Stay Alive - Jungkook

Stay Alive - Jungkook
Chapter 27


__ADS_3

Perlahan, isak Hara mulai mereda. Ia lantas menjauhkan tubuhnya dari Jungkook, sembari mengalihkan wajahnya ke sisi lain, guna menghapus sisa tangis di sana. Malu sekali rasanya. Di samping itu, dada bidang Jungkook terlalu nyaman, hingga hampir membuat sang gadis ketiduran---kalau saja tidak menyadari bahwa matahari sudah tenggelam. Berganti awan hitam mengelilingi rembulan, menandakan hari menuju malam. Bersamaan dengan lampu-lampu gedung yang mulai dinyalakan.


"Sudah gelap," gumam Hara, sembari memandangi langit di depan matanya. Entah mengapa, pemandangan dari ketinggian 38 lantai kali ini terlihat berbeda. Rasanya nyaman sekali untuk dilihat dalam waktu yang lama---kendati Hara sudah biasa menjadikan rooftop kantor sebagai tempat healing sederhana, dan seringkali melakukan hal yang sama di sana; hanya memandangi langit dengan tatapan kosong.


Jungkook yang mendengar perkataan gadis itu, turut mengarahkan netranya pada objek yang sama. "Benar, sudah gelap." sahutnya, mengulang ucapan Hara.


Hara pun berbalik, guna mencari tahu apa yang dilakukan pria itu sekarang. Namun, ia justru terpana dalam sekejap mata. Figur Jungkook saat ini terlihat sangat mempesona---kala surai hitamnya tertiup angin perlahan. Sorot mata yang begitu damai, serta kurva tipis yang membentuk senyum tanpa alasan. Sepertinya, yang membuat suasana kali ini berbeda adalah karena ada Jungkook bersama Hara. Gadis itu tidak lagi sendirian, seperti yang sudah-sudah.


Tanpa Hara sadari, Jungkook tiba-tiba menoleh padanya, dan mengunci netra sang gadis---yang masih memandangi Jungkook dengan bibir terbuka.


"Sudah mulai menyukaiku sekarang?"


Hara terbelalak. "Apa?"


"Aku belum mendengar jawabanmu,"


Wajah Hara mengerut. "Jawaban apa?" astaga, Jungkook ini memang gemar sekali membuat gadis itu bingung. Apalagi Hara sangat lah tidak peka.


"Aku mencintaimu, Shin Hara."


Hara kembali terbelalak, sembari menelan saliva susah payah. Ia baru teringat akan momen Jungkook berkata demikian, lalu langsung menghadiahi ciuman tanpa permisi. Memang butuh waktu dan usaha lebih agar membuat sang gadis sadar. Hara sontak menutup bibirnya dengan telapak tangan, khawatir kalau-kalau Jungkook akan melakukan hal itu lagi.


Melihat respon sang gadis, Jungkook lantas tertawa. Entah mengapa, Hara terlihat sangat lucu di mata pria itu. Oh, tunggu, ini bukan waktunya Jungkook menertawakan sang gadis---setelah melihat sendiri bagaimana Hara menangis sesegukan dalam dekapannya. Jungkook pun kembali dibuat heran dengan sikap Hara. Seakan memang ada dua kepribadian yang tinggal dalam satu tubuh. Sangat membingungkan.


"Sudah waktunya kita pergi." seru Jungkook kemudian. Lantaran sebelum menuju ke sini,  dokter Yoongi sempat meneleponnya untuk mengingatkan jadwal pertemuan mereka, yang sudah disepakati sebelumnya.


"Ke mana?"


"Menemui dokter Yoongi,"

__ADS_1


Sontak Hara baru teringat akan pesan yang dikirimkan sang dokter beberapa belas menit yang lalu. "Ah, benar. Aku ada jadwal dengannya hari ini." ia lantas mengecek jam pada ponselnya. Sudah pukul 6 tepat.


"Kalau begitu, kita temui bersama,"


"Tunggu, bagaimana kau tahu aku akan---"


"Ayo, nanti terlambat." tukas Jungkook, lantas meraih tangan Hara dan menggenggamnya dengan hangat---meninggalkan rooftop bersama-sama.


"Bisa lepaskan tanganku? Bagaimana jika ada orang lain yang melihatnya?" tegur Hara di tengah langkah mereka menuju lift untuk turun ke lobi.


"Biarkan saja,"


"Jungkook!" sang pemilik nama malah tertawa. Ia memang senang sekali mengerjai Hara.


...***...


"Kalian terlambat 15 menit," keluh dokter Yoongi, sembari melipat tangan di depan dada---begitu Hara dan Jungkook memasuki ruangannya.


Dokter Yoongi lantas duduk pada sofa, diikuti kedua figur yang turut merehatkan bokong mereka di sana.


"Kau pasti mengabaikan pesanku lagi," gerutu dokter Yoongi kemudian.


Hara hanya menjawab dengan cengiran. Tidak ingin membantah ataupun memberi pembelaan. Lagipula dokter Yoongi sudah mengetahui kebiasaan pasiennya itu.


"Sebelumnya, aku ingin kau menandatangani berkas ini." dokter Yoongi beralih bicara pada Jungkook. Menyerahkan tiga lembar kertas berisi perjanjian, bahwa Jungkook sebagai wali Hara yang akan membiayai konsultasi dan pengobatan jika diperlukan. Sementara Hara menatap keduanya dalam kebingungan, sembari menerka-nerka mengapa.


"Jungkook, kau ingin melakukan konsultasi sepertiku juga?" terka Hara, membuat kedua pria di dalam ruangan itu langsung menoleh bersama ke arahnya.


Benar juga, Hara tidak tahu apa-apa soal kesepakatan antara Jungkook dan dokter Yoongi tempo hari. "Ah, ini---"

__ADS_1


"Bisa kita mulai sekarang?" potong dokter Yoongi, menginterupsi percakapan mereka berdua.


Pria itu tidak ingin membuang waktu terlalu lama, akibat percakapan tidak berguna yang akan mengganggu sesi konsultasinya. Memang begitu lah karakter dokter Yoongi, dingin dan menyebalkan. Entah mengapa ia bisa menjadi seorang psikiater---yang mana profesinya itu mengharuskan dirinya berhadapan dengan banyak orang, disertai memberi saran dan solusi pada setiap pasiennya. Namun anehnya, pasien yang datang padanya justru mengatakan kondisi mereka lebih baik berkat bantuan dokter Yoongi.


"Kalau begitu, aku akan keluar dari sini---" Jungkook berniat undur diri dari sana, sebab merasa eksistensinya tidak ada kaitan sama sekali. Akan tetapi, Hara malah menghentikannya.


"Jangan," cegah Hara. "Kau ingat ucapanku tadi, bahwa aku seorang pembunuh dan memiliki gangguan jiwa?"


Jungkook mengangguk perlahan.


"Kau akan menemukan jawabannya di sini."


Hara bermaksud menunjukkan rahasia miliknya pada Jungkook. Dengan demikian, mungkin pria itu akan berpikir ulang atau menarik ucapannya kembali soal mengatakan mencintai dirinya. Lantaran Hara tidak ingin menipu Jungkook. Ia tidak ingin menyembunyikan apapun dari pria itu. Dengan begitu pula, Hara dapat memperjelas perasaannya pada Jungkook yang samar-samar timbul perlahan.


"Baik, sesi konsultasi kita mulai sekarang." dokter Yoongi pun menekan tombol stopwatch sebagai acuan durasi konsultasi. "Hara, silahkan ceritakan permasalahan yang kau alami baru-baru ini,"


Hara memulai dengan bercerita akan mimpi buruk yang selalu dihantui Hoseok. Lalu bagaimana keadaan rumahnya seakan hidup kembali dengan kehadiran tiga anggota keluarga lain di sana menemani keseharian Hara di rumah. Tentunya itu bukanlah hal baik, sebab bayangan imaji Hara sama persis seperti keadaan di masa lalu. Penuh pertengkaran dan masalah.


Di sisi lain, Jungkook yang posisinya sebagai pendengar, diam-diam memperhatikan Hara penuh kekhawatiran. Gadis itu sudah banyak terluka seorang diri. Tidak ada seorang pun yang menjadi sandaran untuknya. Hal itu, membuat Jungkook semakin merasa bersalah karena telah meninggalkan Hara.


"Dokter Yoon, aku mengingat peristiwa itu lagi. Kejadian saat kematian Kak Hoseok ... dan ucapan ibuku yang menyebutku sebagai pembunuh. Mereka terus hadir menghantuiku." Hara menarik napas sejenak. "Kau tahu, aku sangat depresi saat itu. Sampai kau membuatku hilang ingatan, dengan metode amnesia selektif yang kau terapkan untuk membantuku."


Jungkook sontak bergeming. Memikirkan berapa banyak rahasia Hara yang tidak ia ketahui. Pun, berapa besar rasa sakit yang menimpa gadis itu, hingga membuatnya harus mengubur sebagian ingatan miliknya.


"Tapi, kenapa aku mengingatnya kembali? Setelah satu tahun lamanya?" Hara berujar kembali.


Dokter Yoongi yang sejak tadi menyimak, akhirnya membuka suara---menarik kesimpulan atas penjelasan Hara. "Karena ada pemicunya." ia menoleh pada Jungkook.


"Kemunculan Jungkook menjadi pemicu ingatanmu kembali. Karena dia juga bagian dari masa lalumu, Hara." imbuh dokter Yoongi, memperjelasnya.

__ADS_1


...To be continued.......


__ADS_2