Soul Fighter

Soul Fighter
Seleksi Murid


__ADS_3

Setelah selesai berlatih Yang Chen pulang kerumah dan beristirahat.


"Ha...ah... sial, kenapa aku tidak bisa tidur. " gumam Yang Chen.


Yang Chen mondar mandir di kamarnya sambil berpikir.


"Lebih baik aku pergi ke perpustakaan dan mencari informasi baru untuk menutrisi jiwa petarung ku." dalam hati Yang Chen.


Setelah mendapt ide itu Yang Chen pergi menuju ke perpustakaan dan membaca setiap buku tentang jiwa hewan yang sangat dibutuhkan oleh seorang petarung jiwa.


"Opposum memiliki protein khusus di dalam darahnya yang bisa menangkal segala racun." ucap Yang Chen sambil membaca.


"Hmm... kalau di pikir pikir kemampuan hewan ini bagus juga, kalau begitu pergi berburu saja." dalam hati Yang Chen.


Yang Chen pergi ke hutan untuk berburu opposum. setelah lama berburu dia berhasil memburu 2 ekor opposum dan memulai kultivasinya. setelah selesai berkultivasi dia pun berlatih jurus terakhir yang belum sempat di pelajarinya. setelah lama berlatih akhirnya dia berhasil mengusai jurus itu.


"Ho...am, walaupun jurus soul shield ini lebih mudah untuk di kuasai, tetapi butuh waktu yang cukup lama untuk menguasainya." gumam Yang Chen.


Setelah berhasil menguasai jurus soul shield Yang Chen pun pulang dan beristirahat. karena di malam hari Yang Chen sibuk berburu dan berlatih akhirnya dia bangun kesiangan dan terlambat untuk menghadiri seleksi murid. walaupun terlambat Yang Chen tetap berjalan dengan santai sambil menguap nguap.


"Ho... am... aku sangat mengantuk." gumam Yang Chen.


Tiba tiba saja ada orang memukul kepala Yang Chen dari belakang.


(Tok... suara kepala Yang Chen yang di pukul).


"Aduh..." ucap Yang Chen sambil melihat ke belakang.


Saat Yang Chen menoleh kebelakang terlihatlah Xue Ying yang sedang berkacak pinggang.


"Kenapa kau memukulku." ucap Yang Chen sambil memegang kepalanya.

__ADS_1


"Karena kau terlalu santai, apa kau tidak tau kalau kau sudah terlambat!!."


ucap Xue Ying.


"Iya... iya, aku tau. aku akan berjalan lebih cepat." ucap Yang Chen.


"Biasanya kau bangun cepat kenapa sekarang kesiangan??." tanya Xue Ying.


"Aku sibuk berlatih tadi malam, sampai lupa untuk tidur." jawab Yang Chen.


"Bodoh, tidur saja kau lupa." ucap Xue Ying.


"Tidak bisakah kau berhenti mengomel kepala terasa pusing setiap kali kau mengomel." ucap Yang Chen.


"Dasar @$#&!(/',×*@¥;#:,!*¥++)." omelan Xue Ying makin jadi.


"Baiklah, aku akan menganggap itu sebagai kata kata terlarang." dalam hati Yang Chen.


Tidak lama kemudian mereka berdua sampai di tempat seleksi murid. banyak sekali yang menonton acara seleksi murid dan diantara keramaian itu ada beberapa orang yang membicarakan Yang Chen.


"Aku rasa dia tidak siap di usir, jadi dia datang terlambat." ucap salah seorang yang berada di keramaian.


Yang Chen tidak memperdulikan apa yang di katakan oleh orang orang, dia hanya terus berjalan menuju barisan peserta seleksi murid. sementara itu Xue Ying hanya menatap Yang Chen dengan tatapan kasihan.


"Majulah... dan buat mereka terkejut, aku percaya pada mu Yang Chen." dalam hati Xue Ying.


Seluruh peserta telah maju dan hanya Yang Chen yang tersisa melihat hanya Yang Chen yang tersisa seluruh penonton langsung pergi meninggalkan lapangan acara seleksi murid Yang Chen tidak memperdulikan hal itu dan dia pun maju ke hadapan ketua klan dan juga para guru.


"Seingat ku kau sudah di panggil tadi kenapa kau baru maju sekarang." ucap salah seorang guru.


"Aku datang terlambat dan mengisi barisan terakhir." jawab Yang Chen.

__ADS_1


"Tidak perlu bertanya tanya lagi. Yang Chen cepat tunjukkan pada kami jiwa petarung mu!!." ucap seorang pria berambut putih yang merupakan seorang ketua klan yang ke lima dia bernama Xian Jian.


Yang Chen mengaktifkan jiwa petarungnya dan maju menuju ke sebuah batu permata raksasa berwarna biru muda. batu permata itu adalah sebuah batu permata Khusus yang bisa menampilkan statistik rata rata kemampuan jiwa petarung seseorang yang berada di tingkat perunggu. dan di saat Yang Chen meletakkan telapak tangannya di atas batu permata itu terlihatlah statistik rata rata kemampuan jiwa Yang Chen.


"Statistik rata rata kemampuan jiwa Yang Chen adalah 81 persen." ucap penghitung statistik batu permata khusus.


"81 persen telah melibihi standart seorang murid, dan kau sudah berusia 13 tahun sekarang. dengan kondisi seperti itu sangat memungkinkan bagi mu untuk mengikuti gugus tugas, tetapi kau belum pernah mengikuti academy gugus tugas. pasti akan sangat sulit bagi mu untuk memasuki gugus tugas jadi mulai sekarang aku akan menempatkan pada bagian gugus tugas tim saja apa kau mengerti." ucap Xian Jian.


"Aku mengerti." ucap Yang Chen.


Ketua klan berjalan menuju ke arah Yang Chen dan memberikan sebuah lencana berwana emas kepada Yang Chen.


"Ambillah lencana ini, ini adalah tanda bahwa kau adalah seorang pengemban gugus tugas. dan mulai hari ini kau harus siap untuk menjalankan tugas apapun yang di berikan oleh klan dari balai gugus tugas kepadamu." ucap Xian Jian sambil memberikan sebuah lencana berwarna biru muda.


"Aku mengerti." ucap Yang Chen sambil mengambil lencana tersebut.


Setelah menerima lencana itu Yang Chen pergi meninggalkan lapangan seleksi murid tetapi saat dia akan pergi dia malah di hadang oleh seorang pria.


"Aku pikir aku bisa menjadikan mu sebagai murid ku, ternyata kau malah langsung di perintahkan untuk menjalankan tugas oleh ketua klan." ucap seorang pria berambut hitam dengan bekas luka x di lengannya.


"Siapa kau??." tanya Yang Chen.


"Namaku Shen Siu aku adalah murid ayahmu." ucap Shen Siu.


"Apa yang kau inginkan??." tanya Yang Chen.


"Anak ini sama dinginnya seperti kak Yan Ran." dalam hati Shen Siu.


"Aku hanya ingin memberi mu sebuah hadiah." ucap Shen Siu sambil memberikan beberapa gulungan.


"Gulungan ini adalah gulungan jurus dan tehnik kultivasi yang pernah di ajarkan oleh ayah mu pada ku. dan aku rasa sudah waktunya bagi ku untuk mengembalikan ini pada pemilik asliya, jadi tolong ambillah." ucap Shen Siu.

__ADS_1


"Terima kasih." ucap Yang Chen sambil mengambil semua gulungan yang di berikan oleh Shen Siu.


"Tidak perlu berterima kasih padaku, semua itu memang milik mu. dan jika kau merasa kesulitan saat mempelajari gulungan itu kau boleh bertanya pada ku." ucap She Sui.


__ADS_2