Stay Alive - Jungkook

Stay Alive - Jungkook
Chapter 23


__ADS_3

"Hara,"


"Shin Hara,"


Sayup-sayup terdengar ada suara memanggil namanya berkali-kali. Menyambut kedatangan sang pemilik nama di pintu masuk. Oh, tunggu. Suara ini seperti milik Shin Hoseok---kakak kandung Hara.


"Kak Hoseok?" Hara berucap untuk memastikan. Lantaran tidak ada eksistensi siapapun di dalam rumah. Namun, meski sudah ditunggu, tidak ada respon yang terdengar.


"Kenapa kau melakukan ini padaku?" vokal tersebut kembali berujar. Terdengar aneh, dan juga menyeramkan.


Hara menoleh ke sana kemari. Mengamati ruang tamu---sampai dapur yang terlihat sepi. Bahkan di tangga juga tidak ada orang, meski keadaan di dalam rumah sudah terang benderang. Ini tidak lucu sama sekali.


"Kenapa bukan kau saja yang mati?"


Hara sontak membeku di tempat. Ucapan itu seakan membangkitkan trauma yang sudah ia kubur dalam-dalam. Memori kelam itu pun kembali berputar bagaikan tengah menonton film layar lebar. Perlahan, Hara kembali mengingat tragedi yang tidak diinginkan.


"Kenapa kau melakukan ini padaku?"


"Kenapa bukan kau saja yang mati?"


"Shin Hara, seharusnya kau yang mati!"


Suara Hoseok kian memojokkan Hara. Memenuhi indera pendengaran sang gadis, hingga memekakkan telinga. Disertai sakit kepala yang luar biasa akibat suara-suara mengerikan yang terus berputar di kepalanya. Hara pun diselimuti takut, dan juga gemetar. Rasanya, ia sudah hampir gila sekarang.


Di saat yang bersamaan, Hara sontak membuka kedua netra, lantas tersentak dari tidur lelapnya. Ia pun terduduk di atas ranjang, disertai deru napas tak beraturan, dan detak jantung yang berdegup kencang. Serta peluh yang membasahi dahi dan juga punggungnya. Hara baru saja mengalami mimpi buruk. Mimpi yang lebih mirip seperti kenangan masa lalu.


Gadis itu pun melipat kedua lututnya. Membenamkan kepalanya di sana, sembari memeluk kakinya. Yang dirasakan Hara saat ini seperti deja vu. Terkungkung seorang diri dalam gelapnya malam. Terjebak dalam kesendirian penuh ketakutan. Hanya tinggal menunggu matahari terbit berganti hari kemudian.


...***...

__ADS_1


"Hara tidak pulang ke apartemenmu?" Jimin mengawali obrolan pagi, sebelum memasuki lobi.


Keduanya baru turun dari mobil di depan halaman gedung. Lantas Jimin menyerahkan kunci kendaraan automatic tersebut pada vallet parking yang ada di sana. Lantaran ia tengah dalam mode malas memarkirkan mobilnya ke basement. Biar lah petugas yang melakukannya. Kuncinya juga akan diantarkan ke lantai atas kalau sudah selesai.


Jungkook menggeleng pelan. "Apa dia marah padaku?"


"Sepertinya begitu. Sebaiknya kau minta maaf sana,"


"Iya, nanti. Aku akan menemuinya."


Jimin speechless mendengar jawaban Jungkook. Ia sampai menganga dibuatnya. Pria keras kepala itu tidak membantah sama sekali. Biasanya Jungkook akan menghindar atau mengelak. Sungguh momen yang langka.


"Kau mabuk, ya?" tuduh Jimin, saking tidak percaya dengan sikap temannya itu.


Jungkook pun menghadiahi pertanyaan sang sekretaris dengan tatapan heran. "Hah?"


"Aneh saja, kau bisa berkata begitu." Jimin terkekeh. Sejurus kemudian, rautnya sudah berubah serius, begitu akan memasuki gedung. Ia tidak mungkin menampilkan sikap cengengesan di depan karyawan lain, bukan?


Tak cukup sampai di situ, rupanya eksistensi Choi Soobin juga disambut hal serupa. Tetapi tidak sampai dibukakan pintu juga, sih, sebab Soobin hanyalah karyawan biasa. Namun, pria jangkung pemilik lesung pipi itu memiliki rupa dan pesona yang setara---tak kalah dari Jungkook dan Jimin. Dengan kata lain, Soobin turut menjadi idola para karyawati di sana. Meski beda divisi, sikap supel dan ramah yang dimilikinya, membuat nama Soobin terkenal seantero lantai. Kecuali lantai sang CEO tentunya.


Ketiga pria yang masih berada di dekat pintu masuk lobi, saling bertukar pandang dalam diam. Mereka pun nampak tak ingin bertegur sapa atau menjalin hubungan akrab. Sebaliknya, Jungkook dan Soobin justru memancarkan aura permusuhan. Lantaran Jungkook kerap dibuat jengkel dengan pria jangkung itu, yang selalu dekat-dekat dengan Hara---bahkan mengajak pulang bersama. Selama ini Jungkook memang tahu, kalau pria yang mendekati Hara adalah Choi Soobin. Sementara Soobin ... tidak ada alasan. Ia hanya tidak suka pada pria yang menyandang status sebagai CEO itu.


"Ayo, kita pergi." seru Jimin setengah berbisik, lantaran figur mereka kian menjadi pusat perhatian. Pun, sebelum menimbulkan gosip yang siap beredar, Jungkook dan Jimin harus undur diri dari sana.


Jungkook menatap sengit pada Soobin sesaat, lantas menuju lift. Sama halnya dengan pria yang memiliki tinggi beberapa senti di atas Jungkook itu---turut memandangi kepergian mereka penuh kebencian.


...***...


Seperti yang diucapkannya beberapa jam lalu, Jungkook berniat meminta maaf pada Hara di jam istirahat ini. Ia bahkan sampai rela mendatangi kantin kantor---kendati dirinya belum pernah menginjakkan kaki di sana---hanya untuk mencari sang gadis seorang diri. Namun, bukannya Hara yang ia temukan, Jungkook justru menjadi pusat atensi seluruh karyawan yang tengah makan siang.

__ADS_1


Meski demikian, Jungkook tidak peduli. Ia sudah biasa mendapat reaksi seperti itu. Di saat netranya memindai seisi ruangan, ia mendapati sosok Yeji di antara kerumunan. Pun, tanpa berpikir panjang, Jungkook segera menghampiri meja gadis itu, guna menanyakan keberadaan Hara.


"Kim Yeji," panggil Jungkook. Membuat beberapa karyawan di sana berbisik-bisik mempertanyakan mengapa Yeji dihampiri CEO mereka.


"Tuan Jungkook, ada apa?" balas Yeji, sembari menoleh sinis pada orang-orang yang tengah membicarakannya saat ini.


"Kau tahu di mana Hara? Aku tidak melihatnya sejak tadi."


"Kenapa kau mencarinya?" timpal Soobin. Pria itu tiba-tiba saja muncul di belakang Jungkook, dengan membawa nampan berisi jatah makanan di tangan. Ngomong-ngomong, meski musuhan, Yeji dan Soobin tetap makan siang bersama di meja yang sama pula. Lantaran tidak tahu harus mengajak siapa.


"Aku ada perlu. Apa urusannya denganmu?"


"Itu yang ingin kutanyakan, ada perlu apa dengannya?"


Jungkook dan Soobin seakan menyatakan peperangan. Keduanya kembali menatap sengit, tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar. Begini lah jika Jungkook dibiarkan sendiri tanpa pengawasan Jimin, ia hampir saja lepas kendali jika saja Yeji tidak buru-buru berucap;


"Hara tidak masuk kerja hari ini." ucapan Yeji pun membuat kedua pria itu menoleh bersamaan padanya.


"Kenapa?" Jungkook yang bersuara, sebab Soobin sudah tahu jawabannya.


Yeji mengedikkan bahu. "Tidak tahu. Dia hanya bilang izin pada ketua Ahn."


Bagaimana Yeji bicara, terlihat seperti tidak peduli sama sekali. Yah, apa boleh buat. Meski khawatir, tidak ada yang bisa dilakukan kawannya. Lantaran ingin mendatangi langsung ke rumah Hara, ia tidak tahu alamatnya. Pun, menanyakan kabar lewat telepon tidak juga diangkat. Apalagi melalui pesan singkat, sudah pasti tidak dibalas.


Lagipula ini bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya Hara juga pernah tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas. Hanya berkata izin saja. Mungkin sedang memasuki fase burnout akibat stres bekerja. Untungnya ketua Ahn memaklumi, lagipula kinerja Hara tidak pernah mengecewakan.


"Sudah, kan? Bisa kau pergi sekarang?" astaga, Soobin mulai lagi. Jika memang sudah tidak suka dengan seseorang, ia akan terang-terangan menunjukkan kebencian. Tidak peduli orangnya adalah siapa.


Jungkook memilih mengabaikan Soobin. Biarlah pria jangkung itu mau berkata apa padanya. Jungkook pun berucap terima kasih pada Yeji, sebelum pergi dari sana. Bukan karena menuruti perkataan Soobin---harga dirinya akan terluka nanti---sebab ia harus menemui Hara sekarang.

__ADS_1


...To be continued.......


__ADS_2