakal bosen ngingetin kalian buat klik "like" di akhir cerita ini😂 Anyway, Dan sama Eir kira-kira bisa nyelamatin Ava nggak ya? Tulis pendapat kalian di kolom komentar, love you all✨


__ADS_2