Siapa Jodohku?

Siapa Jodohku?
Jailin Ria


__ADS_3

Kring Kring(🔔)


Bel istirahat


"Kalian pada bawa bekal?" tanya Anna sambil mengeluarkan bekal dari dalam tas.


"Bawa" jawab Rilyn dan menunjukkan bekal yang ia bawa.


Anna melihat kearah Ria, "Apa liat-liat? Gue mana sempet bikin bekal, sarapan aja jarang" balas Ria.


"Mau beli dulu?" tanya Anna lagi.


"Mau lah! Dan lo berdua harus temenin gue beli!"


Rilyn dan Anna saling bertatapan lalu tersenyum, "Ayo buruan nanti keburu rame" ajak Anna sambil beranjak dari duduknya dan membawa bekal.


"Lah lo mau bawa bekal itu kemana?" tanya Ria heran.


"Udah ayo beli dulu, nanti juga lo tau" Rilyn menarik lengan Ria untuk jalan menyusul Anna.


(Kantin🍱)


"Ri kamu pergi sama Rilyn ya, aku cari tempat buat kita makan" ujar Anna lalu pergi berkeliling mencari tempat.


"Jangan yang rame ya Na!" teriak Ria.


Anna yang mendengar hanya mengacungkan jempol tanda mengerti.


Sementara Ria dan Rilyn membeli makanan minuman, Anna kini sedang melihat kanan kiri nya yang penuh human human makan.


'Rame banget' batin Anna.


Di area kantin full penuh. Dari bangku ujung kiri ke ujung kanan, semuanya sudah ditempati.


Anna keluar ke area taman, ternyata bangku dibawah pohon besar tidak ada yang menempati.


Anna berjalan kearah pohon besar itu, udara dibawah pohon sangat sejuk. Aneh, kenapa tidak ada yang berminat duduk disini.


Karena meja kayu ini sedikit kotor, Anna pun memutuskan untuk membersihkannya sembari menunggu kedua sahabatnya datang.


"Aduh calon istri rajin juga ya" seru Arsa sambil memeluk Anna dari belakang.


Anna awalnya terkejut dan ingin menghajar orang yang main peluk dirinya. Ketika menyadari itu adalah Arsa, ia hanya bisa menghela nafas pasrah.


Anna tipekal orang yang tidak mau berurusan dengan most wanted sekolah. Dan sebenarnya Arsa tuh anak bandel sekaligus siswa langganan BK😔.


Tapi walau dia terkenal bandel, dilain sisi dia juga pintar dalam hal non-akademik seperti eskul voli dan basket misalnya.


Arsa itu awalnya kapten basket, tapi karena permintaan pelatih voli dan timnya yang menginginkan Arsa menjadi kapten voli, mau tidak mau ia harus memilih antara voli dan basket.


Dan karena sebuah perkataan iseng Anna, yang mengatakan bahwa Arsa lebih tampan saat bermain voli akhirnya Arsa pun memutuskan untuk menjadi kapten voli.


Terus kapten basket kosong dong? Eits itu tidak mungkin!


Kalian tau si anak manja kan? Yaps, Danial! Dialah kapten basket SMA Nusantara.


WHAT? KOK BISA? Jelas bisa!


Walau Danial terkesan kekanak-kanakan, tapi sebenarnya saat bermain basket keseriusan nya amat sangat tinggi.


Danial juga tidak kalah dengan Arsa yang berprestasi di non-akademik loh. Selain non-akademik Danial juga punya segudang prestasi dalam bidang akademik terutama pelajaran Kimia.


Dia selalu memenangkan setiap perlombaan di peringkat 1 dan 2. Ya walau ia pintar seperti itu, tidak menutup kemungkinan sifatnya yang menyebalkan tidak akan ada.


➥Back to topik


"Sayang, kok kamu sendirian? Mereka mana?" tanya Arsa celingak-celinguk mencari keberadaan sahabatnya Anna.


"Beli makan" jawab Anna singkat.


Merasa ada yang tidak beres dengan Anna, Arsa melepaskan pelukannya dan duduk dipinggir meja kayu.


"Masih sakit gigi?" tanya Arsa lagi, dan dijawab anggukan oleh Anna.


"Yaudah kita ke UKS aja yok" Arsa yang tadinya ingin menggandeng tangan Anna tapi ditepis olehnya.


"Pergi" usir Anna.


"Kamu ngusir aku? Aku ada salah ya?" Arsa menatap Anna memelas meminta penjelasan mengapa dirinya diusir.


Anna tidak mempedulikan pertanyaan ataupun ekspresi Arsa saat ini, ia lebih memilih duduk sambil mendengarkan musik dengan earphone.


Arsa yang merasa tak terima dicuekin begitu saja, ia pun melepaskan sebelah kanan earphone yang dipakai Anna "Ay jangan gini dong, kamu harus jelasin ke aku kalo ada salah"


Anna tetap tidak peduli. Ia bahkan daritadi tidak menatap ataupun melirik Arsa sedikit pun.


Arsa yang memang pada dasarnya sudah berhati baja pun tidak ambil pusing dengan sifat cueknya Anna.


Karena Arsa tau, kalau seorang perempuan menghindarinya pasti antara dia berbuat salah atau ada sesuatu yang terjadi tapi perempuan itu ragu mengatakannya.


Arsa mengambil duduk disebelah kanan Anna dan menidurkan kepalanya di paha Anna.


Anna langsung terkejut dan berkata, "Sa mending kamu pergi" ujarnya pelan.


Karena kini posisinya Arsa sedang tiduran, mau tidak mau ia menengadah keatas dan melihat Anna.


"Aku ga mau, soalnya kamu belum jelasin ke aku" Arsa mengembungkan pipinya tanda ia sedang merajuk.


Hah... sudah dibilang, Anna tuh gemes liat yang lucu!!


"Pergi Sa, nanti takut diliat Bang Arsi"


"Emang kenapa? Abang masih marah soal kemaren?" tanya Arsa.


Anna menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa?"


"I―"


"Itu karena Papa Ferdi melarang Anna pacaran di sekolah" sambar Ria dan diikuti Rilyn dibelakang.


"Hah? Serius Ay?" Arsa bangkit dari tidurnya dan menatap Anna tidak percaya.

__ADS_1


Anna hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya lagi.


"Berarti aku ga bisa berduaan sama kamu dong🥺" Arsa memeluk Anna dan menenggelamkan wajahnya di leher Anna.


Anna mengusap pelan rambut Arsa, mencoba memberikan semangat.


"Berarti perkataan anak manja itu bener dong?" tanya Arsa.


"Emang Nial bilang apaan?" bukannya dijawab tapi Anna malah berbalik nanya.


"Ya dia bilang, kamu dilarang Papa terus Bang Arsi disuruh Papa buat ngawasin kamu" jawab Arsa sambil melepaskan pelukannya.


Anna hanya mangut-mangut mengerti.


"Ay, aku ga mau jauh-jauh dari kamu" ucap Arsa manja.


"Cumam disekolah kok" balas Anna yang masih setia mengusap kepala Arsa.


"Tapi Ay―"


"Berisik! Pergi sono lo, jangan ganggu ciwi-ciwi mo makan" usir Ria yang mulai kesel dengan tingkah kembarannya.


"Ngapa sih, sirik amat lo" sinis Arsa.


"Hoek, ngapain gue sirik sama orang narsis kek lo"


"Kalo gue narsis lo apaan? Jablay?" ledek Arsa sambil menatap hina ke arah Ria.


"Anjir ya lo.." Ria yang ingin bangkit menghajar kembarannya ditahan oleh Rilyn yang memegang lengannya.


"Wkwk jablay"


"Woi kalo gue jablay, lo jametnya" Ria masih tak mau kalah dari kembarannya.


"Anjing!" sarkas Arsa.


Brak!


Gebrakan meja Anna berikan untuk melerai dua anak kembar ini. Arsa dan Ria seketika menundukkan kepalanya, takut melihat Anna marah.


"Kalian ini saudara, bisa ga jangan keluarin kata-kata kasar kek gitu? Ga enak buat didenger" ujar Anna sambil mencoba menahan emosinya.


Anna melihat ke arah Ria, "Kamu ini perempuan Ri, tolong jaga ucapanmu ya"


Lalu Anna melihat kearah sampingnya dimana Arsa tengah menunduk, "Sa.. kamu tuh kakak, harus jadi contoh yang bener buat Ria! Kalo kamunya aja gini gimana Ria ga jadi nakal coba"


"Iya maaf Ay" sesal Arsa.


"Bukan ke aku, tapi kalian berdua harus minta maaf" suruh Anna sambil menatap dua anak kembar itu.


"Hah? Minta maaf sama dia?" Ria menunjuk ke arah Arsa, "Ogah gue" ucapnya.


"Asteria" panggil Anna.


Padahal hanya memanggil namanya tapi seketika membuat empunya nama merinding.


"I-iya, ekhem maaf" ucap Ria sambil melihat kearah lain, enggan melihat wajah kembarannya.


"Y, gue juga minta maaf" balas Arsa.


"Ay―"


Anna menaruh telunjuknya dibibir Arsa, "Sstt... maaf untuk hari ini masalah cukup datang tadi pagi, kamu jangan ikutan mancing amarah Abang. Bisa kan?" pinta Anna.


Awalnya Arsa enggan setuju, tapi ketika mengingat bagaimana ia diusir dari rumah Anna waktu itu membuatnya meringis kesakitan.


"Yaudah, tapi kiss dulu sebelum aku pergi" Arsa menunjuk kearah bibirnya bermaksud meminta Anna menciumnya disana.


Anna sedikit berjinjit dan mencium kedua pipi Arsa.


"Dah sana"


"Disini belum" Arsa menunjuk lagi kearah bibirnya.


"Engga, udah sana pergi!" usir Anna sambil mendorong Arsa pergi.


"Eeehh bentar" Arsa menahan tangan Anna dan mencium bibirnya sekilas.


"Kalo kamu ga mau cium, yaudah aku aja deh yang cium" ucap Arsa sambil mengedipkan sebelah mata lalu pergi.


"WOI SIALAN! KALO MAU PACARAN LIAT TEMPAT NYET!!!!" teriak Ria murka.


Rilyn menutup telinganya sesaat Ria berteriak, "Udah oi" ujarnya.


Ria duduk dengan mata berkaca-kaca, "Kapan ya, gue punya pacar" tanyanya.


Anna yang mendengar itu menatap sekilas Ria dan berkata, "Kan ada Ivan"


Mendengar ucapan Anna membuat Ria terkejut dan menyemburkan minumannya.


"Uhuk Uhuk.. gue ga salah denger kan?" tanya Ria memastikan pendengarannya.


"Bener juga ya, Ivan kan suka sama lo Ri" kini Rilyn ikut menyaut.


"Ga ga ga, gue ga mau sama bocah kek anak bebek itu" tolak Ria sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Anak bebek?" tanya laki-laki dibelakang Ria.


"Eh anjir si Ivan anak bebek!" latah Ria.


Anna dan Rilyn hanya menertawakan kelatahan Ria yang selalu bisa mengundang masalah.


"Parah adek gua dibilang anak bebek" sahut laki-laki lain yang juga muncul bersama Arsi.


"Abang! Sini sini" Anna menepuk-nepuk kursi disebelahnya, bermaksud menyuruh Abangnya itu duduk.


"Engga! Mana ada gue bilang gitu, ya kan ges?" sanggah Ria sambil mengipas-ngipaskan tangannya.


"Barusan kamu nyebutnya dua kali loh Ri" Anna ini tipekal teman yang tidak bisa menangkap kode bahaya dari temannya ya😃.


Ria menyenggol pelan sikut Rilyn yang berada di sebelah kirinya, berusaha meminta tolong untuk membantunya terhindar dari masalah.


Rilyn yang paham pun hanya melirik sekilas Ria, ia tampak ketakutan ketika ditatap intens oleh laki-laki disamping kanannya.

__ADS_1


Rilyn tersenyum usil, "Aduh Kak Aiden tau ga? Tadi Ria juga ngomongin yang engga engga tau soal Kak Aiden sama Ivan" ucapnya sambil pura-pura mengabaikan tatapan tak percaya dari Ria.


"Ho iyakah? Dia ngomong apa aja emang?" tanya Aiden sang laki-laki yang tak terima ketika ada yang menghina adiknya.


"Dia ngomong kalo Kak Aiden tuh sok ganteng mana brocon, terus Ivan dibilang anak bebek karena selalu nempel mulu sama Kakak berasa liat anak bebek sama induknya"


Habis sudah riwayat Ria, ingin sekali ia membantah ucapan Rilyn. Tapi kalau ia membantahnya malah bikin kakak beradik itu tambah ngamuk.


Rasanya Ria tuh ingin pergi ke belakang sekolah gali kuburan buat dia sendiri.


...ꔫ🅘🅽🅕🅾ꔫ...


【Aiden Willian Abhivandya. Siswa kelas 3 sekaligus mantan Wakil Osis. Buat yang tanya siapa mantan Ketua Osisnya pasti udah bisa ketebak lah. Aiden juga merupakan siswa berprestasi dibidang non-akademik, terutama basket.


Sebelumnya Aiden adalah mantan ketua tim basket dan sekarang digantikan dengan Danial. Aiden ini terkenal dengan julukan 'Brocon' ☺ julukan itu bukan sekedar julukan biasa.


Julukan itu berawal dengan Aiden yang selalu melindungi adiknya dari segala macam penghinaan ataupun pembullyan. Karena terlalu overprotective nya Aiden hingga ia mendapat julukan itu, untuk Aiden ia tak masalah diberi julukan apa. Tapi, kalau ada yang berani mengatai adiknya ia akan menghajarnya sampai tidak bisa bangkit dari ranjang rumah sakit.


Ivander Lais Abhivandya. Adik dari Aiden ini justru berbanding terbalik dengannya. Aiden bisa dibilang pintar? Iya, tapi ia paling tidak suka ikut sebuah organisasi.


Awalnya Ivan tidak mengikuti satu pun ekstrakurikuler di sekolah, padahal itu wajib diikuti seluruh siswa. Sampai akhirnya Asteria Putri Virendra yang kebetulan adalah Pengurus Osis, mendapat tugas untuk memastikan seluruh siswa SMA Nusantara minimal satu anak sudah terdaftar di ekstrakurikuler.


Dan akhirnya ketika Aster melihat nama Ivan belum tertera di eskul manapaun, akhirnya ia memaksanya untuk mengikuti satu ekstrakurikuler.


Ivan selalu menolak dan menolak setiap Aster menawarkannya untuk gabung ke eskul sport atau bahkan gabung ke Osis. Bukan Aster namanya kalo ditolak bakal nyerah^^ dengan segala cara akhirnya seorang Aster berhasil membuat Ivan join Osis.


Untuk ceritanya nanti di episode lain bakal diceritakan】


Melihat Ria yang makin menciut atas ucapannya, Rilyn pun menendang kaki Anna dari bawah meja sambil memberi kode menyuruh untuk melihat keadaan sahabatnya itu.


Anna ingin sekali tertawa, karena baru kali ini melihat Ria menciut seciut ciutnya. Mungkin Ria ingin menggali kuburan untuknya merendam malu?


"Asteria Putri Virendra" sebut Ivan.


Merasa namanya dipanggil Ria pun mendongak dan mengatakan 'hadir'. Lalu seketika semua orang disana tertawa.


"Ri jangan nangis elah" ucap Rilyn sambil menyenggol lengan Ria.


"Serius amat sih cil" kata Ivan sambil mengelus rambut Ria.


"Maaf ya Ria, kita cuman bercanda doang kok"


Setelah Anna mengatakan itu akhirnya Ria pun tersadar bahwa dirinya sedang dikerjai daritadi.


"KALIAN JAHAT" tiba-tiba Ria mengeluarkan air matanya.


Mereka yang melihat itu pun seketika panik, tidak menyangka Ria sebegitu tertekannya.


"Jangan nangis cil" Ivan yang panik itu menepuk-nepuk punggung Ria pelan, mencoba menenangkan.


"Pergi lo, gue ga sudi dipanggil bocil sama bocil sesungguhnya" kata Ria dengan air mata yang masih turun.


"Njir bisa-bisanya nih orang nangis masih ngeselin" Rilyn dan Aiden sweetdrop dengan perkataan Ria barusan.


"Iya iya maaf" sesal Ivan.


"Ga gue maafin, titik!" ucap Ria kesal.


"Gimana kalo gue turutin permintaan lo selama 1 hari?" tawar Ivan.


Sepertinya penawaran Ivan berhasil menenangkan Ria, "1 minggu!" tawar Ria balik.


"Iya iya 1 minggu deh" ucap Ivan pasrah.


"Lo harus janji, awas kalo bohong!" Ria mengulurkan jari kelingkingnya dan dibalas dengan jari kelingking Ivan.


"Iya bocil" Ivan gemas dengan Ria, ingin sekali ia menggigit pipi perempuan itu.


"Gue bilang, gue bukan bocil!"


Anna, Rilyn, Arsi, dan Aiden hanya bisa terdiam melihat interaksi antara Ria dan Ivan.


Interaksi mereka seperti orang pacaran, yang satu tsundere yang satu lagi siap banget kalo diajak ke KUA (maksudnya Ivan).


"Bang, Anna kangen mereka" celetuk Anna yang cemburu melihat kemesraan Ria dan Ivan.


Mendengar perkataan Anna, Arsi hanya menanggapinya dengan usapan pelan di kepala.


Tiba-tiba Anna memeluk Arsi, "Anna tuh jadi ngerasa punya pacar tapi ga berasa pacaran" keluhnya.


"Stop mikirin pacaran, kamu pikirin dulu lomba basket yang sebentar lagi datang" ujar Arsi sambil tangannya mengusap rambut Anna.


"Ekhem..." deheman Aiden berikan untuk menghilangkan aura aura pink disekitar.


"Kalian ini kalo mau sweet-sweetan inget tempat, gue sama Kak Aiden jadi berasa nyamuk nih" sewot Rilyn.


"Kamu sama Aiden aja, kan Aiden su―" belum menyelesaikan ucapannya, mulut Arsi dibungkam oleh Aiden.


"Su?" ulang Rilyn sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Suka kali" tebak Anna asal.


Mendengar itu membuat Ria yang sedang minum jadi terbatuk-batuk.


"Apa?! Kak Aiden suka sama Rilyn?" heboh Ria.


Teriakan Ria mengundang atensi human yang kebetulan tidak berada jauh dari tempat mereka.


Rilyn mengerjapkan mata berulang kali, mencoba menyakinkan dirinya bahwa ia salah dengar.


"E-engga itu, maksudnya su-sumpah! Kan waktu kecil gue pernah bikin sumpah asal soal lindungin Rilyn dari apapun" ujar Aiden sambil melihat kearah Arsi, meminta pertanggungjawabannya.


"Ya semacam itu" balas Arsi.


Mereka yang disana mengangguk-anggukan kepala, tanda mengerti.


'Huh untunglah' lega Aiden yang dibantu Arsi.


'Jadi, cuman asal doang ya waktu dia ngomong itu?' entah kenapa Rilyn terlihat sedikit kecewa, padahal ia tak punya perasaan apapun pada Aiden.


...꧁Bersambung꧂...


HALO GUYS JAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK DENGAN KOMEN YA'³'

__ADS_1


aku tuh masih butuh komentar kalian buat ku koreksi lagi tulisannya~


__ADS_2