Stay Alive - Jungkook

Stay Alive - Jungkook
Chapter 22


__ADS_3

"Ini tulisanku. Bagaimana kau menjelaskannya?" 


"Ah, kau mengenali tulisanmu sendiri rupanya. Lalu, kau sudah mengingatnya?"


Hara bergeming. Sekeras apapun ia mencoba, memori yang tertulis pada kertas di tahun itu, mustahil kembali berputar di kepalanya.


"Tidak," ucap Hara pelan, sembari menurunkan tangannya.


"Kalau begitu, lupakan."


"Lalu, kenapa kau mendapatkan ini?"


Jungkook menghela napas. "Percuma aku ceritakan. Kau tidak akan mempercayainya."


Hara kembali terdiam. Memang benar, meski Jungkook telah memberikan detail panjang lebar dengan sebenar-benarnya, gadis itu tetap sulit menerima. Hara akan terus bertanya apakah benar? Bagaimana bisa seperti itu? Hanya saja, ada satu hal yang mengusik dirinya. Maka, ia pun bertanya;


"Kalau begitu, hubungan seperti apa yang pernah kita miliki di masa lalu?"


Kedua netra Jungkook sontak membola. Ia lantas bungkam untuk waktu yang lama, tak tahu ingin menjawab bagaimana. Jika ditanya demikian, Jungkook juga tidak mengerti statusnya dengan Hara sebagai apa. Sebab, mereka memang bukanlah sepasang kekasih yang saling menyatakan cinta. Ataupun sebagai teman yang berbagi suka dan duka.


Jika melihat kilas balik masa itu, Jungkook hanyalah orang asing yang datang mengulurkan tangan, guna memberi sedikit bantuan. Pun, disebut sebagai penyelamat rasanya bukan. Lantaran Jungkook tiba-tiba saja pergi meninggalkan Hara, hingga menanamkan luka batin mendalam. Membiarkan gadis itu kembali dalam kesendirian.


"Kenapa kau diam?" tuntut Hara tidak sabaran.


Jungkook pun beralih menatap Jimin, bermaksud memberikan kode tersirat pada temannya itu. Jimin yang langsung paham, lantas meninggalkan ruangan tanpa suara. Memberikan privasi pada mereka berdua. Berharap saja Jungkook dan Hara tidak lagi bertengkar seperti yang terjadi sebelumnya.


"Lalu, kenapa kau melakukan itu padaku?" Jungkook balik bertanya, usai Jimin tidak lagi berada di antara mereka.


"Apa tujuanmu memberikan hadiah itu? Sebagai kenangan? Agar aku terus mengingatmu?"


Oh, sungguh. Hara frustrasi sekali dirinya tidak bisa mengingat kenangannya bersama Jungkook di masa lalu. Gadis itu juga mempertanyakan hal yang sama, mengapa ia memberikan arloji dan menulis surat itu---hingga membuat Jungkook terus menyimpannya, meski nilai barang tersebut tidak seberapa.


"Apakah kau menyukaiku?" sambung Jungkook lagi.


Hara hampir saja menganga, jika tidak buru-buru menggigit bibir bawahnya---sebelum membuka suara. "Bagaimana denganmu? Kenapa kau masih menyimpan benda ini dengan baik, seperti barang berharga?"


"Sudah jelas jawabannya, bukan?" Jungkook menatap Hara lekat, disertai langkah mendekat. Jungkook tidak bisa merahasiakan ini lagi. "Aku mencintaimu, Shin Hara."


Tegas, lugas, jelas, dan tanpa basa-basi. Hara sampai menahan napasnya sendiri. Ditambah lagi, figur Jungkook yang terlalu dekat, membuat degup jantung sang gadis tak bisa diajak berkompromi.

__ADS_1


"Aku tidak ingin menahannya lagi. Selama 2 tahun aku menyimpan perasaan ini sendiri."


Jungkook pun mencondongkan wajahnya mengikis jarak, sembari meraih pipi Hara dengan sebelah tangan. Sang gadis sontak dibuat stagnan, dengan sorot netra melebar. Lalu, tanpa diberi aba-aba, labium Jungkook tahu-tahu sudah mendarat pada milik gadis itu, disertai netra yang terpejam. Memberi sentuhan lembut dan hangat di saat yang bersamaan.


Hara masih diam, tanpa ada tanda-tanda memberi penolakan. Maka, Jungkook pun menarik tengkuk gadis itu guna memperdalam ciuman, meski tidak ada balasan, dan kedua netra Hara masih terbuka lebar. Jungkook menikmati permainannya sendiri dengan ******* labium Hara perlahan---sampai menimbulkan gelenyar aneh tak tertahan.


Debaran di dada Hara kian beradu cepat, hingga rasanya ingin meledak. Aksi Jungkook benar-benar di luar dugaan. Pria bertato itu terlalu terang-terangan mengekspresikan perasaannya.


Namun, sebelum Hara kehabisan napas---sebab oksigennya seakan dirampas, ia memutuskan melarikan diri dari pria itu. Hara terlalu shock untuk menerima pernyataan cinta dan act of service yang Jungkook berikan. Pun, bukan ini yang Hara harapkan akan tujuannya melakukan konversasi dengan Jungkook.


Hara keluar dari ruangan begitu saja. Mengabaikan eksistensi Jimin yang berada di depan pintu. Bahkan, panggilan dari sang sekretaris ia hiraukan. Gadis itu hanya ingin lari dan menghindar, sembari berharap setelah ini ia akan terbangun di atas tempat tidur. Kendati mustahil, sebab dirinya tidak sedang berada di alam mimpi.


"Kau apakan Hara sampai dia berlari begitu?" Jimin mencecar tanya begitu memasuki ruangan.


Jungkook berbalik, sembari menghela napas perlahan. "Aku hanya mengatakan kalau aku mencintainya," katanya dengan santai.


"Tidak mungkin. Pasti ada hal lain, kan?" selidik Jimin tidak percaya. Ayolah, mereka sudah saling mengenal selama dua tahun. Jungkook tidak bisa menyembunyikan apapun dari temannya itu.


"Aku menciumnya. Kau puas?" Jungkook pun melenggang keluar menuju lift, sembari menyelipkan kedua tangannya pada saku kiri dan kanan celana.


Mendengar pengakuan temannya itu, Jimin sampai menutup mulutnya tidak percaya. Ia lantas menyusul Jungkook, menyamai langkah pria itu di sebelahnya. "Kau gila?! Pantas saja dia lari!"


"Apa salahnya menyatakan perasaanku?"


"Kalian baru bertemu beberapa hari. Setidaknya berikan dia waktu. Kau terlalu terburu-buru," Jimin gemas sendiri. Temannya itu tidak sabaran sekali jika sudah menyangkut tentang Hara.


...***...


Setibanya di depan gedung, Hara berhenti sejenak, sebab dadanya terasa sakit akibat berlari. Ia membungkukkan tubuhnya, sembari menetralkan napasnya yang serasa mencekat, disertai irama degup jantung yang masih bertalu hebat. Aksi Jungkook benar-benar membuat kinerja tubuh sang gadis dalam mode emergensi. Bahkan, kedua kaki Hara terlalu lemas untuk menopang tubuhnya saat ini.


"Hara?"


Vokal familier yang tiba-tiba saja datang menyapa, membuat sang pemilik nama terperanjat. Maka dengan diselimuti keraguan---sebab ia tidak yakin yang memanggilnya adalah seseorang yang ia kenal. Hara lantas menoleh pada sumber suara yang tengah berjalan keluar dari pintu lobi. "Choi Soobin?!"


Soobin datang menghampiri. "Kau kenapa?" terlihat jelas bagaimana Hara tengah mengatur napasnya yang terengah-engah saat ini.


"Apa yang terjadi padamu?" Soobin menghadapkan tubuh Hara di depannya. Menelisik setiap inci dari tubuh sang gadis, kalau-kalau ada luka atau hal janggal di sana.


Soobin jadi teringat akan momen di lobi tadi, saat sekretaris Jung Jimin meminta Hara ikut dengannya. Maka, pada detik itu juga, ia langsung menaruh curiga pada Jimin, dan berspekulasi bahwa sikap Hara saat ini disebabkan oleh sekretaris CEO itu.

__ADS_1


"Katakan padaku. Kau diapakan olehnya?"


Bersamaan dengan napas dan jantungnya yang sudah kembali dalam mode normal, kedua alis Hara sontak saling bertaut. Ia tidak mengerti mengapa Soobin berkata demikian padanya. "Maksudmu?"


"Kenapa kau seperti orang yang ketakukan begitu? Apa yang menimpamu?"


"Oh--aku hanya ...," Hara gelagapan. Memikirkan bagaimana ia harus menjawab, tanpa dicurigai Soobin. Tidak mungkin, kan, Hara mengatakan bahwa ia berlari karena terlalu terkejut setelah dicium Jungkook. Bisa-bisa Soobin mengajak bosnya itu duel di tempat.


"Aku hanya terkejut dan berlari ke sini. Kupikir aku melihat hantu di lift. Hahaha ...." sambung Hara, diiringi tawa garingnya.


Pria di depannya itu pun mengangguk-angguk, mempercayai alasan payahnya. Syukurlah, setidaknya Hara dapat bernapas lega, Soobin tidak lagi mencecar tanya.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau masih di sini? Bukankah sudah pulang tadi?" lanjut Hara, balik bertanya sekedar basa-basi.


"Ketua Ahn meminta salinan laporan. Jadi, aku kembali lagi ke atas." jelas Soobin, disambut anggukan dari Hara. "Kau sendiri?"


"Hm?"


"Ada urusan apa dengan sekretaris CEO kita?"


"Hanya memberi sedikit bantuan. Sudah selesai, kok."


"Sudah bisa pulang, dong?"


"Bisa,"


"Kalau begitu, pulang bersamaku." Soobin lantas menarik dengan lembut pergelangan Hara tanpa permisi. Sebelum gadis itu menolak lagi untuk ke sekian kali.


"Eh?!"


Hara yang tidak siap dengan perlakuan Soobin, hanya pasrah mengikuti ke mana pria jangkung itu menyeretnya. Yang pasti ke parkiran basement, sih---sebab, motor besar sang empunya ada di sana. Soobin akan mengantar Hara dengan kendaraan roda dua miliknya.


"Pacarmu diculik, tuh." celetuk Jimin, begitu mereka berdua baru saja keluar dari lobi---mendapati Hara sudah pergi bersama seorang pria.


Raut jengkel tercetak jelas di wajah rupawan Jungkook sekarang. "Setelah mendapat ciuman dariku, sekarang pergi dengan pria lain?" cemoohnya, disertai sorot tajam--- mengamati objek yang samar-samar mulai menghilang dari pandangan.


"Salahmu sendiri membuatnya lari."


...To be continued.......

__ADS_1


__ADS_2