Stay Alive - Jungkook

Stay Alive - Jungkook
Chapter 25


__ADS_3

"Karena aku adalah seorang pembunuh, dan memiliki gangguan jiwa!"


Keheningan mulai menyelimuti mereka seketika. Jungkook terkejut sekaligus heran akan maksud ucapan Hara barusan. Sementara Hara, ia sendiri tidak tahu mengapa berkata demikian. Sepertinya rasa frustrasi mendesaknya seperti ini. Banyak hal yang ingin diungkap, namun yang terucap bukanlah seperti yang dibayangkan.


"Hara, apa yang kau katakan?"


"Kau mendengarnya dengan jelas, bukan?"


"Hara---"


"Menjauh lah dariku, Nam Jungkook." Hara memalingkan wajahnya. "Aku ... tidak pantas dicintai siapapun," imbuhnya dengan lirih.


Mimpi buruk yang Hara alami semalam, membuat kepingan-kepingan ingatan kelam miliknya, muncul perlahan. Kendati ia sudah berusaha melupakan selama dua tahun silam. Rasanya benar-benar menyiksa batin dan pikiran.


Mimpi buruk itu pun, mengantarkan Hara pada kilas balik akan awal mula terjadinya tragedi mengerikan di dalam rumahnya dua tahun yang lalu. Kala itu, satu hari sebelumnya, Hara baru tiba di rumah pukul sembilan malam. Lantaran kegiatan kuliahnya membuat ia mengharuskan pulang lebih lama dari biasanya di jam lima sore. Begitu membuka pintu, ia mendapati mama dan papanya ada di ruang tamu, tengah menonton televisi bersama.


"Aku pulang,"


Kedua orangtuanya menoleh bersamaan, namun hanya menatap sekilas, lalu lanjut menonton kembali---seakan kehadiran anak bungsunya itu tidaklah penting. Mau pulang atau tidak, mereka tidak peduli.


Hara mengulum bibirnya sendiri, berusaha menahan gejolak perih di hati. Sejujurnya, ia sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu dari semasa SMP hingga menduduki bangku kuliah. Lagipula apa yang ia harapkan, tidak akan pernah terjadi. Dirinya memang tidak pernah dianggap ada oleh keluarganya sendiri. Kecuali ketika diminta hal lain. Contohnya saat ini, mamanya datang menghampiri. Bukan untuk menyambut kedatangan Hara, melainkan menyuruh putrinya melakukan sesuatu.


"Lama sekali pulangnya. Cucian piring sudah menumpuk, tuh." ujar mamanya, sembari menunjuk dapur---yang letaknya berada di sisi kanan pintu masuk. "Cuci sekarang, ya."


Seakan tidak ada kata nanti, titah sang mama harus diiyakan saat itu juga. Tanpa memberi Hara kesempatan setidaknya untuk menaruh tas atau makan dulu---sebab dirinya tengah lapar sekarang.


"Tapi, Ma. Aku baru pulang---"


"Terus kenapa kalau baru pulang?" mama Hara beralih pada suaminya. "Pa, lihat anak ini. Dia tidak mau disuruh karena baru pulang katanya." namun papa Hara tak memberi respon. Tidak ikut mengomentari ataupun membela putrinya.

__ADS_1


"Ada apa, Ma?" sahut Hoseok menimpali. Ia baru saja muncul dari anak tangga, setelah keluar dari kamarnya.


"Ini adikmu tidak mau membantu Mama." ucapan mamanya benar-benar mengandung provokasi, seakan sengaja memancing anggota keluarga lain untuk menyudutkan Hara.


"Dia bukan adikku kalau tidak mau disuruh-suruh. Sudah dibiayai kuliah mahal-mahal, bukannya tahu diri sedikit."


Rasanya seperti ditikam menembus ulu hati. Seakan ucapan Hara barusan adalah dosa besar yang patut menerima caci maki. Hara hanya mampu menunduk diam, sembari mengeratkan jari-jarinya.


Sejak kecil dirinya memang sudah diperlakukan berbeda oleh keluarganya. Jika membutuhkan sesuatu, Hara adalah orang pertama yang dicari. Pun, ketika ada kesalahan, Hara turut menjadi orang pertama yang menjadi sasaran di keluarga. Ia pun sering dijadikan wadah orangtuanya untuk meluapkan emosi. Tahu-tahu gadis itu diomeli untuk alasan yang tidak ia ketahui.


Hara sering kali memikirkan jika ia bukanlah darah daging keluarga Shin. Ia selalu menerka-nerka mungkin dirinya hanyalah anak pungut yang ditemukan di jalan untuk dijadikan pesuruh. Lantaran orangtua mereka terlihat lebih menyayangi Hoseok. Anak sulung---yang usianya terpaut tiga tahun dengan Hara itu tidak pernah diminta melakukan pekerjaan rumah ataupun dimarahi jika berbuat salah---kendati kesalahannya berakibat fatal. Padahal tidak ada hal spesial yang membuat Hoseok diperlakukan seistimewa itu. Hara dan Hoseok sama-sama terlahir sehat, tanpa ada satu kekuranganpun.


Walaupun keperluan sehari-hari dan sekolah dibiayai oleh kedua orangtuanya, namun tetap saja tidak sebanding dengan sakit mental yang ia terima sampai hari ini. Hanya karena mengeluarkan uang untuk sang putri, bukan berarti Hara boleh diperlakukan seenaknya.


"Aku akan cuci piringnya,"


Tak tahu apa yang harus dilakukan, Hara pun memberanikan diri melewati figur mamanya sembari menunduk, guna mengurung diri di kamar.


"Tidak tahu diri. Selalu saja membuat mama marah." komentar Hoseok, begitu Hara memijak anak tangga.


Hara memilih diam, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar. Tidak peduli dengan ketiga figur di lantai bawah yang mulai mengeluhkan sikap Hara.


Gadis itu menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan dengan berat---setelah menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat. Lalu melepaskan tas ransel dari punggungnya, lantas beralih pada kasur untuk merebahkan diri dan meringkuk di sana.


Sembari memandangi dinding kamar dengan tatapan kosong, perlahan kedua netra Hara mulai berlinang. Ucapan menusuk yang ia terima, baru terasa sekarang. Sangat menyakitkan, hingga rasanya tak sanggup lagi menahan. Entah bagaimana bentuk hatinya sekarang, mungkin sudah remuk berkeping-keping tak beraturan. Sebab terlalu banyak penderitaan yang didapatkan, hingga membuatnya hancur dari dalam.


Ada kalanya Hara terdorong keinginan untuk mati. Berharap siapa tahu saja dengan tidak ada dirinya di dunia, keluarganya akan menyesal kehilangan anak bungsu mereka. Atau setidaknya, ia tidak lagi merasakan sakit yang telah membebaninya selama ini. Ia kerap memikirkan cara bunuh diri yang akan membuatnya cepat bertemu dengan sang ilahi. Hara pun tidak ingin meninggalkan jejak luka atau yang akan mengakibatkan cacat seumur hidup jika gagal mati.


Entah mengapa, tiba-tiba saja terlintas tenggelam di laut sebagai jawabannya. Daripada jatuh dari jembatan atau gedung tinggi, maupun menabrakkan diri ke jalan raya dan kereta api, ataupun cara ekstrim seperti gantung diri dan memotong urat nadi. Hara tidak ingin kematiannya mencuri atensi orang lain, apalagi sampai merepotkan mereka.

__ADS_1


Menurutnya, dengan tenggelam ia akan menghilang dalam sekejap mata tanpa ada yang mengetahui jejaknya. Kemungkinan tragis yang akan menimpanya nanti bisa saja berakhir di perut hewan predator atau terombang-ambing mengikuti arus untuk waktu yang lama.


Hara kian menekuk tubuhnya, memeluk kesepian. Diiringi tangis sesegukan di tengah keheningan. Ditemani bayangan dalam kegelapan, sembari menunggu tengah malam datang. Lagipula, ia bukanlah tokoh Cinderella yang akan dihampiri ibu peri baik hati, guna memberi bantuan. Hara harus melalui semua ini sendiri, lalu menghibur dirinya dengan berkata; Setidaknya, hari ini sudah berakhir.


...***...


Pada hari berikutnya, Hara kembali pulang kuliah di jam sembilan malam, sebab ada tugas kelompok yang harus dikerjakan bersama teman-teman. Sama seperti hari sebelumnya, tidak ada sambutan hangat begitu ia memasuki rumah.


"Pulang malam lagi?" mama Hara berujar.


"Iya, aku ada tugas kuliah bersama teman sekelas."


"Alasan. Bilang saja kau ingin menghindar dari pekerjaan rumah." sanggah mamanya menolak percaya.


"Tidak, Ma. Semester ini aku memang banyak tugas."


"Sudah, jangan membantah. Mama tidak ingin mendengar alasan apapun. Kau sudah disekolahkan sampai masuk universitas dengan biaya tidak murah, setidaknya tunjukkan balas budi. Kalau belum bisa mengganti dengan uang, gunakan jasamu di sini."


Hara benci sekali jika mamanya sudah mengungkit hal seperti ini. Ia sudah tak lagi tahan mendengar omong kosong yang terus disampaikan berulang. Maka, dengan sedikit keberanian yang Hara miliki, ia pun mencoba melawan.


"Aku tahu! Aku tidak pernah melupakan itu! Mama selalu mengatakannya berkali-kali, aku selalu mengingatnya!" Hara menarik napas. "Tapi kenapa harus aku seorang? Sementara  Kak Hoseok tidak perlu melakukan itu? Ini tidak adil untukku!"


"Kau dan Hoseok berbeda!"


"Di mana bedanya?" air mata Hara mulai berlinang. Namun ia tidak ingin menangis sekarang. "Seharusnya Mama jangan melahirkan aku! Cukup Kak Hoseok saja anak Mama. Aku tidak pernah minta dilahirkan dan hidup di keluarga ini!"


Ucapan Hara langsung terhenti, kala pipi kanannya dihadiahi tamparan keras dari papanya---yang sejak tadi berada di depan televisi---tahu-tahu bergabung bersama mereka.


...To be continued.......

__ADS_1


__ADS_2