Stay Alive - Jungkook

Stay Alive - Jungkook
Chapter 26


__ADS_3

"Apa kau bilang? Ulangi lagi ucapanmu itu!" papa Hara yang berujar.


Hara terdiam, sembari menunduk takut menahan rasa perih dan panas pada pipinya. Tidak ada yang bisa ia lakukan jika sudah dibentak seperti itu.


"Masih untung mama tidak menggugurkan dirimu saat berada di kandungan! Kau sudah dibesarkan susah payah, dan begini ucapanmu!" sambung papanya lagi.


Perlahan, air mata Hara yang sudah tak bisa terbendung lagi, mulai berjatuhan. Bentakan sang papa semakin membuatnya rapuh dan gemetar. Tidak ada seorangpun di keluarga ini yang akan memberinya pembelaan. Mereka semua menyudutkan sang putri bungsu.


"Lihat bagaimana sikap kurang ajar putrimu. Kau tidak mendidik dia dengan benar!"


"Papa yang seharusnya mendidik Hara! Kau adalah kepala keluarga!"


"Aku sudah sibuk bekerja dan menafkahi kalian semua! Itu tugasmu sebagai ibu rumah tangga!"


Bahkan kedua orangtuanya pun mulai bertengkar secara terang-terangan di depan Hara. Saling menyalahkan, melontarkan kata-kata kasar, hingga barang-barang yang dilempar. Keadaan pun semakin diperparah dengan kehadiran Hoseok dari arah tangga. Rupanya keributan mama dan papa mereka terdengar sampai kamar.


"Lihat sikapmu, orangtua kita sampai bertengkar! Kau memang selalu menyebabkan masalah di keluarga ini!" bentakan dari sang kakak tak kalah parah dari papa mereka.


Hara semakin tersudut, diselimuti tekanan yang terus menyerang dirinya. Ia pun mencoba mundur beberapa langkah bermaksud melarikan diri dari rumah. Namun, belum sempat menggapai gagang pintu, Hoseok sudah menarik lengan Hara dengan kasar.


Hara tahu, ia pasti akan dipukul---seperti yang pernah terjadi padanya tempo hari. Hingga meninggalkan rasa sakit fisik dan verbal yang terus tertanam dalam tubuhnya sampai detik ini.


Akan tetapi, Hara mencoba mengelak. Ia tidak ingin bagian tubuhnya terluka lagi. Sudah cukup Hoseok menghajar kepala Hara dengan berbagai benda yang dilayangkan dari tangannya. Mereka pun saling tarik menarik, sementara orangtua mereka masih beradu debat. Keluarga ini benar-benar kacau berantakan.


"Lepaskan aku!"

__ADS_1


Hara takut. Hoseok akan berbuat apapun untuk melukai kepala adiknya tanpa ampun. Seakan memberi hukuman bahwa Hara harus banyak berpikir dengan otaknya. Karena itu lah, Hoseok selalu menjadikan tempurung kepala adiknya sebagai sasaran emosi.


Hoseok pun kian menarik Hara menuju dinding dekat tangga. Sepertinya, Hoseok berniat membenturkan kepala adiknya ke sana. Namun, Hara berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman sang kakak. Keduanya sama-sama tak mau kalah. Maka, terjadi tarik menarik kembali di sana. Hanya saja demi menyelamatkan diri, Hara mendorong tubuh Hoseok sekuat tenaga. Akan tetapi tanpa ia duga, rupanya pijakan Hoseok limbung dan menyebabkan ia terjatuh ke belakang dengan kepala membentur salah satu anak tangga.


Kejadian itu pun sontak membuat kedua orangtua mereka berhenti berdebat, dan langsung mengarah pada Hoseok. Rembesan darah mulai mengalir dari kepala anak sulung mereka, bersamaan dengan teriakan histeris mama---hingga membuat bibi Mijin---tetangga sebelah rumah---datang mencari tahu.


Semua figur di sana membeku serentak dengan keadaan Hoseok saat ini. Ia sama sekali tidak bergerak, disertai kelopak mata yang mulai terpejam perlahan.


"Aku akan menelepon ambulans." ujar bibi Mijin menahan panik. Sebab, jika bukan dirinya yang melakukan, siapa lagi? Lantaran tidak ada yang berinisiatif memulai duluan karena terlalu terkejut.


"Hara, apa yang kau lakukan! Kau apakan Hoseok?!" mamanya lantas bersimpuh di samping tubuh sang putra sulung, sembari berlinang air mata. Orangtua mana yang tidak hancur melihat anaknya terluka parah di depan mata.


Sementara Hara tidak bisa berkata apa-apa. Ia lantas melangkah mundur, disertai gemetar yang menyelimuti tubuhnya. Sungguh, Hara tidak bermaksud melukai kakaknya. Gadis itu hanya ingin melindungi dirinya sendiri dari perbuatan kejam yang akan menimpanya.


Bibi Mijin pun lekas merangkul bahu Hara, menenangkan gadis itu dalam pelukannya. "Tenangkan dirimu, ambulans akan segera datang."


Di sisi lain, mama dan papa Hara berlari menyusul tim medis untuk ikut ke rumah sakit. Meskipun sempat bertengkar hebat, namun urusan anak berhasil menyatukan mereka kembali. Meski kondisi Hoseok tengah dalam keadaan kritis.


"Kalau Hoseok sampai meninggal, aku akan menyalahkanmu! Aku tidak akan memaafkanmu sampai kapanpun!" pesan sang mama pada Hara sebelum meninggalkan rumah.


Hara semakin menunduk takut. Bagaimana jika Hoseok benar-benar meninggal karena dirinya?


Selang delapan jam setelah kejadian---tepatnya ketika hari sudah berganti, dan menunjukkan pukul enam pagi. Hara yang tengah menginap di rumah bibi Mijin melihat mobil ambulans sudah kembali di depan pagar rumah mereka. Ia pun lantas segera berlari ke sana untuk mengetahui kondisi kakaknya saat ini.


Namun, begitu pintu belakang dibuka, langkahnya langsung berhenti. Ia sontak mematung di tempat saat mendapati adanya sebuah peti mati di dalam mobil. Menandakan bahwa Hoseok sudah meninggal.

__ADS_1


Hara pun jatuh terduduk diiringi air mata yang mengalir deras. Tanpa ia sadari, mamanya tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Hara sembari mengguncang tubuh putrinya, disertai ucapan mengejutkan.


"PEMBUNUH!" Hara menoleh pada sang mama.


"KAU MEMBUNUH ANAKKU!" teriakan mama Hara sampai membuat bibi Mijin, dan papanya---yang baru keluar dari ambulans---berlari menghampiri mereka.


"KEMBALIKAN DIA! SEHARUSNYA KAU SAJA YANG MATI!"


Hara tersentak. Tangisnya semakin mengalir deras membasahi pipi. Bibi Mijin pun mengusap-usap bahu gadis itu agar membuatnya tenang. Bibi Mijin tahu, Hara pasti sangat terkejut dengan ucapan yang dilontarkan mamanya. Namun, gadis itu hanya diam tanpa membantah, seakan mengiyakan bahwa kematian Hoseok memang lah salah Hara.


"Mulai sekarang, kau bukan lagi anak kami." papa Hara menimpali.


"Dengar, Hara. Ingat ini. Kau adalah seorang pembunuh. Jangan lupakan perbuatanmu seumur hidup, bahkan sampai kau mati. Kau adalah pembunuh!" ujar mama Hara berucap untuk kali terakhir sebelum meninggalkan putri bungsu mereka seorang diri.


"Ayo, Ma. Kita pergi dari rumah ini. Tidak ada alasan untuk tinggal di sini. Anak kita sudah meninggal." sambung papanya lagi, sembari menatap benci.


Hara membisu. Hatinya semakin hancur menerima semua ucapan kedua orangtuanya. Mama dan papanya pun pergi menaiki ambulans bersama Hoseok di dalam peti, menuju rumah duka---bahkan tanpa mengajak Hara. Mereka hanya mampir untuk menunjukkan bahwa Hoseok sudah meninggal akibat perbuatan Hara.


Ucapan mamanya pun terus tertanam di kepala Hara hingga detik ini. Kendati sudah berusaha melupakan, tetap saja terngiang kembali.


Hara lantas melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh teralis besi pembatas. Ingatan akan tragedi saat itu membuatnya kembali ditarik dalam kesengsaraan. Sementara Jungkook, menyadari Hara dalam keadaan gemetar ketakutan. Pria itu lantas meraih tubuh Hara, dan mendekapnya erat.


"Tidak apa-apa, ada aku di sini." Jungkook mengusap-usap punggung Hara, memberi ketenangan di sana.


Perlakuan Jungkook sontak membuat sang gadis luruh. Ia pun mulai menumpahkan air matanya dalam dekapan Jungkook. Hara sangat mengenali pelukan ini, namun ia tidak tahu pasti. Karena perlahan, ingatan masa lalunya mulai kembali satu persatu.

__ADS_1


Jungkook, kau pasti orang yang sangat berarti dalam hidupku saat itu.


...To be continued.......


__ADS_2