SSS Grade Skill System

SSS Grade Skill System
Chapter 08


__ADS_3

Layar system dengan cepat terus menampilkan item dan skill. Sampai pada akhirnya system hanya menampilkan satu gambaran skill.


[ Ding! selamat Master telah mendapatkan Ultimate Skill.


]


[(???)


Type Skill: Pasif.


Penjelasan: Ultimate Skill yang berarti hampir tidak terbatas. Selama 'Hal' itu diijinkan oleh semesta, master bisa melakukan apapun dengan 'Hal' itu. Tidak ada batasan/efek samping dalam penggunaan skill.


Efek: Nigh Omnipotent (hampir Maha Kuasa), Nigh Omniscient (hampir Maha Tahu), Nigh Omnipresent (hampir Maha Hadir), Immortall (Abadi). ]


'i-ini sungguh gila, sungguh pengorbanan yang tidak sia - sia, ini sangat worth it dengan pengorbanan yang telah ku lakukan, aku mendapatkan skill yang luar biasa!'


Mata Akira melebar tak percaya melihat penjelasan yang tertera di layar system. Tangan Akira mengepal keras, menahan gejolak kegembiraan dalam dirinya.


[ Perhatian!


Karena terlalu banyak perubahan yang terjadi pada system, untuk sementara system akan memasuki tahap pemeliharaan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.


Master tidak perlu khawatir, skill master masih bisa digunakan meskipun system memasuki tahap pemeliharaan. ]


"ya, ya perbaikilah dirimu yang kurang itu. Terima kasih telah memberikan skill sehebat ini, sekarang aku mau mencoba kekuatan baru yang telah ku dapatkan."


[ Sampai jumpa kembali master, semoga Master System memberkatimu. ]


Layar system menghilang dari pandangan Akira.


'sekarang system telah menghilang, lalu apa yang dimaksud dengan Master System? Apa dia yang membuat system?


Aku tidak bisa mengetahuinya, aku tidak bisa mengetahui informasi lebih dalam tentang system ataupun Master System, sepertinya semesta tidak mengijinkannya.'


Setelah mendapatkan skill boundless, Akira bisa melakukan/mengetahui apapun selama hal itu mendapatkan ijin dari semesta. Akira pikir untuk mencoba mencari tahu informasi tentang system, tapi sepertinya semesta tidak mengijinkan, alhasil Akira tidak mendapatkan informasi apapun tentang system. Akira segera menepis rasa penasarannya tentang system dan langsung fokus pada hal di depannya.


'sudahlah, sekarang hal itu tidak terlalu penting, yang terpenting sekarang aku harus mengatasi itu.'


Akira mengalihkan pandangannya ke arah sobekan besar di atas langit, Akira mengayunkan tangan kirinya,


mengarahkannya pada sobekan. Akira tahu ada sesuatu di luar sobekan itu.


[ Boundless: Perintah Mutlak. ]


"kemarilah." ucap Akira.


Tangan Akira yang terarah pada sobekan itu, seperti seolah sedang mencengkeram sesuatu dan mencoba untuk menariknya keluar.


"ohh, kau memberikan perlawanan yang cukup kuat, tapi itu percuma saja."


Akira mencoba menarik sesuatu itu lebih kuat. Tempat itu berguncang hebat. Gumpalan energi besar di luar sobekan bersiap untuk menyerang Akira.


Akira tersenyum tipis, "mau menyerangku? Mimpi! Menghilang!"


Gumpalan energi besar itu pun menghilang tak tersisa, seolah tidak pernah ada sebelumnya.


-


'APAAAA?!' batin mahluk itu menjerit mengetahui Hukuman Dewa Ilahi telah berhenti total.


'apa yang manusia itu lakukan?! Tidak mungkin dia bisa menghentikan Hukuman Dewa Ilahi! Apa dengan menghapus seluruh kekuatan bisa mengehentikan Hukuman Dewa Ilahi? Tidak, itu tidak mungkin, di buku kuno yang ku temukan, tidak ada sesuatu yang tertulis tentang menghentikan Hukuman Dewa Ilahi, lalu bagaimana?


Manusia itu memiliki banyak sekali rahasia, aku tidak bisa menebak sejauh mana kekuatannya, sungguh mahluk yang sangat hebat. Hah apa boleh buat, sepertinya aku harus memenuhi janjiku, aku harus memberikan sesuatu padanya.


Ah, tahu begini aku tidak akan membuang - buang energi hanya untuk membuat Array Bintang. Hmm tunggu apa itu yang ada ditangannya?'


Semakin ke sini mahluk itu semakin yakin, bahwa manusia yang ia lihat sekarang memilikj kekuatan besar yang disembunyikan.


-


Ketika mahluk itu disibukan dengan keterkejutannya akan Hukuman Dewa Ilahi yang tiba - tiba menghilang, sebuah bola cahaya berwarna biru bergerak cepat keluar dari sobekan langit. Bola itu kini berada pada genggaman tangan Akira.


'jadi ini sebenarnya bentuk Hukum dari Hukuman Dewa Ilahi.' Akira menatap Bola yang berada di genggaman tangannya.


'bola ini mengandung energi dalam jumlah yang luar biasa besar, tidak heran jika satu planet akan hancur jika terkena serangan dari Hukuman Dewa Ilahi. Dewa Kuno Ras Bintang sungguh hebat bisa menciptakan hukum seperti ini.


Hmm, meskipun ini sesuatu yang hebat, aku tidak akan mengambilnya, biarkan Hukum ini tetap berjalan, setidaknya inilah yang bisa kulakukan untuk berterima kasih pada kalian para Dewa Bintang Kuno. Jika bukan karena Hukuman Dewa Ilahi yang kalian ciptakan, mungkin aku tidak akan mendapatkan skill sehebat ini.'


Bola Biru itu menghilang dari genggaman tangan Akira dan kembali ketempat yang seharusnya. Perlahan sobekan di atas langit mulai menutup sedikit demi sedikit, sampai akhirnya tertutup sepenuhnya, langit kembali menjadi normal.


"lalu kau, Kaisar Bintang Stella Magna, mari kita lanjutkan pertarungan kita yang sebelumnya." tangan Akira mengepal keras, senyuman lebar menghiasi wajahnya.


Meskipun Akira melanggar janji yang ia buat tentang dirinya yang akan menghancurkan Dewa Bintang Kuno, tetapi Akira tidak ingin melepaskan mahluk itu yang bernama Stella Magna. Bagaimana pun juga yang membuatnya putus asa sampai harus mengorbankan banyak hal adalah skill yang ia salin dari Stella Magna yaitu Divine God Star Art, Akira juga berpikir untuk mengetes kekuatan baru yang ia dapatkan.


Akira mengalihkan pandangannya ke arah Stella Magna Yang hanya sedang duduk bersila sembari tetap mempertahankan Array Bintang Pertahanan. Stella Magna Khawatir jika Hukuman Dewa Ilahi akan aktif kembali.


Setelah mendapatkan skill Boundles tanpa diminta pun, seluruh pengetahuan tentang banyak hal memasuki kepala Akira, entah itu dari hal yang penting atau tidak penting, berbagai pengetahuan itu tanpa henti masuk ke dalam kepalanya, itulah yang membuat Akira mengetahui nama dari mahluk yang sedari tadi bersamanya.

__ADS_1


Meskipun begitu, Akira tidak merasa terbebani oleh banyaknya pengetahuan yang memasuki dirinya, seolah segala pengetahuan itu memang sudah ada sejak awal berada dalam kepalanya.


"ahh aku benci nama itu, bagaimana kau tahu nama asli ku? Aku rasa hanya hitungan jari orang yang mengetahui nama asli ku."


Ada alasan kenapa Stella Magna selalu menyembunyikan namanya dari dunia luar, tidak lain itu karena namanya mirip nama seorang perempuan. Akan sangat melukai harga dirinya, jika ia yang dijuluki sebagai Bintang Malapetaka, Raja Para Roh dan Kaisar Bintang Agung, memiliki nama seperti seorang perempuan.


Meskipun Stella Magna tidak menyukai namanya, ia tidak pernah terpikirkan sekali pun untuk mengubah namanya sendiri, karena menurutnya nama adalah sesuatu yang sakral, yang tidak bisa ia ubah sesuka hati. Maka dari itu daripada mengubah nama, Stella Magna lebih memilih untuk hanya menggunakan nama belakangnya, yaitu Magna dan begitu juga orang - orang terdekatnya memanggil namanya.


"bagaimana aku tahu itu bukan urusan mu, lagian mengetahui sebuah nama itu bukan sesuatu yang sulit, dan juga lepaskan saja Array Bintangnya, Hukuman Dewa Ilahi sudah berhenti, tidak perlu khawatir akan aktif kembali."


Stella Magna memperhatikan lebih teliti ke sekitarnya serta mengedarkan pandangannya lebih jauh, setelah menurutnya Hukuman Dewa Ilahi benar - benar menghilang, Stella Magna melepaskan Array Bintang, ia bangkit dari duduknya, berdiri menatap Akira.


"ternyata kau tahu tentang Array Bintang juga, yah tidak heran kau juga mengetahui nama ku. Kau memiliki wawasan yang luas."


Array Bintang adalah susunan Array yang diciptakan oleh Ras Bintang Jutaan tahun silam. Array Bintang akan mengumpulkan sejumlah energi bintang dalam jumlah yang besar, setelah energi bintang terkumpul, energi tersebut bisa sesuka hati digunakan untuk menyerang ataupun bertahan, Array Bintang memiliki jangkauan yang sangat luas, bahkan bisa mencakup satu putaran penuh dari satu planet.


"lalu kau masih ingin bertarung setelah semua itu? Boleh saja, sudah lama aku tidak menggerakan otot - otot ku, tapi sebelum itu-"


"tidak usah, aku tahu kau berjanji pada dirimu sendiri, jika aku selamat dari Hukuman Dewa Ilahi, kau akan memberikan sesuatu, dan sesuatu itu adalah jubah mu itu kan?"


"apa? bagaimana kau mengetahui itu? Apa kau membaca pikiranku? Heh Menarik, kau semakin menarik manusia."


"aku tahu lebih banyak dari yang kau duga."


Mata Akira menunjukan seolah dirinya tahu akan segala hal, karena itu Stella Magna semakin yakin, mahluk yang berada di depannya bukan mahluk sembarangan.


Stella Magna terdiam menatap Akira, dirinya berpikir keras tentang manusia dihadapannya, bagaimana manusia itu mengetahui namanya? Sedangkan tidak sampai sepuluh orang yang mengetahui nama aslinya. Lalu bagaimana manusia itu bisa membaca pikiran dari mahluk sehebat dirinya yang bisa menggerakan milyaran bintang di langit hanya dengan satu jari?


Memang banyak mahluk yang bisa membaca pikiran, tapi untuk membaca pikiran dari mahluk hebat sepertinya itu sangat mustahil, itu dikarenakan perbedaan kekuatan yang sangat jauh, meskipun kekuatannya telah menurun drastis, tetap akan ada tembok yang sangat besar menghalangi jika ingin membaca pikirannya. Stella Magna hanya terdiam tidak menanyakan lebih lanjut tentang itu pada Akira, melihat dari sikap Akira, dirinya tahu kemungkinan besar Akira tidak akan menjawab pertanyaannya.


Meskipun jarak antara Akira dan Stella Magna sangat jauh, keduanya masih tetap mendengar jelas apa yang dibicarakan, itu karena masing - masing indra dari keduanya telah jauh melampaui batas normal.


'sekarang kekuatan ku sudah hampir habis karena membuat Array Bintang, aku hanya bisa mengandalkan tubuh fisik untuk bertarung dengannya, tapi sepertinya itu tidak akan mudah, mengingat manusia itu selalu memberikan kejutan, akan sulit untuk mengalahkannya.'


Stella Magna menjadi ragu untuk bertarung dengan Akira, mengingat kekuatannya yang sekarang telah menurun jauh setelah dipakai untuk membuat Array Bintang yang mencakup hampir keseluruhan tempat tersebut.


'sekarang sudah bukan lagi masa kejayaan ku, aku yang dulu sangatlah kuat, tapi aku yang sekarang terlihat sangat menyedihkan, sungguh takdir yang tidak terduga.'


Stella Magna mengambil napas panjang, setitik ingatan kejadian yang membuatnya jatuh seperti ini muncul kembali, membuatnya menyesali kembali perbuatannya saat itu.


Akira bisa merasakan keraguan yang muncul dalam diri Stella Magna, dirinya tahu apa yang dipikirkan oleh mahluk itu. 'apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat mahluk sehebat dirinya jatuh seperti itu? Aku tidak bisa mengetahuinya, tidak mungkin kan jika dia dikalahkan oleh mahluk lain? Mengingat kekuatannya yang sangat hebat, sampai jika dia mau, dia bisa mengenggam satu galaksi penuh hanya dengan satu tangannya.


Semesta tidak mengijinkan ku untuk mengetahuinya, kalau begitu aku hanya bisa mencari tahunya sendiri, kematiannya pasti bukan kematian yang biasa.' Akira bergerak cepat ke arah Stella Magna. Akira ingin mengetahui alasan kenapa mahluk sehebat Stella Magna jatuh sampai seperti itu, Akira tidak ingin hal yang sama terjadi padanya.


Melihat Akira yang bergerak ke arahnya, Stella Magna hanya terdiam, dirinya tahu Akira datang bukan untuk menyerang. Hanya membutuhkan beberapa detik untuk Akira sampai dihadapan Stella Magna.


"kau, apa yang kau inginkan? Melihat dirimu datang tanpa ada hawa permusuhan, pasti ada yang kau inginkan bukan?" Stella Magna tahu ada sesuatu yang di inginkan oleh manusia dihadapannya.


Aku tahu kau yang sekarang sudah mati dan jiwa mu tertahan di tempat ini, di Sanctuary. Kau tertahan disini tidak lain karena peraananmu sebagai Raja Roh untuk menuntun serta mengatur para Roh pilihan untuk diberikan pada mereka yang mendapatkan pencerahan suci, kau tidak bisa pergi ke Alam Kematian karena kau belum menemukan pewaris selanjutnya untuk menjadi Raja Roh.


Yah singkat saja aku hanya ingin mengetahui alasan dari kematianmu, itu bukan kematian yang biasa bukan?" Akira menatap tajam, seolah memberi tahu bahwa masih banyak hal lagi yang ia tahu tantang Stella Magna.


Stella Magna mengambil napas panjang, dirinya semakin tidak bisa menebak seberapa jauh kekuatan manusia di hadapannya.


"dari nada bicaramu itu, sepertinya kau benar - benar mengetahui segala hal tentang diriku. Lalu apa yang membuatmu tertarik akan kematian ku? Apa kau takut hal itu juga terjadi padamu?"


"intuisimu memang luar biasa, kau benar, aku takut hal itu juga terjadi padaku, mengingat sosok sehebat dirimu menjadi menyedihkan seperti ini, itu pasti bukan karena hal yang biasa."


"yah kau benar itu bukan karena hal yang biasa, tapi jika kau ingin mengetahuinya, kau harus mengalahkan ku terlebih dahulu, bagaimana apa kau bisa mengalahkanku?" ucap Stella Magna dengan percaya diri. Dirinya ingin lebih jauh mengetahui kekuatan dari Akira. Mendengar itu Akira tertawa lantang.


"ohh menantang ku bertarung, apa kau yakin dengan kekuatan mu yang sekarang mampu menghadapi ku? Kekuatan mu sudah sangat menurun jauh."


"meskipun kekuatan ku sudah menurun jauh, tapi fisik ku masihlah fisik dari Ras Bintang yang kuat, belum lagi aku sudah menempa tubuhku dengan berbagai teknik penempaan tubuh yang kuat. Kau akan merasakan seberapa kuatnya tubuh ku jika ku hajar sekarang."


"aku mengerti. Baiklah mari kita mulai..."


Sebenarnya Akira bisa saja menggunakan perintah mutlak untuk memaksa Stella Magna bicara langsung memberitahunya, Akira juga bisa langsung mengalahkan Stella Magna dalam sekejap mata, tetapi Akira ingin menguji seberapa jauh kekuatan yang ia miliki sekarang.


[ Boundless: Penciptaan Instan: Tubuh Sempurna yang tak terkalahkan. ]


[ Boundless: Hukum Mutlak: Aku Akira tidak terkalahkan. ]


[ Boundless: Kemampuan Mutlak: No Damage, God Speed, God Sense, Maximum Destruction, Unlimited Stamina, Unlimited Magic Power, Energy Manipulation, Dimension Manipulation, Teleport, Swordmanship, Martial Arts. ]


[ Semesta telah mengijinkan. ]


'hmm baguslah semesta mengijinkannya, tapi apa aku tidak berlebihan? Tidak, tidak usah dipikirkan, bagiamana pun juga ini adalah kekuatan ku sendiri, tapi ini sungguh sangat curang.' Akira tersenyum canggung. Beberapa detik kemudian perasaan luar biasa di penuhi akan kekuatan mengalir dalam diri Akira.


Meskipun terlihat biasa saja, tapi tubuh dari Akira sudah sepenuhnya terbarukan, menjadi tubuh yang sangat kuat dan tak terkalahkan serta memiliki berbagai kemampuan yang melengkapinya. Sekarang Akira bisa dibilang sudah menjadi seorang Dewa Sejati, tidak, bahkan kekuatannya jauh melampaui dari seorang Dewa!


-


Keduanya saling berpandangan cukup lama, saling mengamati satu sama lain. Sampai akhirnya keduanya bergerak, menyerang dengan cepat.


BOOOMMM...!


Tinju dari Akira dan Stella Magna bertemu, menciptakan gelombang kejut yang sangat kuat. Keduanya kembali berpandangan, tapi keduanya tetap tidak menarik tinju mereka yang kini saling bertemu, keduanya saling mendorong dengan kekuatan yang besar.

__ADS_1


"serangan pembuka yang bagus, itu sangat kuat dari seorang manusia..."


"begitu pula dirimu, tubuh Kaisar Bintang jauh melampaui ekspektasiku..."


Tidak berhenti sampai disitu, keduanya kembali bergerak cepat, melesat kesana kemari sembari tetap melancarkan pukulan yang sangat kuat.


DUUUAAARRR...!


DUUUAAARRR...!


Suara dari pukulan yang mereka lontarkan terdengar sangat nyaring, memecah keheningan ruang di Sanctuary.


Akira terus menyerang dengan tinjunya yang brutal dan mematikan, sementara itu Stella Magna selalu mencoba menghindarinya dengan susah payah. Kecepatan tinju dari Akira yang luar biasa gila, membuatnya tidak bisa menghindar dengan baik dan berakhir dengan dirinya yang terkena pukulan, tetapi itu tidak menghentikan langkahnya untuk bergerak lebih cepat untuk menyerang Akira.


Tidak peduli seberapa cepat Stella Magna menyerang, tinjunya selalu meleset dan berakhir tidak mengenai Akira, padahal dirinya yakin serangan itu sudah pasti akan mengenainya.


'apa - apaan ini kenapa setiap serangaku selalu meleset, padahal aku yakin, aku mengenainya.'


"hoi jangan melamun."


BUUUAAAKKK...!


Sebuah pukulan keras mendarat di dada kanan Stella Magna. Stella Magna terpental sangat jauh. Stella Magna memegang dada kananya yang terasa sangat sakit.


'sialan, pukulannya sangat kuat sampai bisa memberikan rasa sakit pada tubuhku yang kuat ini. Lalu apa - apaan kecepatan yang luar biasa itu, tinjunya yang cepat itu sungguh sangat menyusahkan.'


Stella Magna mengalirkan Energi Bintang ke bagian dadanya yang sakit, perlahan rasa sakit itu mulai menghilang, tapi tidak lama kemudian sebuah suara yang dingin terdengar dari belakangnya.


"sudah kubilang jangan melamun." Akira kembali melancarkan tinjunya, yang dengan susah payah di hindari oleh Stella Magna. Stella Magna berhasil menghindari serangan kejutan yang Akira berikan.


"apa teleportasi? Jadi kau bisa teleportasi juga, ini akan jauh lebih menyusahkan."


Akira hanya tersenyum menanggapi perkataaannya, sebelum dirinya kembali menyerang Stella Magna dengan brutal. Stella Magna semakin terpojokan oleh serangan yang Akira berikan, lalu dengan cepat dirinya mengambil langkah mundur.


'sial aku tidak bisa terus menerus seperti ini, aku tidak bisa menggunakan teknik apapun karena energi bintang ku juga sudah semakin tipis, serangan ku juga tidak pernah mengenainya, reflexnya sungguh luar biasa, ini akan berbeda jika aku memiliki kekuatan penuhku.


Tidak, aku tidak boleh berbicara dengan pikiranku, dia pasti sudah mengetahuinya...' Stella Magna menatap Akira dari kejauhan, mengira kalau Akira sudah membaca pikirannya. Akira hanya diam ketika Stella Magna mengambil langkah mundur. Akira menatap tangan kirinya yang sedang mengepal keras.


'aku tidak menyangka kalau tubuh Kaisar Bintang itu sangat kuat, serangan yang aku lancarkan hampir tidak memberi dampak kerusakan apapun pada tubuhnya, padahal aku yakin sekali kalau satu sentilan dari jari tanganku, dengan sekejap bisa menghancurkan satu gunung, apalagi sebuah pukulan, yah tentu saja itu dikarenakan efek dari Maximum Destruction.


Tapi sepertinya tubuh dari Kaisar Bintang itu sudah mencapai batasnya, yang perlu ku lakukan tinggal menguras habis energi bintang yang dia miliki.' Akira tersenyum penuh dengan kemenangan.


Memang sejak awal pertaruangan ini sudah sangat berat sebelah, Stella Magna yang hampir tidak memiliki kekuatan, melawan Akira yang sedang dalam kondisi priamanya, tentu saja Akira akan menang dengan telak.


Setelah beradu pukulan dengan Akira, Stella Magna menyadari bahwa jarak kekuatan antara dirinya dengan Akira terlampau sangat jauh, akhirnya dengan berat hati Stella Magna memilih untuk menyerah. Lagian tujuannya untuk bertarung dengan Akira bukanlah untuk sebuah kemenangan, melainkan untuk mengetahui seberapa kuatnya Akira, setelah mengetahui kalau Akira sangatlah kuat, ia pun memilih untuk berhenti melanjutkan pertarungan, ia sudah tidak peduli dengan harga dirinya sebagai apapun itu, ia tahu


masih banyak hal yang harus ia lakukan.


"aku menyerah. Kau sungguh sangat kuat."


"aku sudah tahu itu."


Stella Magna bergerak mendekat ke arah Akira, lalu ia menempatkan jari telunjuknya ke dahi Akira.


"aku akan memperlihatkan padamu apa yang terjadi pada waktu itu."


Pandangan Akira menjadi pudar.


Tiba - tiba Akira terbangun, mendapati dirinya sedang melayang di luar angkasa. Akira bisa melihat jelas pemandangan di depannya, dari kejauhan Akira melihat ribuan Ras Bintang dengan berbagai ukuran serta bentuk sedang berlutut di hadapan sosok yang terlihat seperti manusia, tapi Akira tahu sosok itu bukanlah manusia sepertinya.


'dia, siapa dia? Apa yang membuat ribuan Ras Bintang berlutut padanya? aku yakin yang satu paling besar diantara Ras Bintang lainya, itu adalah Stella Magna! Apa yang membuatnya berlutut seperti itu?'


Akira terkejut melihat ribuan Ras Bintang berlutut di hadapan sosok yang seperti manusia, tapi bukan manusia. Akira tidak bisa bersuara serta bergerak karena itu hanyalah sebuah proyeksi ingatan yang di tampilkan oleh Stella Magna, tapi dengan tiba - tiba sosok itu menengok ke arah Akira, Akira tersentak ketika sosok itu melihatnya, lalu kesadaranya pun kembali dan semuanya menjadi normal.


Akira terjatuh dalam posisi duduk, dirinya amat sangat terkejut ketika mahluk itu memandanginya.


"dia, siapa dia sebenarnya? apa yang membuat kalian berlutut dihadapannya?" Akira berbicara dengan sedikit gemetar.


Stella Magna tidak mengerti kenapa Akira sampai terlihat ketakutan begitu, dirinya yakin tidak memperlihatkan adegan yang menurutnya sebegitu mengerikan sampai membuat Akira terjatuh dengan wajah yang penuh dengan kecemasan.


"kenapa kau sampai terlihat ketakutan begitu? Aku tidak meperlihatkan hal yang sangat buruk, sehingga mampu membuat mental mu terguncang."


Dengan buru - buru Akira berdiri, "tidak, itu bukan apa - apa. Hanya saja aku sangat terkejut melihat kalian para Ras Bintang berlutut seperti itu." yang dikatakan Akira memang tidak sepenuhnya bohong, Akira memang terkejut melihat ribuan Ras Bintang berlutut, tapi yang membuatnya merasa ketakutan adalah pandangan mata dari sosok itu yang seolah menarik dirinya untuk keluar dari ruangan proyeksi.


"kekuatannya memang sangat mengerikan sampai membuat kami semua berlutut padanya. Manusia aku tahu potensi kekuatan mu itu tidak terbatas, tapi perlu ku ingatkan satu hal padamu, jangan sampai kau melawan sosok yang kau lihat tadi, atau kau akan berakhir seperti diriku ini." ucap Stella Magna.


"tanpa kau bilang pun aku tahu, sosok itu memang hebat, tapi pasti dia juga punya batas kekuatannya, ketika aku bertemu dengannya aku akan mencoba untuk melawannya." Akira merapatkan giginya, kedua tangannya mengepal keras menahan gejolak semangat bertarung dalam dirinya.


"manusia ternyata kau sedikit keras kepala juga ya, terserah jika kau ingin melawannya, tapi jagan menyesal jika suatu saat kau akan jatuh sepertiku, khekhekhe..."


"sepertinya tidak ada lagi yang perlu kulakukan disini..." Akira melihat kesekitarnya, "kalau begitu aku akan pergi. Sampai jumpa Kaisar Bintang." Akira langsung pergi, menghilang dihadapan Stella Magna, tanpa peduli menunggu ucapan selamat tinggal dari sang Kaisar Bintang itu.


"dasar, sungguh tidak punya sopan santun. Hah, pada akhirnya aku sendiri lagi disini."


"eh paman, siapa kau?"


Stella Magna dikejutkan dengan sebuah suara anak kecil, ia pun menengok kebelakang dan menemukan seorang anak kecil dengan muka yang polos berdiri, anak kecil itu memiliki usia sekitar 5 - 6 tahun.

__ADS_1


"ohh ternyata ada yang mendapatakan pencerahan, eh tapi kenapa kau masih sangat kecil, hmm menarik."


Anak kecil itu menatap Stella Magna dengan raut wajah yang polos, dirinya tidak mengerti dengan perkataan yang diucapkan Stella Magna.


__ADS_2