
Setelah membaca kalimat perkalimat yang aku tulis di atas kertas mereka mencoba mengerti. Tapi, tidak dengan Forex.
Dia menghampiriku dan menggenggam tanganku. “Kamu sudah melakukan banyak kesalahan Della Madonnina! Apakah kamu tidak tahu perjuangan kita semua yang gila karena mencari sedangkan kamu malah asik liburan? Setidaknya beri kabar yang jelas. Apakah kita sangat menggangu?”
Aku hanya bisa tersenyum menatap Forex. Lalu menatap mereka satu persatu. Semua tatapan mata mereka sama, tatapan sendu.
Aku memanggil mereka dengan pelan dan semua berjalan menghampiriku.
“Pe-peluk,”
Sedetik setelah kuucapkan sudah ada empat orang yang memelukku dengan erat tapi hangat. Mereka orang spesial. Mereka adalah orang yang membuatku tersenyum setiap saat.
“A-aku sayang kalian!”
Sangat sulit untuk mengeluarkan suara pada saat ini. Tapi, untuk hal ini semua itu terbayarkan!
Selesai dengan acara peluk-pelukannya Razca tiba-tiba berdiri.
“Saatnya rapat anak-anak!”
Dia memang ahli dalam merusak suasana! Dan sekarang aku menobatkannya sebagai Mood breaker.
Tapi, penampilanku menunjukkan bahwa aku hanya bisa diam saja. Ketahuilah jika Razca yang mengatakan ‘rapat’ maka itu melebihi dari kata serius.
Dan akhirnya setelah lama berkutat dengan ‘rapat ketat’ yang membuatku bertanya kapan berakhirnya itu membawa hasil bahwa aku harus istirahat keras.
Aku harus istirahat keras untuk hari senin minggu depan. Razca sangat serius saat membahas hal ini, mungkin karena C.Pe yang akan hadir.
Setelah rapat, mereka mengatakan apa yang aku lihat dimimpi hingga bisa betah di sana selama dua minggu? Itu artinya aku kehilangan kesadaran selama dua minggu.
Mereka juga bercerita bahwa perusahaan hampir bangkrut karena Harya bermain-main dengan saham perusahaan. Tapi, kerja keras semua pegawai terutama Zefan yang mengerti tentang bisnis membawa kembali kejayaan pada Madoninna's Company.
Lama bercerita dan aku mendengarkan. Mereka akhirnya pulang dan nanti akan kembali lagi, atau lebih tepatnya aku yang mengusir mereka.
Kini aku berada di apartemen seorang diri. Kabar bahwa C.Pe hadir pasti sangat menggemparkan Dunia Kegelapan, termasuk pikiranku yang tidak bisa berhenti memikirkannya.
Apalagi jika dilihat secara kasat mata bahwa C.Pe hadir karena anak-anak Gedcyh yang merupakan Mafia Chair mampu membuat Dunia Kegelapan memuji-muji mereka bertiga.
Padahal kalau ditelusuri lebih jauh, nyatanya C.Pe datang karena kandidat Mafia Chair yang tidak bisa berpikir jernih karena kondisi yang mereka alami seperti aku sendiri.
Dasar! Ayah dan anak sama saja!
__ADS_1
Ketukan di pintu apartemen membuatku tersadar dari lamunanku. Untuk saat ini hanya orang-orang tertentu yang mengetahui bahwa aku sudah siuman, jadi aku bisa tebak bahwa ini adalah orang yang aku kenal.
Biarkan dia masuk sendiri. Lagipula, password apartemenku sudah jelas diketahui oleh orang yang mengetahui aku sudah siuman.
Cukup mengesalkan mengingat bahwa apartemenku jadi seperti tempat persinggahan orang-orang. Tunggu dan lihat saja, jika aku sudah sembuh total aku akan pindah dari sini.
“Untuk hari ini aku sudah 4 kali mendapatimu melamun. Ada apa denganmu?”
Aku menoleh ke arah sumber suara, dia Razca. Dia kini duduk di dekatku.
“Mau cerita?” Aku menggeleng. Lalu dia hanya manggut-manggut.
“Baiklah kalau begitu aku yang mau cerita,”
Aku hanya diam. Menunggu lanjutan bicaranya. Sangat menenangkan melihat Razca bicara tenang.
“C.Pe akan berangkat ke negara kita besok pagi. Kemungkinan besar dia akan tiba lusa sekitar jam 11 siang. Bagaimanapun juga kita harus menyambutnya. Jika tidak, bisa saja kesan awalnya pada kita akan sangat tidak baik.”
“Walaupun kamu sakit sekalipun,” Lanjut Razca.
Aku menunjuk ponselku yang ada di atas nakas. Dan dia mengambilnya lalu memberikan kepadaku.
Aku mulai mengotak atik ponselku dan kembali memberikan padanya.
‘Tapi, bukannya akan terkesan mencari perhatian jika aku tetap berjalan meski dalam keadaan sakit?’
Keadaan kembali hening. Entah karena Razca yang kemampuan membacanya kurang atau dia yang terlalu menghayati.
“Aku juga berpikir seperti itu sebelumnya. Tapi, bagaimanapun juga kita tetap harus menyambutnya. Kita akan pulang setelah menyambutnya. Aku akan memberikan pengawalan yang terbaik! Lagipula C.Pe nampaknya tertarik denganmu, tidak salahkan kalau kita menambah sedikit kesan lagi?”
Aku berpikir ini juga ada benarnya. Setelah bergelut dengan pikiran masing-masing aku akhirnya menyetujui perkataan Razca.
Bagaimanapun juga dia adalah yang tertinggi. Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya ataupun menyukainya.
Aku kembali mengingat bahwa ternyata aku sudah tidak pernah meninggalkan kasurku ini selama dua minggu jadi semisal aku istirahat hingga lusa itu akan menjadi 16 hari, kan?
Bukannya itu adalah rekor baru untuk hidupku? Itu adalah waktu terlama aku tidak meninggalkan tempat tidur sekaligus apartemenku ini.
Aku pernah pingsan lebih dari tiga bulan tapi itu di rumah sakit bukan di apartemenku. Saat itulah rekor bahwa aku tidak mencium udara normal selama tiga bulan tercatat. Intinya rekor terbanyak yang aku hasilkan di kehidupanku sendiri adalah di rumah sakit itu.
Untuk pertama kalinya aku bersyukur akan bau obat-obatan ini, karena aku sudah tidak perlu lagi menutup hidung untuk menahan bau badanku yang minta ampun.
__ADS_1
Katanya selama 14 hari ini, hanya gigiku yang dibersihkan dengan teratur. Makanku selama 14 hari juga melalui alat-alat tertentu, ukh sangat tidak sehat.
***
Mereka bertiga sudah tiba di apartemenku dengan bersamaan. Razca yang melihat itu tertawa karena sepertinya Razca meninggalkan mereka.
Aku hanya tersenyum melihat pertikaian antara 3 anak laki-laki itu. Aku hanya bisa memakan masakan buatan Sasa dengan suapan Sasa.
Aku tidak henti-hentinya tersenyum saat mengingat bahwa setelah aku sadar dari pingsan yang lama itu aku hanya disuguhkan makanan hasil buatan Sasa dan itu semua tersedia tanpa merengek terlebih dahulu.
Aku jadi terharu.
Tapi, senyum seketika buyar karena pikiranku tiba-tiba mengingat soal Yeda yang juga selalu menyiapkan makanan lezat. Aku tidak bisa melarang hal itu, karena itu hal spontan yang dilakukan pikiranku.
Aku tidak bisa mengelak ketika perasaanku dipertanyakan. Aku masih memiliki perasaan itu. Perasaan itu belum hilang. Dan jujur aku sangat merindukan sosok Yeda.
Bahkan aku berniat untuk menyelidikinya tapi banyak kendala yang harus aku hadapi jika itu terjadi jadi aku hanya bisa diam. Selesai dengan istirahatku aku akan mulai mencarinya.
Tapi, terkadang aku ragu kenapa aku mau menyelidikinya, benarkah aku rindu atau hanya karena perasaan bersalah yang menghantuiku karena aku tidak berpamitan sebelum pergi.
Aku hanya berharap aku bisa bertemu dengannya entah lewat KEBETULAN atau SENGAJA.
Lagipula dia berhutang padaku, nama aslinya belum dia beritahukan.
Sambil menyuapkan makanan yang dia buat, Sasa mulai membuka obrolan.
“Makanannya terlalu nikmat ya?” Aku tersenyum lalu mengangguk.
Dia awalnya tersenyum tapi kulihat perubahan raut wajahnya yang tiba-tiba menjadi serius.
“Aku daritadi memikirkan hal ini dan aku rasa mungkin inilah waktu yang tepat. Setelah kamu pergi, ada banyak bukti kuat yang berkaitan dengan kematian Nyonya Madoninna!”
Aku terdiam. Aku memikirkan apa tadi? Hidupku hanya memiliki satu tujuan utama, yakni mencari penyebab kematian sang ibu. Tidak ada waktu untukku memikirkan CINTA.
“Ternyata kematian Nyonya Madoninna tidak sepenuhnya disebabkan oleh penyakitnya. Karena hasil diagnosis Nyonya Madoninna yang sebenarnya keluar pada saat kamu pergi keluar negri!”
Aku lagi-lagi terdiam. Ternyata tebakanku selama ini benar. Penyakit yang ibu derita bukanlah penyebab keseluruhan terjadinya kematian almarhumah.
“Laporan diagnosa yang keluar dikunci aman di brankas Forex. Tapi, sekarang Forex sedang sibuk berkelahi jadi aku ceritakan secara garis besar saja.”
“Laporan mengatakan bahwa cara pembunuh membunuh almarhumah Nyonya Gea Madoninna sama dengan caranya membunuh almarhumah Nyonya Varian Busta.”
__ADS_1
***