
"Lelah sekali," keluh Jungkook, lantas menyandarkan kepalanya pada bangku mobil, sembari melonggarkan dasi pada lehernya yang terasa mencekik.
Usai melakukan kunjungan dari pabrik, kini Jungkook harus menuju agenda selanjutnya yaitu menemui dewan komisaris di salah satu restoran Jepang---dengan diantar Jimin pastinya. Lagipula Jungkook hanya ingin duduk manis saja di bangku belakang saat tengah sibuk begini.
Ditambah lagi, jarak dari satu tujuan ke tujuan lainnya terbilang cukup jauh. Lantaran lokasi pabrik tidaklah satu kawasan dengan head office. Untuk menuju ke sana, memakan waktu sekitar 30 menit menggunakan mobil---itupun jika lalu lintas lancar tanpa kemacetan. Entahlah, apa yang dipikirkan Nam Jiwook saat meneruskan bisnis turun temurun, warisan kakeknya Jungkook itu.
"Jung, kau sudah mempelajari materi untuk presentasi di depan dewan komisaris, kan?" Jimin bertanya sembari menatap sekilas figur di belakangnya melalui kaca spion tengah.
"Kau membawa flashdisk-nya, kan?" Jungkook menjawab sembari menikmati pemandangan di jalan, sebelum matahari tenggelam sesaat lagi.
"Flashdisk apa?"
Jungkook lantas menoleh pada kaca spion mobil. Mereka beradu tatap di sana. "Kau tidak menyiapkannya?"
"Kau bilang ingin membuat materinya sendiri. Karena itu aku membiarkanmu." Jimin lantas menepikan mobilnya pada sisi kanan jalan, lalu membalikkan tubuhnya mengahadap Jungkook setelah melepas seatbelt yang melilit tubuhnya.
"Lalu, di mana benda itu?"
"Di kantor. Sepertinya ada di meja,"
Jimin sontak menepuk dahinya. " Kenapa kau tidak menyimpan materinya di google drive, cloud, atau di e-mail?" omel Jimin.
Jimin sangat geram, temannya itu masih menerapkan cara kuno dengan menggunakan diska lepas untuk menyimpan data. Kendati sudah banyak opsi alternatif yang bisa dipilih, dan juga lebih praktis. Kalau sudah begini, mau tidak mau Jimin harus mengambil benda kecil tersebut sebelum jadwal pertemuan Jungkook dimulai.
"Kita sudah setengah jalan. Kalau kembali lagi ke kantor, kau akan terlambat." Jimin di ambang bingung.
"Tidak apa-apa, kau kembali saja ke kantor. Biar aku yang menyetir sendiri ke sana."
Belum sempat Jimin merespon, tahu-tahu Jungkook sudah keluar dari mobil, dan berdiri di samping Jimin, sembari membuka pintu depan.
"Dari sini kau bisa naik taksi, atau apapun itu. Oke?" kata Jungkook, lantas menarik Jimin keluar dari mobil dengan paksa.
Sementara Jimin hanya bisa pasrah, seakan tengah menjadi korban perampokan mobil dari pelaku kriminal. "Kau yakin soal ini?" Jimin memastikan kembali.
"Sangat yakin," Jungkook pun menutup pintu mobil, lalu mulai melajukan mobilnya---menghilang dari pandangan Jimin dalam waktu sepersekian detik.
__ADS_1
Sembari diselimuti kesal, Jimin buru-buru memberhentikan taksi yang akan lewat di depannya. Taksi tersebut pun langsung menepi, dan jalan kembali begitu Jimin berkata, "Ke gedung Nam Corp, Pak. Tolong cepat sedikit, ya."
...***...
Hari ini, ketua Ahn membuat rekan setimnya lembur, hingga mereka harus pulang 1 jam lebih lambat dari biasanya. Momen tersebut turut Soobin jadikan kesempatan untuk menawarkan Hara pulang bersamanya---dengan alasan sudah malam. Kendati jam baru menunjukkan pukul enam sore.
Meski Hara telah menolak berkali-kali, namun dengan kegigihan pria jangkung itu, akhirnya Hara menyerah dan mengiyakan permintaan Soobin. Dengan syarat, Hara hanya ingin diantar sampai halte tujuan.
Keduanya pun berjalan berdampingan menyusuri lobi, menuju pintu utama. Jangan tanya eksistensi Yeji di antara mereka. Gadis itu justru sudah hilang begitu saja, entah ke mana.
Namun, tiba-tiba saja netra Hara menangkap figur yang tengah berlari-lari memasuki lobi. Figur tersebut pun langsung menghampiri Hara dengan napas terengah-engah.
"Jimin?"
"Hara, tolong---" Jimin setengah membungkuk memegangi kedua lututnya, sembari meraup udara sebanyak yang ia bisa. Sebelum berucap kembali. "Tolong bantu aku,"
Di sisi lain, Soobin memperhatikan dengan heran, mengapa sekretaris CEO itu mendatangi Hara. Bahkan mereka memanggil nama masing-masing, seakan sudah akrab.
"Bantu apa? Ada apa?" Hara menjadi panik dibuatnya.
Hara pun beralih pada Soobin yang masih berselimut tanya akan situasi di hadapannya. "Soobin, maaf. Aku ada urusan dulu. Kau duluan saja, ya." usai berkata demikian, Hara berlari menyusul Jimin yang kini tengah menahan pintu lift untuknya.
"Sebenarnya ada apa?" desak Hara menuntut jawaban, begitu lift beranjak naik.
"Jungkook meninggalkan diska lepas di meja kerja. Bantu aku mencarikannya, ya."
"Oh, aku kira ada hal mendesak apa,"
"Ah, sebenarnya ... benda itu berisi materi presentasi nanti, dengan dewan komisaris."
"Astaga, kita harus buru-buru!" memang benar, Hara itu mudah sekali panik dengan hal-hal kecil.
Jimin tertawa. "Sabar, kita masih di lift."
"Ah, benar."
__ADS_1
Begitu pintu lift terbuka, keduanya serentak berlari bersama, bagaikan peserta lomba. Jimin lantas membuka pintu besar ruangan sang CEO, mempersilakan Hara masuk.
"Kau cari di meja, buka saja lacinya. Aku akan mencari di sofa." titah Jimin, langsung ditanggapi anggukan dari Hara.
Jimin sengaja mencari di sana untuk berjaga-jaga, siapa tahu apa yang Jungkook ingat, tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Seperti yang sudah-sudah. Contohnya saat Jungkook meminta diambilkan kunci mobil, yang ia katakan berada di counter dapur, padahal benda tersebut Jungkook letakkan sendiri di depan televisi.
Sementara Hara, mulai mencari dari permukaan meja, hingga membuka setiap laci di sana. Pun, membuka setiap kotak yang ada. Lancang memang, hanya saja apa boleh buat, Jimin yang memintanya sendiri.
Namun, saat beralih pada kotak yang berada di laci paling bawah, bukan benda yang dimaksud Jimin yang Hara temukan. Saat membuka kotak tersebut, ia mendapati sebuah jam tangan dan secarik kertas. Hara ingat, arloji mati itu pernah Jungkook tunjukkan di depan matanya kala di rooftop tempo hari.
Dengan didorong rasa penasaran, Hara membuka lipatan kertas dan mulai membaca isinya. Gadis itu lantas mematung, disertai keheranan. Ia sangat mengenali gaya tulisannya sendiri, pun tercantum namanya tercantum di akhir kata.
Ini tulisanku ... kenapa ada namaku juga?
Di waktu yang sama, rupanya Jungkook kembali ke kantor seorang diri. Dan ruang kerja menjadi tujuan pertamanya. Jimin yang mendapati eksistensi temannya itu tentu terkejut, sebab Jungkook tidak memberi kabar sama sekali.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Mereka membatalkan pertemuannya. Kau belum tahu?"
Jimin buru-buru merogoh ponsel dari saku celananya. Dan benar saja, terdapat pesan dari dewan komisaris, bahwa mereka menunda pertemuan sampai waktu yang belum ditentukan.
"Ah, sial." umpat Jimin. Jika tahu begini, ia tidak akan berlari-lari sampai kehabisan napas. Yah, salahnya juga, tidak sempat mengecek ponselnya barang sesaat.
"Kau masih menyimpan sampanye---" Jungkook menghentikan ucapannya, sebab Hara tahu-tahu muncul dari balik meja. Gadis itu sejak tak terlihat, lantaran dirinya dalam posisi berjongkok saat membuka laci meja.
"Kenapa kau ada di sini?" Jungkook menyoroti benda yang ada di tangan Hara.
"Ah, aku meminta bantuan Hara untuk mencari diska lepasmu." Jimin yang menjawab, namun Jungkook tak menggubrisnya.
Hara pun datang mendekat ke hadapan Jungkook, sembari menunjukkan secarik kertas tadi di depan wajah pria itu.
"Ini tulisanku. Bagaimana kau menjelaskan ini?"
"Ah, kau mengenali tulisanmu sendiri rupanya. Lalu, kau sudah mengingatnya?"
__ADS_1
...To be continued.......