Siapa Jodohku?

Siapa Jodohku?
Sakit Gigi


__ADS_3

Keesokan harinya


"Anna ayo bangun! Kamu ga lupa kan kalau hari ini kita sekolah" Arsi mengetuk pintu tapi tidak ada suara sahutan dari dalam.


"Okay I'm going to tell Mom about last night"


Sesaat setelah mengatakan itu, Anna keluar dari kamarnya.


"Bang, ku libur dulu ya" ucap Anna dengan muka memelas.


Arsi menyentil dahi Anna, "Udah kebanyakan libur, nanti pulang sekolah baru kerumah sakit"


"Ga mau ke dokter🥺"


"Terus mau kamu pelihara tuh sakit? Udah ayok berangkat, entar keburu telat" Arsi merangkul Anna dan membawanya turun.


"Morning anak-anak Mama~" sapa Clarity―Mama Arsi dan Anna.


"Morning Ma" balas mereka berdua.


"Seperti biasa kan?" tanya Clarity.


Arsi menjawabnya dengan anggukan.


"Ini roti kalian..." Clarity meletakkan roti dengan selai strawberry di piring Anna dan roti selai coklat di piring Arsi.


Anna menatap hampa ke roti favorit nya. Ia sebenarnya ingin memakannya, tapi apalah daya karena sakit gigi jadi dia tidak nafsu makan.


Clarity yang kebetulan melihat Anna diam saja sambil menatap piringnya, merasa ada yang aneh dengan putrinya itu.


"Sayang, kenapa ga dimakan rotinya? Ga selera?" tanya Clarity khawatir.


Mendengar pertanyaan Mamanya membuat Anna terkejut dan otomatis menggelengkan kepala.


"Kurang enak ya" ucap Clarity sedih.


Mendapati ekspresi seperti itu dari Mamanya membuat Anna merasa bersalah, alhasil akhirnya ia memakan roti itu dengan lahap.


Clarity tersenyum, "Pelan-pelan makan nya nanti tersedak awas"


Setelah Clarity mengatakan itu dan benar saja tiba-tiba Anna langsung tersedak karena terburu-buru. Anna melakukan itu juga karena supaya tidak sakit ketika mengunyah.


"Eeh tuh kan"


Anna memukul mukul dadanya dan terbatuk-batuk.


"Nih minum" ucap Arsi sambil memberikan air putih.


Langsung saja Anna meminum air pemberian Abangnya dan akhirnya ia merasa lega.


"Pelan pelan makanya" ujar Arsi.


"Y"


"Kalau sudah selesai makan, langsung cepat berangkat. Oh iya ini bekal kalian, semua udah didalam ya" Clarity meletakkan bekal anak-anaknya diatas meja makan.


"Thank you Mom" Arsi dan Anna mencium pipi Clarity dan bersiap berangkat.


"Hanya Mama? Papa tidak?"


Ferdi―Papa dari Arsi dan Anna ikut menyaut sambil menunjuk kedua pipinya.


"Arsi juga harus Pa? I don't want to!" tolak Arsi sambil menyilangkan tangan didepan dada.


"Idih, Papa bilang ke Anna kok bukan kamu"


"Haha... udah cepetan buruan nanti keburu telat loh" suruh Clarity sambil melihat ke arah jam dinding.


"Papa sih ada-ada aja maunya" Anna mendekat ke arah Papa nya dan mencium kedua pipinya.


Arsi mencium punggung tangan kedua orang tuanya, begitu pula dengan Anna.


"Belajar yang bener! Anna, jangan mikirin pacaran!!" tegas Ferdi.


"Aku mana ada pacaran mulu" ucap Anna tak terima.


"Ada! Makanya Arsi, kamu awasin adek kamu yang bandel ini. Kalau dia ketauan bikin ulah, jewer aja kupingnya"


"Siap komandan!" Arsi menjawab dengan tangan hormat.


"Oh ayolah Pa, Mama aja izinin kenapa malah Papa yang ce-" Anna tidak sempat menyelesaikan ucapannya, karena dirinya sudah ditarik pergi oleh Arsi.


"Don't make trouble dengan mengatakan, Papa cerewet!" Arsi menyentil dahi Anna.


"Aw aduh!! Abang, ini masih pagi tapi ku udah disentil 2 kali!! Nanti kalo ku geger otak gimana?!!" keluh Anna sambil memegang dahinya.


"Ga akan"


"Abang!!!"


"Shut up, masuk mobil cepat!"


Mereka berdua pun berangkat ke sekolah dengan menggunakan mobil milik Arsi.


(SMA Nusantara🏫)


Setelah sampai diparkiran sekolah, tiba-tiba segerombolan siswi kelas 2 mengerubungi mobil Arsi dan Anna.


Ah, lebih tepatnya mereka mengerubungi Arsi.


Bagaimana bisa? Atuh jelas bisa dong, siapa sih yang ga kenal Arsius Alexander Devaano. Siswa kelas 3 yang tampan dan mempesona.


Arsius terkenal tidak hanya dari parasnya tapi juga prestasi nya. Tapi eh tapi, seperti yang pernah disebutkan di awal cerita. Arsi ini anti perempuan kecuali Mama dan adiknya! Inget itu kawan kawan.


Sementara Abangnya dikerumuni, dari arah belakang tiba-tiba ada yang merangkul Anna.


"Morning Sayang~" sapa Danial.


"Morning" balas Anna datar.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kok kek lemes gitu" tanya Danial khawatir.


"Engga" lagi, Anna menjawabnya singkat.


"Kamu lagi pms? Atau lagi sakit? Ke uks aja yuk"


Anna menghela napas, pasalnya Danial pagi ini berisik sekali. Rasanya sakit giginya bertambah ketika ia mendengar ocehan Danial.


"Nial~ bisa biarin aku sendiri?" ujar Anna dengan sabar.


"Aku anter sampe kelas, boleh ya?" pinta Danial dengan muka memelas.


"Oh jelas.. No!" balas Arsi yang berada dibelakang mereka.


Arsi mendekat ke arah Anna dan Danial, lalu melepaskan rangkulan Danial pada Anna.


"Dapat pesan dari Papa, Anna is prohibited from dating at school"


"What? Bang, masih marah soal kemaren? Maafin gue deh, tapi tolong jangan larang gue buat deket sama Anna" mohon Danial sambil menangkupkan kedua tangannya didepan wajahnya.


"Sorry, I'm not a vengeful"


"Lah terus kenapa tiba-tiba ngelarang?" tanya Danial heran.


"Can't hear? Papa yang melarang and not me" jelas Arsi penuh penekanan disetiap kata.


Danial masih ingin mengatakan sesuatu tetapi Arsi sudah terlanjur pergi membawa Anna dan meninggalkannya sendirian.


"Bang tunggu!"


✎︎_______ˢᵏⁱᵖ________


"Dek" panggil Arsi sebelum Anna masuk kedalam kelas.


Anna menaikkan alisnya seolah bertanya 'kenapa?'


Arsi mengelus rambut Anna dan berbisik, "Semangat! Tahan sampe sore ya, don't forget to go to the doctor later"


Mendengar ucapan Arsi ingin sekali Anna menjambak dan mengomel tapi apa daya giginya, jadi Anna hanya tersenyum dan menginjak kaki Arsi.


"Aduh! Just kidding, jangan marah" Arsi mencium pipi kanan Anna.


"There you go in, belajar yang bener sama inget perintah Papa loh" ujar Arsi dan dijawab anggukan patuh dari Anna.


Niatnya Arsi ingin pergi, tapi ketika melihat Danial mendekat kearah mereka, ia tak lanjut jalan.


Arsi menatap tajam ke arah Danial. Danial yang diberi tatapan maut, langsung teringat kejadian kemarin ia dipukul Arsi pakai tongkat baseball.


Ia meringis ketika mengingatnya, menyentuh punggung belakang yang terasa ngilu.


'Untung Abang nya Anna' batin Danial.


"Why are you here? Kelasmu kearah sana" Arsi menunjuk kesebelah kanannya dimana koridor itu menuju ke arah kelas XI IPA-2 yaitu kelas Danial.


"Mau pamit sama Anna"


"Bang, yang tadi pasti bercanda kan? Masa Nial ga boleh pacaran sama Anna" Danial masih merasa tidak terima soal Anna yang dilarang pacaran.


"Masa depan kalian masih panjang, don't spend time on things that aren't important. Bisa kan?"


"Tapi bang.."


Tiba-tiba Arsi menarik kerah baju Danial, "Lo ini laki-laki bukan?! Apa Cuman karena ga bisa pacaran sama Anna di sekolah lo jadi ga bisa hidup, hah?! Can your mind and brain be used for lessons first? Poor Momsky and Papsky for having a hard time sending you to school! You should think about how they feel when they see their child fail!!"


Oke cukup sudah kemarahan Arsi yang ia tahan dari kemaren akhirnya keluar juga. Sebenarnya ia tak ada niatan untuk emosi seperti itu, tapi karena melihat tingkah Danial yang seperti itu membuatnya jadi emosi.


Mendapat tontonan yang menarik dipagi hari, membuat mereka bertiga jadi sorotan. Anna sebenernya juga sedikit kesal dengan sifat kekanakan Danial, tapi kalau Abangnya sampai benar-benar marah itu akan menimbulkan masalah.


Anna memegang tangan Abangnya yang masih mengenggam kerah baju Danial.


"Bang udah ya, ini masih pagi" ujar Anna pelan.


Arsi melepaskan genggamannya dan sedikit mundur dari Danial, "Sekarang pilihan ada ditangan lo. You are successful with your own hard work, atau lo jadi pengecut which can only be dengan kekayaan orang tua lo"


Diam. Itu yang Danial lakukan daritadi. Ia merasa tertampar dengan perkataan Arsi, tapi ia juga ingin marah karena sudah dibilang anak manja.


"Gue bakal buktiin kalo gue bukan seperti yang lo pikirin!" setelah Danial mengatakan itu dia pergi menuju kelasnya.


Melihat Danial yang sudah pergi, Anna pun mengusir orang-orang yang menonton keributan kecil tadi.


"Bang mau ga?" Anna menyodorkan permen batang kepada Arsi.


"Buat abang?" tanya Arsi dan diberi anggukan oleh Anna.


"Thanks" ucap Arsi sambil mengusap kepala Anna.


"Abang udah baikan kan?" tanya Anna khawatir dengan emosi Abangnya. Karena ini kali pertama Arsi mengeluarkan kata-kata pedas seperti itu, dan kali pertama Arsi emosi dengan Danial.


"Hm lumayan" jawab Arsi malas sambil membuka bungkus permen.


Kringgg🔔


"Udah bel aja ternyata"


"Masuk gih" suruh Arsi.


Setelah menyuruh Anna masuk, Arsi ingin pergi tapi tiba-tiba lengannya ditarik Anna.


Cup!


"Balasan tadi sekaligus pencair supaya Abang ga emosi lagi" Anna tersenyum manis dan pergi masuk kedalam kelas.


Arsi sedikit terkejut, ia menyentuh pipinya yang dicium Anna.


'Aku jadi tidak rela jika ia menikah nanti' batin Arsi lalu ia pergi.


"AAAAAA SWEET BANGET"


"ADUH PANAS PANAS"

__ADS_1


"Tolong ingat tempat ya mba"


"Pengen punya Abang juga"


"MAU ABANG KEK BANG ARSI"


dan sebagainya....


Anna lupa kalau daritadi ia ada didepan kelas. Dan itu semua teriakan-teriakan kaum hawa di kelasnya.


Anna berjalan kearah bangkunya dengan menahan malu.


'Huaaa malu banget!!' batin Anna histeris menahan malu.


"Aduh yang pagi pagi udah dapet kiss gimana rasanya?" tanya Ria sambil duduk disebelah Anna.


"Mau tau rasanya? Sono minta kembaran mu" jawab Anna yang menenggelamkan mukanya kedalam tumpukan tangan.


"Dih ogah" tolak Ria dengan ekspresi jijik membayangkan ia mendapat ciuman dari kembarannya.


"Na tadi Danial kenapa?" tanya Rilyn penasaran dengan keributan didepan kelasnya tadi.


"Mengundang emosi Abang"


"Hah? Gimana gimana?" kini Ria yang tak paham dengan ucapan Anna.


"Males jelasin"


"Ish nih anak napa dah pagi-pagi dah lesu aja, padahal abis dapet penyemangat tadi" komentar Ria.


Tak mendapat reaksi apapun dari Anna akhirnya Ria tersenyum usil. Ia berdiri dibelakang Anna lalu menggelitik nya.


Anna pun langsung tertawa geli, "Ri ahaha.. berhenti" pintanya di sela-sela tawa.


Ria pun menghentikan aksi usilnya dan duduk dibangku depan Anna. "Lo kenapa lesu gitu? Gegara masalah tadi?"


Anna melihat bergantian ke arah teman-temannya lalu menghela napas panjang.


"Anjir jangan bilang bener gegara tadi, emang yang tadi ada apaan sih?" tanya Ria lagi.


"Papa larang aku pacaran disekolah terus Nial mohon-mohon sama Abang, terus Abang yang udah ga tahan sama sifat kekanakan Nial akhirnya dia cengkeram kerah Nial terus emosi deh, tamat" jelas Anna dengan nada malas.


Ria yang mendengarkan hanya berkedip masih berusaha mencerna penjelasan Anna.


"Oh cuman gara-gara itu terus lo lesu gini?" tanya Rilyn yang sepertinya sudah paham masalah tadi.


"Sebenernya ku lesu bukan gara-gara itu"


"Terus karna apa?"


Anna menatap Rilyn dengan memelas, lalu memegang pipi kirinya dimana gigi yang sakit itu berada.


"Sakit" lirih Anna.


Kedua sahabatnya itu pun yang paham maksud kondisi Anna saling bertatapan dan didetik selanjutnya tertawa.


"Sukurin, lagian makan es krim banyak bener" ujar Ria sambil tertawa kencang.


Sepertinya Ria ini tipekal teman yang menertawakan penderitaan temannya sendiri ya.


"Makanya lain kali dengerin apa kata kita, lo juga sih yang bandel" timpal Rilyn.


Mata Anna semakin berair, teganya sahabatnya ini menertawakan dirinya.


"Utututu cup cup, jangan nangis" ledek Ria.


Rilyn mengusap kepala Anna, "Kita bercanda doang kok"


"Hueee Rilyn, nanti Abang mau bawa aku ke dokter"


"Yaelah Na, umur lo sekarang 17 tahun! masa iya masih takut ke dokter gigi" cibir Ria.


"Dokter gigi itu serem tau!!"


"Serem darimana cok?" tanya Ria heran.


"Ku nonton film marsha and the bear, masa dia mau cabut gigi pake alat perkakas"


"Kalo lo lagi ga sakit udah gue tabok tuh pipi" kata Ria dengan penuh kesabaran.


"Tapi yang kudenger abis berobat bakal dikasih lolipop loh sama dokternya" ucap Rilyn berusaha merayu Anna.


"Beneran?!!!"


Ria menyentil dahi Anna, "Denger makanan manis aja semangat! Makanya kalau ga mau periksa, kurangin makanan manis!!"


Mendengar ucapan Ria, teman-temannya langsung diam.


"Lyn, tadi aku ga salah denger kan?"


"Keknya kuping kita perlu diperiksa ke THT deh Na"


"APA APAAN KALIAN!" teriak Ria tidak terima diejek.


"Sabar, orang sabar disayang pacar" Rilyn menepuk bahu Ria.


"Emang dia punya pacar?" sindir Anna.


"Oh iya aku lupa Na, sabar ya orang sabar disayang Sodara" Rilyn mengulangi tindakan nya tadi.


"Ga sudi aku! Auk ah males!!"


"Hahaha" akhirnya mereka tertawa puas ketika meledek Ria.


...꧁Bersambung꧂...


Dokter gigi serem😔


Tp klo pak dokter nya cogan gapapa deh, ku rela hari-hari sakit gigi😍

__ADS_1


__ADS_2