Singularity

Singularity
#19


__ADS_3

Aku membuka mataku perlahan lahan. Tapi ketika mendengar suara aku terpaksa menutup mata lagi.


Aku perlahan-lahan mengingat kapan terakhir kali aku melihat dunia? Dan aku mengingatnya. Bukannya itu di saat aku berlibur? Namun tertembak oleh enam peluru?


Semua bagian tubuh yang terkena peluru seketika nyeri terutama bagian dada, pas dijantung. Aku mengingat prediksiku. Bukannya seharusnya aku hilang ingatan?


“FOREX!! JANGAN BERTINGKAH SEMAUMU! APAKAH KAU MAU SAAT DELLA BANGUN DIA MENATAP KITA DENGAN PENUH BENCI?”


Aku kenal suara itu. Ini suara Zefan. Seketika aku tersenyum. Aku sungguh rindu. Tapi dengan cepat aku mengganti ekspresi dan mulai menghayati. Tapi, tunggu aku baru mendengar suara teriakan yang berasal dari Zefan. Itu artinya dia benar-benar marah.


Dalam pikiran yang seperti itu, aku masih berusaha untuk terlihat pingsan.


“TAPI INI SATU-SATUNYA CARA UNTUK BALAS DENDAM!”


“KALIAN DIAM! Selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Dan juga kita harus menunggu Della sadar. Sangat tidak baik jika kita bertindak sendiri. Ingat! Hidup kalian sudah kalian lemparkan pada Della!”


Sebagai yang tertua, Razca memang bisa diandalkan pada saat-saat tertentu. Dia dengan bijak menyuruh kita berkepala dingin untuk menyelesaikan masalah.


Tapi, aku sama sekali tidak tahu masalah apa yang mereka maksud.


“Iya! Kak Razca benar. Kita harus tenang. Tujuan kita untuk saat ini hanya satu, menunggu Della sadar!”


Setelah ucapan Sasa aku merasa suasana mendadak hening. Aku jadi penasaran sudah berapa lama aku tidak sadar.


Mereka menungguku dengan sangat khawatir. Hingga kekhawatirannya itu bahkan aku ketahui hanya lewat suaranya.


“Apakah dia akan bangun? Lukanya ini terlihat sangat parah. Apalagi ada enam peluru yang mengenainya dari segala arah. Dan semuanya mengenai titik-titik yang tepat!”


Aku tersenyum tipis mendengar perkataan Sasa. Bisa kutebak sekarang dia pasti mau menangis.


“Dia pasti bangun. Tapi, kalau dia bangun jangan biarkan dia berjalan. Kedua kakinya butuh istirahat.”


Entah apa maksud dari Razca. Tapi, pikiranku langsung mengartikan bahwa Razca mau kalau aku naik kursi roda?


“Padahal dia pernah lebih parah dari ini. Tapi, kenapa justru saat inilah kekhawatiranku ini lebih melanda?”


Aku terdiam mencerna perkataan Zefan. Aku memang pernah lebih parah dari ini. Di saat aku masih SMP. Ada empat peluru yang bersarang di perutku. Saat itu aku hampir mati karena lamanya pertolongan yang datang.


Tapi, hal itu bukan ulah The Big. Melainkan ulah anak-anak Gedcyh. Dari sanalah aku mulai membenci mereka.


“Aku akan segera membunuh The Big kalau aku sudah tidak tahan lagi!”


Perkataan terakhir Forex membuat keheningan datang. Aku mendengar suara derap langkah kaki yang tidak beraturan di luar ruangan.


Saat ini aku hanya mencium bau obat-obatan. Tapi, disaat bunyi pintu terbuka di sanalah aku mencium bau darah.


Padahal aku sedang mau tenang!


“Apakah kalian tidak tahu sopan santun?”


“Maaf Pak Forex. Tapi, ini sungguh mendadak!”

__ADS_1


“Katakan!”


“Masalah ditemukannya Bos Della ini sudah tersebar di Dunia Kegelapan, dan Dunia Kegelapan menjadi gempar akan hal itu apalagi saat diketahui Bos Della ditemukan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Tapi, Mr. Gedcyh tetiba sakit. Alhasil kedua anaknya meminta untuk mempercepat waktu. Dan mereka berhasil membujuk pelaksana.”


“Intinya!”


Terdengar helaan nafas panjang, “Intinya misi kedua ini akan dituntaskan pada hari Senin minggu depan.”


Semuanya terdiam. Memang biasanya jika seperti ini mereka sekeluarga akan bertindak, tapi aku sama sekali tidak menyangka bahwa mereka akan melakukan tindakan ini.


“Tapi, C.Pe menentang keras hal ini. C.Pe berkata dia bisa menunggu Bos Della siuman. Namun, kedua anak Gedcyh bersikeras hingga mendapat persetujuan dari C.Pe dengan syarat C.Pe yang akan menilai berhasilnya para kandidat secara langsung dengan rapat nonpublik.”


Aku seketika membuka mataku. Aku jelas saja terkejut. Apa maksudnya secara langsung dengan rapat nonpublik?!


C.Pe akan menampakkan diri di depan para kandidat? Begitu maksudnya?


Keadaan masih hening. Aku hanya bisa mencairkan suasana dengan memberi tahukan kepada mereka bahwa aku sudah sadar.


Tidak ada yang menyadarinya bahwa aku sudah membuka mata karena terkejut. Suaraku juga pasti lemah jadi aku mengulurkan tanganku pada selimutku dan menjatuhkannya.


Walaupun bunyinya tidak termasuk berisik, tapi itu termasuk menggangu karena bunyi lonceng yang diatur pada selimut.


Semua menoleh ke arahku. Semuanya menunjukkan wajah terkejut tercampur dengan wajah lega.


Sasa bersiap untuk lari ke arahku tapi segera kuangkat tanganku untuk menyuruhnya berhenti.


Dengan patuh dia berhenti. Mereka masih melihatku, menungguku bertingkah.


Aku tersenyum melihat mereka dan dengan pelan tanganku menepuk-nepuk ringan perutku diiringi wajah memelas.


Sasa tersenyum. “Tunggu sebentar! Aku akan menyajikan makanan yang sangat lezat!”


Setelah Sasa pergi, aku beralih menatap Zefan. Zefan masih menampakkan wajah leganya. Aku tersenyum lalu memanggilnya untuk mendekat.


Dia berjalan dengan patuh. Aku melambaikan tanganku, dengan maksud menyuruhnya mendekat karena aku mau berbisik dan Zefan mengerti.


Setelah aku rasa posisinya telah bagus aku mulai berbisik. “J-jangan p-pergi ya? Takutnya penyakitku malah tambah parah,”


Suaraku itu hampir tidak bersuara. Suaranya sangat kecil, tapi aku anggap Zefan mengerti dari kekehan kecilnya.


“Baiklah adikku tersayang! Kakak Zefan mu ini akan melindungimu dari dua kakak kejammu itu,”


Aku tersenyum setelah mendengar balasan yang dia bisikkan. Dia kembali berdiri dan berjalan mengambil buah yang ada di meja kecil di tengah sofa.


Selagi mengurus buah itu aku melirik Razca dan Forex. Mereka memang menampakkan wajah lega, tapi aku tahu mereka pasti memiliki banyak bahan omelan.


Aku hanya tersenyum pada mereka, lalu mengalihkan tatapanku pada seorang pemuda yang ada di dekat pintu.


Dia pasti yang membawa kabar itu. Dia jelas kaget karena aku yang sudah siuman, tapi aku bisa melihat bahwa dia sangat bersyukur.


Setelah aku ingat-ingat lagi wajahnya, aku malah mendapatkan hasil yang tidak sesuai. Wajahnya mirip dengan wanita yang menjual di kios kecil bagian pemakaman.

__ADS_1


Wanita yang membuatku tersenyum karena tingkahnya yang sangat lucu karena gelagapan. Tapi, yang ini pemuda.


Pemuda itu tidak mungkin dirinya. Karena dia sangat penakut dan polos. Wanita itu pasti tidak akan bisa menambah ketakutannya di saat melihat wajah sangar para kakak-kakakku tadi.


Aku tersenyum pada pemuda itu dan dia gelagapan. Aku terkekeh. Pemuda itu sungguh sangat mirip dengan wanita itu. Apakah mereka memiliki hubungan darah?


“Della, mau apel?”


Aku mendongak menatap wajah Zefan. Lalu mengangguk pelan. Kubuka mulutku pelan, dan dia menyuapiku dengan lembut.


“Cepat sembuh,” Aku hanya mengangguk sambil melanjutkan kunyahan apelku ini. Rasanya perutku sangat rindu dengan makanan seperti ini.


“Untungnya kamu sudah siuman. Jika tidak, The Big pasti sudah ada di dalam rumah sakit sekarang! Tapi, aku cukup kecewa karena sepertinya kamu melupakan aku dengan Razca.”


Aku terkesiap mendengar suara berat Forex. Aku hanya bisa menelan apel itu dengan paksa, diiringi dengan senyuman paksa.


Mungkin aku tidak bisa menghindari omelan mereka. Tanganku terangkat dan melambai pada mereka dengan maksud yang sama seperti Zefan tadi.


Mereka tidak bergerak. Mereka malah duduk di sofa dan menatapku tajam.


“Karena kamu baru siuman, kita membiarkanmu hari ini. Tapi, aku tidak tahu untuk ke depannya!”


Aku menggeleng. Aku jelas lebih memilih untuk menyelesaikan masalah ini sekarang daripada harus terus kepikiran.


Aku menoleh kepada Zefan yang menatapku. Aku menggerakkan mulutku, tanpa mengeluarkan suara aku berbicara bahwa aku membutuhkan kertas dan pena.


Zefan mengerti dan mengambil kertas yang ada di laci nakas tidak lupa pena yang sudah terselip di antara buku-buku.


Aku mengambil buku tersebut dan mulai menulis sembari suapan yang terus menerus masuk ke mulutku.


‘Aku menulis dan tidak mau bicara itu semua karena bagian dari istirahat. Aku tidak mau kelelahan di hari aku menjelaskan kasus nanti! Aku akan menjelaskan semua hal ini di kertas ini.’


Setelah aku menulis kalimat pembukaan tersebut, aku melirik Sasa yang memasuki ruangan.


Zefan kini tergantikan oleh Sasa. Begitu pula makanan yang disuapkan padaku juga bukan lagi buah melainkan masakan yang aku rindukan.


Aku mulai menulis penjelasanku di kertas tersebut. Dimana aku mulai berangkat di hari yang masih terbilang awal, dimana aku menemukan dan dimana aku berhasil dengan keadaan tidak terduga.


Semuanya aku ceritakan kecuali kedatangan Yeda. Sosok yang bahkan aku tidak tahu nama aslinya. Sosok yang aku dapat dari grup aneh seperti namanya CURIOS.


Aku hanya menuliskan bahwa aku menikmati liburan sendirian. Tanpa orang lain. Dan aku berpindah negara dengan menyusup. Dengan nama yang membuat orang terkekeh.


Aku merasa kecewa dengan sakit ini. Karena sama sekali tidak membawa keuntungan seperti ekspektasi.


Perasaan ini tidak hilang. Dan ingatan ini tidak melupakan apapun tentangnya. Aku benci!


Aku berdoa semoga saja perasaan ini akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Ya aku mohon itu! Karena perasaan ini menyiksa.


Setelah selesai menulis di kertas itu akupun menyerahkan pada Sasa dan Sasa memberikannya kepada Zefan. Setelah itu, mereka bertiga membacanya dalam keheningan.


Suapan Sasa tidak berhenti. Aku menatapnya. Baru mau bertanya dia mendahuluiku dengan berbicara manis. Sangat manis hingga membuatku mau memeluknya.

__ADS_1


”Aku tidak peduli apapun tentang yang sudah terjadi. Intinya sekarang adalah kamu masih ada di hadapanku.”


***


__ADS_2