
Aku membeli satu makanan ringan. Yang aku pastikan halal. Dan untuk satu makanan ini aku memerlukan waktu yang sangat lama. Dengan waktu yang seperti itu aku bisa membunuh ratusan orang. Oh astaga!
Aku berjalan pelan untuk kembali ke hotel. Aku memilih perkataan yang tepat untuk menyampaikan maksudku ini.
Tapi, langkahku terhenti saat melihat The Big di depanku. Dia menyeringai melihatku. Aku jelas saja terkejut, orang ini tidak membuatku takut. Tapi, ini adalah negara orang. Tidak ada alasan bagiku untuk melawannya di sini.
“Kamu mau menyelesaikannya di mana?”
Dia menyeringai. “Kenapa cari tempat lagi? Di sini juga bisa!”
Aku menatapnya datar. “Oh baiklah! Aku akan membuatmu menderita di sini!”
Di depan hotel ini sungguh sangat ramai. Aku tidak tahu harus apa lagi. Jadi, aku menerima tantangan gilanya.
Huh, orang gila ini. Entah apa masalahnya hingga sangat menginginkanku untuk jatuh. Dan akupun menganggapnya musuh besarnya karena dia hampir membunuh papa dan mama dengan cara murahan dan kotor.
Dia maju dengan mengayunkan tinjuannya. Dia sepertinya sudah menganggapku sebagai laki-laki, dia berani memukul duluan seorang wanita?
Oh come on! Untungnya aku setuju dengan motto hidup mafia, ‘tidak membedakan gender’.
Dia sepertinya kelamaan tidak latihan karena stress. Lihat saja tinjuan yang dia layangkan sama sekali tidak seperti pembunuh. Aku hanya perlu membuatnya terjatuh kalau seperti ini. Hem, menjulurkan kakiku untuk membuatnya terjatuh? Hoho, itu cara yang bagus.
Aku menjulurkan kakiku dan dia sungguh masuk di perangkap yang aku letakkan itu. Alhasil dirinya jadi tontonan banyak orang. Aku hanya berpura-pura terkejut melihatnya terkejut.
“Oh~ Ada apa Pak? Apakah anda baik-baik saja?”
Pertanyaanku itu sungguh sangat aneh untuk aku keluarkan pada seorang The Big. Aku terpaksa berjongkok dengan insiatif membantunya.
Tapi itu semua hanya pura-pura. “Lagu dan lagi kamu gagal. Kalau aku mau aku bisa membunuhmu sekarang. Dan kamu akan masuk dilist orang yang pernah aku bunuh. Tapi, bersyukurlah karena kita sekarang ada di negara orang. Lain kali jika mau datang sekalian bawa kemampuan yang baik! Selamat tinggal Bapak The Big!”
Aku berdiri dan menatap sekitar. “Katanya dia mau langsung dibawa ke rumah sakit. Mohon bantuannya semua,”
__ADS_1
Mereka membalas dengan senyuman dan pria-pria yang ada di sana mulai mendekat untuk membantu, dan aku mulai berjalan meninggalkan mereka.
Aku melanjutkan langkahku untuk memasuki hotel. Aku tersenyum puas menikmati pemandangan tadi. Aku sama sekali tidak menyangka berhari-hari aku lewati bukannya dia makin kuat dia malah makin lemah.
Oh, The Big. Itu kau, kan?
Aku melangkah dengan ceria tapi tiba-tiba berhenti. Aku mencium bau aneh di sekitar sini.
Ini aneh. Ini bau pistol. Oh, kenapa aku kewaspadaanku hilang?
Aku menoleh ke arah bau itu. Aku yakin pistol itu sedang mengarah padaku. Aku tidak membawa apa-apa sekarang selain dompet, cemilan, dan ponsel.
Pakaianku hanya pakaian biasa. Tidak ada yang spesial di sini. Apakah aku akan terkena tembakan itu?
Di sini ada enam buah pistol yang mengarah padaku. Jika aku bergerak sedikit saja semua pistol itu pasti mengarah padaku. Sekarang aku tengah berdiri diantara orang-orang yang melakukan kegiatan mereka.
Keputusan apapun yang aku ambil, sudah jelas itu akan membuat orang sekitar ketakutan.
Tapi, ini adalah cara untuk tidak membuat masalah di negara orang. Jika aku melangkah ada enam peluru yang akan meluncur.
Aku harus berhati-hati agar semua peluru itu tertuju padaku dan tidak mengenai orang lain.
Aku mulai melirik tempat pistol itu berada lalu menghela napas panjang. Aku benar-benar sudah terkunci. Sudah tidak ada cara lagi untuk menghindar.
Kalau aku tertembak sekarang, pasti jika aku sadar aku sudah berada di apartemenku yang ada di negara tanah air.
Entah aku harus memuji atau mengumpati The Big sekarang. Memuji atas rencananya ini yang sangat bagus. Atau mengumpatinya karena dia hanya memikirkan hal ini tanpa memeriksa kerugian yang harus dia alami.
Sekali lagi aku menghela napas panjang. Padahal aku belum sempat untuk berpamitan dengan baik pada Yeda. Bahkan aku belum mengetahui namanya.
Maaf Yeda. Aku harus meninggalkan liburan kita sekarang. Sudah tidak ada pilihan lagi.
__ADS_1
Sambil memakan cemilanku dengan maksud memberi tahukan bahwa aku belum tahu rencana mereka, aku mulai berpikir keras.
Jadi, langkah pertama yang harus aku ambil adalah harus mencari kondisi yang benar. Untuk peluru pertama yang di atas, itu tidak akan mengenai kepalaku jika aku mundur. Tapi, jika aku mundur peluru ketiga yang ada di balik gedung hotel pasti mengenai jantungku.
Aku tidak bisa ke kanan dan ke kiri, bahkan melompat dan merangkak. Jika itu terjadi maka akan ada satu orang yang terkena peluru. Dan itu akan membuat keadaannya lebih buruk lagi.
Aku harus mengorbankan salah satu organku. Antara jantung dan kepala. Aku hanya bisa menyerahkan kepala. Karena jika dikepala, aku memprediksi aku hanya hilang ingatan.
Lagipula jantungku terlalu berharga untuk dikorbankan. Karena aku masih mau mendengarkan detakannya. Kalau hilang ingatan aku juga bisa dapat keuntungan dari hal itu, cukup banyak keuntungan.
Aku memilih untuk melanjutkan langkahku jika kurasa orang sekitar sudah menjauh dengan tepat.
Aku perlahan mengangkat kakiku untuk melangkah dan aku tersenyum miris ketika mendengar bunyi terlepasnya peluru dari segala arah.
Dan sebelum peluru itu sampai, di situ aku tersadar bahwa aku tidak bisa seperti ini lagi. Liburan untukku sudah menjadi hal mustahil jika aku menutup mata.
Enam peluru sudah dalam perjalanan.
Ketika kedua kakiku terkena aku menggeram. Aku memaksa kaki ini untuk tetap berdiri hingga peluru terakhir tertancap.
Tapi, sakitnya mulai aneh. Lebih tepatnya aku pusing, sakit kepala. Pandangan mataku ini jadi kabur hingga membuatku hampir hilang kesadaran.
Kurasakan pahaku mengeluarkan cairan. Aku rasa cairan itu adalah darah, artinya peluru keempat yang berasal dari salah satu kamar di hotel itu sudah tertancap di pahaku.
Aku sudah merasakan sakit di sekitar jantung. Dan sedetik kemudian punggung dan kepalaku merasakan tabrakan peluru kecil.
Sebelum menutup mata aku sudah tahu bahwa aku sudah dikelilingi orang-orang. Dan ada satu yang sangat dekat denganku. Aku tersenyum padanya. Seakan mengerti dia mendekat.
“E--nam d-dua li-ma.” Aku sudah menatap kegelapan setelah mengatakan nomor kamar hotel Yeda seraya menunjuk gedung hotel tersebut.
Aku harap orang yang aku bisikkan itu tahu dan menyampaikan pesanku.
__ADS_1
***