She'S My Favorite

She'S My Favorite
4. Hutang


__ADS_3

Setelah tiba di rumah Leon langsung masuk ke kamar, termenung memikirkan Niana gadis yang belum lama ini menarik perhatian nya.


'Gadis gila, mana ada bermimpi semacam itu' pikir


Leon.


Kemudian Leon langsung memegangi bagian kepala nya yang tadi terkena sepatu Niana.


'Dia sudah berani menimpuk ku,tapi dia gadis yang lumayan cuek'


Lama leon dalam lamunan sampai ia masuk ke alam bawah sadarnya.


☆☆☆


Malam ini Leon berniat pergi jalan-jalan untuk menghilangkan rasa bosan yang melanda. Namun saat di jalanan yang cukup sunyi Leon melihat ada seorang gadis yang sedang di kerumuni oleh beberapa orang pria. Jika di lihat-lihat sepertinya pria-pria tersebut bukan orang baik.


Cukup lama Leon melihat hingga tiba-tiba gadis tersebut berteriak minta tolong karena seperti nya para pria tersebut ingin melecehkan nya.


Karena merasa harus membantu,ia pun melajukan motor gede nya hingga membuat ia hampir menabrak para berandalan jalanan tersebut,jika berandalan itu tidak menghindar termasuk sang gadis .


Ia langsung menyuruh gadis itu naik selagi tiga orang pria tersebut masih syok.


"Cepat naik." Ucap nya tegas,menatap tanpa melihat sang gadis.


Tanpa berpikir panjang gadis tersebut langsung naik,motor pun melaju di ikuti umpatan-umpatan dari para pria-pria berandalan itu.


Saat merasa cukup jauh,motor berhenti. Gadis itu pun langsung turun dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih banyak." Ucap nya lirih.


Karena merasa cukup familiar dengan suara nya Leon langsung menatap kearah gadis tersebut,betapa terkejut nya ia melihat gadis itu. Gadis yang ternyata belum lama ia kenal dan beberapa hari ini mulai merasuki pikiranvnya.


"Niana." Panggil nya lirih.


Merasa nama nya di panggil,Niana mencoba mengenali lelaki yang ada di hadapan nya yang sedang memakai helm. Dan saat helm di buka ia pun sama terkejut nya.


"Apa kau tidak apa-apa?" Pertanyaan tersebut sontak membuat Niana tersadar.


"Tidak, sekali lagi terima kasih." Ucap Niana bergegas ingin pergi.


"Tunggu." Cegah Leon membuat langkah Niana terhenti " Ayo aku antar." Ajak nya.


Niana hanya diam berpikir.

__ADS_1


"Ini sudah malam dan mobil mu juga ditinggal disana kan?." Bujuk Leon menyeringai" Ayo?" Ajak nya lagi.


"Baiklah,seperti nya kau orang baik." Niana menaiki lagi motor yang baru saja ia turuni.


Leon mengantar Niana pulang ke rumah nya,dengan kecepatan yang menurut Niana begitu lambat. Bagaimana tidak mereka menaiki motor tapi hampir seperti berjalan kaki. Kalau tidak ingat bahwa orang yang melong nya tadi adalah orang yang sama dengan yang sedang bersama nya ini,ia pasti sudah turun dari tadi.


"Sekali lagi terima kasih." Ucap Niana setelah turun dari motor Leon.


"Kau harus membayar nya,sekaligus mengganti kerugian saat di sekolah." Ucap Leon tersenyum penuh arti.


'Tunggu pembalasanku gadis gila.' Batin Leon.


"Dasar,kau yang mengajakku," gerutu Niana." Berapa yang harus ku bayar?" Tanya Niana kesal.


"Bukan dengan uang." Leon menyeringai membuat bulu kuduk Niana berdiri.


"Kau pikir aku gadis murahan." Kesal Niana salah paham.


"Astaga gadis ini,aku pikir otak kau masih polos ternyata tidak,aku bukan lelaki yang seperti di pikiran kau." Menjeda sedikit " Pertama bayar kerugian di sekolah dengan nomor ponsel kau dan kedua kau harus mengikuti mauku?" Leon sangat bahagia dengan kecerdikan nya.


Perkataan Leon sontak membuat Niana menatap ke arah nya,membuat pandangan mereka bertemu, Leon langsung terpana ketika melihat bola mata milik Niana yang menurut nya sangat indah,hingga tiba-tiba terdengar suara dari dalam memutuskan pandangan mereka.


"Nia,kenapa lama sekali nak?" Tanya sang Ibu,sedikit terkejut melihat anak perempuan nya datang bersama seorang pria,karena ini adalah pertama kali nya Niana pulang bersama pria." Siapa ini?" Tanya sang Ibu.


"Tante,saya Leon teman Niana." Ucap Leon setelah mecium punggung tangan wanita parubaya di hadapan nya.


"Tidak mampir dulu?." Tanya sang Ibu ramah.


"Tidak Tante,saya langsung pulang." Ucap Leon tersenyum.


Setelah berpamitan kepada Ibu Niana Leon pun langsung pulang kerumah nya. Memasuki rumah dengan wajah sumringah karena ia akan mengerjai gadis yang telah semena-mena padanya,pikir nya gadis itu harus kapok telah berhadapan dengan seorang Leon. Membuat seluruh pelayan yang berpas-pasan dengan nya bingung.


"Tuan muda hari ini terlihat berbeda." Ucap Bi Ningsi tersenyum.


Sedangkan di dalam kamar,Leon masih memikirkan apa yang harus ia buat agar si gadis itu kapok sambil menatap ke atas langit-langit.


"Seperti nya,aku akan betah di sekolah." Lirih Leon kemudian menutup mata untuk segera masuk ke dalam mimpi.


☆☆☆


Hari ini Leon seperti biasa di waktu istirahat ia bersama Marsel membersihkan toilet. Meskipun toilet sudah terlihat bersih karena sudah dibersihkan petugas kebersihan di sekolah.


"Hey,kenapa kau hanya diam terus?" Tanya Marsel lelah karena sedari tadi ia sudah berceloteh panjang lebar tapi tak ada jawaban.

__ADS_1


"Apa aku bisa minta tolong." Tanya Leon akhirnya membuka suara nya.


"Hah? Apa?." Terkejut Marsel mendengar.


"Apa aku bisa minta tolong." Tanya Leon mengulangi kata-kata nya.


"Aku bukan orang baik seperti pikiranmu." Membuang nafas kemudian memalingkan wajahnya." Baiklah,kau mau minta tolong apa?" Tanya Marsel lirih.


"Bisakah kau pukul diriku lagi tanpa aku mencari gara-gara? Tapi kali ini usahakan aku harus masuk ke rumah sakit." Ujar Leon meminta tolong.


Mendengar permintaan tolong yang menurut Marsel sangat gila, membuat Marsel bingung . Mana ada orang suka di pukuli ataukah manusia di depan nya ini sudah gila? Pikir nya bermolog.


"Apa kau gila?" Tanya Marsel kesal.


Sedangkan Leon kembali terdiam, jujur ia sangat- sangat merindukan Ayah nya. Dan ingin mendapatkan perhatian sang Ayah.


Sebenar nya Leon sangat marah kepada sang Ayah. Tapi ia tidak bisa menghilangkan rasa rindu di dalam dirin nya yang mengalahkan seluruh ego. Terkadang Leon berpikir,apakah ia hanyalah anak angkat? Kenapa seperti nya orang tua nya tidak memperdulikan nya.


Jika di suruh memilih, Leon akan lebih bahagia hidup sederhana tapi mendapat segala kasih sayang Ibu dan Ayah nya,tanpa harus membuat masalah terlebih dahulu,karna sebenar nya Leon sudah lelah. Lama leon termenung, hingga ia tersadar namun ternyata Marsel sudah pergi meninggalkan nya.


Leon pun langsung menuju ke kantin karena sedari waktu istirahat ia sama sekali belum makan.


Saat menuju kantin Leon hampir bertabrakan dengan Niana yang kelihatan nya baru selesai makan. Membuat mata mereka bertemu, membuat Niana sedikit salah tingkah dan langsung memutuskan pandangan mereka.


'Astaga, jantungku ' pikir Leon sambil memegangi dada nya yang berdetak tak karuan,mungkin ia hanya terlalu terkejut.


"Hampir saja,kau ini hati-hati kalau jalan,apa aku terlalu kecil hingga kau hampir menabrakku? Kalau bukan karena kau yang menolongku waktu itu sudah habis kau." Niana mengomel panjang lebar sambil membuak gerakan-gerakan seperti memukul sesuatu tapi sebenarnya tidak ada apa-apa.


Sedangkan Leon masih diam sambil memegangi dada nya yang terasa aneh menurut Leon.


"Hey,heloww." Panggil Niana melambai-lambaikan tangannya di depan waja Leon." Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Niana ngeri.


"Eghm." Berdehem mencoba terlihat biasa. "Apa kau sudah memutuskan ingin membayar semua hutangmu?" Mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kemarikan,ponselmu." Pinta Niana mengulurkan tangan nya.


Membuat Leon dengan semangat menberikan ponsel milik nya.


Setelah mengisi nomor ke dalam ponsel milik Leon, tanpa berkata apapun Niana langsung pergi meninggalkan Leon yang tersenyum menatap ponsel milik nya.


'Ada apa dengan jantungku?'pikir Leon.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2