Soul Fighter

Soul Fighter
Prolog


__ADS_3

"Bisa menembus pertahanan energi jiwa yang di buat oleh tuan Ling Hun. kau ini siapa kau sebenarnya." ucap seorang pria berambut coklat dengan wajah yang berusia sekitar dua puluhan itu, dia bernama Lin Lan.


"Coba tebak siapa aku." ucap seorang pria bertopeng.


"Kau adalah Siwang Zhi Hua. tidak, tidak mungkin dia sudah mati." ucap Lin Lan.


"Sayangnya, tebakan mu itu benar." ucap pria bertopeng.


Setelah mengatakan bahwa tebakan Lin Lan benar pria bertopeng itu melesat dengan kecepatan suara menuju ke arah prasati batu permata jiwa.


(Sing... suara energi jiwa yang tertinggal saat pria bertopeng itu melesat)


"Huh... cepatnya." dalam hati Lin Lan.


pri bertopeng itu berusaha mencari batu permata jiwa tetapi tidak dapat di temukan olehnya.


"Ternyata sejak awal kau sudah mengetahui kedatangan ku." ucap pria bertopeng.


"Pertahanan energi jiwa ini telah di perkuat menggunakan energi jiwa ku, dan saat kau berusaha untuk menembus pertahanan ini aku bisa merasakannya, karena aku dan pertahanan ini telah terhubung." ucap Lin Lan.


"Ternyata Ling Hua memiliki penerus yang cukup berbakat, tapi aku ingin lihat sejauh mana bakat mu bisa menolong mu." ucap pria bertopeng.


Pria bertopeng itu kembali melesat dan kali ini dia menuju ke arah Lin Lan.


(Sing...suara suara energi jiwa yang tertinggal saat pria bertopeng itu melesat)


Lin Lan menyadari bahwa pria bertopeng itu akan menyerangnya walaupun dia tidak bisa melihat pergerakan pria bertopeng itu karena pergerakannya yang setara dengan kecepatan suara.


"Aku tidak akan kalah." ucap Lin Lan sambil mengambil tongkat hitam yang ada di punggungnya.


Lin Lan menghunuskan tongkatnya ke depan dan di saat itu pula pria bertopeng itu menghantam tongkat Lin Lan dengan telapak tangannya.


(Bam... suara telapak tangan pria bertopeng yang beradu dengan tongkat Lin Lan)


Setelah itu Lin Lan langsung mengalirkan energi jiwa ke tongkatnya dan memutar mutarkan tongkatnya.


"Soul Vortex." ucap Lin Lan sambil menggunakan jurus.


Jurus Lin Lan memmbentuk sebuah pusaran berwarna hitam di sekeliling tubuhnya.


(Zhu... zhu... suara udar yang tergerak karena jurus Lin Lan)


Dengan cepat pria bertopeng itu melompat ke atas Lin Lan dan dengan kekuatan penuhnya pria bertopeng itu langsung turun dan menghatamkan kepalan tangannya dari atas Lin Lan yang sedang berputar putar.


"Soul blast fist." ucap pria bertopeng sambil mengaktifkan jurus.


Lin Lan yang menyadari akan hal itu dengan cepat mengangkat tongkatnya ke atas dan menghunuskannya ke arah kepalan pria bertopeng itu.


"Soul energy prick." ucap Lin Lan sambil mengaktifkan jurus.


beradunya serangan kedua orang itu menciptakan sebuah ledakan energi yang ringan hingga menciptakan kepulan asap.


(Kabom... suara ledakan dari serangan kedua orang itu yang beradu)

__ADS_1


Pria bertopeng itu melompat menjauh dari ledakan itu sementara Lin Lan masih tertutup oleh debu dari ledakan serangan itu. secara perlahan debu itu menghilang dan terlihatlah Lin Lan yang menopang tubuhnya dengan tongkat hitamnya.


"Ternyata hanya segini, hanya dengan satu jurus kau sudah melemah, lebih baik aku segera membunuhmu dan mengambil batu permata jiwanya saja." ucap pria bertopeng.


"Aku tidak akan membiarkan mu menang, bahkan jika aku mati aku akan membawa mu bersamaku. Soul core explosion." ucap Lin Lan sambil mengaktifkan jurus.


Jurus yang di gunakan oleh Lin Lan menciptakan sebuah ledakan energi yang mecakup radius jutaan mil di sekitarnya hingga membuat tanah menjadi melekung. ledakan itu telah di ketahui oleh seluruh klan Linghua hingga mereka bergegas menuju area ledakan. orang yang sampai di tempat itu terlebih dahulu adalah seorang pria berambut orange dengan wajah yang terlihat seperti berusia 20 tahunan. dia bernama Xiao Lan yang merupakan sahabat karib Lin Lan dan Xio Lan langsung menghapiri Lin Lan yang telah sekarat.


"Kau tidak dapat bertahan lagi teman, jadi tolong katakanlah sesuatu sebelum kau pergi." ucap Xiao Lan sambil meneteskan air mata.


"uhuk ukh ha....aha, to...to..long be..be..rikan ko..ko..tak ini pa....da hah....ha..pu...tra ku, dan jag....alah dia ukh.. se..perti an..ak mu se..sen...diri." kata kata terakhir dari Lin Lan


Setelah beberapa tahun.


"Kelihatanya, kau sangat suka memancing ya." ucap seorang gadis yang berdiri di belakang Yang Chen.


sontak Yang chen pun menoleh ke belakang, terlihatlah sosok seorang gadis memakai gaun dengan perpaduan warna orange dan hitam dia bernama Xue Ying


"Katakanlah, apa yang kau inginkan??. "


ucap Yang Chen sambil memperhatikan pancingnya.


"Hanya ingin mengobrol."ucap Xue Ying sambil mendudukan tubuhnya di samping Yang chen.


"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku??." ucap Yang Chen datar.


"Lima hari lagi seleksi murid akan diadakan, dan seluruh generasi muda akan ikut." jelas Xue Ying.


"Ya, aku sudah tau." ucap Yang Chen.


"Bagaimana dengan latihan mu??, apa kau sudah bisa mengaktifkan jiwa petarung mu??." tanya Xue Ying.


"Belum." jawab Yang Chen singkat.


"Sial, kenapa dia bisa sesantai ini." dalam hati Xue Ying.


"Lalu, kenapa kau tidak berlatih??." tanya Xue Ying.


"Karena aku tidak mau." jawab Yang Chen.


"Yang Chen, jika kau tidak bisa mengaktifkan jiwa petarung mu saat seleksi murid nanti, kau pasti akan di usir oleh ketua klan." jelas Xue Ying.


"Aku tidak perduli." ucap Yang Chen.


"Aku sebenarnya juga tidak perduli pada mu sih, tapi... kau tau kan, seberapa besar ayah ku menurunkan harga dirinya agar kau tetap tinggal disini." ucap Xue Ying.


Yang Chen terdiam. karena pada saat seleksi murid satu tahun yang lalu, Yang Chen hampir saja di usir oleh ketua klan, tapi hal itu bisa di hindari karena ayah Xue Ying memohon kepada ketua klan untuk memberinya kesempatan satu tahun lagi.


"Aku harap... kau tidak akan mengecewakan ayah ku." ucap Xue Ying sambil pergi meninggalkan Yang Chen.


"Sebenarnya...aku sangat peduli pada mu, tapi kenapa kau selalu mengabaikan ku." dalam hati Xue Ying.


satu jam setelah kepergian Xue Ying.

__ADS_1


"Aku harap... kau tidak akan mengecewakan ayah ku." dalam hati Yang Chen.


"Sial, kenapa kata katanya terus teringat oleh ku." gumam Yang Chen.


"Aku jadi tidak fokus memancing, kalau begini lebih baik pulang saja." gumam Yang Chen.


Yang Chen membereskan peralatan memancingnya dan pulang ke rumah.


saat Yang Chen sudah hampir sampai di rumahnya tiba tiba saja ada tiga orang yang membicarakannya.


"Hey lihat si sampah itu baru pulang memancing." ucap orang yang pertama.


"Mungkin dia sudah menyerah untuk menjadi seorang petarung, jadi dia memilih untuk menjadi pemancing yang haldal." ucap orang yang kedua.


"Pufft.. jangan bercanda, dia itu hanyalah sampah yang tidak berguna, dia tidak akan bisa menjadi master pemancing, lihat saja dia bahkan tidak berhasil membawa seekor ikan pun." ucap orang yang ke tiga


"hahahahahahaha." tawa ke tiga orang itu serentak.


Yang Chen merasa geram mendengar apa yang di katakan oleh ke tiga orang itu, tapi Yang Chen sadar bahwa dia sangatlah lemah, jadi dia mengabaikan ke tiga orang itu dan berjalan ke rumahnya, saat Yang Chen hampir sampai di rumahnya dia melihat ada seseorang yang dia kenal sedang menunggunya di depan rumahnya.


"Paman Xiao Lan." gumam Yang Chen.


"Yang Chen akhirnya kau pulang juga, aku sudah menunggu mu sejak tadi." ucap Xiao Lan.


"Maaf paman, aku tidak bisa menyambut ke datangan paman." ucap Yang Chen.


"Tidak masalah, lagi pula... aku hanya ingin ngobrol sedikit dengan mu" ucap Xiao Lan.


"Kalau begitu, ayo kita masuk paman!!, aku akan membuatkan teh untuk mu."


ucap Yang Chen.


"Tidak perlu repot repot, lagi pula aku hanya ingin bertanya tentang jiwa petarung mu??." ucap Xiao Lan.


"Aku... masih belum bisa mengaktifkannya." ucap Yang Chen rendah.


"Jangan menyerah Yang Chen, paman yakin kau pasti bisa." ucap Xiao Lan menyemangati.


"Tapi aku tidak yakin aku bisa melakukannya dalam lima hari." ucap Yang Chen.


"Jangan khawatir, aku punya sesuatu untuk mu." ucap Xiao Lan sambil merogoh sakunya dan memberikannya kepada Yang Chen.


"Apa isi kotak ini paman??." tanya Yang Chen.


"Paman juga tidak tau, karena kotak itu adalah peninggalan ayah mu. ayah mu menggunakan segel darah keturunan pada kotak itu, hanya kau lah yang bisa membukanya." ucap Xiao Lan.


"Terima kasih paman, aku sangat senang mendapat hadiah ini dari mu."


ucap Yang Chen.


"Berterima kasihlah pada ayah mu. masih ada hal yang harus aku kerjakan, jadi aku pergi dulu." ucap Xiao Lan.


"Berhati hatilah di perjalanan paman."

__ADS_1


ucap Yang Chen.


"Tentu saja." ucap Xiao Lan


__ADS_2