Stay Alive - Jungkook

Stay Alive - Jungkook
Chapter 24


__ADS_3

Yang ada di pikiran Jungkook pertama kali adalah mendatangi rumah Hara, sebab gadis itu pasti ada di kediamannya. Maka, ia harus kembali ke ruangannya terlebih dahulu untuk mengambil kunci mobil. Sembari dalam perjalanan ke lantai atas, Jungkook mengecek ponsel guna mencari kontak milik Hara. Namun, meski sudah digulir berapa kali pun, nama sang gadis tetap tidak tertera. Ah, benar. Jungkook belum memiliki nomor gadis itu. Akan ia pinta jika sudah bertemu nanti.


Begitu denting lift berbunyi, Jungkook lantas dihadiahi pertanyaan kala pintunya mulai terbuka.


"Kau dari mana?" itu suara Jimin. Kebetulan sekali mereka berpapasan di lift, dan hanya ada Jimin seorang di dalam benda berbentuk persegi itu.


"Kau tidak melakukan hal aneh lagi, kan?" Jungkook mengedikkan bahu. Dijelaskan pun, temannya itu pasti akan mengomel.


"Jangan sampai melakukan sesuatu yang menarik perhatian. Di kantor ini pasti ada mata-mata utusan ayahmu." imbuh Jimin mengakhiri ucapannya, dan hanya ditanggapi dengan anggukan ringan.


Setibanya di lantai atas, Jungkook langsung berujar, "Aku ada urusan sebentar di luar. Jangan mencariku."


"Ke mana?---"


Belum selesai Jimin berucap, Jungkook melenggang pergi memasuki ruangan dengan langkah lebar. Beberapa detik kemudian, temannya itu bahkan sudah kembali lagi ke hadapan Jimin, sembari menunjukkan kunci mobil di tangan dan sebuah seringai. Sejurus kemudian, Jungkook berlari menuju lift, sebelum benda tersebut bergerak turun. Akan lama lagi menunggu jika sudah terlewat 1 lantai.


"Hei---" percuma. Jungkook sudah menghilang memasuki lift.


...***...


-Jangan lupa, jam 6 sore nanti jadwal konsultasi denganku.-


Hara hanya membaca sekilas pesan yang dikirimkan dokter Yoongi, tanpa berniat membalas atau sekedar menanggapi iya. Ia lantas menutup layar ponsel, dan membiarkan benda elektronik tersebut menggantung dalam genggaman.


Kondisi Hara saat ini membuatnya tidak ingin berinteraksi dengan siapapun, meski ponselnya dipenuhi notif yang menanyakan kabarnya sekarang. Ia hanya ingin sendiri, tanpa ada gangguan. Tidak, sejujurnya ia membutuhkan teman, berharap ada yang ingin mendengarkan. Namun, Hara lebih memilih memendam perasaannya, kendati sudah tak sanggup lagi menahan.

__ADS_1


Hara beralih mengamati hamparan langit dan bangunan-bangunan di bawahnya dari ketinggian 38 lantai. Menikmati semilir angin sejuk yang menerpa surainya secara dramatis.


Matahari pun masih menunjukkan eksistensinya dengan warna kemerahan di sekitar. Menunjukkan sebentar lagi akan tenggelam, digantikan oleh sang rembulan.


Saat ini dirinya tengah berada di rooftop gedung Nam Corp. Ingin menenangkan diri ceritanya. Sebab, berlama-lama di rumah membuat Hara semakin tertekan dengan semua kebisingan yang memenuhi kepalanya. Di samping itu, tidak ada tempat lain yang bisa didatangi, selain tempat favoritnya di sini. Kendati sekarang masih jam kerja, pun tersisa 1 jam lagi sebelum waktunya pulang.


Untung saja rekan-rekan Hara tidak ada yang menyadari kehadirannya di gedung ini. Walaupun sempat merasa was-was kala melewati pintu otomatis, dan bertemu dengan para sekuriti di lobi.


"Bagaimana rasanya jika jatuh dari ketinggian ini, ya?" Hara bergumam. Ia lantas menyoroti pijakannya saat ini, hingga ke lantai dasar---sembari memegang teralis pengaman. Sekali lagi, ia tidak ingin mati konyol karena tidak sengaja terjatuh di gedung tempatnya bekerja.


Kendati Hara dihantui suara Hoseok yang menyuruhnya untuk mati, namun sungguh, Hara masih ingin berumur panjang. Ia tidak berniat mengakhiri hidupnya begitu saja tanpa alasan. Masih banyak hal yang ingin Hara lakukan. Ia ingin merasakan kebahagiaan dan juga kebebasan.


"Kalau aku mati, apakah Kak Hoseok akan berhenti menggangguku?"


Hara termenung. Menatap gumpalan awan yang mulai menghitam dengan tatapan kosong. Namun, ia lantas terperanjat kala seseorang di belakang sana berkata, "Ketemu!"


"Jungkook?"


Pria bergigi kelinci itu datang menghampiri, disertai tatapan khawatir terlukis di netranya. Begitu jarak mereka tinggal selangkah lagi, tanpa aba-aba Jungkook langsung menghadiahi pelukan pada Hara.


"Kupikir aku akan kehilanganmu lagi."


Hara mengerjap. Entah mengapa, pelukan yang Jungkook berikan serasa tidak asing. Seakan bukan pertama kali.


"Kau baik-baik saja?" Jungkook melepaskan pelukannya, lalu mengamati Hara yang menatap dirinya dengan sendu.

__ADS_1


Gadis itu masih bergeming. Dikelilingi segelintir tanya yang ingin sekali ia ajukan. Tentang bagaimana Jungkook bisa menemukannya di sini? Atau bagaimana Jungkook tahu jika Hara sangat membutuhkan seseorang saat ini.


"Jungkook ...," Hara akhirnya bersuara. "Kau bilang kau mencintaiku,"


Jungkook mengangguk perlahan, lantaran bingung tiba-tiba Hara berujar demikian. Jangan-jangan gadis itu masih teringat momen ketika Jungkook menciumnya?


"Tapi yang sebenarnya kau cintai bukanlah aku. Melainkan figur Hara 2 tahun yang lalu."


Tidak, bukan ini yang ingin Hara sampaikan.


"Sayangnya, Hara yang kau kenal saat itu sudah mati. Dia tidak lagi di sini."


Kedua alis Jungkook saling bertaut. Mempertanyakan apa maksud ucapan Hara. Maka, ia pun membiarkan gadis itu melanjutkan kalimatnya sampai selesai.


"Karena itu lah, jangan mencintaiku. Karena aku bukan Shin Hara yang kau kenal."


"Hara, apa yang---"


"Aku tidak pantas menerima perlakuan baikmu, Tuan Jungkook."


"Hara, tunggu. Kau kenapa?"


"Kau tahu kenapa aku membatasi diri pada orang lain? Terutama dengan temanku sendiri, Yeji." imbuh Hara, direspon gelengan kepala dari sang lawan bicara.


"Karena aku adalah seorang pembunuh, dan memiliki gangguan jiwa!"

__ADS_1


...To be continued.......


__ADS_2