
(Games Room Arsi🎮)
Saat ini Arsi tengah menonton keributan dari Danial dan Arsa yang sedang bermain epep.
"Ga bakal gue biarin lu menang!" ucap Danial sambil mata yang masih fokus ke depan.
"I'm a pro, paling bentar lagi lu yang mati" balas Arsa.
"Heh jangan sok pede dulu! Haha apa tadi bilang? Pro? Perkumpulan oRang bOdoh? pfft"
"Mulut lu ya!" Arsa memukul pipi Danial.
Bugh!
"Akh, apaan sih mau lo?!!!" Danial melempar stik PS asal.
"Heh, do not accept?"
"Orang bodoh mana yang terima dipukulin, hah?!!"
"Berarti lu bodoh, soalnya lu nerima pukulan gua"
"Sini lu brengsek!!!" Danial mencengkeram kerah Arsa.
Sepertinya emosi Danial mudah sekali tersulut.
"Kenapa? Mau ngajak duel? Anak mami mana bisa menang"
Danial memukul rahang Arsakha, "DIEM LO ANJING"
Arsakha yang tak terima pun membalas pukulan nya di perut Danial.
Bugh
"Merasa tersindir? Gue bener! Harusnya tuh anak mami mending dirumah aja, nanti kalo keluar mak lu nyariin wkwk"
"Lo kali sirik ga bisa rasain kasih sayang" kini giliran Danial memukul pipi Arsakha.
Brak!
Suara gebrakan meja terdengar dari arah belakang mereka. Ternyata itu Arsi, sepertinya dia lelah daritadi hanya jadi penonton.
Arsi berjalan mendekat ke arah mereka dengan tersenyum ramah.
Ralat, senyuman itu terlihat seram dan bukan ramah.
Arsi menarik nafas panjang berusaha menetralkan emosi nya, "Kalian berdua bisa keluar dari kamar ini? Ah sorry, I mean get out of this house?"
Anna yang tadinya mau masuk malah tidak jadi, ia sendiri terkejut ketika mendegar suara gebrakan dan ditambah melihat senyum ramah Arsi, takutnya jadi berkali-kali lipat.
'Baru juga ku pergi bentar, kalian malah pada mancing amarah Abang. Maaf kali ini ku ndak bisa bantu! Semoga kalian selamat sampai rumah' batin Anna mendoakan keselamatan Danial dan Arsakha.
"Tidak mau! Aku masih mau main sama Anna!!!" rengek Danial dengan muka yang menahan tangis, ia mulai takut dengan Arsi.
"Me too. I just arrived but why sent away? Tidak terima!" ucap Arsa.
"Tidak mau?" beo Arsi.
Mendengar Arsi merubah nada suaranya, membuat kedua orang itu meneguk ludah kasar.
"Okay, kalau begitu kita pakai cara ku to get rid of germs" Arsi masih tetap tersenyum ramah dan mereka berdua malah tambah takut.
Arsi menjauh dari hadapan mereka dan mencari sesuatu?
'To-tongkat baseball? Firasat gue ga enak soal tongkat itu' batin Danial panik.
"What's that?" tanya Arsa penasaran kenapa Arsi membawa-bawa tongkat baseball.
"Good question! Make this..." Arsi berjalan ke arah belakang mereka, lalu mengangkat tongkat itu dan...
Bugh bugh
"Arghhh"
"APA-APAAN INI!" Danial emosi.
"Why? Do not accept? Ini adalah salah satu cara ku untuk mengusir kuman loh" ucap Arsi tanpa merasa bersalah sekali.
"Kalau pada mau protes, cepat bilang sekarang! After that you will never be able to meet Anna again!! From now kalian berdua dilarang masuk ke rumah ini!!" perintah Arsi.
"WHAT?!" mereka berdua terkejut mendengar ucapan Arsi.
"Bang jangan gini dong" Danial berusaha mencairkan emosi Arsi untuk menarik ucapannya.
"Kalau Abang larang kita nanti Anna jadi kesepian" bujuk Danial.
__ADS_1
"Anna can still play with her friends" valid sudah, sepertinya Arsi tidak akan menarik ucapannya.
"Abang udah bilang Anna ngomong begini ke kita?" tanya Arsa.
"Anna is my sister, aku melakukan ini pasti dia akan mengerti, If it's for good" Arsi menjawabnya dengan tegas.
Sudahlah kawan itu juga salah kalian, udah main dirumah orang malah ribut.
"Aku hitung sampai 5, You have to get out of this house!" Arsi memberikan perintah sekali lagi.
"Bang tapi..." belum sempat menyelesaikan ucapannya, Arsi sudah mulai menghitung.
"Satu"
"Bang dengerin dulu!"
"Dua"
Arsa pergi meninggalkan ruangan itu. Danial hanya melihat, ia masih enggan untuk pergi dari sini.
"Tiga"
"Empat"
"Arghhh..." Danial pergi melangkah keluar.
Saat mereka keluar, mereka tidak sadar bahwa ada Anna yang menonton diluar. Dirasa sudah terlihat baikan, Anna masuk dan menghampiri Arsi.
"Bang, emang mereka bikin masalah apalagi?" tanya Anna.
Mendengar pertanyaan Anna, Arsi tersenyum dan mengusap pelan kepala Anna "It doesn't matter, hanya mengusir sesuatu yang berisik"
Anna hanya mengangguk kan kepala, pasalnya ini udah sering terjadi. Arsi sering sekali mengusir teman Anna dan tidak memperbolehkan nya bermain lagi! Jangankan teman Anna, teman Arsi sendiri saja sudah banyak yang dia usir sendiri dari rumah.
Walau Arsius suka mengusir orang tapi baru kali ini Anna mendengarnya melarang orang untuk datang kerumah.
"Tapi bang, kenapa sampe ngelarang mereka buat datang juga?"
"Kesabaran abang ada batasnya Anna"
Anna mengangguk-angguk paham. Kurang lebih Arsi tidak suka adanya kekerasan, jika menyangkut itu kesabarannya bisa hilang sekejap.
*Senangnya dalam hati~
*Punya suami dua~
*Aku yang punya~
"Suara Hp kamu?" tanya Arsi kaget, ketika mendengar ringtone nya.
Anna tersenyum cengengesan, "Hehe.. lucu ya bang nadanya~"
"Emang ga ada nada lain lagi?"
"Males lah, nada ini lebih enak ketimbang yang lain"
Arsi tidak menanggapi lagi.
"Halo"
'Na jalan yuk'
Ketika mendengar suara perempuan diseberang, Anna berhenti dan melihat nama siapa yang telpon.
"Ayuk! Tapi jemput ya"
'Iya iya santai'
"Cuman berdua doang?"
'Gue udah ajak si Rilyn, nanti kita ketemuan disana'
"Oh oke ku siap siap dulu yaaa"
'Iye, buruan nanti gue nyampe udah harus langsung berangkat'
"Iya iyaa"
Sambungan telepon pun terputus.
"Siapa?" tanya Arsi yang daritadi menyimak Anna telfonan.
"Kembaran Arsa"
Arsi hanya mengangguk, "Tugas udah selesai semua?"
__ADS_1
"Udah dong! Kalau gitu ku Anna mo siap siap main dulu ya Bang"
"Yaudah sana"
*1 Jam Kemudian*
Tin tin...
Suara mobil terdengar dari arah luar, Anna pun segera pergi.
"Anna handphone" Arsi ikut keluar dan memberikan handphone nya Anna yang tertinggal.
"Hehe makasih Abang"
Baru jalan beberapa langkah, Anna berbalik ke arah Arsi lagi.
"Ada yang ketinggalan lagi?" tanya Arsi.
"Ada!"
"Yaudah sana ambil, kasian Aster"
"Bentar bang" Anna berteriak memanggil nama Aster untuk keluar dari mobil dan masuk pamitan sebentar.
"Halo Abang tamvan~" sapa Aster saat sudah didepan Arsi.
"Sehat kan?"
"Aduh, yang tadinya sakit pas liat Abang jadi sembuh nih hehe" rayu Aster.
Anna menyentil dahi Aster, "Ku nyuruh kamu pamitan bukan godain Abang"
"Dih mang ngapa, suka suka aku lah"
"Cepet!" suruh Anna.
"Iyaa, Abang tamvan Aster izin bawa main Anna ke Mall ya" ucap Aster sambil tersenyum manis berusaha jaim didepan Arsi.
"Dih genit beut" sinis Anna.
"Tapi jangan lewat dari jam 10, If there's anything, just let me know or call Abang, okay?"
"Iya bang" jawab Aster dan Anna bersamaan.
"Udah gitu doang?" tanya Anna pada Aster.
"Udah, emang apalagi?" tanya Aster balik.
Lagi-lagi Anna menyentil dahi Aster, "Na bisa ga stop sentil dahi ku, yang ada ini nanti geger otak gimana?" keluh Aster.
"Tadi katanya kamu mau kasih oleh-oleh ke Abang, jadi ga? Kalo ga jadi kita berangkat!"
Aster menepuk jidatnya pelan, "Oh iya lupa! Bentar ada di mobil"
Aster pergi kearah mobilnya, mengeluarkan totebag yang berisi hadiah.
"Ini buat Abang tamvan" Aster memberikan totebag berwarna biru kepada Arsius.
"Thanks" ucap Arsi dan mengambilnya.
"Ini buat Papa sama Mama, aku nitip Abang ya" totebag warna hijau Aster berikan lagi ke Arsi.
"Terus ini buat my friend sang wibu akut"
"Wih ku dapet juga toh, kukira buat Abang semua" Anna mengambil totebag bewarna pink dari Aster.
"Yee kalo ga mau yaudah kasih Abang lagi aja"
"Hehe bercanda elah, makasii Aster yang cantik dan baik hati" ucap Anna sambil merangkul Aster.
"Yaudah ayuk berangkat" ajak Aster.
Anna mengangguk, "Oh iya bang nitip ini ya" Anna menyerahkan totebag dari Aster tadi ke Abangnya.
"Iya, hati-hati sana"
"Bang" panggil Anna.
Saat Arsi hendak menoleh, tiba-tiba Anna menarik tangan Arsi dan mencium pipinya.
"Hehe~ Anna pergi" pamit Anna dan menghilang dari pandangan Arsi.
Arsi tersenyum,"You have changed, but you are still my sister"
...꧁Bersambung꧂...
__ADS_1
Anna open kaka ipar ga ya🥺
mo join😔