Singularity

Singularity
#16


__ADS_3

Aku kini masih berkutat di depan berkas-berkas. Nyatanya liburanku kali ini tidak sepenuhnya liburan.


Aku masih menyesuaikan berkas berkas dan pilihanku masih saja benar.


Aku sudah mengetahui pelakunya. Dan pastinya aku akan menjelaskan panjang lebar tentang dan mengapa aku memilih sosok itu sebagai pembunuh.


Aku sudah menjadi detektif. Dan tinggal menunggu beberapa hari lagi aku akan berubah profesi lagi menjadi seorang pengacara.


Oh astaga.


Ketukan di pintu membuatku tersadar dari lamunanku. Oh astaga aku baru ingat, aku ada janji makan malam bersama Yeda.


Tapi, aku sama sekali belum mandi. Ya ampun. Aku juga terbiasa tidak makan malam jadi tidak ada tanda-tanda kelaparan.


Aku berlari menuju pintu. Aku membuka pintu dan menemukan Yeda yang sudah siap dengan pakaian formalnya.


Perasaan aneh itu datang lagi.


“Ah-haha. Ayo!”


Yeda menatapku datar. “Ayo? Dengan pakaian yang sama dengan siang tadi?”


Aku hanya tersenyum kikuk. “Kan hanya makan malam? Kau saja yang berlebihan!”


“Ya benar, hanya makan malam. Tapi, setidaknya ganti pakaianmu. Aku memakai pakaian seperti ini itu karena aku mau makan malam kita ini berkesan!”


“Hah? Berkesan?”


“Sudah-sudah jangan banyak bicara lagi! Segera ganti pakaianmu dengan pakaian yang dapat bersanding denganku! Tidak ada yang bisa menjamin bahwa sudah tidak ada The Big di hotel ini!”


Aku baru mau membalas ucapannya tapi dia segera mendorongku masuk dan menutup pintu. Oh dasar! Aku kesal sekarang!


Aku berpikir apakah ada pakaianku yang formal seperti pakaian Yeda?


Sebuah ketukan kembali terdengar.


Aku menghampiri pintu. “Jangan dibuka! Dengarkan aku saja!”


Aku menurutinya. Aku tidak membuka pintu dan bersiap untuk mendengarkan.


“Aku tahu kamu tidak memiliki pakaian semacam dress atau gaun. Jadi, gunakanlah pakaian biasamu! Tapi, harus cerah ya?”


Aku terkekeh. “Kamu ternyata sudah lebih mengenalku. Baiklah aku akan memakai pakaian yang menurutku cerah!”


Aku masuk toilet. Aku hanya mencuci muka lalu keluar untuk memilih pakaian. Mataku langsung melirik sebuah sweater merah muda yang baru aku beli di mall tadi pagi.


Aku meraihnya dan mengenakannya. Untuk celana aku memakai celana olahraga hitam polos. Kan Yeda bilang pakaian biasa. Ya sudah aku turuti.


Aku memakai snekers putih dan mengambil ponsel dan dompetku. Kumasukkan ke dalam kantong sweater dan aku mulai berjalan keluar setelah menyemprotkan parfum.


Ayolah, aku tidak memakai lapisan sedikitpun di wajah. Kan hanya makan malam!


Aku membuka pintu dan mendapati Yeda yang tersenyum. Bukan, bukan itu yang menyorot perhatian tapi dia sudah tidak memakai pakaian formalnya lagi.


“Sekarang kita couple! Walaupun hanya untuk seminggu!”


“Ada apa denganmu? Kenapa mengganti pakaianmu?”


Kami mulai berjalan menuju lift.


“Kalau kamu tidak ada pakaian formal. Aku belum tentu tidak ada pakaian biasa.”


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.


“Kamu cantik!”


Aku berhenti berjalan dan menatapnya. Aku sering diberitahukan tentang itu. Bahkan jauh lebih sering. Tapi, kenapa hanya Yeda yang mampu memberikan perasaan aneh ini datang.


Aku tidak polos lagi untuk mengetahui perasaan ini. Walaupun aku selalu menolak kenyataan ini tapi aku tahu bahwa ini tidak bisa aku salahkan.

__ADS_1


Aku merasakan perasaan yang sama saat bersama Gara waktu itu. Dan aku benci kenyataan ini. Kenyataan tentang perasaan ini yang mengingatkanku pada Gara dan kenyataan bahwa aku memiliki perasaan yang sama pada Yeda.


Aku menyukai Yeda, tapi aku membenci perasaan ini.


“Hei, ada apa denganmu? Apa kamu marah karena pujian itu?”


“Iya! Dan aku harap kamu tidak akan pernah mengatakannya lagi!”


Dan perjalanan kami menuju restoran dekat hotel sepenuhnya hening karena masalah PUJIAN.


Aku dan Yeda sudah memesan makanan. Tapi, kenapa aku merasa pesanan itu sangat lama datangnya. Padahal kami hanya memesan 4 menu.


Walaupun tidak lapar, tapi aku tidak betah berada di restoran ini dengan keadaan canggung bersama dengan pria yang ada dihadapanku ini.


Kalau kesabaranku sudah habis aku akan meninggalkan restoran ini. Persetan dengan semuanya.


Aku mengambil ponselku yang ada di dalam kantong sweater dan memainkannya. Walaupun aku tidak bisa bebas dalam berkomunikasi setidaknya aku bisa membuka berita-berita terbaru.


Dari segala berita tidak ada yang aneh. Kecuali, berita mengenai anak Gedcyh yang katanya sudah menyelesaikan misinya dalam waktu 5 hari.


Itu sangat lama. Apalagi misinya terbilang mudah. Mencari dalang dibalik terbakarnya gudang peluru di negara tetangga. Dan itu baru terjadi sebulan yang lalu.


Ayolah itu sangat mudah. 15 tahun yang lalu saja aku bisa menyelesaikannya tidak sampai 5 hari. Dan aku tidak menyombongkan diri, lagipula C.Pe pasti tahu berapa hari aku sudah menuntaskan misiku ini.


Huh-


Selain itu, tidak ada berita lagi. Aku hanya menggeser-geser layar ponsel dengan malas.


“Kamu bosan?”


Aku menatap ke depan. Di sana ada Yeda yang menatapku penuh dengan keseriusan. Dan jantungku bereaksi lagi akan hal itu.


“Akhirnya kamu bicara!”


“Aku tidak bisa tidak bicara denganmu!”


Aku mendengus. Walaupun berbeda dengan yang terjadi pada jantung tapi aku masih mampu berekspresi seperti biasanya. “Katakan apa yang mau kami katakan Yeda!”


“Jangan berlebihan! Itu menggelikan,”


Dia tertawa mendengar responku, dan aku hanya mengiringi semua tawanya dengan detakan jantungku yang sudah menggila.


Tawa Yeda berhenti dengan pesanan kami yang sudah bergiliran datang. Kalau dia datang dari tadi aku akan memakannya dengan cepat, tapi sekarang aku mengumpatinya karena mereka datang diwaktu yang tidak tepat.


Karena aku tahu kebahagiaan ini akan berakhir jika waktunya sudah tiba. Dan ini sudah tinggal beberapa hari lagi.


“Tidak suka dengan makanannya?”


Aku tersadar dari lamunanku. “Hah? Ah-tidak! Aku suka, hanya saja aku tiba-tiba tidak bernafsu untuk makan,”


“Untuk membangkitkan nafsu makanmu apa yang harus aku lakukan?”


Aku mengerjapkan mataku. Aku tidak salah dengar, kan?


“Nyonya Yeda?”


Aku lagi-lagi melamun. “Kamu tidak perlu melakukan apapun. Kamu lanjutkan saja makanmu,”


“Tapi, itu sangat tidak mengenakkan jika harus makan sendirian di meja ini,”


“Aku akan makan. Mungkin nafsu makanku akan meningkat jika rasa makanan ini lezat!”


Yeda manggut-manggut dan melanjutkan makannya. Aku juga perlahan lahan memasukkan sesuap demi sesuap makanan masuk ke dalam mulutku.


Rasanya pas dengan ekspektasi.


***


“Apakah malam ini kita hanya makan malam saja?”

__ADS_1


Aku menatapnya yang sedang menyetir. Tatapannya masih ke depan. “Kamu mau kemana memangnya?”


“Aku sebenarnya tidak memiliki rencana. Tapi, bukannya sangat membosankan jika kita keluar malam ini hanya untuk makan malam?”


Aku tersenyum smirk. “Maksudmu sudah terlihat jelas dari cara berbicaramu.”


Yeda terkekeh. “Ya kamu tahu itu. Tapi, itu semua tidak masalah. Karena aku mengajak Nyonya Yeda, bukan Nyonya Della.”


“Bukannya Nyonya Della masih ada di negara pertama terjadinya pembunuhan?”


Aku menatapnya jengah. “Nyonya Yeda juga menolak tawaran jalan-jalan malam harimu,”


Yeda tersenyum lebar. “Kalau begitu aku akan mulai berakting saja di sini.”


Aku membulatkan mataku. Apalagi saat dia menghentikan mobil di tengah keramaian malam. Aku tahu maksud dari kata ‘berakting’.


Dia sudah membuka pintu mobilnya dan hendak keluar.


“BAIKLAH! AYO JALAN!”


Yeda nampak tersenyum penuh kemenangan.


Aku bukan Della Madonnina! Della Madonnina tidak seperti ini. Benar aku adalah Karestya. Cewek lemah yang jatuh hati pada seorang makhluk astral.


***


Kami meninggalkan mobil sewaan itu di parkiran umum. Lalu kami dengan jalan kaki menyusuri jalan panjang di taman.


Dengan keadaan yang menikmati udara malam, kami berdua diam.


Kami terus berjalan. Hingga kami tiba di bangku taman. Taman ini cukup ramai. Namun, lampu redup yang ada pada taman ini malah terkesan romantis.


Aku duduk di bangku taman itu. “Ini melelahkan!”


Yeda hanya berdiri dan menatapku. “Apakah dalam sehari ini aku belum berhasil?”


Aku melihatnya terkejut. “Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”


Dengan pelan dia melangkah dan duduk di sampingku. “Hanya bertanya,”


Kami berdua menatap lurus ke depan. “Sebagai Nyonya Yeda, kamu telah berhasil. Tapi, jiwa Nyonya Della tertinggal di negara pertama terjadinya pembunuhan berantai. Jadi, sudah jelas dia belum merasakan apakah kamu sudah berhasil!”


Dia terkekeh. “Kamu sangat pintar membalikkan perkataan. Tapi, setidaknya aku sudah membuat Nyonya Yeda mengakuiku. Jadi, kurasa ini sudah sebagian berhasil.”


Aku tak membalas perkataannya. Aku lebih memilih bergelut dengan pikiranku.


Apa yang barusan aku katakan? Bukannya itu adalah cara penyampaian secara tidak langsung bahwa dia telah berhasil?


Ya Tuhan.


***


Kami pulang di jam yang sudah termasuk tengah malam. Kamipun tidak akan pulang jika aku tidak menegurnya.


Aku menatap kosong pada jendela mobil. Pemandangan negara ini memang hebat. Hingga aku terlalu kagum pada negara ini dengan beberapa alasan.


***


Aku membuka mataku secara perlahan. Badanku pegal-pegal seperti tidur di sofa.


Eh, tidur di sofa?


Aku membulatkan mataku lalu terduduk dengan tegap.


Setelah mengamati baru aku sadar bahwa aku tertidur di mobil!


Aku melirik tempat Yeda. Tidak ada orang. Hanya aku sendirian disini.


Aku tidak habis pikir sekarang. Aku memang ketiduran tapi…

__ADS_1


***


__ADS_2